Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
EMPAT PULUH


__ADS_3

Langkah demi langkah bagaikan sumpah kematian yang semakin mendekati Alice. Dua orang berpakaian gelap, memakai sejenis trapper hat skibo hitam yangmenutupi sebagian wajah mereka tengah bergegas menuju mobil tempat Alice berada.


Nafas Alice kian berat setiap detiknya. Dia bagaikan menyaksikan roll film dengan efek mendebarkan. Sialnya, dia sendirilah yang menjadi tokoh utama. Tokoh utama yang entah bagaimana telah dianggap sebagai objek buruan.


Tangan Alice gemetar saat ia mulai bergeser pada jok di sebelahnya. Sendi-sendi Alice sulit untuk dikoordinasikan. Dia seperti boneka rusak yang membutuhkan perawatan khusus.


Dengan kikuk, Alice membuka pintu mobil dan mengumpulkam segenap daya untuk berlari. Semangat untuk bertahan hidup masih membara. Dia menolak menyerah saat ini.


Alice mulai mengambil langkah pertama, melarikan diri sejauh mungkin dari mereka. Dia menyusuri trotoar di sisi jalan, melewati kawasan pertokoan yang mulai tutup.


Kawasan ini bukanlah sebuah kawasan utama di mana orang-orang berlalu lalang. Bisa jadi ini merupakan daerah pinggiran kota. Alice tak terlalu yakin dengan tebakanya. Dia sudah mengemudi dua jam lebih sebelumnya melewati jalan-jalan sepi hingga akhirnya tiba di tempat ini.


Hari sudah larut. Alice tak terlalu memperhatikan waktu.Mungkin telah memasuki tengah malam, ataupun sudah menuju dini hari. Entahlah.


Kaki Alice berlari sepenuh tenaga menyusuri jalan. Kedua orang dibelakangnya mengejar Alice dengan membabi buta. Alice semakin kalut. Pikiran-pikiran singkat mulai terbentuk dalam benaknya.


Apakah mereka perampok? Jika mereka perampok, seharusnya mereka tidak mengejarnya lagi. Mobil dan tas Alice ia tinggalkan di dalam mobil. Bukankah lebih masuk akal jika mereka menggeledah mobilnya dan melupakan keberadaan Alice?


Alice tak membawa satu pun barang berharga di tangan. Satu-satunya sesuatu yang ia bawa hanya ponsel dan beberapa lembar uang dalam pecahan dollar. Sebenarnya apa tujuan mereka mengejarnya? Mungkinkah mereka bermaksud memperkosanya?


Ya Tuhan. Banyak wanita cantik yang tersedia, kenapa harus ia yang menjadi korban? Sepertinya mereka bukan orang yang kekurangan. Bukan juga gelandangan. Seharusnya tak sulit bagi mereka membeli wanita lain yang cukup pantas untuk menemani malam-malam mereka.


Spekulasi-spekulasi mulai semakin tak masuk akal. Nafas Alice terdengar kasar, berusaha dengan cepat memompa udara ke dalam paru-paru. Kakinya masih tetap berlari memasuki lorong-lorong ruko. Keadaan semakin sepi. Hanya suara-suara angin malam yang menemaninya.

__ADS_1


Alice yakin ini pasti bukan kebetulan semata. Mustahil dia korban acak dari seseorang yang jelas-jelas memiliki niat buruk. Namun apapun yang terjadi, hal utama yang harus ia lakukan sekarang adalah melarikan diri. Semakin jauh semakin baik.


Dua orang dibelakang mereka semakin dekat. Suara-suara kaki menghentak tanah terdengar jelas saling bersahut-sahutan. Nafas Alice mulai tak teratur. Sementara mereka seperti tak terganggu sama sekali dengan pengejaran ini. Mungkin mereka orang-orang yang profesional, memiliki fisik dan stamina yang bagus menjalankan misi ini.


Itu buruk. Sangat buruk. Alice tak pernah menyadari ada pihak-pihak yang menginginkan ia diburu seperti ini. Dia sudah menjaga sebaik mungkin hubunganya dengan setipa kolega maupun karyawanya. Kenapa di antara mereka masih ada yang sanggup melakukan ini?


Kaki Alice mulai melemah. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Paru-parunya memompa udara dengan kelelahan. Dia berteriak frustasi, merasa sulit melanjutkan pelarian ini.


Sementara di belakangnya suara langkah kaki semakin mendekat. Memancarkan tanda bahaya yang sangat kuat. Hidup Alice seolah mulai dihitung mundur sejak detik ini. Detik demi detik bagaikan bayangan akhir yang tak berkesudahan.


Ada sebuah lorong kecil di antara bangunan ruko terbengkalai di sebuah sudut jalan. Alice menyusuri lorong kecil tersebut dengan kepanikan yang semakin menjadi. Dia mencoba berteriak meminta pertolongan. Nihil. Hampir tak ada siapapun yang mendengar jeritan pilunya, kecuali dua pelaku yang berada persis dibelakangnya.


Alice mendengar para pengejarnya saling berteriak agar ia berhenti. Dalam kondisi yang seperti ini, mereka mencoba menakut-nakuti Alice,membuatnya seperti binatang yang tersudut tak berdaya.


Alice menjerit frustasi. Lorong yang ia ambil ternyata berujung pada kebuntuan. Sebuah tembok beton menjulang kuat dihadapanya, memenjarakanya dari kebebasan. Alice berbalik, menatap ketakutan pada dua orang berpakaian gelap yang kini mengepungnya. Dibalik penutup wajah mereka, Alice mendapati seringai kemenangan.


...


Alice mengerjap beberapa kali. Dia merasakan nyeri yang sangat pada tengkuknya. Kedua tangan dan kakinya seolah kebas secara mendadak. Kejadian-kejadian terakhir mulai berulang kembali dalam otaknya, membentuk memori baru yang sangat mengejutkan. Alice tersentak bangun, membuka matanya penuh penasaran.


Dia terbangun di sebuah ruangan berukuran sekitar enam kali tujuh, mirip gudang terbengkalai. Alice melihat banyak dus dan beberapa perabot tak terpakai tersebar tak beraturan. Ruangan ini berbau apak, seolah-olah membuktikan telah lama tak terpakai. Hanya ada sebuah lampu redup yang menerangi ruangan ini. Sebuah bohlam kecil dengan cahaya remang-remang, seperti telah siap mati kapan saja.


Alice merasa bagian tubuhnya tertarik dengan cara yang tidak nyaman. Kedua tanganya terikat sangat kuat di sebuah kursi besi. Rantai sebesar jari mengelilingi kedua lengan tangan dan kakinya, mengunci gerakanya. Sebuah gembok besar di ujung kaki mematenkan ikatan yang melilitnya.

__ADS_1


Alice menarik tanganya secara membabi buta. Dia berteriak keras, mencoba melepaskan diri sekuat tenaga dari rantai yang membelenggunya. Tetapi sekuat apapun dia berusaha, rantai itu tetap saja menahanya.


Lengan Alice terluka, tergores karena tekanan rantai yang ia tarik secara kasar. Alice mulai frustasi.


Alice mulai menjerit-jerit dengan keras. Pita suaranya seolah akan pecah. Berharap jika ada yang mendengar jeritanya, siapapun orang dalam jarak dengar bersedia menolongnya.


Tetapi sepertinya para penculiknya telah mengatur kondisinya dengan sangat cermat. Dia disekap di sebuah gudang yang tak terpakai dengan mulut yang tidak dibungkam. Kemungkinan mereka pasti menenpatkan dirinya di sebuah bangunan yang jauh dari keramaian. Mungkin dipinggir kota, atau mungkin dipinggir hutan, atau mungkin di ruang bawah tanah. Entah dimana ia berada, yang jelas dia terjebak disini tanpa sedikitpun petunjuk.


Alice menyadari ia tak lagi memakai blezer favoritnya. Itu artinya mereka pasti berhasil mendeksi ponselnya dan mungkin telah membuangnya di suatu tempat. Mereka terlalu ahli melakukan kejahatan ini. Pertanyaanya adalah, kenapa ia yang menjadi objek kejahatan? Motif apa yang mereka miliki?


Sepertinya mereka tidak berniat merampok mengingat para pengejarnya tidak tergoda untuk mengambil mobil maupun barang-barang berharganya. Alih-alih, mereka justru sibuk mengejarnya secara membabi buta.


Mungkinkah mereka berniat menahanya untuk melakukan negosiasi dan meminta uang dalam jumlah yang sangat besar? Bagaimanapun juga, setelah menjadi janda, Alice berhasil mewarisi semua kekayaan Kendrick dengan jumlah yang sangat luar biasa. Pasti banyak pihak yang mengetahui tentang keberuntunganya dan mungkin, entah bagaimana, berniat melakukan kesepakatam untuk mengambil alih sebagian dari harta miliknya. Motif itu terdengar sangat masuk akal. Jika memang demikian, Alice pasti akan melakukan apapun yang mereka inginkan selama ia bisa terlepas dari kondisi ini.


Uang bukanlah segalanya. Selama ia memiliki kehidupan, dia bisa mencari lagi kekayaan baru yang melimpah. Sementara nyawanya hanya satu. Tentu saja dia akan melakukan tawar menawar yang cukup adil kepada mereka.


Alice sibuk dengan banyak dugaan-dugaan yang berlalu lalang dalam otaknya saat tiba-tiba pintu di hadapanya berderit terbuka. Sebuah siluet lelaki berperawakan tinggi besar tampak mendominasi. Dia berjalan pelan, penuh keyakinan diri menuju kursi besi yang menahan Alice.


Alice mengamati seorang lelaki gagah berusia sekitar pertengahan enam puluh tahun. Dia memakai kaos hitam berlengan pendek, menampakkan perutnya yang membuncit. Sebuah tato berbentuk ular dan kalajengking tampak jelas di kedua lengan tanganya yang besar.


Wajah lelaki tersebut tampak membulat sempurna. Aura membunuh yang kuat terpancar jelas di kedua matanya. Dengan acuh, dia membawa sebuah senjata di tajam di tanganya. Senyum lelaki tersebut tersungging, menampilkan gigi-giginya yang rata.


"Halo, Alice."

__ADS_1


Jantung Alice berdetak cepat. Kedua matanya menatap horor pada dua senjata yang lelaki itu bawa. Otaknya seolah mengingatkan bahwa hidupnya mungkin berakhir sebentar lagi.


...


__ADS_2