
Hari ini Rachel sedang menikmati jatah liburan mingguanya di rumah bersama adiknya, Anna. Selama sebulan ini Anna memutuskan untuk menghabiskan sebagian waktunya berada dirumah. Sekolahnya telah usai, dia mulai tertarik melanjutkan pendidikan lagi ke jenjang perkuliahan di universitas tak jauh dari rumah.
Anna sudah mempertimbangkan banyak hal. Dengan memilih universitas terdekat, akan semakin mengurangi biayai hidup. Dia bisa pulang setiap hari dan tidak perlu menghabiskan banyak anggaran untuk menyewa flat ataupun makan. Rachel tentu saja mendukung niat adiknya. Dari awal dia mendorong Anna untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Berharap mendapatkan nasib lebih baik dari dirinya.
"Anna ... bisa bantu aku dengan cake ini?" Rachel berteriak dari dapur, memanggil adiknya yang berada di kamar.
"Tunggu sebentar," jawabnya sedikit lama, membuat Rachel memggeleng pelan.
Anak muda sekarang. Setiap harinya disibukkan dengan ponsel. Benda kecil terkutuk itu bisa membuat orang-orang menjadi anti sosial. Bayangkan saja, di setiap pertemuan keluarga, anak-anak remaja lebih tenggelam dalam dunia maya milik mereka daripada dunia yang sebenarnya. Penyakit sosial ini seharusnya sudah dari dulu ditanggulangi.
"Bisakah kau meletakkan ponselmu sebentar dan membantuku?" Rachel mengulangi kembali permintaanya dengan sedikit kesal.
Tak berapa lama, Anna muncul di dapur dengan senyum khasnya. Dia mendekati kakaknya, menerima beberapa arahan untuk ikut membantu.
"Kau benar-benar cerewet, kau tahu?" Anna meringis.
"Kau yang tidak pengertian. Selama kau dirumah, prioritas pertamamu selalu ponsel."
"Oh ayolah, bukankah gadis seumuranku seharusnya lebih menikmati hidup? Aku perlu mengenal sosok lelaki ... pemuda tampan dengan kulit cokelat, otot kuat dan senyum memikat. Oh Tuhan, kapan aku bisa mendapatkan lelaki impianku." Anna memejamkan mata sejenak, tersenyum kecil, mulai mengkhayalkan sesuatu.
"Bisakah kau hidup di alam nyata? Pemuda yang kau gandrungi baru akan melirikmu jika kau menjadi wanita yang berkualitas dan sukses." Rachel melambaikan tangan penuh gandum, menghentikan khayalan adiknya.
"Angkat cake yang sudah matang dari open dan dinginkan di situ!" pinta Rachel menunjuk sebuah tempat kue yang sudah dialasi tisu.
"Kau tahu, teman-temanku sudah cukup sering berkencan dengan laki-laki. Sementara aku baru melakukanya akhir-akhir ini, bisakah kau membagi sedikit pengalamanmu agar aku tak terlalu kaku?" Anna meletakkan cake yang masih panas dengan alas kain. Dia menyesuaikan tempat baki dihadapanya, dan membalikkanya perlahan.
"Kau tidak butuh nasihatku. Lakukanlah sealami mungkin. Carilah pemuda yang benar-benar bisa menghargaimu. Jangan sia-siakan perasaanmu untuk playboy tak jelas. Jadilah perempuan berkualitas dan temukan lelaki cerdas." Rachel mengaduk adonan baru untuk membuat cake lain.
"Rachel, apakah kau mempercayai cinta?" tanya Anna tiba-tiba.
Rachel menoleh terkejut, membuat sebagian tepung berterbangan keudara.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" tanya Rachel curiga.
"Entahlah, hanya saja aku sering bertanya-tanya apakah cinta itu ada. Orang tua kita mengaku mencintai kita tetapi kenyataanya mereka sibuk dengan keluarga baru mereka. Kita didiamkan begitu saja. Dari kecil, kaulah yang sudah menjadi seperti ibu kedua bagiku." Anna terdiam lama. Dia mengambil beberapa piring saji dan meletakkan dengan rapi cake buatan tangan Rachel.
"Lupakanlah mereka, Anna. Jangan memikirkan sesuatu yang tidak penting. Selama kita saling memiliki, kita tak akan mendapatkan masalah." Rachel mengecup lembut pipi adiknya, mencoba meyakinkan.
Rachel kembali sibuk menyelesaikan adonanya. Mereka bercakap-cakap membicarakan topik yang lebih ringan. Setengah jam lebih mereka berada di dapur, hingga kemudian terdengar suara ketukan keras dari pintu depan. Rachel mengernyit heran. Siapa yang bertamu sepagi ini? Apakah Daniel? Tidak biasanya laki-laki itu bersikap sopan seperti tamu. Daniel selalu memasuki rumahnya seperti seorang teman lama yang tidak membutuhkan undangan. Ataukah tunanganya? Mengherankan sekali Harry meluangkan waktu mengunjunginya
Biasanya Rachellah yang mengunjungi flat lelaki itu.
"Teruskan sebentar. Aku akan melihat siapa yang datang." Rachel berjalan pergi menuju pintu depan yang tidak terkunci.
Suara sandal tipisnya terdengar srek-srek saat bergesekan dengan lantai rumah yang telah lama memudar lapisan utamanya. Rumah Rachel memang sederhana. Setiap bagian rumahnya terbuat dari material standar yang mudah mengelupas.
__ADS_1
"Ya?" Rahel membuka daun pintu.
Dia berdiri terkejut melihat sosok orang yang berada dihadapanya. Teriakan nyaring keluar dari bibir mungilnya, membuat Anna yang berada didapur segera menyusul ke depan, takut terjadi hal buruk.
Anna sama terkejutnya dengan Rachel. Mereka berdua mematung cukup lama. Mata mereka membelalak tak percaya. Indera Rachel seolah tak lagi memiliki fungsi.
Seorang laki-laki berusia akhir enam puluhan tahun berdiri tegak, dengan seorang wanita lumpuh yang duduk di kursi roda. Wanita yang dua bulan terakhir ini ia cari keberadaanya mati-matian. Wanita yang nyaris ia ikhlaskan kepergianya.
"Alice, Ya Tuhan ... " Rachel menghambur meneluk temanya. Dia mengguncang-ngguncang keras tubuh Alice, meyakinkan dirnya sendiri.
"Kemana saja kau selama ini, Alice?" Rachel menggenggam erat jari jemari Alice yang terasa sedikit dingin.
"Alice, apa yang terjadi padamu? Kenapa mengguanakan kursi roda? Kau terluka? " Rachel menelusuri semua bagian tubuh temanya, mencari apakah ada kejanggalan yang terjadi.
"Alice ... " Rachel menyentuh sisi wajah temanya, merasa ada yang ganjil. Sorot mata Alice tampak datar tak memberikan reaksi apapun.
"Alice!" Rachel menggerakkan lengan Alice. Wanita itu tak kunjung merespon.
Bibir Alice sedikit memucat. Wajahnya terlihat kuyu, seolah-olah telah lama tak melihat matahari.
"Kau siapa? Apa yang terjadi padanya?" Rachel menatap curiga lelaki dibelakang Alice. Apakah dia orang yang telah mencelakai temanya?
Rachel meraih ujung kursi roda, menarik Alice semakin mendekat, menghindar dari lelaki asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Aku adalah William, kepala pelayan keluarga Mallory. Tuan menyuruh saya untuk mengantar Ms. White kepada anda. Dua bulan lalu dia mengalami kecelakaan, kondisi fisik dan mentalnya mengalami penurunan."
"Dia mengalami kelumpuhan." William memberi penjelasan tambahan.
Rachel berdiri mendadak, menampar wajah William dengan sekuat tenaga. Kebencian dan amarah meluap menjadi satu.
"Apa yang telah ******** itu lakukan pada temanku? Belum puaskah ia mengahancurkan hidupnya dan membawa banyak kesengsaraan?" Rachel kembali menampar wajah datar lelaki di hadapanya. Tak ada reaksi apapun yang diberikan oleh William. Dia hanya diam, menerima apapun yang Rachel lakukan.
"Sekarang setelah dia puas bermain, dengan gampangnya membuang Alice dalam kondisi seperti ini? Lumpuh dan tak berdaya." Rachel mendorong tubuh kokoh William. Dia memukul dadanya berulang kali, meluapkan kemarahanya.
"Pergilah kalian ke neraka. Aku benci kalian. Jangan ganggu hidupnya lagi. Tuhan pasti akan mengutuk kalian dengam seribu kutukan yang tak akan lenyap ribuan tahun lamanya. Kau dengar itu? Pergi dari sini." Rachel mendorong William untuk terakhir kalinya, membalikkan badan dan mendorong kursi roda Alice memasuki rumah diikuti Anna.
Anna, dengan dengan emosi remajanya membanting pintu depan sangat keras. Menghasilkan bunyi bum yang bergetar hingga atap-atap rumah.
Rachel menyentuh setiap sisi wajah Alice dengan penuh perasaan. Air matanya berlinang melihat ketidak berdayaan yang Alice alami. Kerutan-kerutan wajah Alice tak ada lagi. Ekspresinya menghilang terbawa duka. Wajahnya menampakkan keputus asaan yang sangat dalam.
"Alice ...," panggil Rachel lirih. Helai-helai rambut gelapnya tampak berantakan.
Mata yang sama yang pernah menatapnya dengan banyak cara telah memudar. Meninggalkan kehampaan tanpa arah.
"Alice .... " Panggilan Rachel semakin melemah setiap kalinya.
__ADS_1
Wanita ini masih saja tak merespon. Tak ada apapun yang ia temukan di wajah cantiknya. Wajah cantik yang pernah dikagumi oleh banyak orang. Wajah cantik yang kini hanya sebagai hiasan.
"Alice, ini Rachel ... kau ingat?"
Rachel menggenggam tangan Alice, membimbingnya mengusap wajahnya, berharap alam bawah sadar Alice mampu mengenalinya. Mungkin saja dibagian hatinya yang terpendam, temanya ini masih sedikit mengingat kenangan tentang mereka.
"Alice, bereaksilah. Apa kau marah padaku karena aku terlalu lama menemukanmu?"
Ada rasa bersalah yang terbangun di kedalaman hati Rachel. Seandainya saja ia bisa membalik keadaan, mungkin saja Alice masih bisa diselamatkan andai dia lebih cepat menemukanya. Waktu mampu mengubah banyak hal.
"Apakah kau membenciku, Alice? Tidakkah kau ingin menyapa temanmu? Aku sudah mencoba mencarimu hingga lelah. Aku bahkan berpikir kau sudah mati disuatu tempat entah dimana. Bisakah kau memaafkanku dan betbicara lagi kepadaku?" Rachel menyandarkan wajahnya diatas lutut Alice, tersedu pilu.
Wanita ini bahkan tak menanggapi apapun lagi. Sepertinya, dia telah memilih dunia yang diinginkanya sendiri. Dunia yang jauh dari jangkaun Rachel. Sebuah dunia asing yang hanya Alice penghuninya.
"Apakah dunia yang kau pilih itu lebih indah dari dunia ini, Alice? Tidakkah kau merindukanku juga? Aku merindukanmu setengah mati. Aku sudah menimpikan pertemuan ini sangat lama. Setiap hari terasa seribu tahun bagiku. Sangat Menyikasa. Jadi tolong, kembalilah. Jangan hanya ragamu yang kembali."
Rachel memeluk kaki Alice yang semakin melemah, menciuminya dengan hati-hati. Kaki ini telah lama menopang Alice. Kaki yang telah ia gunakan menghadapi banyak masalah. Kaki yang kini tak lagi berdaya. Tak memiliki fungsi untuk kembali bergerak bebas. Ya Tuhan, penderitaan seperti apa yang telah digariskan untuk teman baiknya ini.
Rachel berdiri tertatih, memeluk Alice penuh perasaan. Dia mengusap bahu Alice perlahan. Bahu kecil ini telah banyak menopang beban hidup. Beban yang sangat berat. Belum cukupkah bahu ini mengahadapi tragedi? Haruskah ia mengalami kepedihan lagi? Kapan kebahagiaan mampu ia dapatkan. Semakin lama, kebahagiaan hanya seperti janji semu yang menghilang secara perlahan.
"Tolong, Alice ... seindah apapun dunia yang kamu miliki, kembalilah lagi keduni nyata. Tidakkah kau sedikit saja kasihan kepadaku?" Tangis Rachel semakin menjadi. Dia terisak hebat menopang diri dibahu lemah milik Alice. Air mata merembes, membasahi kaos Alice membentuk warna gelap.
Sebuah ketukan kembali terdengar. Rachel tak menghiraukanya dan masih saja tenggelam dalam kepedihan. Ketukan tersebut berulang kembali hingga tiga kali. Akhirnya Anna memutuskan untuk membuka.
Seorang balita berusia dua puluh bulan diserahkan begitu saja pada Anna. Remaja tersebut menerimanya dengan bingung. Dengan hati-hati, Anna menggendong bayi itu canggung.
"Rachel ...," panggil Anna.
Anna merasa ikut sedih melihat keadaan Alice yang mengenaskan. Wanita itu cukup baik. Tidak seharusnya kehidupan menelantarkanya.
"Rachel ...," panggil Anna kembali.
Rachel sudah mulai tenang. Dia mengusap airmatanya kasar. Hidungnya telah memerah seperti tomat karena terlalu lama menangis. Bajunya juga sudah sangat berantakan.
"Rachel!!" Kali ini Anna memanggil kakaknya dengan nada sedikit keras.
Rachel menoleh tak senang. Dia menatap terkejut melihat adiknya telah menggendong seorang anak. Sepertinya untuk sejenak tadi, dia tenggelam dalam kesedihan. Sehingga tak menyadari apa yang telah terjadi di sekelilingnya.
"Lelaki tua itu menyerahkan anak ini, katanya dia adalah anak Alice." Anna mengerut bingung.Dia belun pernah mendengar teman kakaknya itu memiliki anak. Kenapa tiba-iba sudah sebesar ini.
"Harus kuapakan anak ini, Rachel? Aku tak terlalu ahli mengurus seorang anak." Anna tampak bingung.
Rachel menatap Anna sama bingungnya. Setelah semua usaha yang telah Alice lakukan untuk mendapatkan putranya, kini anak itu justru ia dapatkan saat keadaan mentalnya menurun drastis.
"Entahlah Anna, aku juga sama tak tahunya. Kupikir aku bisa belajar merawat anak mulai sekarang." Rachel tampak sedikit kalut.
__ADS_1
Dia harus segera mengabari Daniel.
...