
Rachel menatap kepergian mobil Avery dari jendela lantai atas. Kedua tangan Rachel disilangkan di depan dada, pandanganya dipenuhi keraguan.
Sebenarnya ada apa dengan Avery? Kenapa tiba-tiba memutuskan menikah kilat? Dengan alasan jatuh cinta pada pandangan pertama. Apa-apaan semua ini.
Rachel sangat mengetahui bagaimana Alice. Cinta yang sahabatnya miliki untuk Anson adalah sebuah cinta yang luar biasa. Sulit untuk dipercaya cinta seperti itu bisa beralih secepat ini pada lelaki lain.
Memang tak mustahil jika suatu hari nanti Alice kembali merangkai kisah dan membentuk keluarga kembali. Tetapi, untuk sampai di titik itu pastilah banyak jalan yang akan di lalui Alice. Setidaknya bukan dengan cara jatuh cinta pada pandangan pertama. Semua itu sedikit tak masuk akal.
Rachel mengeluarkan ponsel, menghubungi Daniel. Terdengar nada sambung panjang sebelum akhirnya suara lelaki di seberang menjawab panggilan suaranya.
"Ya, Rachel. Ada apa?" Daniel terdengar lelah. Suaranya seperti orang yang telah berhari-hari kurang tidur. Lelaki itu sepertinya terlalu memforsir tenaga untuk mengembangkan bisnisnya.
"Apakah kau baik-baik saja, Daniel? Suaramu terdengar seperti pasien rumah sakit." Rachel sedikit khawatir.
Mereka sudah lama tak bertemu. Daniel terlalu sibuk mengurus bisnisnya, hingga melewatkan banyak hal. Bahkan di pernikahan Rachel saja ia terpaksa tak datang.
"Baik. Hanya saja aku dibebani pekerjaan yang cukup rumit jadi terpaksa tidak tidur selama dua hari terakhir."
Daniel terdiam sejenak. Dia mendapat informasi bahwa orang yang ia cari berada tak jauh dari kota ini. Itulah alasan kenapa ia begadang untuk menelusuri keakuratan berita yang ia dapat. Dia berkejaran dengan waktu.
"Wow, bisnisman sejati. Kau harus ingat untuk tidur hari ini, Dan. Jika tidak, aku akan terpaksa membawamu ke rumah sakit nanti," bujuk Rachel penuh perhatian.
Rachel merasa Daniel adalah orang yang sulit menempatkam batasan. Kadang lelaki itu bisa berhari-hari menyibukkan pada sesuatu tanpa memikirkan kesehatanya sendiri.
"Memang rumah sakit menerima orang yang kurang tidur?" canda Daniel ringan. Dia tertawa mendengar kelakarnya sendiri.
"Mungkin. Rumah sakit bisa berubah fungsi dalam waktu sesaat. Ngomong-ngomong, aku menghubungimu untuk menyampaikan sesuatu." Rachel mulai membuka topik yang menjadi alasan ia menghubungi Daniel.
Daniel mendesah panjang. Dia menutup berkas di tanganya, menyandar lelah di kursi kerja, dan mulai mengumpulkan konsentrasi untuk mendengar apa yang akan disampaikan temanya itu.
"Alice akan menikah dalam waktu tiga belas hari dari sekarang."
"Apaaa?" Daniel berteriak histeris. Dia menggeleg-gelengkan kepala, tak yakin dengan apa yang ia dengar.
"Alice akan menikah. Dia berkata padaku dia jatuh cinta dan tergila-gila pada seorang lelaki bernama Klayver atau entah siapalah itu."
Rachel mengernyitkan dahi. Jika Daniel saja terkejut dengan fakta ini, berarti memang ada yang salah dengan tindakan Alice. Dia sudah menduga ada yang janggal dengan sikap sahabatnya.
"Apakah kau percaya ada cinta pada pandangan pertama, Dan? Alice mengungkapkan alasan tersebut padaku."
Hening. Rachel tak tahu apa yang dipikirkan Daniel saat ini. Dia hanya berharap informasi yang ia sampaikan akan berguna bagi mereka berdua. Setidaknya, jika ada yang salah dari hal ini, Rachel berharap bisa menghentikanya sebelum terlambat.
Sementara itu, di seberang sana, Daniel memijit pelipisnya. Sekali lagi, dia merasa ada yang hancur dalam relung hatinya. Setiap kali nama Alice disebutkan, ada harapan dan emosi kuat yang mencengkeram hati. Sebuah emosi yang meskipun ia tentang mati-matian akan tetap ada dan tak akan pernah lenyap.
Berapa pun wanita yang hadir dalam hidupnya, berapa pun wanita yang ia gunakan untuk mengusir malam sepinya, berapa pun wanita yang ia gandeng untuk ke pesta, tak ada satu pun yang berhasil menggantikan posisi Alice.
Daniel selama ini hanya berpura-pura. Menunjukkan sandiwara yang hebat pada mereka dan menyeret wanita acak agar Alice maupun Rachel menganggap bahwa hidupnya baik-baik saja.
Namun, mereka tak pernah tahu apa sebenarnya yang terjadi pada gejolak hati Daniel. Perasaan kepemilikan yang kuat selalu ia rasakan setiap kali mendengar ataupun melihat Alice. Perasaan itu tak pernah mati. Dari dulu, semenjak ia pertama kali menemukan wanita tersebut di bangku kuliah emosi tersebut hadir dan menetap, tak terusir.
Daniel selalu menyesalkan kenapa dulu terlalu egois dan angkuh. Seandainya waktu itu ia mampu menurunkan harga dirinya dan mempertahankan Alice, mungkin saat ini mereka telah berkeluarga dan memiliki banyak anak. Wanita itu akan menjadi miliknya secara utuh.
"Daniel, kau masih di sana?" Rachel bertanya khawatir.
__ADS_1
"Memangnya aku akan ada di mana lagi?" tanya Daniel berusaha menutupi kepedihanya.
"Apakah kau melihat ada yang tidak beres dengan rencana pernikahan Alice? Aku sebenarnya tak terlalu percaya dengan alasan yang disampaikan olehnya." Rachel berterus terang. Ia menyentuh dahinya yang berkeringat dan mendengus kecil.
"Biarkan saja, Rachel. Kita dukung pernikahanya. Bagaimanapun juga, jenis cinta seperti itu memang ada. Itu artinya Alice sudah siap untuk melepas kepergian Anson dan mulai menikmati lembaran baru."
Daniel berkata lirih. Dia berdiri dengan lemah dan berjalan ke luar ruangan untuk menetralkan reaksi melankolis hatinya.
Entah untuk ke berapa kalinya, ia kehilangan Alice lagi. Alicenya. Wanita yanh dicintainya dalam diam.
Kapan nasib akan berpihak dan mengantarkan Alice sebagai hadiah untuk hidupnya yang gersang?
"Wohooo, jangan bilang kau percaya pada teori cinta pada pandangan pertama." Alice tertawa garing. Dia tak habis pikir dengan reaksi yang Daniel berikan.
"Rachel, dulu saat aku pertama kali melihat Alice, ada sebuah ikatan emosional yang tak bisa dijelaskan. Ada getar-getar yang hanya aku rasakan saat aku bertemu denganya. Mungkin perasaan itu tak cukup tajam untuk dikatakan sebagai cinta, tapi perasaan itu akan semakin mengembang seiring waktu. Aku menyebutnya sebagai bibit cinta pada pandangan pertama."
Daniel terdiam sejenak, membiarkan kata-katanya merasuk kuat di sanubari Rachel. Reaksi seperti itu memang ada. Dunia terkadang berjalan di luar logika. Ada hal-hal yang digerakkan hanya melalui sebuah emosi.
"Aku yakin, pasti saat kau bertemu dengan Harry dulu, hatimu langsung condong padanya, bukan? Ada ketertarikan kuat meskipun itu tak layak disebut cinta. Tarikan itulah yang membawamu pada kisahmu sendiri dan berakhir pada sesuatu yang kau sebut cinta."
Rachel terdiam lama. Dia luruh di lantai dan menyandarkan diri pada dinding yang dingin. Bayangan tentang Harry mulai berkelebat dalan otaknya.
Ya. Daniel benar. Dari sejak awal pertemuan, Rachel merasakan ketertarikan yang kuat pada lelaki tersebut. Ketertarikan yang berkembang menjadi emosi yang ia namakan cinta.
Jadi, apa yang Alice katakan memang ada. Emosi mampu terbentuk oleh pertemuan pertama yang tidak sengaja. Alam memiliki cara sendiri untuk mengikat dua insan dalam takdir yang telah dibentuk Tuhan. Ada sebuah bahasa yang terjalin antara sepasang manusia yang telah dituliskan untuk bersatu.
"Kau benar, Daniel. Mungkin Alice telah merasakan semua itu. Aku hanya terlalu khawatir padanya karena selama ini ia selalu bertindak gila. Jika dia memang menemukan cintanya, aku seharusnya mendukung dan memercayainya." Rachel menyurukkan wajahnya pada kedua lutut. Dia sedikit menyesal karena meragukan temanya.
Jujur, Daniel merasakan sakit yang sangat tajam. Tetapi dia lebih memilih mendukung Alice agar wanita itu menemukan kebahagiaanya sendiri. Bukankah cinta itu tanpa syarat? Kita mencintai seseorang, tak peduli ia memiliki emosi yang sama dengan kita atau tidak.
"Ya, Daniel, kau benar," kata Rachel kemudian.
Wanita itu kembali menegakkan badan dan bersikap normal kembali. Dia tak boleh terjebak kenangan tentang Harry. Lelaki itu terlalu brengs*k untuk ia ingat. Harry tak pantas mendapatkan perhatian lebih darinya.
"Oh, ngomong-ngomong, sebagai bentuk permintaan maafku karena tak mendatangi pernikahanmu, aku akan mengirim hadiah istimewa untuk kau dan Harry." Daniel kembali teringat tentang hal ini. Dia sedikit malu telah mengabaikan pernikahan temanya empat hari yang lalu.
"Tidak perlu repot-repot, Daniel. Aku belum memberitahumu ya, Aku menikah dengan Maxen, bukan Harry."
"Apa?"
…
William berdiri di sebuah aula besar. Di hadapanya, terdapat tujuh puluh orang memakai setelan hitam dengan wajah menunduk dalam. Aura William terlihat mendominasi. Usianya yang semakin menua tidak mengurangi wibawa yang ia miliki. Justru hal itu menambah nilainya.
William telah menggerakkan organisasi Dark Sky untuk berkumpul di ruangan ini. Dia memobilisasi pertemuan secara diam-diam. Mereka perlu membahas hal penting terkait masa depan organisasi.
Aula pertemuan yang William gunakan adalah ruangan luas dari gedung tua yang jarang dipakai. Gedung ini dulu milik Anson. Tetapi karena lokasinya yang kurang strategis dan tertutup dari akses jalan utama, bangunan jadi sepi peminat dan lama-lama dianggurkan. Sejak saat itu, Anson menyerahkan gedung pada William untuk ia gunakan sesuai kehendaknya.
Meskipun terkesan tua dan memiliki desain arsitektur terbelakang, akan tetapi Wiiliam cukup pintar untuk menjaga gedung ini dan membersihkanya secara berkala. Sehingga memberikan kesan nyaman seperti rumah sendiri.
William menata ruangan pertemuan sedemikian rupa. Tiga besar meja bundar terletak mendominasi. Setiap sisinya dipenuhi orang-orang yang duduk di atas kursi kokoh dari besi. Pandangan mereka semua terarah pada William. Bagi mereka, William bagaikan sosok pemimpin yang memiliki kedudukan tinggi.
"Terimakasih kalian telah datang ke tempat ini. Sebelumnya, aku ingin mengatakan bahwa kita di sini untuk membahas pergerakan baru dalam organisasi ini." William mulai membuka topik. Dia menatap sekilas pada mereka semua dan tampak puas melihat anak buahnya terdiam memperhatikan dirinya.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya sesuatu. Masihkah kalian setia padaku?"
"Yaaaa!" Suara puluhan orang menanggapi pertanyaan retoris William tanpa ragu. Mereka semua mengepalkan tangan dan memukul udara, sebagai bentuk deklarasi langsung.
William mengangguk puas. Organisasi ini tidak pernah mengecewakan dirinya. Dialah yang telah membentuk semua orang ini dari nol. Dia juga yang telah menempa mereka dan menuntun mereka sehingga memiliki visi dalam hidup.
"Jika aku meletakkan kepercayaanku pada orang baru, apakah kalian juga akan melakukan hal serupa?"
Seorang laki-laki berusia tiga puluhan berdiri percaya diri. Dia menatap mata William dengan tajam dan tak tergoyah.
"Kami akan menempatkan kepercayaan kami pada siapa pun yang Anda inginkan, Sir!" katanya mewakili suara teman-temanya. Orang-orang lain yang berada di sini ikut mengangguk, membenarkan.
William berjalan mengitari ruangan. Kenangan lama kembali terbentuk dalam memorinya. Dua tahun yang lalu, Ansonlah yang berdiri di sini dan memerintahkan mereka semua. William hanya bertugas mengawasi dan mengendalikan kondisi.
Kini, lelaki itu telah tiada. Meninggalkan kekosongan yang dalam bagaikan lubang menganga. Bukan hanya meninggal, bahkan kasus kematianya pun menjadi teka-teki yang tak pernah bisa William pecahkan.
Kematian itu bagaikan suatu tragedi yang menimpa mereka semua. Membuat organisasi ini kehilangan arah dan tergelincir dalam. William sempat ingin membubarkan mereka. Hasratnya tak lagi ada untuk tetap menjaga semua warisan.
Namun, mengingat betapa berartinya orang-orang ini, hatinya tergerak untuk tetap mempertahankanya dan melindungi apa yang ia warisi dari Anson. Dalam hati, William bersumpah untuk menjaga anggota organisasi dan menggunakanya sebagai tameng dan perlindungan kuat bagi Alice, juga Axel. Anson pasti ingin William melindungi orang-orang terkasihnya.
"Kalian semua tahu bahwa setelah kematian Anson, Alice adalah orang yang menjadi kiblatku. Aku ingin kalian semua meletakkan kesetiaan padanya dengan tulus juga."
William berdehem. Selama ia memegang organisasi ini, dia jarang memberikan perintah secara kejam. Tetapi setiap kata-katanya sangat ampuh dan mampu menggerakkan mereka semua. Bahkan sekali pun perintah tersebut membawa mereka pada jurang kematian.
Semua orang di ruangan mengangguk setuju. Separuh dari mereka memiliki latar belakang yang berbeda. Baik secara karir maupun kelas sosial. Sisanya lagi rata-rata sebagai pengawal suatu lembaga resmi dan penyedia infornasi rahasia.
Secara karir, mereka memang tak terikat job oleh organisasi ini, meskipun William secara berkala mengirim dana untuk kesejahteraan mereka. Terapi mereka terikat kesetiaan penuh, seperti kawan lama yang saling membantu satu sama lain.
Lebih dari lima puluh persen anggota ini ditemukan secara langsung oleh William. Ada yang pernah menjadi mantan narapidana yang kemudian diselamatkan olehnya, ada yang pernah menjadi anak jalanan dan ditolong olehnya, ada juga yang terlibat banyak kerumitan ekonomi yang dibantu penuh oleh William.
Mereka semua terlibat hutang budi. Sehingga kesetiaan yang mereka tawarkan adalah kesetiaan penuh. Karena itulah William menjadi cukup terikat dengan mereka. Begitupun sebaliknya.
"Kami adalah satu kesatuan yang utuh, Sir. Kemana pun Anda mengabdi, ke situlah kami ikut mengabdi. Mengenai kasus kematian Mr. Mallory, kami semua selalu menabrak tembok kokoh setiap kali melakukan penyelidikan,"
Seorang lelaki berusia sekitar tiga puluhan berkata tegas. Dia adalah salah satu orang kepercayaan William dan telah menjadi tangan kananya. Pemuda itu cukup dipercaya untuk mengemban misi-misi penting. Seluruh hidupnya hanya ia abdikan untuk William. Keinginan lelaki tua itu adalah perintah telak baginya.
William mengangguk memahami kesulitan yang dialami oleh organisasinya. Meskipun kematian Anson cukup mengganjal, tetapi sulit mencari bukti tentang itu semua. Musuh di belakang mereka cukup kuat rupanya.
"Tidak apa-apa. Itulah tujuanku mengumpulkan kalian saat ini. Akan ada orang baru yang membimbing kalian nantinya. Orang yang bersedia mencari tahu dan membuat keadilan bagi kematian Anson. Tetapi untuk itu, kalian harus bersumpah setia juga padanya. Karena aku telah mendeklarasikan kesetiaanku padanya."
Semua orang terdiam. Mereka semua tahu tak mudah menyerahkan kendali organisasi ini kepada orang luar. Baik William maupun mereka telah terikat sumpah setia sepanjang kehidupan. Menyerahkan organisasi ini ibarat menyerahkan nyawa dan hidup mereka semua.
"Siapakah dia, Tuan?" tanya lelaki tersebut, mewakili rasa penasaran yang lain.
"Calon suami Alice, Klayver Vaquez. Setelah ia resmi menikah, aku ingin kalian semua menyatakan sumpah setia padanya. Setidaknya, selama lelaki tersebut menjadi suami resmi Alice, kalian harus menganggapnya sebagai atasan."
William menjelaskan semua ini dengan murung. Ia terpaksa melakukan semua ini setelah Alice memutuskan menikahi lelaki yang memiliki latar belakang pembunuh seperti Klayver. Demi Tuhan, William tak yakin apakah ini keputusan yang baik bagi mereka semua.
"Baik, Tuan." Sang tangan kanan mengangguk.
"Baiklah, Harry. Atur organisasi ini dengan baik. Aku tak bisa mengawasi kalian secara penuh mulai sekarang."
…
__ADS_1