Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
038 - SEASON 2


__ADS_3

Setelah makan malam, Angelica menghabiskan waktu lama untuk bercakap-cakap dengan Alice. Karena mereka berkecimpung dalam bisnis yang sama, obrolan mereka mengalir dan mudah saling memberi masukan.


Mereka duduk di ruang tengah, menikmati cake khusus buatan tangan Violin - suatu kemampuan yang tak pernah Alice duga dimiliki Violin - dan secangkir kopi arabica dengan cream yang luar biasa meleleh di lidah.


Angelica adalah teman yang cukup menyenangkan. Dia mudah berbaur, pintar memancing topik yang ringan dan asik. Sangat berbeda dari ketiga kakak lelakinya.


"Jadi, kau masih sering memasarkan hunian?" tanya Angelica tampak tertarik.


"Ya. Aku juga mulai mengambil bisnis bungalo dan villa. Aku baru memulai mengambil alih resor di daerah Monterrico, Guatemala."


"Wow, hebat. Kapan-kapan, aku tertarik untuk menyewa resormu." Angelica tampak berbinar riang.


"Bagaimana denganmu?" tanya Alice.


"Aku orang yang praktis. Lebih suka bisnis jual beli apartemen dan semacamnya. Terkadang, aku tertarik mengambil alih bangunan untuk bisnis dan menjualnya kembali. Seperti restoran, ruko, dan semacamnya." Angelica menjelaskan.


"Kau pintar, Angel. Kebanyakan tempat-tempat seperti itu akan mudah naik harganya jika dijual kembali. Apalagi jika terletak di tempat strategis."


"Ya, begitulah." Angelica tersenyum hangat.


Alice meraih cangkir dengan pola garis-garis berwarna emas dan menyesapnya pelan, menikmati cairan kesukaannya.


Angelica menatap kakak iparnya dengan seksama. Diam-diam, dia mengagumi tekstur lembut yang menghiasi wajah ayu itu.


Alice bukan sekadar cantik. Meskipun jika mau ditilik dari kecantikan, dia memang luar biasa. Alice memiliki campuran wajah antara Eropa dan Timur tengah. Matanya yang berwarna keemasan menyorot lembut, didukung oleh fitur wajahnya yang oval bak model.


Rambut merah bergelombangnya tergerai layaknya dewi. Sekali melihat saja, Angelica bisa menjamin wanita ini membawa sanjungan dari banyak orang.


Tetapi lebih dari semua itu, dia memiliki sikap yang unik. Alice adalah sosok yang terlihat rapuh dan mudah hancur. Sinar matanya seperti lembaran buku yang terbuka lebar, siap dibaca oleh siapa saja.


Siapa sangka di balik kerapuhannya, dia memiliki kekeraskepalaan yang tinggi. Bahkan, dia tak goyah di bawah tekanan Violin. Suatu hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Pantas jika kakaknya memilih wanita itu sebagai istri. Semua nilai yang ada pada Alice adalah nilai sempurna yang sulit didapatkan dari wanita lain. Dia lebih baik dari Holy, seratus kali lipat.


"Angel?" tanya Alice tiba-tiba.


"Ya? Apakah ada sesuatu yang bisa kubantu?" tanya Angelica penuh pengertian.


"Tidak. Aku hanya ingin tahu sedikit tentang wanita yang bernama Holy." Alice berkata lirih. Sudut matanya melirik ke arah Angelica, mencoba meraba reaksi perempuan itu.


"Holy, ya …."


Angelica mendesah kecil. Dia bersandar di sofa lembut dan mendongakkan kepala menghadap langit-langit ruangan.


"Apa yang ingin kau ketahui?" tanya Angelica kemudian.


"Semuanya. Bagaimana dia, kelebihannya, sikapnya." Ada jejak rasa tak nyaman di balik pertanyaan Alice. Dia menatap lantai ruangan yang terbuat dari keramik bermotif kayu. Melihat garis-garisnya yang rumit.


"Aku tak terlalu ingat. Saat itu usiaku masih enam belas tahun. Jadi tak terlalu memahami kasus Klayver dan pernikahannya. Beberapa hal yang aku ingat adalah Holy merupakan gadis amerika latin dengan rambut hitam bergelombang panjang, mata hitam, dan berkulit eksotis. Jenis kulit wanita yang hidup di iklim tropis." Angelica diam sejenak, dia mencoba menggali ingatannya di masa lalu.


"Pasti sangat cantik." Alice menanggapi dengan kelu.


Sosok wanita latin berkulit eksotis adalah sosok yang dicari kaum adam. Yah, sangat berbeda dengan dirinya yang berkulit seputih batu pualam. Hanya berubah sedikit cokelat jika ia berjemur seharian di pantai.

__ADS_1


"Cantik itu relatif, Alice. Untuk apa cantik jika ia tak sanggup bertahan dengan Klayver." Angelica menanggapi komentar Alice dengan jujur.


Cantik saja tak cukup mendampingi kakaknya. Kalyver, adalah karakter yang cukup rumit. Pribadinya terlalu dominan dan sulit untuk diimbangi. Tetapi kakakny juga orang yang totalitas. Saat Klayver memfokuskan dirinya pada seseorang, dia bisa membuang hal lain yang ada pada dirinya.


"Dia pasti memiliki karakteristik lain yang membuat Klayver tergila-gila."


Jika Klayver sampai semarah itu setelah kehilangan Holy, yah, wanita itu pasti luar biasa hebat, bukan?


"Dia wanita yang manja. Cara berbicaranya lembut, sangat lembut, dan mendayu-dayu. Secara sekilas, dia terlihat seperti wanita rapuh yang bisa tumbang oleh kerasnya dunia. Holy menjadikan Klayver sebagai penopang dan kekuatannya. Mungkin itulah kenapa Klayver merasa bertanggung jawab penuh atas kehidupan wanita itu. Karena dia simbol dari kecantikan dan kerapuhan."


Holy memang benar-benar rapuh. Dia ketakutan setengah mati saat tahu siapa Klayver sebenarnya. Tanpa berpikir ulang, dia menyambar uang yang ditawarkan Violin dan berlari menjauh untuk menggugurkan kandungan dan memulai hidup baru di negaranya. Siapa sangka hidup baru itu berubah menjadi tragedi baru.


"Begitu, ya." Suara Alice terdengar lirih. Dia mengusap dress tanggung yang ia kenakan dan tersenyum kecil.


"Jangan berkecil hati, Alice. Holy bukanlah sainganmu. Kau lebih baik berkali-kali lipat dari pada dirinya. Nilaimu sangat tinggi. Jangan pikirkan masa lalu lagi." Angelica menasehati. Dia tak ingin momok masa lalu kakaknya akan menjadi gangguan dalam pernikahan mereka.


"Tidak. Aku hanya sedikit penasaran tentangnya." Alice menenangkan Angelica.


Tidak akan ada yang mengganggu pernikahan mereka. Karena hubungan mereka terlalu praktis untuk dimasuki emosi-emosi lain yang tak seharusnya. Alice saja yang terlalu bodoh memasukkan emosi asing tersebut.


Alice dan Angelica bercakap-cakap cukup lama hingga keduanya lelah. Setelah jam menunjukkan pukul sepuluh malam waktu New York, mereka menghentikan obrolan dan kembali ke kamar masing-masing.


Alice berjalan menyusuri tangga yang melingkar. Saat dia memasuki kamar, dia mendapati Klayver telah duduk di sisi ranjang. lelaki itu bersandar pada kepala ranjang dan tersenyum hangat menyambut kedatangan istrinya.


"Dari mana saja kau?" tanya lelaki tersebut.


"Berbincang dengan Angel sebentar di bawah." Alice mengambil piyama katun dari lemari besar di sudut kamar dan berjalan memasuki kamar mandi untuk berganti pakaian. Jujur, Alice masih canggung untuk berganti baju secara langsung di hadapan suaminya.


Klaver menunggu istrinya dengan mata setengah terpejam. Waktu-waktu yang ia lalui bersama Alice terasa cepat dan tak terasa. Wanita itu, perlahan-lahan masuk ke dalam pikirannya dan memilih tempat khusus untuk berdiam diri.


"Alice, aku ingin berbicara sesuatu." Klayver memulai. Dia menunjuk sisi lain yang bersebelahan dengannya di ranjang, menyuruh Alice agar duduk mendekat padanya.


Alice beringsut pelan dan duduk di sebelah Klayver. Pikirannya masih dibayang-bayangi tentang Holy. Mau tak mau dia semakin penasaran dengan sosok wanita ini.


"Ada apa? Apakah ada yang menganggu?" tanya Klayver tajam. Wajah Alice mudah dibaca. Saat ini wanita tersebut terlihat menyimpan rasa penasaran.


"Apakah Holy sangat cantik, Klayver?" tanya Alice tiba-tiba.


Klayver yang mendapat pertanyaan ini hanya bisa mengerjap heran. Alice mengangkat topik tentang holy. Benar-benar di luar dugaan.


"Kenapa memangnya?" Bukannya menjawab, Klayver justru bertanya balik.


"Tidak apa-apa. Aku baru menyadari jika seleramu lebih condong kepada wanita latin yang seksi, eksotis, berkulit cokelat, tubuh bak gitar spanyol, dan rambut hitam mengkilat."


Alice menatap Klayver dengan seksama. Yang ditatap hanya bereaksi datar. Sudut bibir Klayver berkedut kecil, menahan tawa. Mendengar kata-kata Alice Klayver jadi terlihat seperti lelaki dangkal yang hanya memuja kecantikan fisik. Tetapi karena Alice sudah membahas masalah ini, kenapa ia tidak ikut menanggapinya? Biarkan saja jika wanita ini semakin rendah menilainya.


"Ya. Ciri-ciri seperti itu tidak buruk. Bukankah wanita juga suka lelaki kekar, berotot, jangkung, tampan, berkulit gelap, perut rata,dan pinggul ramping?" pancing Klayver blak-blakan. Mata Klayver menampakkan kejenakaan.


"Yah, rata-rata memang seperti itu." Alice menjawab dengan canggung. Memangnya dia bisa berkata apa lagi? Bukankah semua itu adalah rumus timbal balik? Hukum yang saling berkesinambungan.


Tetapi di luar itu, ada faktor lain yang mempengaruhi sebuah hubungan. Cinta. Jika seseorang telah mencecapnya, maka tidak peduli di luar sana ada lusinan orang yang lebih baik dari pasangannya, hatinya tetap memilih satu. Mengabdi dan memuja hanya pada satu orang.


Hanya saja, faktor-faktor seperti itu adalah faktor yang mungkin tidak diketahui Klayver. Bagi lelaki itu, wanita cantik dengan bungkus penampilan sempurna sudah lebih dari cukup mendampinginya. Jika ia menemukan wanita baru, maka barang lama tak lagi terpakai. Terbuang begitu saja.

__ADS_1


"Lantas, apa masalahnya?" tanya Klayver tak mengerti dengan arah pembicaraan Alice.


"Ya, tidak ada. Hanya ingin tahu seberapa cantik dia." Alice menjawab lugu. Memangnya salah jika dia bertanya seperti ini?


"Cukup cantik kurasa."


"Sangat cantik?"


"Ya, lumayan."


"Lumayan itu dengan standar yang bagaimana? Mata lebar, bibir sensual dan pinggul bergoyang?"


"Mungkin."


"Suaranya pasti cukup seksi dan sanggup menaklukkan kaum adam."


"Kurang lebih."


"Dengan senyum menawan dan tawa yang mempesona?"


"Kupikir itu bisa juga."


"Berarti benar dia sesempurna itu?"


"Alice, aku tidak mengerti arah pembicaraanmu. Ada apa sebenarnya? Kau ingin menghakimiku karena pernah mencintai wanita cantik atau bagaimana? Jika kau ingin menghakimiku, kau sudah terlambat selama delapan tahun. Dia sudah tak ada. Meninggal. Berada di bawah tanah." Klayver berkata sedikit tajam.


Jika pembicaraan ini dilanjutkan, baik Alice maupun Klayver akan sama-sama tersinggung. Jadi Alice memilih mundur dan tidak berniat melanjutkan pembahasan ini.


"Kau bilang tadi ingin berbicara sesuatu. Ada apa, Klayver?" tanya Alice kemudian, mencoba mengalihkan pembicaraan.


Alice memperbaiki posisi duduknya dan ikut bersandar di kepala ranjang seperti suaminya. Dia memejamkan mata sejenak, menikmati kebersamaan menakjubkan dengan sang suami.


"Bukankah kau pernah menjanjikan akan melakukan apa saja untuk menyelamatkan Daniel dari buruanku?" Kalyver mengangkat topik yang sudah lama mereka lupakan.


Alice segera membuka mata kembali dan menatap Klayver dengan sorot curiga. Dia memang pernah menjanjikan hal ini. Hanya saja, sudah dua minggu hal tersebut tak dibahas sehingga ia beranggapan bahwa Klayver telah melupakan topik ini.


Ternyata Alice salah. Klayver memang seorang iblis. Dia tak pernah melakukan kebaikan tanpa hitung-hitungan untung rugi. Semua yang ada dalam hidunya dianggap sebuah transaksi. Hanya itu.


"Kupikir kau akan menbiarkan masalah ini berlalu." Alice berkata tajam, tak menyukai pembahasan sensitif.


"Janji adalah janji, Alice. Kau tak bisa mengelak dari hal ini. Kecuali jika kau tak keberatan aku melakukan perhitungan dengan Daniel, sesuatu yang sudah sepantasnya lelaki itu dapatkan." Klayver menanggapi dengan datar. Bukankah dari awal dia sudah mengingatkan hal ini? Salah siapa jika Alice terlalu keras kepala untuk melindundungi temannya.


"Tidak. jangan lakukan apa pun padanya. Kau sudah berjanji mengenai hal tersebut." Alice mengingatkan. Membayangkan hal buruk terjadi pada Daniel membuat perutnya sedikit mual. Jika mau, Klayver bisa bertindak sadis kapan pun ia mau.


"Baiklah. Tetapi kau berhutang satu syarat. Dua sebenarnya. Bukankah sebelumnya kau kalah taruhan juga padaku sehingga kau bisa menjadi istriku untuk satu malam?"


Alice meradang saat dia diingatkan kembali tentang taruhan di waktu yang lalu. Dia mencengkeram erat ujung piyama dan bersumpah serapah dalam hati.


Sialan Klayver. Sialan. Sialan. Dia suka mempermainkan emosi seseorang.


"Sebenarnya apa maksudmu, Klayver?"


Klaver menoleh ke arah Alice. Dia mengunci netra istrinya dalam-dalam. Klayver sudah memikirkan hal ini cukup lama. Semua hal ia pertimbangkan dengan hati-hati.

__ADS_1


"Aku ingin memiliki seorang putra. Jadilah istriku yang sesungguhnya dalam pernikahan ini dan beri aku seorang pewaris. Hanya itu yang aku mau."



__ADS_2