
Seorang wanita duduk bersandar di sebuah kursi kayu ukir di halaman belakang rumah yang sederhana. Matanya terpejam, menikmati sepotong pai apel yang lezat. Udara sore menembus pori-pori kulitnya, membawa sensasi tersendiri.
Dress wanita itu melambai tertiup angin. Wajahnya yang lembut tampak damai tanpa beban. Di sampingnya, wanita lain tengah mengamatinya dengan perhatian yang intens. Mata birunya membesar dengan cara yang sangat indah.
"Jadi Axel sekarang sedang menghabiskan waktunya dengan Anson?" Rachel menatap tak percaya pada temanya.
Wanita disebelahnya membuka mata dalam sekejap dan menoleh secepat kilat.
"Kapan kau tiba-tiba disini? Bukankah seharusnya masih di dapur?" Alice membelalak tak percaya.
"Kau saja yang terlalu tenggelam dalam delusi, Alice. Sudah sepuluh menit aku disini."
Alice tersenyum kecut, kembali bersandar nyaman di kursi kayu.
"Maaf. Pikiranku sedikit melayang-layang. Ya, Axel bersama dengan Anson hingga tiga hari kedepan. Kami sudah sepakat setiap akhir bulan Axel akan menghabiskan waktu dengan ayahnya. Kupikir itu pengaturan yang cukup adil. Bagaimanapun juga dia ayah biologisnya."
Sebulan yang lalu, mereka telah mengambil kesepakatan ini. Alice merasa, ini adalah jalan yang paling baik diantara mereka.
"Bagus, Alice. Tadinya aku sempat khawatir kebencianmu akan mengalahkan akal sehatmu. Bagaimanapun juga, seorang anak tak seharusnya ikut menanggung kesalahan orang tua."
Angin semilir semakin kencang di sore ini. Helai-helai rambut Alice berkibar tersapu angin, menciptakan pemandangam yang sangat indah.
"Aku cukup logis, Rachel. Sebenci apapun aku padanya, aku tak bisa mengorbankan Axel. Anak itu perlu kehadiran seorang ayah."
Dalam hal ini, Alice merasa sanggup berdamai dengan dirinya sendiri. Keputusan ini sudah ia pikirkan matang-matang.
"Kau yakin kau membenci Anson?" Rachel bertanya skeptis. Wajahnya menunjukkan kejanggalan.
"Apa lagi perasaan yang bisa kumiliki untuk orang yang sanggup membunuh suamiku sendiri dihadapanku?" Alice mencengkeram pinggiran kursi dengan kuat. Ujung-ujung kukunya menggores telapak tanganya membentuk garis-garis dalam.
"Begitu ya."
Hanya itulah jawaban yang diberikan Rachel. Dia mengangguk pelan, tatapanya penuh arti.
"Rachel" Alice menoleh lagi pada temanya.
Rachel mengambil kursi lain berbahan plastik, mendorongnya pelan hingga menciptakan suara krak, dan duduk persis dihadapan Alice.
"Ada apa Alice?"
"Bukankah kau sudah menjalani hubungan dengan laki-laki bernama Harry? Kau bahkan sudah bertunangan denganya selama empat tahun. Tetapi aku belum pernah bertemu sama sekali dengan dia secara langsung. Kapan kau akan memperkenalkanku padanya?"
Dahi Alice berkerut-kerut gelisah. Selama dia berteman dengan temanya, dia belum pernah dipertemukan secara langsung kepada lelaki yang diakui sebagai tunangan Rachel. Bahkan pesta tunanganya saja diadakan secara sembunyi-sembunyi. Alice tak diperbolehkan datang.
"Hubunganku dengan Harry sedikit rumit, Alice."
Rachel tertunduk lesu. Dia sulit menceritakan secara keseluruhan bagaimana hubungan mereka berlangsung. Alice memang teman terdekatnya, namun entah bagaimana, Rachel mengalami kesulitan untuk menjelaskan banyak hal-hal rumit tentang dirinya. Mungkin, dia adalah kaum introvet sejati.
"Baiklah aku tak akan memaksamu bercerita. Sepertinya kau terlalu tertutup padaku, Rachel. Dasar kau dan introvet sialanmu itu." Alice menyumpah serapah.
__ADS_1
"Maaf." Rachel menaikkan kedua bahunya tanpa rasa bersalah.
"Ingat Rachel. Usiamu sudah dua puluh sembilan. Ada baiknya kau merencanakan pernikahan. Umurmu akan semakin menua. Kau harus punya pijakan yang kuat."
Mata Rachel membola mendengar nasihat dari Alice. Sejak kapan orang ini jadi bersikap menyebalkan? Dia mulai memerankan seorang ibu yang cerewet.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan hidupku, Alice. Aku baik-baik saja." Sebelah tangan Rachel melambai, mengesampingkan topik ini. Sore ini terlalu indah untuk memikirkan masalah-masalah yang melandanya. Biar saja semua itu tersudutkan untuk saat ini.
"Rachel, sebentar lagi petang. Aku harus segera pulang. Aku perlu tidur lebih awal malam ini, mengingat minggu ini sangat sibuk bagiku."
Alice menyentak kepalanya kekanan dan kekiri, menimbulkan suara gemeretak pelan, mencoba membuat rileks sendi-sendi lehernya.
"Baiklah. Hati-hati, Alice."
Mereka berdiri, saling memberi kecupan perpisahan. Alice melambai beberapa kali sebelum berjalan ke mobilnya dan melaju pelan menyusuri jalan yang sangat familiar.
Semenjak kepergian Kendrick, Alice memutuskan untuk menempati mansion miliknya. Bukan karena mansion tersebut mewah ataupun glamor, meskipun kenyataanya memang begitu. Tetapi faktor utama yang mendasarinya adalah karena mansion tersebut menyimpan banyak kehangatan dan kenangan-kenangan indah milik mereka. Sulit bagi Alice untuk meninggalkan tempat tersebut. Jiwanya sudah terikat secara alami.
Alice menghidupkan tombol on pada tape mobil, menekan tombol lainya beberapa kali dan memilih sebuah lagu romantis dari tahun sembilan puluhan untuk menemani perjalananya kali ini.
Jarak antara rumah Rachel dan mansion yang ia tenpati tak terlalu jauh. Hanya sekitar dua puluh lima menit jika jalanan lancar. Alice menyandarkan tubuhnya perlahan di jok mobil, menikmati kesendirian.
Alice baru saja memasuki jalur alternatif lain saat tiba-tiba dia merasakan keganjilan. Entah kenapa, dia merasa diamati oleh seseorang. Ada sesuatu yang sangat terasa tak nyaman.
Alice mencoba mengamati kaca spion dan mendapati sebuah mobil jenis SUV hitam di belakangnya. Tak ada keganjilan apapun disana, tetapi entah kenapa, dia merasa mobil tersebut memiliki maksud lain. Perlahan, Alice mencoba melihat plat nomor SUV hitam, mengulangnya beberapa kali dan memasukkan kedalam memorinya.
Insting Alice memerintahkan untuk berhenti. Dia ingin melihat reaksi pengemudi mobil dibelakangnya. Jika mobil tersebut ikut berhenti juga, Alice perlu meningkatkan kewaspadaanya.
Mobil itu secara perlahan menurunkan kecepatanya. Alice sudah sangat yakin mobil itu akan berhenti juga. Jika memang begitu, pasti dia telah diikuti dari tadi. Entah untuk alasan apa.
Namun dugaan Alice salah. Mobil tersebut kembali melaju, melewatinya.
Dia tak diikuti. Dia tak dikuntit. Dia hanya merasa terlalu paranoid.
Alice mendesah lega. Cengkeraman jari jemarinya mulai ia renggangkan kembali. Bibirnya sedikit melengkung ke salah satu sisi membentuk senyum.
Semenjak kematian Kendrick, Alice merasa kewaspadaanya terhadap bahaya semakin meningkat tajam, hingga memasuki tahap paranoid. Sepertinya kali ini instingnya sudah berlebihan. Dia bahkan berpikir entah bagaimana telah diikuti secara tiba-tiba. Padahal itu tidak mungkin. Alice tak pernah membuat masalah ataupun sengaja memancing keributan pada orang lain. Semua kolega bisnisnya bersikap segan dan hormat. Mustahil itu terjadi.
Alice mengusap keningnya, merasa lelah dengan dirinya sendiri. Sepertinya dia mulai butuh psikolog baru untuk mengatasi mentalnya.
...
Tiga hari kemudian,
Hari ini Alice pulang sedikit larut. Rapat evaluasi triwulan perusahaan membuat ia menghabiskan banyak waktu dengan karyawan-kaeyawanya. Setelah tertahan berjam-jam, barulah Alice berhasil pulang dengan kondisi yang sangat melelahkan.
Dua karyawanya yang memegang posisi sebagai kepala divisi marketting dan keuangan berdebat keras saling beradu argumen. Kedua-duanya sama-sama cerdas dan ambisius. Mental Alice seperti diuji menghadapi pertengkaran mereka yang seperti anak kecil. Benar-benar merepotkan.
Alice tak pernah menyangka akan mendapatkan karyawan yang sangat keras kepala seperti mereka. Mereka dua orang yang memiliki kinerja bagus tetapi sering kali bertentangan dalam segala hal. Saling berbantah-bantahan ide dan mencari titik lemah masing-masing. Semua orang yang melihat pertengkaran mereka hanya bisa menahan napas dan menggelengkan kepala. Terkadang, menjadi terlalu cerdas itu bisa sangat menakutkan.
__ADS_1
Dalam perjalanan pulang, Alice menyempatkan diri membeli beberapa makanan kesukaan Axel. Malam ini seharusnya anak itu sudah pulang kembali. Tiga hari waktunya bersama Anson sudah habis.
Alice bersenandung ringan, menyusuri jalan panjang yang membentang. Pemandangan malam di kota ini benar-benar tak pernah mati. Lampu berkelip-kelip sepanjang jalan disertai banyak baliho-baliho besar menawarkan semua hal yang ada dikota ini.
Kecemasan Alice datang tiba-tiba. Entah kenapa, perasaan familiar seperti diikuti seseorang menyerangnya secara membabi buta. Dia merasa entah bagaimana telah menjadi target seseorang. Alice mengatur napasnya yang mulai berat. Dia harus mengendalikan emosinya yang kacau sesegera mungkin.
Ini salah. Dia seperti wanita yang menderita sejenis phobia tertentu. Emosinya pasti labil semenjak ditinggal Kendrick. Apapun yang ada disekitar Alice tampak bisa menerkamnya sewaktu-waktu.
Saat kecemasanya semakin menjadi, sebuah panggilan dari nomor asing berdering nyaring. Alice tersentak dari duduknya seperti orang gila. Ketakutanya benar-benar mengikis akal sehatnya.
Nomor asing. Siapa? Dahi Alice berkerut bingung.
"Halo."
"Alice, kau dimana?" Suara yang sangat familiar menyapa indra pendengaranya. Kerutan didahi Alice semakin bertambah. Keheranan menyeruak tiba-tiba.
"Sedang dalam perjalanan pulang. Ada apa Anson? Apakah semua baik-baik saja? Axel berulah lagi?"
Apalagi yang membuat Anson menghubunginya jika bukan memyangkut tentang Axel. Pasti ada sesuatu yang dilakukan bocah kecil itu sehingga mendorong Anson melakukan komunikasi denganya.
"Kirimkan lokasimu padaku sekarang. Jangan kembali ke mansion, kau dengar? Carilah sebuah tempat yang aman dan aku akan menjemputmu. Jika kau merasa diikuti oleh seseorang, kau harus menghindarinya bagaimanapun caranya. Aku akan segera menyusulmu." Sambungan terputus.
Alice mengerjap beberapa kali. Informasi yang Anson berikan tak dapat ia cerna dalam sekejap. Jangan kembali ke mansion? Cari tempat yang aman? Diikuti seseorang?
Sebuah kesadaran baru menampar Alice. Dia mulai mengamati jalan dibelakangnya melalui spion mobil. Sebuah SUV hitam persis berada dibelakangnya. Jarak mereka sangat dekat. Mobil itu memiliki plat nomor yang sama seperti mobil yang beberapa hari lalu berada dibelakangnya.
Apakah semua ini kebetulan? saat itu Alice juga merasakan perasaan familiar seperti diikuti oleh seseorang. Hanya saja, karena beberapa hari yang lalu SUV dibelakangnya tidak ikut berhenti ketika ia berhenti, Alice bisa bernapas lega saat itu.
Namun SUV itu kembali lagi, seolah-olah memiliki niat tertentu. Alice membanting setir kearah kiri, mencari jalur lain yang tidak biasa. Dia kembali mengamati spion mobil. Matanya semakin membesar menyadari SUV hitam tersebut masih saja mengikutinya.
Tuhan, apakah ini kebetulan?
Alice mempercepat laju mobilnya, berbelok tajam pada pertigaan selanjutnya. Dia bahkan dengan sengaja menerobos lampu merah. Alice perlu mengonfirmasi ketakutanya.
Benar saja. Kali ini SUV itu masih tetap mengikuti. Dia persis berada di belakang. Bahkan pengemudi mobil tersebut ikut menerobos lampu merah juga. Ya Tuhan, semua ini pasti tidak benar.
Dengan tangan gemetar, Alice mengirimkan lokasi terbarunya pada Anson melalui sebuah aplikasi. Dia berharap apapun yang menimpanya sekarang hanya sebuah kebetulan acak. Dia sudah terlalu sering mengalami tragedi, jangan lagi terulang.
Alice mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia berbelok dengan tajam di setiap tikungan, mencoba menghindari kejaran mobil di belakangnya. Namun tetap saja mobil tersebut selalu muncul persis tak jauh darinya. Membuat adrenalin Alice semakin terpacu dengan kecepatan yang menggila.
Jalan ini terlalu padat untuk ia lewati. Dengan penuh tekad, Alice mengambil jalur lain yang lebih lenggang. Dia segera mengemudi dengan gesit, melalui jalan-jalan yang sedikit sepi.
Decit ban terdengar memecah malam. Kerikil-keikil tergerus disepanjang jalan. Debu-debu beterbangan ke segala sisi, menyatu bersama angin malam.
Alice menekan pedal gas dan rem secara bergantian. Kedua tanganya sibuk mengendalikan kemudi mobil. Konsentrasinya mulai terpecah saat ia melihat jarum indikator bahan bakar menunjuk ke huruf E.
Dalam semua keadaan, kenapa justru sekarang mobilnya menyerah untuk berjalan? Alice memukul kemudi mobil merasa putus asa.
Mobil Alice bergetar beberapa kali, terbatuk tak berdaya dan berhenti disebuah jalan sepi pada gelapnya malam.
__ADS_1
Alice menggigit bibirnya menahan emosi. Rasa asin mirip besi mulai ia rasakan dari sudut bibirnya yang tergores. Ketakutanya semakin menjadi saat menyadari mobil SUV di belakangnya ikut berhenti. Perlahan, dua orang berpakian hitam dengan penutup kepala turun dari mobil, berjalan penuh keyakinan menuju Alice.
...