Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
TIGA TUJUH


__ADS_3

Keajaiban bisa terjadi kepada siapapun yang dikehendaki Tuhan. Kau tak akan pernah bisa mengira keajaiban mampu mengubah sesuatu bahkan yang sebelumnya tampak mustahil. Itu juga yang terjadi pada Alice. Dia mengalami perkembangan yang sangat signifikan dalam setahun terakhir.


Dia telah kembali bisa berkomunikasi secara normal. Kehangatan telah menyentuh wajahnya, meninggalkan segala jejak kebekuan.


Penderitaan yang bertubi-tubi telah berhasil memperkuat mentalnya. Setelah kesembuhanya, aura Alice tampak semakin kuat. Seolah-olah ia ditempa dengan istimewa melalui banyak cobaan. Insting Alice juga semakin tajam nyaris di semua sisi. Dalam bisnis dia semakin sensitif dalam menerima setiap peluang keberhasilan. Entah kenapa, dia bisa mengetahui mana peluang yang pantas ia ambil dan mana peluang yang pantas ditinggalkan. Tidak mengherankan semua bisnis Alice berkembang sangat pesat. Bahkan, dia mampu melebarkan sayap memperluas bisnis yang Kendrick tinggalkan untuknya.


Dalam keluarga, Alice semakin sensitif dalam menjaga ikatan. Dia memiliki kasih sayang dan penghargaan yang sangat besar untuk putra dan orang-orang yang telah berada disisinya selama ini. Alice bersumpah akan memperlakukan mereka dengan sangat baik sepanjang sisa hidupnya.


Namun, bukan hanya instingnya yang semakin menajam. Kebencianya terhadap Anson juga semakin menajam dengan sangat signifikan. Lelaki itu, telah mengotori tanganya sendiri untuk membunuh orang yang penting baginya. Seribu kehidupan pun tak akan pernah bisa menghapus kesalahanya.


Kebencian yang Alice rasakan semakin mendarah daging. Meskipun Axel telah diserahkan oleh Anson secara suka rela dibawah pengasuhan Alice, semua itu tak kunjung menghentikan kebencian yang ia rasakan. Satu-satunya penyesalan terbesar dalam hidupnya adalah bertemu dengan Anson. Andai saja ia bisa mengulang waktu, dia pasti akan menghapuskan keberadaan Anson dimasa lalu.


Suatu hari, saat Alice tengah menikmati akhir pekan di halaman mansion, dia mendapat tamu yang tak diharapkan. Seorang pelayan memgatakan bahwa lelaki tua bernama William ingin menemuinya. Dengan sorot mata dingin, Alice mengangguk bersedia menerima kedatanganya. Meskipun dia tak menyukai keadaan ini, namun Alice penasaran alasan apa yang mendasari William datang ketempat tinggalnya.


"William. Aku tak menyangka akan mendapat kunjungan mengejutkan darimu." Alice menyambut William dengan tatapan datar di ruang tamu.


Axel, yang melihat lelaki tua itu hanya tersenyum kecil dan kembali bermain. Sepertinya anak itu tak lagi ingat siapa William. Setahun telah berlalu. Wajar bagi seorang anak berusia tiga tahun melupakan memorinya. Mungkin, Anson juga sudah hilang dalam ingatanya.


"Ms. White, apa kabar?" tanya William formal. Dia memakai setelan hitam yang sangat mengesankan.


"Seperti yang kau lihat sendiri, aku sehat tanpa cacat sedikitpun. Kau sedikit lucu menanyakan hal itu. Setahun yang lalu, aku cacat dan tak berdaya, kenapa kau justru menjengukku sekarang saat telah sehat?" Alice menggeleng pelan


William hanya terdiam. Sepertinya Alice telah kehilangan ingatan awal setelah tragedi kecelakaan. Dua bulan William dan Anson merawat Alice siang malam, tanpa kenal lelah. Namun di mata wanita ini, bahkan tindakan tersebut tak ada artinya.


"Maaf, Ms. White."


Alice menunjuk kursi meminta William duduk dan memanggil pelayan untuk membawakan minuman dingin.


"Apa niatmu kali ini, William?" Alice bertanya menuju pokok pembicaraan.


Mudah ditebak orang ini pasti muncul membawa suatu maksud.


"Saya disini untuk menyampaikan permintaan, Ms. White," katanya membuka topik utama.


Permintaan?


"Mr. Mallory berharap bisa berkunjung secara berkala untuk melihat perkembangan putra beliau. Jika anda mengijinkan, saya sangat berterimakasih."


Sebuah permintaan yang nyaris membuat Alice tertawa getir. Setelah semua yang Anson lakukan, dia dengan entengnya mengharapkan kunjungan ini?


"Apakah kau lupa William? Dulu aku memohon-mohon pada pengadilan hanya untuk menemui putraku dan tuanmu yang tirani itu tak pernah sedikitpun mengijinkanku? Sekarang kau meminta hal yang sama? Apakah majikanmu itu tak lagi memiliki otak?" Alice berdiri dari duduknya dan berjalan perlahan-lahan mengitari ruangan. Emosinya penuh dengan kebencian yang membara.


"Bukankah Anson telah secara suka rela menyerahkan Axel padaku? Kenapa sekarang dia menjilat ludahnya sendiri?" tanya Alice.

__ADS_1


William menelan ludahnya beberapa kali, sama sekali tak menyangka akan sebesar ini kebencian Alice terhadap Anson.


Sepertinya pertemuan ini tak akan menghasilkan apapun.


"Mr. Mallory tidak berniat mengambil hak asuh Axel. Dia hanya ingin menemui putranya."


"Huh. Sangat lucu." Alice tertawa sinis.


Willian mengusap hidungnya dan ikut berdiri.


"Jika engaku tak berkenan, saya tidak akan memaksa anda, Ms. White."


Anson sudah memperingatinya untuk tidak terlalu memaksa Alice. Jika wanita ini memang tak mengijinkan, William akan mundur dan menghormati segala keputusanya. Bagaimanapun juga, Anson telah membuat kesalahan yang tak termaafkan. Tak mengherankan jika Alice menolaknya sedimikian rupa. Wanita ini memilih untuk tidak melaporkan pembunuhan Kendrick saja sudah suatu keajaiban.


"Tunggu, William!"


William yang telah melangkah menuju pintu keluar, berbalik kembali penuh tanda tanya.


"Aku mengijinkanya. Dia bisa datang nanti malam jika mau," katanya membuat William terpaku tak percaya.


"Ms. White--"


"Kembalilah dan jangan buat aku menarik lagi kata-kataku." Alice memicingkan mata.


Setelah kepergian William, Alice muluruh di lantai yang dingin. Perasaanya campur aduk.


Di suatu tempat yang lain, Anson telah mendapat kabar pertemuan ini dari William. Dia tersenyum lembut, sama sekali tak menyangka wanita itu masih mau meluluskan permintaanya.


"Meskipun Ms. White mengijinkan, namun anda harus waspada, Tuan." William mencoba memperingatkan atasanya.


"Kenapa?"


"Dia sekarang menyimpan kebencian yang sangat mendalam kepada anda."


Anson tersenyum kecut. Dia sudah memgantisipasi berita ini. Hanya orang abnormallah yang tidak membenci dirinya setelah semua yang telah dia lakukan terhadap wanita itu.


"Akan lebih baik dia membenciku, William. Dan akan lebih baik juga aku berpura-pura membencinya." Kata Anson diluar dugaan.


Semakin Alice membencinya, akan semakin baik. Dengan cara itulah Anson bisa memutuskan harapanya agar bisa menjauhi wanita itu.


Mereka adalah dua orang yang saling bertolak belakang. Di tangan Anson, darah telah banyak tercecer tanpa arti. Sementara Alice, tanganya selalu bersih tak terkotori noda sedikit pun. Tak mungkin bagi mereka untuk bersama. Seandainya mereka pun mau, alam pasti tak akan menginjinkanya.


Itulah mengapa akan lebih baik jika mereka saling membenci. Jembatan yang ada diantara mereka perlu dibangun lebih tinggi. Agar tak ada lagi kesempatan sekecil apapun yang bisa membuat mereka bersatu. Bagaimanapun juga, seorang iblis tak akan pernah pantas untuk malaikat. Hanya akan menjadi sebuah cinta terlarang.

__ADS_1


Hati Anson sangat rentan. Jika sedikit saja Alice bersikap baik, Anson takut akan mengejar Alice secara membabi buta. Hasrat dan ambisinya terhadap wanita itu sangat besar dam sulit ditaklukkan. Dia mungkin tergoda untuk menahan Alice dengan cara apapun agar bisa berada dalam pelukanya kembali.


Karena itulah untuk menghindari ambisinya yang tak masuk akal, mereka harus saling membenci. Mereka tak akan pernah bisa bersama kembali. Anson hanya akan menyakiti Alice semakin dalam setiap waktunya. Sudah cukup luka yang ia goreskan pada wanita itu. Jika saja bukan karena putranya, Anson sudah berniat meninggalkan semua komunikasi dengan wanita itu.


...


Suara langkah kaki seorang pelayan tampak tergesa-gesa menuju kamar Alice. Dia mengetuk pintu dengan terburu-buru.


"Ada apa?" Alice mengernyitkan alis. Hari baru saja mulai petang dan pelayan ini seperti membawa berita penting.


"Ada tamu yang ingin menemui anda, Nyonya. Dia memperkenalkan diri sebagai Mr. Anson Mallory." Pelayan itu tampak tertekan menyampaikan kabar tersebut. Dia masih ingat bagaimana lelaki itu mendominasi dan memandang dirinya seolah-seolah ingin membunuh. Pelayan itu mengutuk dirinya puluhan kali atas kesialanya bertemu tamu yang sangat menakutkan.


"Baik, aku akan ke bawah. Kau bawakan minuman untuknya."


Pelayan itu mengangguk dengan raut muka sedikit memucat. Bukan hanya bertemu, ternyata dia juga harus melayani tamu iblis itu. Ya Tuhan, apa dosa yang ia tanggung dimasa lalunya.


Alice menuruni tangga dengan perasaan tak nyaman. Dia berjalan penuh keanggunan menuju ruang tamu di lantai dasar. Kali ini Alice memakai dress panjang berwarna ungu pucat. Wajahnya tampak polos dan suci. Seolah-olah ia adalah titisan dewi dari dimensi lain. Hanya pewarna bibir ringan yang ia oleskan di wajah cantiknya.


Sebuah kalung putih sederhana menghiasi lehernya yang indah. Anting kecil berwarna sama tampak menempel di ujung telinganya. Rambutnya yang bergelombang membingkai wajah ovalnya dengan sangat sempurna. Sekilas saat ia berjalan, bagai sebuah model lukisan hidup paling spektakuler dalam sejarah.


Kaki Alice bergerak dengan kekuatan stabil. Dia mengusap kedua kakinya yang telah sembuh total dari diagnosa kelumpuhan. Alice menggigit bibir menahan emosi. Dia masih ingat detik demi detik yang ia lewati saat proses penyembuhan dirinya, setiap langkah yang terasa menyakitkan, setiap usaha yang terasa tak ada habisnya. Kini, setelah semua yang telah ia lalui, Tuhan berbaik hati mengembalikan kembali fungsi tubuhnya.


"Anson." Alice menyapa lelaki yang tengah berdiri menjulang diluar tamu. Perlahan, lelaki yang ia panggil berbalik menghadapnya.


Alice memegang dadanya dengan perasaan sesak. Reaksi itu masih sama. Respon itu masih ada.


Sekuat apapun Alice menyangkal, kehadiran Anson bagaikan sebuah ekstasi bagi jiwanya. Detak jantungnya berirama tak menentu, seolah bagaikan genderang. Desiran yang sangat familiar seolah menelanjangi kulitnya secara perlahan. Pertahananya selalu jebol tak terkendali.


Alice memejamkan mata. Anson adalah iblis. Jahat dan tak memiliki jiwa. Tanganya hanya terulur untuk meghancurkan sesuatu tanpa berpikir panjang. Dia sudah berkali-kali menjadi korbanya.


Namun entah kenapa, iblis ini selalu membawa reaksi yang membuat dirinya sendiri enggan untuk mengakui. Mungkin Alice gila, mungkin kewarasan Alice perlu dipertanyakan. Setelah semua yang ia terima dari lelaki bejat ini, hatinya tetap saja bergetar tak tau malu.


"Alice."


Suara itu masih sama seperti dalam mimpi-mimpinya. Dalam dan mendominasi.


Alice mencengkeram dressnya dengan kekuatan penuh. Tidak. Apapun yang terjadi, dia membenci makhluk ini dan akan melakukan apapun agar tak kembali jatuh dalam pesonanya. Sudah cukup semua kehilangan yang ia rasakan karena lelaki ini.


"Aku mengijinkan kau bertemu dengan Axel semata-mata karena kau adalah ayah biologisnya.Jika kau membawa pengaruh buruk padanya, aku tak akan tinggal diam." Alice berkata sinis. Dia berusaha mengendalikan banyak emosi yang semakin menggelegak dalam hatinya.


"Oh, kau tak perlu repot-repot mengingatkanku, Alice. Aku tahu kita sama-sama membenci satu sama lain. Simpan tenagamu untuk hal-hal yang berharga. Jangan mencoba berkonfrontasi denganku." Anson menanggapi dengan kesinisan yang sama.


Alice menggigit bibir dalamnya putus asa. Dengan lemah, dia menyadari satu hal.

__ADS_1


Kebencian dan rasa kepemilikan untuk Anson tumbuh sama besar. Semua ini semakin menakutkan.


...


__ADS_2