
Malam ini, Rachel merasakan kekosongan. Ia duduk termenung di dalam kamar dalam kesendirian.
Kisah hidupnya mulai hadir dalam memori otaknya seperi tayangan film dari semenjak ia kecil hingga tumbuh dewasa. Jalan hidupnya tak mudah. Ia hasil dari produk broken home dengan lingkungan keluarga yang bobrok. Setelah orang tuanya bercerai, Rachel ditinggal seorang diri bersama Anna, adiknya.
Dad hanya mengirimi uang dengan jumlah sangat minim selama dua tahun berturut-turut. Untuk bisa tetap hidup, Rachel harus pintar-pintar memutar uang dan menekan banyak kebutuhan tak penting.
Sudah bukan hal asing lagi ketika dia harus menahan lapar di akhir bulan hanya agar adiknya tetap makan. Uang mereka tak cukup untuk membiayai keduanya. Karena itulah, Rachel sering kali mengalah.
Setelah ia lulus sekolah menengah atas, Rachel tak memiliki hasrat untuk kuliah. Dia melamar berbagai pekerjaan dan berhasil menjadi pelayan di sebuah restoran.
Saat itulah kehidupan Rachel terasa lebih baik. Uang dari pekerjaannya cukup membiayai adiknya hingga sekarang Anna kuliah di sebuah universitas negeri.
Rachel bukanlah orang manja. Tulangnya sudah terlatih dari saat ia remaja. Kepedihan telah menjadi makanan sehari-harinya.
Bagi Rachel, kebahagiaan adalah sesuatu yang sangat mewah. Hingga kemudian ia bertemu Harry. Saat itulah pelangi seolah menyentuh hidup Rachel dalam berbagai macam warna.
Harry merupakan air mengalir yang ia temukan saat dahaga. Dia datang ketika Rachel dalam kekosongan. Karena itulah sekalipun sikap Harry terlalu egois dan jarang mengakui keberadaannya, Rachel tetap menerimanya dengan lapang dada.
Sebab bagi Rachel, keberadaan Harry merupakan tali yang membuatnya tetap bisa tersenyum dan merasa memiliki seseorang. Untuk ukuran wanita yang sering kesepian, kehadiaran seorang lelaki tentu menjadi hal pokok.
Tak pernah ia sangka Harry ternyata tega menelantarkan dirinya pada saat pernikahan. Hingga akhirnya ia terjebak dalam cengkeraman Maxen.
Saat itulah jalan hidup Rachel mulai berubah. Keberadaan Harry semakin terasa semu dan tergantikan sosok Maxen. Dengannya, Rachel melalui banyak hal bahagia. Dihargai, disanjung, dipuja, diakui, dan diterima.
Maxen memberikan surga yang bahkan Harry tidak sanggup melakukannya. Dia menawarkan dunia dalam genggamannya, menawarkan kesetiaan dalam lisannya, menawarkan kasih sayang yang sanggup ia berikan.
Maxen memperkenalkan Rachel pada sesuatu yang orang sebut cinta. Membuat Rachel mengerti makna hidup sebenarnya dan membimbingnya bersama pada semua mimpi.
Hidupnya bahagia. Sangat sempurna. Dia bahkan berhasil mengandung calon anak Maxen. Apalagi yang bisa ia tuntut dari Tuhan? Semua hal berhasil Rachel miliki dalam waktu yang singkat.
Tetapi ternyata, kehidupan masih ingin menarik ulur dirinya. Fakta-fakta tentang Maxen mulai bermunculan dan itu sangat menyakitkan. Maxen berubah menjadi Sosok gelap yang tak pernah ia duga.
Rachel mulai takut. Dia seperti terjebak pada lubang dasar yang sangat gelap. Fakta-fakta tentang Maxen seolah menjadi momok terbesarnya.
Bagaimana ia bisa hidup bersama seseorang yang seperti itu? Mungkinkah semua yang Maxen lakukan padanya tidak tulus? Mungkinkah ia bisa membunuh Rachel tiba-tiba jika suatu hari nanti ia tak sengaja membuat kesalahan?
Bayinya. Bayi yang sedang dikandungnya. Akankah Maxen tega melakukan hal buruk juga pada anak mereka?
Rachel mendesis pelan. Dia menutup wajahnya dengan telapak tangan dan mengeluarkan sumpah serapah. Rachel ingin pergi, berlari, sejauh mungkin. Tetapi ia tak tahu harus ke mana. Lari ke rumah Alice juga tak akan membantu. Pikirannya justru akan semakin kacau di sana. Jujur, Rachel tak ingin mengetahui informasi buruk lagi mengenai suaminya. Mentalnya sudah cukup terguncang.
Satu-satunya yang ia pikirkan adalah bayinya. Dia menginginkan janin ini tetap hidup. Berada di sisi Maxen mulai menakutkan bagi Rachel. Jika lelaki itu sanggup membunuh bayi Alice, bukan hal yang mustahil juga Maxen akan menghabisi Rachel dan anaknya.
Tidak. Dia tak ingin semuanya hancur. Dia tak ingin anaknya dalam bahaya. Dia tak ingin hidup satu atap dengan lelaki berlumur darah.
Ya Tuhan, apa yang harus Rachel lakukan? Dia berdiri, memutar tubuh, dan menatap setiap sudut ruangan dalam kehampaan. Mungkinkah ia harus pergi? Rachel memiliki banyak uang tunai semenjak menikah dengan Maxen. Dia juga diberikan mobil. Mungkin ia bisa menggunakan fasilitas tersebut untuk waktu genting seperti sekarang. Bukankah uang tunai akan sulit untuk dilacak? Tetapi lagi-lagi, Rachel bingung harus ke mana.
Jika ia pergi, ia juga meninggalkan Anna. Waktunya tak cukup untuk membawa adiknya pergi. Semua itu semakin membuat Rachel dilema.
Anna adalah bagian terakhir dari keluarga yang ia akui. Meninggalkannya adalah suatu kemustahilan. Jadi, dengan lemah, Rachel kembali terduduk dan menenangkan diri.
Mau tak mau, Rachel terjebak di tempat ini. Dia akan menjadi penonton yang pasif melihat semua perkembangan yang terjadi. Itulah satu-satunya peran dirinya saat ini.
__ADS_1
Saat itulah tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rachel tercekat melihat kedatangan Maxen. Kenapa lelaki itu cepat sekali datangnya? Sementara Rachel masih belum bisa menenangkan suasana hati.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Maxen khawatir. Wajah Rachel terlihat pucat pasi. Mungkinkah ada masalah dengan kehamilannya?
Maxen berjalan mendekat, duduk di samping istrinya dengan masih mengenakan setelan formal. Dia meraih tangan Rachel yang terasa dingin. Wanita itu terlihat semakin kacau. Tangannya kaku dan matanya menolak untuk didekati.
Insting tajam Maxen mengatakan pasti ada sesuatu yang terjadi. Dia meraih dagu Rachel dan memaksanya berhadapan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Maxen ingin tahu.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin sendiri," tolaknya halus. Rachel meraih tangannya kembali, membiarkan tangan Maxen terlepas. Rachel berdiri dan berjalan menjauh dari Maxen.
"Rachel. Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Ada apa sebenarnya?" tanya Maxen menahan kepergian istrinya.
Rachel yang sudah meraih gagang pintu kembali berbalik dan menatap Maxen dengan kepedihan. Dia seperti siap luruh kapan saja. Tubuhnya lemah dan terlihat tertekan.
"Maxen, aku ingin bertanya. Jika aku atau anak kita, suatu hari nanti membuat kesalahan, apakah kau," Rachel memejamkan matanya dengan putus asa. "apakah kau akan membunuh kami?"
Pertanyaan itu bagaikan pisau tajam yang mengoyak kesadaran Maxen. Dia menatap lama istrinya dan mendapati keseriusan dalam mata Rachel.
Suasana berubah menyedihkan dalam keheningan. Pertanyaan Rachel menciptakan kekosongan mendalam dalam nurani. Merobek emosi Maxen dengan cara mengejutkan.
"Membunuh?! Membunuh?!" Maxen berteriak marah.
Rachel berdiri dalam ketakutan. Dia menggenggam sisi pintu dengan erat, seolah benda tersebut bisa menyelamatkannya.
Wajah Rachel semakin pias. Ia menggigit bibir bawahnya sekuat tenaga, membuat setetes darah keluar dengan rasa seperti besi.
"Apakah Harry telah mengatakan hal buruk tentangku?" tanyanya serius. Kedua mata Klayver meminta kejujuran.
Rachel menggeleng dengan lemah. Kedua tangannya gemetar hebat. Dia berusaha menarik tangannya tetapi ditahan kuat oleh Maxen.
"Tidak. Aku hanya … hanya …." Kata-kata Rachel terhenti. Ia terisak pelan, mengeluarkan suara rintihan yang menyayat hati.
Maxen merengkuh istrinya, menarik tubuh ringkih di depannya dan menciumnya dengan intens. Tak ia biarkan Rachel memberontak sama sekali. Dia mengunci Rachel dengan semua posisi, membuat wanita itu mau tak mau bersandar padanya.
Setelah puas mengeksplorasi, Maxen melepaskan istrinya dan membelai rambut pirang Rachel.
"Apalah kau pikir aku sanggup membunuh wanita yang menjadi pusat duniaku?" Maxen bertanya sinis. Ia merasa hancur dengan cara yang luar biasa.
Apakah Rachel tidak pernah bisa menilai semua tindakannya? Apakah cinta yang ia ungkapkan tak memiliki arti sama sekali?
"Bagaimana aku bisa membunuh orang yang aku sendiri rela mati untuknya? Seandainya kita terjebak pada suatu keadaan dan hanya bisa menyelamatkan dua nyawa, dua nyawa itu adalah milikmu dan milik anak kita." Maxen beekata dengan getir. Ia berlalu pergi dan meninggalkan kamar begitu saja.
Selama ini Maxen kira ia memiliki arti untuk Rachel. Setelah semua malam yang mereka lalui. Setelah penyatuan yang mereka miliki. Kini, dia dia dihadapkan pada kenyataan pahit. Istrinya sendiri tak cukup besar mempercayainya.
Ribuan harapan telah ia torehkan untuk kehidupan mereka. Khayalan Maxen melambung dan mulai merangkai jutaan minpi. Dalam hatinya yang terdalam, dia berandai-andai Rachel mampu menemani dan melengkapi segala kekurangannya.
Nyatanya, dia tetap saja seperti wanita pada umumnya. Wanita yang sanggup meragukan semua hal yang Maxen rasakan.
Bagaimana bisa Rachel berpikir ia sanggup membunuh wanita itu? Membayangkan dia terluka saja Maxen tidak bisa. Apalagi mengambil nyawanya. Mustahil.
__ADS_1
Rachel adalah permata terbaik. Maxen meletakkan nilai wanita itu di atas dirinya. Hanya saja, sepertinya nilai Maxen tak seperti itu di mata Rachel. Mengenaskan.
…
Maxen duduk dengan sebotol beer di tangan. Dia menghabiskan berjam-jam waktunya untuk merenung di ruang pribadi. Jam sudah menunjukkan waktu dini hari. Tetapi pikiran Maxen bukannya semakin baik, justru malah semakin kacau.
Apa yang telah Rachel katakan tadi membekas kuat dalam pikirannya. Dia ingin mendekati Rachel dan meyakinkan wanita tersebut, tetapi merasa enggan.
Keyakinan dan kepercayaan adalah masalah hati. Kita tak akan pernah bisa memaksa seseorang untuk percaya jika hati kecilnya telah menolak. Jadi, sama saja Maxen mau bertindak apa. Toh Rachel tetap saja menilai dirinya buruk.
Seharusnya dari awal, Maxen menyadari tak akan ada wanita yang cukup baik untuk menerimanya karena ia memiliki sisi lain yang penuh dengan kecacatan. Hati nuraninya telah memperingatkan, tetapi Maxen terlalu membatu dan menerobos aturan.
Sekarang, keadaan telah melawannya. Wanita yang ia percayai berbalik arah dan mundur teratur. Maxen ingin menggapai, tetapi tak sanggup mendekat. Ada jarak tak kasat mata yang telah Rachel bentuk untuk mereka.
Saat waktu telah lama berlalu, Maxen memutuskan untuk kembali ke kamar dengan pandangan sedikit tak fokus. Meskipun dia tidak cukup mabuk, tetapi efek beer tersebut berhasil merampas sebagian konsentrasi otaknya.
Lorong-lorong mansion terasa panjang dan lama untuk ia lalui. Maxen berhenti di beberapa titik dan mencoba mengumpulkan kembali konsentrasinya. Setelah perjuangan yang cukup lama, akhirnya ia berhasil tiba di pintu kamar.
Maxen menarik nafas lega saat berhasil membuka kenop pintu dan menyadari istrinya tidak mengunci pintu kamar mereka. Mungkin Rachel lupa, atau mungkin ia mulai melunak.
Dengan pelan, Maxen membuka daun pintu dan memasuki kamar. Cahya remang-remang memaksa matanya untuk beradaptasi, mengatur fokus pupilnya dan menyesuaikan keadaan.
Rachel berbaring menyamping di atas ranjang. Malam ini ia memakai piyama katun bermotif abstrak. Selimut tebal menutupi setengah tubuhnya dari pinggang hingga mata kaki.
Tanpa suara, Maxen mencoba mendekat dan naik ke atas ranjang. Suara nafas Rachel terdengar ditahan. Tubuhnya kaku dan menahan diri. Dalam sekali pandang, Maxen tahu wanita tersebut belum tidur dan masih sadar untuk merasakan kehadirannya.
Maxen menguatkan tekad dan membelai bahu Rachel pelan dari arah belakang. Wajahnya sedikit ragu-ragu sebelum akhirnya ia memutuskan melakukan tindakan berani. Dia menjatuhkan diri ke atas ranjang, memeluk istrinya erat.
"Aku mencintaimu, Rachel. Sangat. Tidakkah kau mengerti itu?" Di kecupnya wanita yang berada di dekatnya dengan sepenuh hati. Tak ia pedulikan tubuh Rachel yang semakin menegang dan mencoba melepaskan diri.
"Tolong jangan memberontak. Tolong biarkan aku memelukmu malam ini. Demi Tuhan, aku tak akan melukaimu. Aku bersumpah atas nyawaku." Maxen mengiba dengan air mata berlinang. Dia menyurukkan kepalanya di cekungan leher istrinya dan menangis tanpa suara.
Rachel merasa hatinya semakin kacau. Ia membuka kelopak matanya perlahan dan merasakan kepedihan yang mendalam dari suara Maxen. Air mata Maxen membuat piyama yang ia kenakan terasa lembab.
Rachel telah melamapui banyak kepedihan sehingga ia tak asing lagi ketika menemui hal serupa. Saat ini, ia merasakan keputusasaan yang mendalam dari tangisan Maxen.
Rachel tak tahu apa yang mendorongnya. Mungkin ia terbawa keadaan, mungkin juga karena spontanitas. Dia membalikkan tubuh, menatap wajah Maxen yang menguarkan aroma beer dan menyadari tatapan matanya yang penuh luka.
"Maxen," lirih Rachel, merasa bimbang.
"Jangan katakan apa pun. Aku tak ingin bertengkar lagi. Biarkan saja aku memelukmu saat ini. Aku janji tak akan meminta apa pun lagi darimu." Maxen meminta penuh harap. Ia mengusap punggung Rachel dengan gerakan pelan dan menyenandungkan lagu sedih.
Salah satu bakat yang dimiliki Maxen selain dalam bidang bisnis adalah olah vokal. Dulu ia sempat tergabung dalam paduan suara khusus. Suaranya maskulin dan sangat dalam. Dalam nada tinggi juga kuat dan suaranya stabil. Membuat orang yang mendengarnya merasa terbawa suasana.
Rachel mencoba memejamkan mata, memilih membiarkan tindakan suaminya. Bukan hanya Maxen saja yang dirundung kepedihan. Rachel pun tak jauh berbeda. Mereka dua orang yang saling terjebak dengan kepahitan hidup masing-masing. Maxen yang terluka karena tak dipercayai. Rachel yang terluka karena merasa dibohongi.
Begitulah kehidupan. Terkadang apa yang berharga bagi kita mampu melukai kita dengan sangat dalam. Tak ada yang patut dipersalahkan. Di dunia ini, memang ada sesuatu yang didesain untuk berbenturan satu sama lain. Rachel dan Maxen adalah contoh real untuk saat ini.
Setelah dua puluh menit berlalu, Maxen mendengar suara nafas Rachel yang teratur. Ia tersenyum kecil dan semakin mempererat pelukannya.
Istrinya kini berada dalam dekapannya. Tak ada yang lebih penting selain itu. Maxen tak peduli sekali pun dunia akan berakhir besok. Selama malam ini ia sanggup mendekap Rachel, segalanya terasa layak dikorbankan.
__ADS_1
…