
Daniel menatap Alice lama. Dia mengedipkan mata terkejut, mencoba memahami perkataan Alice.
Perlahan namun pasti, Daniel meraih tangan Alice dan mengusapnya lembut. Dia melihat kekhawatiran di mata Alice dan merasa bersalah karena telah membuat wanita ini terbebani karena dirinya.
"Jangan khawatir, Alice. Aku laki-laki. Aku cukup jantan untuk menanggung semua konsekuensi dari tindakanku." Daniel mencoba menenangkan. Dia tersenyum. Sangat lembut.
Alice memejamkan mata, tak menyangka apa yang ia sampaikan menjadi serumit ini Daniel tidak mau mundur dari tindakannya. Dia terlalu keras kepala. Bagaimana Alice menyampaikan bahwa tindakan Daniel mampu membunuh dirinya sendiri. Alice hanya mencoba membuat Daniel terhindar dari kematian konyol.
"Daniel, tindakan yang kau lakukan tidak sesederhana itu. Ini menyangkut tentang keselamatanmu." Alice akhirnya mengatakan hal yang sejujurnya. Jika apa yang ia sampaikan masih saja disangkal oleh lelaki tersebut, Alice benar-benar menemui kebuntuan.
"Jangan khawatir, Alice. Jangan terlalu dipikirkan," kata Daniel ringan. Dia melepaskan tangan Alice dan berbalik untuk mengambil kopi yang ia buat.
Senyum Daniel masih terlihat cerah. Sinar matanya hangat. Tetapi Alice melihat kesuraman di masa depannya.
"Aku mohon, Daniel. Tolong hentikan."
Hanya ini satu-satunya hal yang bisa dilakukan Alice. memohon dan memohon. Alice menolak untuk menyerah kalah. Karena jika kalah, nyawa Daniel akan melayang. Hilang diambil oleh Klayver.
Daniel masih saja tak merespon permohonan Alice. Dia mengangkat topik lain seolah-olah ingin menenangkan Alice secara pelan-pelan.
Akhirnya, karena Daniel tak kunjung melakukan apa yang Alice inginkan, wanita itu mulai mengalirkan air mata. Dia menangis tanpa suara dengan menopangkan kedua tangan menutupi wajah.
Daniel yang melihat reaksi Alice jadi kebingungan. Dia tak terbiasa melihat wanita menangis. Apalagi Alice. Berada di posisi ini benar-benar membuatnya kalut.
"Alice, ada apa denganmu?" tanyanya bingung menepuk-nepuk pundak temannya. Berharap dengan seperti ini Alice bisa ditenangkan.
Alice masih menangis sesenggukan. Pikirannya semakin kacau. Membayangkan Daniel dibantai oleh Klayver membuat ia semakin terjebak dalam kesedihan tanpa ujung.
"Alice, aku mohon, berhenti menangis, oke?" Daniel kelimpungan. Dia berjalan bolak-balik di sekitar Alice tanpa tujuan. Secara berkala ia menepuk-nepuk bahu Alice lembut, tetapi tak kunjung membuahkan hasil. Isakan Alice semakin menjadi-jadi.
"Sshhhtt, Alice. Jangan seperti ini. Aku benar-benar tak mengerti harus bagaimana."
Daniel selalu melihat Alice bersikap kuat dan tahan banting. Dia belum pernah menyaksikan Alice hancur seperti ini. Tentu saja Daniel kelimpungan mengatasi keadaan ini. Dia tak mengalami pengalaman sama sekali mengatasi sedu sedan kaum wanita.
"Aku hanya ingin memintamu menghentikan pencarian tentang Eyes Evil. Tetapi kau menolak. Tolong lakukan ini demi diriku, Dan. Aku mohon," pintanya dalam tangis pilu. Suara Alice gemetar hebat. Kedua bola matanya menatap Daniel dengan sorot mata paling mengibakan.
Daniel menjadi salah tingkah. Ia menatap Alice lemah dan meraih tubuh Alice dalam pelukan hangat. Sebuah pelukan yang ia maksudkan untuk menenangkan.
"Alice, semuanya tidak semudah itu, kau tahu! Aku sudah terlanjur membentuk perjanjian dengan seseorang untuk melakukan pencarian tersebut. Dan aku sudah menginformasikan perkembangan informasi ini pada pihak lain." Daniel menarik nafas dengan berat. Dia sebenarnya ingin menyembunyikan fakta ini, tetapi keadaan memaksa Daniel untuk jujur dan mengungkapkan hal ini pada Alice.
Alice melebarkan mata tak percaya. Dia menguraikan pelukan Daniel dan menatap lelaki tersebut. Pandangan matanya penuh tanya.
"Apa maksudmu?" tanya Alice menuntut penjelasan. Isak tangisnya sudah mulai reda. Tetapi ketakutan di matanya masih terlihat kuat.
Daniel memejamkan matanya sejenak dan mempersiapkan diri untuk mengatakan semuanya. Apa yang akan ia katakan pasti sedikit banyak melukai Alice. Dia, secara langsung menbuat temannya dalam situasi sulit.
"Aku sebenarnya telah lama mencurigai tentang Klayver. Kemarin aku ke rumahmu hanya untuk mengonfirmasi kecurigaanku. Aku sengaja memancingmu untuk membahas tentang pencarianku pada Eyes Evil. Tak kusangka kau bersikap defensif melindungi informasi ini. Dari reaksimulah aku menarik kesimpulan bahwa Klayver adalah Eyes Evil. Kau memiliki mata yang tak mungkin berbohong. Kau mudah dibaca, Alice."
__ADS_1
Akhirnya, Daniel mengungkapkan hal ini juga.
Dia sudah lama menahan ini. Sekarang Alice memaksanya membahas topik yang sangat sensitif. Akan lebih baik dia membuka kejujuran di antara mereka. Berbohong pada Alice adalah sebuah beban yang menggerogoti nuraninya.
Mendengar pengakuan Daniel, Alice seperti lumpuh mendadak. Dia merasa seluruh tubuhnya tak memiliki daya sama sekali.
"Apa yang kau bicarakan Daniel? Kau mengambil kesimpulan bahwa eyes evil adalah Klayver?" Alice terbelalak tak percaya. Jika Daniel sudah sampai pada kesimpulan tersebut, Alice sudah terlambat menyelamatkan situasi ini. Apalagi jika Daniel sudah meneruskan informasi ini pada pihak lain.
Masalah ini terlalu rumit. Alice mencengkeram ujung kemeja yang ia kenakan dengan sangat kuat. Perasaanya sudah kacau balau. Semua tali yang ia pegang sudah siap runtuh kapan saja.
"Kau tak perlu berpura-pura padaku lagi, Alice. Dua hari sebelum pernikahanmu, petunjuk yang kumiliki mengarah pada Klayver. Saat pernikahanmu berlangsung, intuisiku mengatakan Klayver bukanlah lelaki sederhana.
"Saat itu aku sebenarnya hadir dalam pesta pernikahanmu, tetapi aku mengambil tempat yang paling jauh untuk mengawasi kalian. Maafkan aku, Alice. Aku telah bertindak seperti ini. Tetapi aku benar-benar harus mendapatkan informasi ini jika aku masih menginginkan hidupku tak ditekan pihak lain."
Daniel menjelaskan semuanya. Dia, dengan kata lain telah ditekan sedemikian rupa jika tidak bisa memberikan informasi mengenai Eyes Evil. Tetapi mencari informasi ini juga membuat nyawanya terancam. Daniel seperti makan buah simalakama. Apa pun yang ia putuskan, membuat ia dalam bahaya.
Tadinya Daniel menduga Alice belum tahu identitas Klayver. Tetapi saat kemarin ia melihat respon Alice yang sangat terguncang, dia yakin Alice sudah tahu kenyataan ini.
Daniel jadi mengira-ngira. Apakah tebakan Rachel mengenai pernikahan Alice yang mendadak adalah sebuah kebenaran?
Mungkin Rachel benar. Ada niat terselubung dalam pernikahan Alice. Dia menikah dengan Klayver sebagai transaksi bisnis agar ia bisa menggunakan jasanya untuk menumpas kasus kematian Anson.
Meskipun Daniel masih belum tahu apa bayaran yang Klayver minta dari Alice, tetapi Daniel menduga pasti ada perjanjian tersendiri dalam pernikahan mereka.
"Bagaimana kau bisa menyimpulkan bahwa Klayver adalah Eyes Evil, Daniel?" Alice masih saja mencerca Daniel dengan pertanyaan ini.
Dia tahu kemampuan Klayver. Banyak pihak yang telah memburunya terapi tak ada satu orang pun berhasil mendapatkan kepastian identitas Klyaver. Jadi apa yang telah Daniel lakukan sehingga ia bisa sampai pada kesimpulan ini?
"Setelah sekian banyak kesalahan, akhirnya semua bukti itu mengarah pada Klayver. Kamarin saat kecurigaanku semakin kuat, aku merekam wajah Klayver dengan kamera kecil di kemejaku ketika aku mengunjungimu. Aku telah mengirimkan hasil visual Klayver pada pihak lain yang menyewaku."
Daniel menyesap kopi pelan, dan kembali melanjutkan penjelasannya.
"Pihak yang menyewaku itu sangat unik. Dia bisa mendeteksi apakah hasilnya benar atau tidak ketika aku mengirimkan foto Klayver secara langsung. Dan, pagi ini mereka mengonfirmasi bahwa Klayver benar-benar Eyes Evil."
Alice terbelalak lebar. Dia melongo tak percaya. Jika memang pihak lain bisa mengonfirmasi eyes evil hanya dari gambar visual, kenapa mereka repot-repot mengirim orang untuk mencari informasi ini? Terlalu ganjil.
"Pihak yang menyewaku sepertinya memiliki sebuah metode sendiri untuk mengonfirmasi tentang Eyes Evil. Aku menduga mereka memiliki foto lama Eyes Evil. Jika mereka memiliki teknologi semacam pendeteksi wajah, mereka bisa menyatukan dua foto dengan umur yang berbeda dan wajah yang berbeda untuk mengonfirmasi apakah orang tersebut adalah orang yang sama atau tidak." Klayver menjawab rasa penasaran Alice.
"Teknologi seperti ini benar-benar ada?" Alice masih tak percaya.
"Ada. Itu seperti sidik jari tetapi digunakan untuk wajah. Jika kau pernah memiliki foto awal, kau bisa mencocokkan foto lain dirimu. Tak peduli penampilanmu kau ubah habis-habisan, teknologi itu tetap bisa mendeteksi dirimu."
Alice baru mendengar ada alat seperti ini. Jika mereka bisa melakukan semua itu, pastilah pihak tersebut memiliki foto lama Klayver. Entah mereka mendapatkannya dari mana.
"Aku tahu kau sudah tahu Klayver tidak sesederhana itu. Jadi, apakah pernikahanmu dengan Klayver hanya pernikahan transaksi saja? Tadinya aku percaya tentang cinta pada pandangan pertama yang kau katakan pada Rachel. Tetapi mengingat identitas Klayver yang rumit, aku jadi berpikir ulang tentang niat pernikahanmu."
Daniel juga termasuk salah satu orang yang memiliki intuisi di atas rata-rata. Dia bisa menyimpulkan suatu keadaan dengan cepat. Alice tahu menyangkal Daniel adalah tindakan yang sia-sia.
__ADS_1
"Ya. Ia berjanji akan membantuku mencari tahu pembunuh Anson dan menghabisi mereka. Dia dan aku memiliki suatu kondisi kuat sehingga pernikahan ini terjalin."
Alice enggan mengatakan bahwa Kalyver ingin menggunakan organisasi William. Dia hanya bisa menjelaskan secara sekilas tentang pernikahan ini.
Alice masih terguncang dengan infornasi yang Daniel sampaikan padanya. Yang jelas, sekarang ada pihak lain yang telah mengetahui identitas Klayver. Hanya tinggal waktu saja Daniel akan dibantai habis-habisan oleh Klayver. Memikirkan ini membuat Alice semakin tertekan. Nasib Daniel semakin rumit.
"Kenapa kau mengambil job berbahaya seperti ini, Daniel. Tahulah kau hidupmu sebentar lagi bisa berakhir di tangan Klayver? Dia orang yang kejam."
Air mata Alice kembali mengalir turun. Dia membayangkan nasib buruk yang sebentar lagi menimpa Daniel. Sangat menyakitkan membayangkan semua ini.
"Aku terdesak keadaan, Alice. Pihak yang menyewaku adalah pihak yang pernah menyelamatkan aku di masa lalu. Sebenarnya, aku bisa saja menolak job ini, tapi aku khawatir pihak itu akan menghabisiku. Meskipun di permukaan mereka bersikap baik padaku, tapi aku yakin mereka pasti merencanakan sesuatu untukku."
Daniel akhirnya mengatakan hal itu. Setelah merekam foto Klayver, Daniel dilanda kebimbangan. Dia tahu ada bahaya yang kuat jika meneruskan informasi ini. Karena itulah dia sengaja mengatakan akan mengundurkan diri dari job ini, dan The Queen menanggapi dengan dingin.
Saat itulah Daniel memahami job ini tidak sesederhana yang ia duga. Awalnya, Daniel berpikir dia bisa keluar begitu saja dari pekerjaan ini. Tetapi situasi telah berkembang di luar dugaan. Dengan terpaksa, Daniel menyerahkan rekaman tentang klayver.
"Tapi dengan menyampaikan ini pada pihak lain, kau otomatis melawan Klayver. Dia sudah tahu bahwa kau memburunya. Jika dia tahu kau sudah menyebarkan berita ini, hanya masalah waktu dia akan membunuhmu. Itulah kenapa aku ke sini sekarang. Berharap masih bisa menghentikan niatmu."
Alice menutup wajahnya dengan putus asa. Kesedihan kembali merasuki hatinya. Dadanya terasa sesak dan sulit untuk bernafas. Masalah ini telah berjalan di luar kendali mereka. Hanya waktu yang bisa menjawab nasib Daniel. Akhir seperti apa yang mereka miliki.
"Jadi, dia sudah tahu pergerakanku? Dia memiliki intusi yang hebat. Suamimu luar biasa." Daniel berkata ringan, menyembunyikan sorot matanya yang mulai tertekan.
Jujur, Daniel sedikit terkejut mendengar Klayver telah mengetahui tindakannya. Dia tak menyangka akan secepat ini lelaki tersebut meraba langkah yang ia gunakan.
Alice menatap Daniel dengan mata memerah karena bekas tangis. Dia tahu meskipun Daniel menanggapi ringan, pada dasarnya lelaki itu cukup khawatir membayangkan nasib dirinya. Alice yakin reaksi Daniel hanyalah sekadar untuk menenangkan Alice. Lelaki itu tak ingin Alice ikut terseret masalah ini.
"Daniel, bisakah kau pergi dari Manhattan untuk sementara? Bersembunyilah ke tempat yang tidak diketahui oleh Klayver. Aku akan menutupi keberadaanmu sebisa mungkin."
Alice berkata serius. Hanya inilah satu-satunya cara untuk mencari keselamatan Daniel saat ini. Semakin lama Daniel berada di sini, semakin besar bahaya yang mengancam.
"Alice, Klayver adalah pemburu yang ahli. Dia bisa menangkap keberadaan seseorang dengan mudah. Pergi ke tempat lain pasti akan sia-sia belaka." Daniel menyampaikan isi hatinya.
Reputasi Eyes Evil sudah melegenda. Ia terkenal sebagai pemburu dan pembunuh yang hebat. Ia mempunyai mata yang tajam untuk membantai mangsa. Itulah kenapa ia mendapat julukan si mata iblis.
Alice meraih tangan Daniel dengan gerakan lemah. Dia menggenggam erat-erat tangan yang telah sering menopangnya dalam keterpurukan. Tangan ini yang menjadi salah satu tangan yang berharga dalam kehidupan Alice.
"Berlarilah, Daniel. Aku mohon. Aku akan melindungimu sebisa yang aku mampu. Setidaknya, kita harus berusaha hingga titik akhir meskipun hasilnya tak sesuai harapan."
Meskipun pelarian Daniel hanya sekadar mengulur waktu, semua itu masih pantas diperjuangkan.
Nafas adalah hal yang kita miliki dalam hidup. Jika kita harus berlari ribuan mil hanya untuk mempertahankan satu nafas tersisa, itu pantas dilakukan.
Hidup menjadi lebih berharga saat kematian sudah berada di depan mata. Saat waktu seolah-olah mustahil untuk kita kejar dan miliki. Saat itulah kita mengetahui seberapa besar nafas yang dikaruniakan Tuhan pada kita.
"Alice, jangan masuk ke dalam masalah ini. Biar aku tangani sendiri masalah yang telah kubuat dari awal. Jangan menerjunkan dirimu sendiri pada bahaya. Kau terlalu berharga untuk kuseret dalam kehancuran."
Daniel merengkuh Alice dan mencium puncak kepala wanita ini. Dia merasakan ketakutan yang menyeruak dalam dari Alice. Dengan tangannya yang kokoh, Daniel menepuk-nepuknya seperti anak kecil.
__ADS_1
"Tetaplah hidup dengan baik. Mungkin aku terlalu tak tahu diri. Mungkin aku tak memiliki urat malu. Tetapi, Alice. Aku terlanjur mencintaimu. Hiduplah untuk menyambung nafasku yang mungkin saja bisa berakhir sewaktu-waktu."
…