Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
083 - SEASON 2


__ADS_3

Pagi ini Alice melakukan rapat kilat bersama para direktur perusahaan terkait masalah penggelapan dana dengan ditemani Jasmine. Setelah sepakat dalam menentukan keputusan penting, Alice memilih segera pergi dari perusahaan.


Hari sudah menjelang siang saat mereka keluar ke arah tempat parkir khusus. Alice mengernyit saat sebuah lagu lama dari evanescene mengalun lembut dari dering ponselnya sebagai nada panggil.


*Lithium, don't want to lock me up inside


Lithium, don't want to forget how it feels without


Lithium, I want to stay in love with my sorrow


Don't want to let it lay me down this time


Drown my will to fly


Here in the darkness I know myself


Can't break free until I let it go


Let me go*


Setelah dering ponsel hampir berhenti, Alice mengeluarkan ponselnya dan menggeser tombol terima.


"Ya, ada apa, Rachel?" tanya Alice menatap nama temannya yang terpampang jelas di layar utama.


"Kau sedang ada di mana? Aku dan Daniel berada di restoran dan berencana untuk makan siang bersama. Kau bisa menemani kami? Semakin ramai semakin baik." Rachel bertanya penuh harap.


Alice melirik ke arah Jasmine yang tengah serius mengemudikan mobil memasuki jalan utama dan berpikir sejenak.


"Baiklah. Kebetulan saat ini aku baru selesai rapat dari kantor. Kirimkan lokasi kalian. Aku dan Jasmine akan segera ke sana."


"Kau sungguh teman yang menyenangkan, Alice. Kutunggu di sini ya. Hati-hati di jalan."


Sambungan terputus. Jasmine yang berada di sisi Alice melirik penuh tanya, merasa penasaran.


"Kita makan siang bersama Rachel dan Daniel. Mereka sudah menunggu di restoran. Sebentar lagi Rachel mengirimkan lokasi mereka." Alice berkata ringan.


Jasmine yang mendengar kata Daniel disebut, sedikit menampilkan wajah tak suka. Alice menangkap reaksi ini secara sekilas.


"Kau tak keberatan kita makan siang bersama mereka, bukan? Bukankah kau dan Daniel memang tidak ada apa-apa kecuali tarif kecil karena dia menciummu tempo hari?" Alice bertanya dengan sedikit nada menggoda.


Sebuah decihan kecil keluar dari mulut Jasmine. Setiap kali teringat tentang Daniel membuat Jasmine terganggu sedikit. Tetapi ia tak ingin menampakkan reaksi tersebut pada Alice.


"Memangnya kenapa jika makan siang bersamanya? Aku tak masalah. Toh aku tak pernah memancing masalah dengannya." Jasmine menaikkan kedua bahunya, mencoba tidak peduli.


"Baiklah." Alice tersenyum cerah.


Mereka kemudian membelah jalanan kota yang cukup padat. Jasmine termasuk orang yang pintar mengemudikan mobil. Dia ahli mencari celah dan bermanuver ke setiap sisi jalan.


Jasmine merupakan teka-teki paling unik. Di balik kecantikannya, dia menyimpan banyak hal yang jarang bisa ditebak oleh orang lain.


Mereka melewati jalanan selama seperempat jam lebih menuju restoran yang dimaksud Rachel. Di sana, Daniel telah duduk santai menunggu kedatangan Alice.


Restoran ini didesain dengan gaya oudoor. Meja dan kursi saling ditata rapi di ruangan terbuka seperti gazebo mini yang indah. Beberapa tempat ada semacam tempat lilin yang jika malam tiba, suasana pasti semakin semarak dengan cahaya lilin remang-remang.


Alice berjalan melewati beberapa meja ke tempat dalam menuju keberadaan teman-temannya.


Wajah Daniel sumringah saat melihat Alice. Akan tetapi, saat melihat sosok yang berada di belakang Alice, suasana hati Daniel menjadi berubah kelam.


Rachel dan Alice memahami perubahan suasana Daniel. Mereka berdua saling memberikan kode tanpa suara. Seolah-olah paham dua orang ini seperti petasan yang siap meletus kapan saja jika dinyalakan pemicunya.


"Kuharap kau tak keberatan aku mengajak Jasmine, Daniel." Alice menyikut pelan lengan Daniel yang kokoh.


Mereka berempat duduk melingkar, Alice dan Daniel duduk berdampingan. Rachel dan Jasmine duduk berdampingan. Sehingga otomatis Jasmine berhadap-hadapan langsung dengan Daniel. Hal itu membuat wajah mereka berdua kelam bak langit malam.


"Kau berhak mengajak siapa pun yang kau inginkan. Hanya saja, aku lebih menghargai jika kau memilah-milah teman dalam skala sosialmu. Beberapa orang bisa berpengaruh buruk padamu." Daniel mengungkapkan pendapatnya.


Jasmine yang mendengar hal itu, menatap ringan ke arah Daniel, merasa tak terkecoh dan menyenandungkan lagu seperti yang tengah diputar di restoran ini.


*On a dark desert highway


Cool wind in my hair


Warm smell of colitas

__ADS_1


Rising up through the air


Up ahead in the distance


I saw a shimmering light


My head grew heavy and my sight grew dim


I had to stop for the night


There she stood in the doorway


I heard the mission bell


And I was thinkin' to myself


'This could be heaven or this could be hell


Then she lit up a candle


And she showed me the way


There were voices down the corridor


I thought I heard them say


Welcome to the Hotel California


Such a lovely place (such a lovely place)


Such a lovely face


Plenty of room at the Hotel California


Any time of year (any time of year)


You can find it here


She got the Mercedes Benz, uh


She got a lot of pretty, pretty boys


That she calls friends


How they dance in the courtyard


Sweet summer sweat


Some dance to remember


Some dance to forget


So I called up the Captain


"Please bring me my wine"


He said, "We haven't had that spirit here since 1969"


And still those voices are calling from far away


Wake you up in the middle of the night


Just to hear them say*


Suara Jasmjne cukup merdu. Dia pintar menempatkan nada sesuai temponya sehingga Rachel dan Alice ikut terbawa suasana. Rachel bahkan ikut manggut-manggut menikmati suara indah Jasmine.


Hanya satu orang saja yang merasa terganggu oleh nyanyian Jasmine. Siapa lagi jika bukan Daniel. Sejauh menyangkut Jasmine, lelaki itu tak pernah merasa cocok sedikit pun.


"Bisakah kau hentikan nyanyianmu? Kita semua tidak butuh suaramu yang kau obral murah."


Rachel dan Alice menatap Daniel dengan pandangan bertanya. Kali ini Daniel sungguh keterlaluan. Suara yang indah milik Jasmine disebut sebagai suara murahan. Yang benar saja.


"Ada apa denganmu, Daniel? Tak biasanya kau sekasar ini pada wanita." Rachel tak terima.

__ADS_1


Ada batasnya ketika Daniel hanya berceloteh tak penting atau mulai melakukan sesuatu yang menyinggung orang lain. Kali ini Rachel merasa Daniel keterlaluan. Lelaki itu biasanya tidak sesubjektif itu dalam menilai seseorang.


"Tidak apa-apa. Suaranya hanya tak cocok dengan seleraku." Daniel berkata ringan.


Alice dan Rachel masih saling menatap penuh kebimbangan. Daniel merutuk dalam hati. Tidak mungkin ia jujur pada mereka jika beberapa hari lalu dirinya bermimpi tentang Jasmine ketika memutar lagu tersebut.


Daniel hanya tak ingin mengingat hal itu. Dia sudah cukup dihantui dengan semua pikiran tentang Jasmine.


Mendengar Jasmine menyanyikan lagu itu, membuat Daniel merasa tak nyaman.


"Sejak kapan kau merasa cocok dan tidak cocok pada jenis suara tertentu?" Kali ini Alice yang menimpali.


"Biarkan saja. Lelaki seperti dia kenapa harus dipusingkan. Dia adalah produk lelaki yang mengalami banyak kegagalan emosi. Aku cenderung merasa kasihan untuknya." Jasmine berkata sinis, menanggapi komentar Daniel yang sadis. Wanita itu tak ingin terlalu mengambil hati atas setiap kata-kata tajam yang Daniel lontarkan. Dia mengalihkan topik mereka dengan cara memanggil pelayan dan memesan beberapa menu. Yang lain mengikuti tindakan Jasmine, termasuk Daniel.


"Kudengar orang dalam perasahaanmu menggelapkan dana perusahaan." Daniel memulai pembicaraan kepada Alice.


Suasana kembali lebih baik saat Daniel memilih untuk tidak memojokkan Jasmine kembali. Alice tersenyum miris, mulai menjelaskan duduk perkaranya secara garis besar.


"Ya. Dia adalah acounting utama. Jadi, selama ini, dia terdeteksi memalsukan banyak tagihan fiktif yang diklaim ke perusahaan. Ada lagi gaji karyawan yang diajukan secara ganda. Hal itu baru ketahuan minggu kemarin karena orang tersebut cukup pintar dalam melakukan aksinya."


Alice kembali teringat berapa nominal yang telah berhasil digelapkan. Nominal yang cukup fantastis tentunya. Pantas saja lima bulan terakhir Alice merasa pengeluaran perusahaan tak wajar. Ternyata ada yang mempermainkan.


Berhubung perusahaan Alice masih sehat dan tetap mencetak keuntungan, Alice selama ini tak terlalu mempermasalahkan pembengkakan pembiayaan operasional. Andai dulu Alice mengikuti instingnya dan menyelidiki, mungkin kejadian ini tak perlu meningkat parah.


"Keuangan memang sangat rentan dipermainkan. Kau harus menempatkan orang yang benar-benar kau percayai, Alice. Di beberapa perusahaan kasusnya terjadi pemalsuan pajak. Ternyata selisih laporannya dipakai sendiri oleh accounting yang membuatnya. Semuanya sangat pintar dalam membohongi hukum."


Alice mengangguk membenarkan. Banyak kasus tentang penggelapan keuangan yang merajalela. Di mana-mana yang namanya accounting dan bendahara cukup rentan melakukan kesalahan.


"Semuanya sudah selesai. Sekarang pengacara perusahaan yang akan mengurus kasus hukumnya. Aku berharap, ke depan nanti tidak ada kejadian seperti ini lagi." Alice menatap sudut meja dengan pandangan lemah. Benar-benar tak nyaman jika menghadapi karyawan sendiri melakukan hal tersebut.


Ternyata, kebaikan Alice tidak selalu berjalan dua arah. Ada jenis orang yang meskipun berkali-kali diberi kebaikan tetap saja hasratnya menghancurkan tangan sang penolong.


"Aku yakin ini tak akan terulang kembali. Selama kau bisa mengendalikan perusahaan dan memberlakukan audit yang lebih ketat, pasti semuanya baik-baik saja."


Daniel menepuk bahu Alice lembut, memberikan dukungan sebagai teman.


Jasmine yang melihat hal itu hanya terdiam. Dalam hati dia mulai bertanya-tanya. Daniel bisa selembut itu pada Alice. Kapan dia bisa memperlakukan Jasmine dengan porsi yang sama.


Sebenarnya, jika dipikir-pikir, Daniel cukup baik hati dan bersikap objektif. Terakadang sikap hangatnya keluar sewaktu-waktu. Hanya saja, itu semua menjadi pengecualian bagi Jasmine.


Setelah makan siang mereka selesai, Jasmine dan Alice kembali ke rumah. Mereka berdua sempat mapir ke toko kue untuk membelikan beberapa jenis kue kesukaan Axel.


"Sebenarnya, ada apa antara kau dan Daniel, Jasmine? kalian berdua seperti orang yang siap perang kapan saja." Alice menanyakan hal ini saat perjalanan pulang. Dia sudah sering melihat kedua orang tersebut tak cocok satu sama lain. Alice hanya ingin msngetahui alasannya.


"Tidak ada apa-apa. Kau seharusnya bertanya pada Daniel secara langsung. Dia sendiri yang selalu memulai sesuatu." Jasmine menjawab apa adanya. Memang, di setiap silat lidah yang mereka lakukan, Daniel-lah yang mengawalinya. Terkadang, hal-hal sepele saja bisa menjadi pemicunya.


Apa yang diakatakam Jasmine memang benar. Berapa kali mereka saling berteriak marah hanya karena dimulai oleh Daniel. Sebagai lelaki yang jarang memancing emosi wanita, Daniel cukup profokatif dalam memancing amarah Jasmine.


"Aku melihat kau kemarin saat berciuman dengan Daniel. Kalian sepertinya cukup terbawa suasana. Bagaimana menurutmu?" Sifat iseng Alice mulai muncul lagi. Dia menyenggol lengan Jasmine dan menatapnya penuh arti.


"Aku selalu terbawa suasana pada setiap pelangganku dan setiap lelaki yang membayarku dengan dollar. Andai kau mau membayarku, mungkin aku bisa terbawa suasana juga."


Alice segera mundur dan bergidik ngeri. Dia mengusap perutnya dengan lembut dan melafalkan sumpah serapah.


"Aku masih terlalu normal untuk melakukan pelencengan moral dengan sesama wanita."


"Hahaha aku bercanda, Alice. Aku juga masih menginginkan laki-laki. Usahaku bangkrut jika aku mengalami orientasi yang tak sehat."


Mereka tertawa bersama dan membicarakan topik-topik ringan. Beberapa kali Jasmine memerima panggilam dari pelanggannya dan dia mengkoordinir anak buahnya melalui telepon.


Alice melotot melihat Jasmine yang bekerja cepat melayani setiap keinginan mereka. Beberapa kali, Alice mendengar di antara mereka ada yang menginginkan hal-hal aneh dengan cara yang tak wajar.


Jika Alice berada pada posisi Jasmine, dia tak bisa membayangkan serumit apa hidupnya nanti.


"Baru kali ini aku bersyukur hidup sebagai pengusaha dari pada mucikari. Ternyata menjadi mucikari lebih rumit dari pada mengurus keuangan perusahaan yang ruwet." Alice tak habis pikir.


Selama ini Alice lebih sering bekerja mengamati angka-angka. Sesuatu yang mati dan mudah diurus. Sementara Jasmine selalu bersinggungan dengan orang yang memiliki ribuan permintaan rumit. Masing-masing setiap permintaan berbeda-brda dan memiliki cara penanganan tersendiri. Terlalu merepotkan.


"Kita masing-masing memiliki bakat kita sendiri, Alice." Jasmine menimpali.


Mereka menatap keluar, mengamati jalanan Manhattan yang mulai kembali memadat.


__ADS_1


__ADS_2