
Jasmine berdiri di halaman belakang pada malam hari. Dia tadi sempat bermain dengan Axel selama dua jam untuk menggantikan Helena saat wanita itu keluar untuk sebuah urusan.
Bermain bersama seorang anak membuat memori Jasmine kembali ke beberapa tahun silam. Ketika ia dulu masih memiliki seorang putri yang bisa ia peluk kapan pun ia mau. Hangatnya seorang bayi membuat jiwanya yang kini kuat terasa melemah tiba-tiba.
Ya Tuhan. Jasmine ingat dulu ia memeluk tubuh hangat milik anaknya yang menghembuskan nafas secara teratur. Gerakan jari-jarinya yang mungil. Tatapan matanya yang polos. Tangisannya yang merdu.
Semua itu pernah ia miliki lama sebelumnya. Jiwanya pernah tersiram kehangatan seperti itu dengan cara yang luar biasa hebat. Hanya saja, hal yang indah sering kali diambil dengan cepat. Kehidupan seperti sengaja memperoloknya.
Jasmine menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Dadanya bergemuruh dengan hebat. Satu-satunya yang paling bisa melukainya di dunia ini adalah ingatan tentang putrinya. Sesuatu yang paling suci yang ia dapat dari kehidupan sekaligus sesuatu yang direnggut dengan cara kejam.
Ya Tuhan. Mungkinkah surga itu ada? Andai ada, ia ingin jika ada sedikit kebaikannya yang tersisa, akan ia berikan pahalanya untuk putrinya sebagai tiket mendapatkan tempat yang lebih baik. Sebaliknya. Ribuan dosa yang ia miliki biarlah ia tanggung seorang diri. Biar Tuhan menghukumnya seorang, jangan sampai putrinya terseret oleh tindakannya.
Jasmine menatap jam di tangan dan menatap angka yang terlihat menonjol. Pukul 20.10 waktu Manhattan. Jasmine menatap langit malam, merasa hampa, dan kemudian berbalik begitu saja dari halaman belakang.
Dia membutuhkan hiburan malam ini. Dengan langkah cepat, Jasmine mencari keberadaan William. Seperti tebakannya, lelaki itu berada tak jauh darinya. Tepatnya di ruang belakang yang hanya selisih dua ruangan dari halaman.
Ruang belakang ini didesain sebegitu rupa oleh William dengan keahliannya. Satu set kursi kayu dengan sandaran khusus yang katanya didatangkan langsung dari Dubai membuat perabotan ini terkesan indah. Ada karpet Persia khusus yang langka, katanya. Jasmine tak terlalu memahami hal itu. Dia hanya menikmati saja ruangan khusus milik William.
"William," panggil Jasmine.
Lelaki itu tengah duduk memeriksa laporan pengeluaran rumah tangga bulan ini. Malam tak membiarkan William bermalas-malasan. Dia adalah lelaki yang senang bekerja keras dan tak membiarkan dirinya lalai dari tanggung jawab.
"Ya?" lelaki tua itu menoleh sekilas. Perhatiannya kembali lagi ke laporan miliknya. Sebelah tangannya membawa bolpoin, sementara sebelahnya lagi memegang map berisi angka-angka.
"Aku akan keluar sebentar. Kau baik-baik saja kutinggal sendiri menjaga Alice, bukan?" tanya Jasmine memastikan.
"Tidak apa-apa. Pergilah, Jasmine. Wanita seusiamu perlu bersenang-senang!" Wiliam melambaikan tangannya dan mengangguk memahami.
Selama Jasmine berada di rumah ini, dia bekerja cukup keras untuk menjaga Alice dan tetap berada di sampingnya. Padahal seharusnya wanita itu perlu memiliki privasi sendiri untuk melanjutkan hidupnya. Bersenang-senang, misalnya.
__ADS_1
Sekali-kali Jasmine perlu pergi keluar, keluar dari batasan kaku yang ia terapkan sendiri. William memahami hal itu dengan sangat baik.
"Baiklah. Aku akan keluar. Hubungi aku jika terjadi sesuatu." Jasmine berlalu ke kamar untuk mengganti baju dan memoles dirinya dengan cepat. Setelah itu dia pergi ke bawah, mengambil salah satu kunci mobil di garasi dan memilih menggunakan mobil SUV hitam yang sederhana.
Jasmine menuju ke club terdekat. Sebuah kaca mata hitam bertengger di matanya. Wajahnya yang cantik ia poles dengan cukup berani. Sebuah pewarna bibir berwarna merah marun ia sempurnakan dengan mini dress sewarna yang potongannya cukup tinggi dari lutut.
Malam ini udara musim gugur masih terasa sedikit menggigit. Tetapi aktifitas Manhattan tetap saja hidup dan tak terpengaruh sedikit pun. Kota ini beraktifitas dua puluh empat jam non stop. Menawarkan banyak hal dari yang sederhana hingga yang paling khusus sekali pun.
Jasmine telah berada dalam hiruk pikuk perkotaan lama sekali. Dia mengandalkan hidup dari kota metropolitan dan dari penduduknya yang hedonis. Hasrat mereka akan kesenanganlah yang membuat wanita seperti Jasmine bisa memiliki peluang mengembangkan segala bentuk kesenangan.
Jasmine tersenyum dengan miris. Dia telah terjebak dalam siklus seperti ini lama sekali. Memanfaatkan setiap ambisi negatif seseorang, memuaskan setiap hasrat kotor para lelaki hidung belang. Entah hal ini akan berlaku hingga kapan. Siklus ini seperti roda setan yang terus berputar, menyeret banyak hal yang sebelumnya suci menjadi kotor dan murahan.
…
Suara musik di dalam club terdengar menggelegar. Individu-individu bertebaran memenuhi lantai dasar, saling menari dengan penuh hasrat mengikuti hentakan irama. Malam semakin larut. Tetapi kehidupan club ini baru saja dimulai. Tak ada raga-raga lelah yang terlihat. Semuanya seperti sekumpulan orang penuh energi yang berencana menghabiskan sepanjang malam dalam kesenangan semu.
Ada satu dua orang yang terlihat dipenuhi depresi. Stress menjalani kehidupan yang penuh akar masalah. Tetapi jumlah tersebut hanyalah segelintir dari jumlah keseluruhan pengunjung. Minoritas seperti ini keberadaannya tertutupi oleh mereka yang lebih dominan.
"Kau baik-baik saja?" tanya seorang bartender yang telah lama mengenal Daniel.
"Baik. Hanya semakin kehilangan gairahku setiap waktu." Daniel mengangkat kedua bahunya dengan sedikit putus asa.
Dia merasa bingung. Hidupnya telah sempurna, pekerjaannya baik-baik saja, usahanya semakin berkembang, karirnya meroket naik, tetapi kehampaan yang ia miliki semakin besar saja.
Sebenarnya, apa yang salah darinya? Setiap hal yang ia lakukan hanyalah mengikuti teori dari banyak orang handal. Kesuksesan ekonomi dan finansial merupakan kesuksesan awal yang bisa membuka gerbang pada banyak hal di dunia ini Nyatanya, teori tinggallah teori. Apa yang dinilai sebagai rumus utama tidak selamanya berjalan tepat seperti yang diperkirakan.
Kekosongan yang dimiliki Daniel tetap ada, mengendap di lubuk hati dan tak hilang walau digerus waktu.
"Cobalah sesuatu yang baru!" usul bartender itu. Wajah tampannya penuh arti, mengarahkan pandangannya pafa segerombolan wanita tanpa pasangan yang berada tak jauh dari tempat mereka berada.
__ADS_1
"Aku sedang malas melakukan pendekatan pada wanita." Daniel tersenyum lemah. Dia hanya menatap wanita-wanita itu dengan pandangan tak berminat.
"Baiklah. Jika wanita saja gagal menarik perhatianmu, mungkin kau memang mengalami masalah. Jangan-jangan minatmu sudah beralih pada lain gender." Bartender tersebut mengernyitkan sedikit keningnya, membayangkan orientasi seksual Daniel yang tak normal.
Danie yang mendengar itu hanya bisa tertawa lebar. Kehilangan minat pada wanita bukan berarti orientasinya berubah menjadi gay. Ya Tuhan. Dia masih normal luar dalam. Tak ada kelainan apa pun dalam dirinya. Hanya sekadar kekosongan tak berkesudahan. Kekosongan yang jelas tak akan hilang jika diisi oleh lelaki.
"Aku bukan orang yang menolak gay, tetapi yang jelas aku bukan gay sama sekali. Jiwaku masih sehat selama menyangkut tentang orientasi seksual. Mungkin saat ini, aku hanya sedikit merasa malas. Entanlah. Aku jenuh untuk melakukan apa pun." Daniel merentangkan tangannya dengan lemah, merasa tak berhasil mendeskripsikan dengan jelas apa yang ia rasakan.
"Kuharap kau bisa segera mengatasi keluhanmu sendiri. Cobalah bersenang-senang malam ini, Bro!" Bartender tersebut memberi saran dan segera saja sibuk dengan pesanan yang lain. Dalam waktu sesaat, Daniel menjadi terabaikan. Dia seperti lelaki tanpa arah yang dibiarkan tersesat di dalam keramaian.
Mungkin, inilah yang namanya kesepian sejati. Ketika ragamu berada di antara hiruk pikuk orang-orang, tetapi batinmu merasa sendiri. Seperti orang tanpa arah dan tanpa tujuan.
Mengenaskan memang. Bahkan gemerlapnya dunia malam tak lagi memiliki nilai di mata Daniel. Lelaki itu hanya duduk merenung, pandangannya nyalang tertuju ke lantai dasar yang menyuguhkan banyak tarian manusia beraneka ragam.
Daniel merasa jenuh dan memutuskan untuk pulang saja. Percuma jika ia di sini hanya meratapi kesepian diri tanpa berteman dengan situasi. Akan lebih baik ia kembali ke rumah, meminum wine seorang diri dan mabuk di dalam ruangan pribadi. Biar saja tembok-tembok bisu yang nanti mendengar setiap sumpah serapah dari dasar hatinya. Jangan sampai ia menggerutu di depan orang asing saat mabuk dan hanya akan diolok-olok.
Dengan kasar, Daniel membuka dompet, mengambil beberapa lembar uang, dan meninggalkannya begitu saja di meja konter di bawah gelas kristal minumnya. Dia berdiri dengan tanpa semangat. Saat ia baru saja mengambil beberapa langkah, pandangannya tertahan oleh sesuatu. Bukan sesuatu. Seseorang, tepatnya.
Di sana, tak jauh dari posisi Daniel berdiri, terlihat sesosok wanita yang sangat familier di lantai dansa. Dia tengah menari dengan berani di antara gerombolan laki-laki. Mini dress merahnya membalut dengan sempurna, memamerkan aset miliknya yang berharga. Rambut pirang pendeknya dibiarkan tergerai begitu saja, bergerak selaras dengan tariannya.
Daniel menatap tak suka ketika melihat seorang lelaki menyentuh pinggang wanita tersebut. Dia menggemeretakkan gigi-giginya dan bersumpah serapah.
"Jasmine," katanya lirih, masih terkejut menyadari bahwa wanita itu berada di club yang sama dengannya, tengah menikmati tarian yang tak pantas.
Dengan cepat, Daniel berjalan merangsek kerumunan. Tangannya membelah otomatis setiap penghalang yang ada. Pandangannya hanya tertuju pada satu orang wanita saja. Wanita yang sepertinya kini tak lagi sadar sepenuhnya, karena gerakannnya yang mulai tak terkontrol.
Mabuk. Itulah penjelasan satu-satunya yang bisa Daniel ambil dari penglihatannya. Jasmine, wanita keras kepala sekaligus paling rumit yang dikenalnya, memilih mabuk di club malam.
Wajar sebenarnya. Wanita seperti Jasmine memiliki semua daftar keburukan-keburukan yang ada di dunia ini. Justru aneh melihat wanita itu baru mabuk sekarang setelah satu setengah bulan lebih ia berada di Manhattan tanpa melakukan tindakan amoral seperti ini. Tapi melihatnya seperti ini, mampu membangkitkan reaksi lain dari hati Daniel.
__ADS_1
…