Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
129 - SEASON 2


__ADS_3

Malam ini Violin dikejutkan dengan kedatangan Violin dan James. Mereka tiba di kediaman Alice dengan dua belas orang pengawal. Mertuanya itu membawa limusin hitam yang isinya sekumpulan orang kekar dengan wajah dingin dan datar seperti robot. Para pengawal itu sangat berbeda dengan Leo dan Leon yang bisa bersikap lunak dan berbicara layaknya teman. Alih-alih, mereka seperti robot dengan tombol on-off otomatis. William saja sampai mengerutkan kening dibuatnya.


Kedua orang mertuanya ini mengatakan telah mengetahui kabar terbaru tentang Alice. Jasmine telah mengabari bahwa menantunya itu sempat mengalami ancaman bahaya karena menjadi incaran dari organisasi gelap bernama Black Hell.


Violin dan James tak ingin mengambil risiko terhadap putri menantu mereka. Karena itulah, ketika mereka mendengar kabar ini, mereka segera saja terbang ke sini dengan membawa sekumpulan pengawal yang siap melindungi mereka kapan pun selama apa pun.


Alice tak tahu lagi harus mengatakan hal apa pada mertuanya. Dia telah lama kehilangan orang tua kandungnya sehingga perhatian Violin dan James mampu membuat hatinya sangat tersentuh. Mereka bertindak sigap dan cekatan dalam mengulurkan tangan dalam kesulitan yang Alice alami. Air mata Alice jatuh satu per satu menerima kepedulian dari mereka. Hatinya terasa menghangat. Seolah dunia menawarkan kejutan baru lagi untuknya. Sebuah kado besar setelah ia melewati bahaya kemarin.


Melihat reaksi Alice yang sedemikian rupa, menjadikan Violin ikut terbawa suasana. Dia memeluk menantunya dengan penuh rasa sayang. Pundak Alice ditepuk-tepuk oleh Violin, membuat Jasmine yang melihat semua ini menjadi kesal sendiri. Mereka sudah tua dan dewasa. Untuk apa mengumbar-umbar hal seperti itu?


"Yang benar saja. Aku merasa melihat serial drama film yang membosankan!" Jasmine mengomentari sikap kedua orang tersebut.


Violin, wanita yang terkenal keras dan kasar, ternyata bisa bertingkah dramatis juga. James yang berada di sisinya juga tak bisa berkutik.


"Diam kau, Jasmine! Mulutmu bisa membunuhmu sewaktu-waktu!" balas Violin masih saja mendekap sang menantu. Dia melirik tajam wanita yang telah dipercaya sebagai penjaga Alice oleh Klayver.


"Oh. Tanpa itu pun jika memang sudah jatahnya aku dipanggil Tuhan toh tetap mati tanpa dibunuh." Jasmine mengomentari dengan nada tajam. Alice bisa merasakan hawa permusuhan antara mereka berdua. Sepertinya dua wanita ini mengalami ketidakcocokan.


"Mulutmu memang benar-benar tak tahu sopan santun! Aku tak mengerti kenapa putraku memiliki teman dengan standar sepertimu!" Violin mendesis, menatap dari ujung kaki hingga ujung kepala, menghakimi tanpa kata setelan seksi yang Jasmine kenakan. Wanita itu kini memakai kaos berbelahan dada rendah dipadankan sweater cokelat gelap dan celana kain yang membentuk jelas lekuk kakinya.


"Oh, aku wanita dengan standar tinggi. Kurangi rasa irimu terhadapku, Violin!" Jasmine berkata sembari berlalu pergi meninggalkan ruang depan.


Violin menatap kepergian Jasmine dengan pandangan tajam. Dia selalu menganggap Jasmine adalah wanita ular dengan kemampuan merayu yang sangat menyedihkan. Violin heran sendiri kenapa banyak lelaki yang bisa terjebak oleh pesona wanita seperti itu. Andai saja kecantikan Jasmine diangkat. Wanita itu tak akan memiliki nilai lagi di mata orang lain. Satu-satunya nilai rendah yang Jasmine miliki adalah kecantikan saja. Tidak ada yang lain sama sekali.


"Sayang, kau harus ingat! Hati-hati dengan wanita seperti itu. Dia bisa meracunimu dengan cara paling canggih yang bahkan tak kau sadari." Violin menatap punggung Jasmine dengan sorot mata penuh kebencian.


Terkadang, Violin bisa bertindak masuk akal dan menilai Jasmine dengan objektif ketika mereka saling berjauhan. Tetapi, ketika dekat, Violin tak ubahnya seperti wanita tua cerewet yang dipertemukan dengan musuh bebuyutan.


"Aku bisa mendengar kata-katamu, Violin! Kau harus tahu terkadang banyak wanita tua mati gara-gara sering bersikap marah-marah pada orang lain." Jasmine membalas kata-kata Violin dengan nada tinggi. Dia berjalan semakin cepat, berbelok ke arah tangga dan menghilang dari penglihatan Violin.


"Kau lihat sikapnya, bukan? Wanita itu ular!" Violin merengkuh lengan menantunya dan membawa Alice untuk duduk di kursi ruang depan.


Alice hanya tersenyum simpul. Dia tak mengerti kenapa sikap kedua wanita itu seperti anak-anak yang mudah sekali marah karena hal-hal kecil. Yang satu terlalu sensitif, yang satu terlalu tajam dalam berkata-kata. Sempurna.


"Sudahlah, Violin. Bagaimana pun juga, Jasmine adalah wanita yang sering membantuku dalam banyak hal. Dia juga menjagaku dengan baik." Alice mencoba menjelaskan dan menaikkan nilai Jasmine. Dia tak tega juga Jasmine mendapatkan kritik tajam dari Violin. Toh, kontribusi Jasmine untuk Alice juga banyak. Tak pantas rasanya jika ia diam saja mendengar Jasmine dinilai terlalu buruk.

__ADS_1


"Aku tahu. Tetapi aku dan dia tidak ditakdirkan cocok satu sama lain. Kami memang seperti ini. Kau harus menerima sikap kami dengan baik." Violin membela diri.


Beginilah Violin adanya. Jika ia tak senang pada seseorang, maka dia akan mengatakan dan menunjukkan hal tersebut secara terus terang. Pantang baginya berpura-pura cocok padahal bertentangan hatinya.


"Kau ini …." Violin menggelengkan kepalanya, merasa tak berdaya. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana keras kepalanya Violin dalam memandang sesuatu. Dia adalah orang yang tak mudah berpindah haluan ketika memutuskan untuk berseberangan dengan seseorang.


Alice kembali mengamati para pengawal yang Violin bawa. Mereka semua masih setia berdiri di halaman depan rumah Violin. Membuat lahan seluas dua ratus meter persegi itu tampak seperti barisan pasukan khusus.


Ini merupakan sesuatu yang tak Violin suka. Bayangkan saja di depan rumahmu ada sekelompok manusia kaku layaknya robot dengan tampang datar tanpa ekspresi sama sekali. Nilai mereka sebagai manusia yang berpersaan hilang dalam sekejap mata.


"Bisakah aku menyuruh William untuk membawa orang-orang itu ke dalam ruangan khusus? Aku memiliki pondok kayu di belakang rumah yang bisa digunakan oleh mereka. Kupikir, ada baiknya mereka beristirahat untuk sejenak setelah menjalani penerbangan dari Washington. Begitu pun denganmu, Violin. Kau harus mengistirahatkan badanmu. Kusiapkan sebuah kamar di lantai bawah untuk kau pakai bersama James. Bagaimana?" Violin menawarkan. Dia memberi isyarat secara sekilas kepada William agar William segera membawa pergi mereka semua.


Saat William mulai melangkah keluar mengarahkan mereka, Violin menahan keinginan Alice.


"Para pengawal itu memang bertugas untuk menjaga keamananmu. Kita tidak tahu tindakan apa yang akan diambil oleh Luiz Martinez untuk membalaskan sakit hatinya karena berhasil dilumpuhkan William dan terpaksa berada di penjara entah untuk berapa lama." Violin berkata tegas. Dia tak setuju dengan usul Violin memberi mereka waktu beristirahat meskipun untuk sejenak.


Bukankah tujuan pengawal memang untuk menjaga mereka? Percuma jika kita telah menyewa pengawal dengan harga mahal tetapi akhirnya diperlakukan secara lunak hanya untuk berleha-leha. Tidak mungkin Violin mau melakukan hal-hal seperti itu.


"Violin, meskipun mereka pengawal, bukan berarti mereka tak memiliki rasa lelah atau pun rasa jenuh seperti kita. Mereka berhak diperlakukan dengan layak. Biarkan mereka beristirahat. Toh, jika stamina mereka kuat pasti akan menguntungkan kita juga akhirnya." Alice masih membujuk dengan halus. James yang berada tak jauh dari mereka hanya mengulúm senyum kecil, merasa mendapatkan tontonan menarik.


Violin yang dikenal sebagai wanita yang keras juga pasti akan luluh jika dihadapkan pada sikap Alice. Memangnya siapa yang bisa menolak sikap Alice? Wanita itu gabungan dari kekuatan dan kelembutan dan dicerminkan dengan sikap yang luar biasa.


"Baiklah. William! Bagi mereka dalam dua kelompok dan suruh mereka beristirahat sejenak secara bergantian. Jangan biarkan penjagaan rumah ini mengendor meskipun dalam waktu yang singkat. Aku tak akan menoleransi mereka jika terjadi hal-hal yang tak seharusnya." Violin mengalah. Dia tak bisa menolak terus-terusan permintaan menantunya itu.


Senyum James semakin lebar. Tebakannya benar. Di balik sikap Alice yang lemah lembut, tersimpan kekuatan yang jarang dimiliki pada wanita lainnya. Menarik. James semakin kagum dengan cara Alice mengatasi Violin.


"Kenapa kau tertawa, Sayang?" Violin melihat tingkah James dan bertanya dengan curiga.


"Tidak apa-apa. Kau hanya semakin cantik setiap harinya, Violin. Kupikir aku semakin mencintaimu." James segera menyeruput teh dari cangkir yang baru saja disajikan tanpa menghiraukan betapa panas cairan ini. Dia hanya butuh melarikan diri secara cepat dari mata tajam istrinya yang mulai menghakiminya.


Violin menyipitkan matanya, merasa tak mengerti dengan keanehan yang terjadi pada James. Tetapi ia tak ingin terlalu memperpanjang masalah ini. Ada banyak masalah genting yang perlu ia bicarakan dengan Alice secara langsung.


"Alice, mulai hari ini hingga waktu yang tidak ditentukan, aku dan James akan berada di sisimu. Kau membutuhkan semua kekuatan yang bisa kau dapatkan saat ini. Tolong jangan menolak!" Alice berkata dengan serius.


Tidak mudah bagi seorang wanita normal untuk berurusan dengan organisasi besar sekelas Black Hell. Organisasi itu memiliki banyak tangan tak terlihat yang bisa saja menarik Alice sewaktu-waktu dengan cara yang kejam. Satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan saat ini adalah tetap selalu waspada dan tidak mengendurkan penjagaan sama sekali. Satu kecerobohan saja, bisa menghasilkan akibat yang fatal.

__ADS_1


Alice bukanlah wanita yang bodoh. Dia mengetahui kenyataan ini dengan sangat baik dan tidak berencana untuk menolak bantuan yang Violin tawarkan. Dia memiliki Axel. Putra tunggal yang ia sayangi lebih dari segalanya. Untuk menjaga dirinya dan putranya, Alice harus menerima setiap bantuan kekuatan yang ada.


Violin dan James merupakan dua orang yang telah banyak berpengalaman dalam masalah dunia gelap. Mereka memiliki mental yang kuat dan insting yang tajam. Bukankah Klayver merupakan bentukan dari mereka? Itu artinya, berada bersama Violin merupakan pilihan yang baik.


"Kau benar, Violin. Aku butuh semua kekuatan. Aku tak tahu akan sejauh mana Black Hell akan berbuat." Alice mengangguk.


Pandangan Alice kembali melayang. Telunjuknya mengapit dagu dengan was-was. Ada satu hal yang membuatnya khawatir. Jika Alice saja dijadikan sasaran oleh satu organisasi gelap sudah kalang kabut. Bagaimana dengan nasib Klayver? Lelaki itu bukankah lebih mengkhawatirkan? Dia dijadikan sasaran oleh banyak anggota organisasi gelap di luar sana. Bukan hanya organisasi. Bahkan banyak oknum perseorangan, orang-orang politik, dan lembaga hukum yang berwenang di banyak negara.


Tidakkah Klayver keadannya lebih genting dari dirinya? Lelaki itu bertindak seorang diri sehingga kekuatannya terbatas. Tidak ada seorang pun yang membantunya. Mau tak mau ia menanggung nasibnya sendiri demi untuk bertahan hidup. Semua pemikiran ini membuat Alice merasa tertekan. Dia mulai berpikir yang tidak-tidak.


"Alice, kau baik-baik saja?" tanya Violin khawatir. Dia melihat raut muka Alice berubah jadi semakin memucat secara perlahan. Sebuah kondisi yang menyiratkan bahwa ia tak baik-baik saja.


"Ada apa, Sayang? Ada yang perlu kau bicarakan dengan kami?" Kali ini James yang bertanya. Dia mengamati mimik Alice yang tak seperti biasanya.


"Aku mengkhawatirkan Klayver. Apakah dia baik-baik saja? Dia bertindak sendiri dalam menghadapi banyak bahaya di luar sana." Alice menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Tubuhnya mulai gemetar. Menahan isakan yang hampir keluar tanpa kenal waktu.


"Alice, kami juga khawatir tentang keadaan Klayver saat ini. Sudah lama dia membiarkan kami tanpa kabar. Tetapi, harus kau ketahui bahwa kesendirian merupakan kekuatan Klayver yang sebenarnya." James menjelaskan apa adanya. Dia mendekat ke arah Alice dan mengusap lembut tengkuk menantunya.


Perlahan-lahan, Alice mengangkat tangannya dan membiarkan wajah pucatnya kembali terekspos.


"Kesendirian merupakan kekuatan Klayver?" tanya Alice tak mengerti.


James duduk di samping Alice dan membuat Violin bergeser ke arah lain. Dia memahami bahasa tubuh suaminya saat lelaki itu memilih menjelaskan masalah ini secara langsung dari mulutnya sendiri.


"Tahukah kau, Alice? Klayver adalah satu-satunya anakku yang menyukai kesendirian dan tak terlalu menikmati kebersamaan keluarga dalam bentuk apa pun. Dia jenis introvert sejati. Keluarga kami memang introvert, tetapi tak pernah separah Klayver. Itu semua semakin tercermin saat ia mulai dewasa." James menatap langit-langit ruangan, membayangkan masa-masa yang telah ia banyak lalui ketika melihat perkembangan Klayver.


"Dia orang yang suka melakukan apa pun seorang diri. Dia menyelesaikan masalah seorang diri, mengatasi setiap kendala tanpa bantuan dari pihak lain. Pernah aku memaksa Klayver untuk bekerja bersama saudara-saudaranya dalam menghadapi beberapa musuh. Ternyata dengan cara itu justru membuat kemampuan Klayver terbatas. Dia selalu melangkah di luar prosedur dan menganggap langkah partnernya sendiri adalah garis terlarang yang akan menghambat tindakan Klayver. Jadi, memang begitulah Klayver. Bertindak seorang diri."James menjelaskan dengan sabar.


"Bukan berarti dia selamanya bertindak sendiri. Jika ia mengalami hal yang sangat mendesak, ia baru akan membiarkan orang lain masuk ke dalam masalahnya sebagai tenaga tambahan. Tetapi setelah keadaan mampu ia kendalikan lagi, dia akan memilih kembali pada kesendirian. Itulah kenapa dia menolak menggunakan orang-orangku selama ini." Violin menambah penjelasan James.


Mendengar hal ini, Violin jadi sedikit mengerti. Mereka dulu menikah karena sebuah kesepakatan karena Klayver membutuhkan organisasi William. Setelah keadaan genting itu terlewati, lelaki itu memang tak menggunakan jasa anak buah William lagi. Rupanya hal itu menjadi kebiasaan yang Klayver bawa. Dia sudah terpogram untuk bertindak sendirian.


"Kau tak perlu khawatir, Alice. Klayver akan lebih leluasa jika ia bertindak sendiri saat ini. Toh jika pun ia mendapat kesulitan, aku yakin dia pasti akan datang kepada kami. Dia lelaki yang cukup cerdik." James berusaha menenangkan menantunya dengan senyum hangat. Dalam hati, ada suatu kepedihan tersendiri saat ia mengatakan hal ini. Mulutnya bisa berkata untuk tak khawatir. Tetapi jauh di lubuk hatinya, James adalah orang yang paling khawatir mengenai keadaan Klayver.


Orang tua mana yang tidak khawatir melepaskan kepergian putranya menghadapi bahaya seorang diri? Semua kata-kata menenangkan yang ia berikan pada Alice, tak ubahnya seperti kemunafikan belaka untuk membuat menantunya merasa lebih tenang. Violin yang melihat mimik muka James hanya diam, memahami lebih dari siapa pun jika apa yang dikatakan James bertolak belakang dengan apa yang lelaki itu pikirkan.

__ADS_1



__ADS_2