
Awalnya Alice mengira akan ada kecanggungan antara Axel dan Anson. Bagaimanapun juga, mereka sudah terpisah setahun lamanya. Bagi ingatan seorang anak, Anson hanyalah orang asing yang tiba-tiba datang mengaku sebagai ayahnya.
Namun tebakan Alice salah total. Tidak butuh waktu setengah jam, mereka berdua bagaikan dua orang yang tak terpisahkan. Alice mendengar tawa renyah yang saling bersahut-sahutan di ruang bermain. Sepertinya Anson sukses membuat anak tiga tahun itu menaruh minat yang besar padanya.
Alice mendesah lega dan kembali ke lantai atas. Dia merasa bersyukur setidaknya Axel masih mendapatkan perhatian dari ayahnya. Bagaimanapun juga, konflik yang ia alami dengan Anson adalah konflik mereka pribadi. Axel tidak seharusnya ikut terbawa.
Anak adalah pihak yang rentan dalam sebuah keluarga. Psikisnya mudah terganggu dengan kondisi-kondisi buruk yang terjadi pada kedua orang tuanya. Banyak keluarga broken home yang menyeret anak-anak mereka pada polemik-polemik baru sehingga mentalnya tak sehat.
Alice tak ingin kejadian tersebut menimpa putranya. Axel adalah permata yang paling berharga. Demi dia, Alice akan melakukan apapun yang ia mampu hanya untuk membuatnya tersenyum. Bahkan jika ia harus melewati onak duri sekali pun.
Demi Axel juga, Alice akan mengesampingkan perselisihanya dengan Anson. Dia harus menunjukkan penampilan sebagai keluarga yang bahagia di hadapan putra tunggalnya.
Axel menghabiskan satu jam lebih bermain-main dengan Anson. Anak itu semakin aktif berlarian kesana kemari berteriak-teriak kegirangan. Alice mendengar suara-suara itu dari ruang sebelah. Dia menggeleng pelan penuh arti.
Setelah menginjak waktu makan malam, Alice menyuruh seorang pelayan untuk membawa mereka ke ruang makan. Suasana jadi sedikit canggung ketika sosok maskulin itu memasuki ruangan yang sama dengan Alice. Udara terasa sesak seketika.
"Mommy!" teriak Axel melemparkan pelukan khasnya pada Alice.
"Sayang, duduk di kursimu yang biasa." Alice membantu mendududukkan Axel disebuah kursi disampingnya. Dia mendekatkan piring keramik di dekat putranya dan menyiapkan sendok.
"Daddy, duduk sini ya!" pinta anak itu menunjuk kursi disebelah. Kedua matanya penuh harap.
"Baiklah, selama kamu menjadi anak baik malam ini, Daddy akan duduk di sampingmu." Anson mengisi kursi yang ditunjuk Axel. Dia duduk bagaikan macan yang anggun. Menguarkan aura yang sangat mendominasi. Alice menelan ludah susah payah. Ya Tuhan, kenapa lelaki ini selalu membawa banyak reaksi yang tidak ia harapkan.
"Mommy, bolehkah Axel tidur sama daddy?" tanya anak itu ditengah-tengah makan.
Alice menatap putranya dengan raut tak terbaca. Dia mendesah memejamkan matanya.
"Mungkin lain kali," katanya tegas.
Meskipun Alice mengijinkan kunjungan Anson, bukan berarti dia bersedia mengendurkan semua pertahananya.
"Tapi Axel mau tidur sama daddy." Axel memukul-mukul sebuah sendoknya diatas meja, menimbulkan bunyi dentangan keras.
"Axel, bersikaplah baik malam ini. Jangan memainkan sendok!" tegur Alice tegas.
Anson melirik sekejap ke arah Alice dan memilih untuk tidak menanggapi. Dengan lembut, dia mengusap sebelah bahu putranya mencoba menenangkan.
"Tidak apa-apa, kapan-kapan kita akan tidur bersama. Bagaimana jika setelah ini kau pergi tidur dan daddy ceritakan sebuah dongeng baru?" tawarnya penuh janji.
Suara Anson sangat lembut. Membawa sebuah keindahan samar yang perlahan menyeruak dalam hati Alice. Wanita itu dengan lemah menatap sebuah tangan kuat yang mengusap putranya. Tangan yang menjanjikan kekuatan dan perlindungan. Tangan yang sialnya, ia rindukan dengan cara menyakitkan.
Kehidupan memang sangat tidak adil. Bagaimana mungkin sebuah hasrat bisa bercampur dengan kebencian dengan kapasitas sama besar.
"Aku ingin cerita super hero daddy." Axel menatap penuh harap.
Anson memgangguk ringan dan meneruskan makan malam. Suasana menjadi semakin menegang. Tidak ada sebuah kata pun yang Alice keluarkan untuk Anson. Komunikasinya hanya terbatas pada putranya. Dia setengah mati mencoba menganggap keberadaan Anson sebagai angin lalu, namun berakhir gagal. Bagaimana mungkin sosok seperti itu hanya sekedar menjadi latar belakang?
Setelah selesai, Anson menggendong Axel ke kamar diikuti seorang pengasuh. Lelaki itu meninggalkan Alice seorang diri di ruang makan. Dengan nafas berat, Alice menatap kepergian mereka.
__ADS_1
Alice merenggangakn jari jemarinya. Tubuhnya sangat tegang berada satu ruangan dengan Anson. Perasaan asing mirip antisipasi selalu bersiap meledak dari hatinya.
Mengundangnya untuk makan malam benar-benar keputusan yang sangat bodoh. Mereka seperti senar tegang yang siap putus kapan saja. Udara diantara mereka menguarkan aura ketidak cocokan.
Karena tugas menidurkan Axel telah diemban oleh Anson secara suka rela, Alice memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan memeriksa beberapa laporan keuangan yang tertunda pada bisnisnya. Dengan enggan, wanita itu memasuki ruang kerja yang dulu merupakan milik Kendrick.
Buku-buku dan artikel tentang bisnis tertata rapi di rak sepanjang dinding ruangan. Map-map berserakan bersama dengan berkas-berkas dan laporan penting.
Alice mengambil sebuah map dengan tulisan "LAPORAN PERUBAHAN MODAL" di atasnya. Dia membuka map tersebut dan segera mengaktifkan komputer membuka sebuah aplikasi keuangan terup to date. Beberapa kali dia mencocokkan laporan tersebut dengan perhitungan otomatis dari sistem yang ia gunakan. Alice tersenyum puas melihat tak ada selisih dari kedua laporan yang ia teliti.
Alice tenggelam dalam laporan keuangan terbaru, mencoba mencerna banyak angka. Waktu seolah berlalu begitu cepat. Rambut gelap Alice terurai semakin berantakan menghalangi kedua mata indahnya. Semenjak pernikahanya dengan Krndrick, Alice memutuskan untuk mewarnai rambutnya dengab warna gelap.
Setelah nyaris satu jam berlalu tanpa terasa, sebuah ketukan mengagetkanya. Kening Alice tampak berkerut karena terganggu sebelum akhirnya dengan enggan membuka pintu.
Mata Alice membelalak untuk sejenak. Raut mukanya menunjukkan keterkejutan.
"Anson."
Bagaimana lelaki itu bisa menemukan dirinya di sini? Dari awal kedatangan Anson, Alice telah berusaha sekuat tenaga untuk tidak terlalu sering berhadapan langsung denganya. Dia membatasi ruang gerak dirinya sendiri, menjauhi berinteraksi langsung. Kecuali pada saat makan malam tentunya.
"Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu." Anson berkata datar.
Alice mendecih pelan. Dia merasa terganggu oleh kehadiran lelaki ini.
"Tak ada yang perlu dibicarakan di antara kita. Jika kau sudah selesai mengunjungi Axel, pergilah pulang. Kuharap kau tak lupa di mana letak pintu keluar." Alice mencoba menutup pintu dengan kasar, namun dihalangi oleh gerakan kaki Anson yang gesit untuk menahanya.
"Kita tak perlu membuat kesepakatan. Aku mengijinkanmu mengunjungi Axel itu sudah menjadi keajaiban bagimu. Jangan pernah mendiskusikan sesuatu yang lebih dari itu."
Terdengar suara brak keras.
Tanpa aba-aba, Anson memaksa pintu yang menghalangi mereka terbuka dengan dorongan keras. Alice tersentak mundur beberapa langkah karena terkejut atas tindakan Anson.
Dengan santai, Anson menutup pintu ruang kerja. Tubuhnya yang menjulang tinggi berdiri kokoh menghalanginya dari satu-satunya akses keluar. Alice menyipitkan kedua matanya menatap curiga pada lelaki yang berdiri beberapa meter darinya
"Apa maumu Anson? Kau mencoba mengintimidasiku di rumahku sendiri?" Alice berjalan memutar menempatkan dirinya sendiri di balik meja kerja. Dia perlu penghalang yang kokoh untuk melindunginya dari niat apapun yang kini sedang dipikirkan Anson. Meskipun sebenarnya jika mau diakui, benda apapun yang berada diruangan ini tak akan sanggup menahan Anson. Namun Alice tetap harus mencobanya.
Alice menyesal tak menyimpan pistol di ruangan ini. Dia seharusnya perlu menciptakan kesiagaan penuh untuk lelaki seperti Anson. Setidaknya, dia membutuhkan senjata yang cukup ampuh.
"Jika kau berniat untuk membunuhku disini, bukan ide yang bagus, Anson. Ruangan ini dilengkapi kamera pengaman." Alice sedikit lega menyadari hal itu.
Anson terkekeh pelan. Dia masih tak menggeser tempatnya berdiri. Sosoknya yang kokoh dengan penutup mata sebelah mengingatkan Alice kepada sosok bajak laut yang kejam.
"Kau pikir aku akan membunuhmu?" Anson tertawa sinis.
"Bisa saja. Kau psikopat gila yang telah menodai tanganmu dengan banyak darah." Alice bergidik ngeri. Dia teringat bagaimana Kendrick dibantai oleh Anson dan anak buahnya. Memori itu mampu membuat Alice terjebak dalam kesedihan yang paling dalam.
"Ya. Untuk pertama kalinya kau benar, Alice. Aku psikopat gila. Jadi jika aku menginginkanmu mati, sangat mudah bagiku untuk melakukanya. Namun aku tak berniat membunuhmu untuk saat ini." Anson berjalan perlahan mendekati Alice. Setiap langkah yang ia ambil membawa ketakutan yang berlipat ganda pada mental Alice. Seolah-olah genderang perang telah mulai ditabuh.
"Kau benar-benar iblis Anson. Suatu hari nanti hidupmu pasti akan hancur tak tersisa. Saat itu terjadi, aku akan menjadi orang yang paling bersyukur melihatmu menderita."
__ADS_1
Anson semakin tertawa sinis. Dia sangat ingin memberitahu bahwa saat ini, dirinya sudah cukup menderita. Menginginkan Alice dengan sangat, namun terjebak dengan semua kesalahan-kesalahan masa lalunya. Alih-alih mendekati dan memuja Alice, justru sekarang dia harus berpura-pura membencinya. Karena bagaimanapun juga, wanita ini tak pernah pantas untuk ia miliki. Kesenjangan mereka terlalu tinggi.
"Jika kau cukup membenciku, kenapa kau tak mengangkat senjata dan membunuhku sendiri? Mungkin kau akan berhasil, Alice."
Jika Anson harus mati ditangan Alice, mungkin itu bisa menjadi penebusan kesalahanya. Seandainya saja Anson tak memiliki Kimberly yang masih membutuhkan perlindunganya, Anson sudah tergoda untuk menyerahkan hidupnya sendiri di tangan wanita ini.
"Karena aku tak mau mengotori tanganku sendiri untuk melakukan tindakan rendah seperti pembunuhan. Aku menyukai ketenangan dan kedamaian. Demi Axel, kau tak boleh mengusikku."
Itu benar. Setelah Alice pulih dari kecelakaan, sebesar apapun kebencian yang ia tanggung untuk Anson, dia tak pernah sedikitpun berminat untuk mengusik hidup lelaki ini. Dendam dalam hatinya sudah terkikis oleh banyak kesedihan. Selain itu, membantai Anson adalah sesuatu yang sangat mustahil. Hanya membawa banyak kerugian dipihaknya.
Dia menginginkan kedamaian. Dia membutuhkan ketenangan. Demi moralnya yang tersisa, dia bahkan mengalah untuk menerima kunjungan Anson pada putranya. Jika semua itu tak dihargai oleh Anson, Alice benar-benar perlu menanyakan kewarasan lelaki itu.
"Baiklah. Mari kita saling melupakan permusuhan ini. Aku ingin membuat kesepakatan denganmu tentang putra kita. Dalam satu bulan, beri aku dua atau tiga hari untuk mengunjunginya. Kau bisa menentukan tanggal berapapun yang kau mau. Selama dua hari atau tiga hari itu, aku akan sepenuhnya bersama Axel. Aku tidak ingin hanya datang sekejap beberapa jam kemudian pergi."
Anson duduk dikursi ramping diseberang meja kerja. Kedua tanganya saling terkait di atas meja menunjukkan kekuatan yang ia miliki.
"Baiklah. Bagaimana jika tiga hari terakhir dalam setiap bulan? kau bisa membawa Axel ke rumahmu. Tetapi kau harus berjanji mengembalikanya kembali. Kau sudah menyerahkan pengasuhan ini padaku, Anson. Kau tak bisa menarik kembali kata-katamu."
Alice menyerah. Dia harus bisa bekerja sama dengan Anson. Alice takut jika ia tidak meluluskan permintaan ini, Anson akan melakukan rencana lain untuk mengambil kembali hak asuh Axel. Untuk seorang lelaki sepertinya, apapun bisa ia lakukan.
"Aku akan mengembalikanya kembali padamu." Anson mengangguk pelan. Ada keseriusan yang jelas dimatanya.
"Baiklah. Kau bisa melakukan itu mulai bulan depan." Alice mendesah berat. Matanya setengah terpejam.
Anson berdiri dan mengamati reaksi wanita dihadapanya.
"Seberapa besar kau membenciku, Alice?" tanyanya tiba-tiba.
Alice tersentak merasa terkejut atas pertanyaan ini.
Udara diantara mereka semakin menegang. Ada aura yang menakutkan yang siap meledak saat ini.
"Apa kau perlu menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas terlihat, Anson. Aku sangat membencimu setengah mati. Hanya saja aku terlalu cerdas untuk tidak memancingmu. Kau adalah iblis yang sangat kejam, Anson. Tanganmu telah membunuh orang yang paling aku cintai." Kedua mata Alice menyala-nyala, menampakkan banyak aura permusuhan yang kental. Ada luka yang sangat dalam dari tatapanya.
"Aku bisa lebih kejam dari semua itu, Alice. Kau masih menilaiku dari permukaaan."
Dahi Alice terlipat dalam. Dia memandang Anson dengan penuh spekulasi.
"Apakah kau bermaksud mengancamku, Anson? Atau kau bermaksud membuatku semakin membencimu?"
Anson terkekeh dan meninggalkan Alice seorang diri. Tanpa memberi sedikitpun jawaban.
Tak ada yang tahu sebuah tatapan terluka yang disembunyikan Anson dengan cukup baik. Dia mengepalkan kedua tangan disisi tubuhnya penuh keputus asaan.
Anson memejamkan matanya, menyesap udara malam yang seolah terasa menyesakkan bagi jiwa rusaknya. Harapan itu sudah mulai berkembang dengan cara yang menakutkan. Perasaanya mulai tak dapat ia kendalikan. Dia bertanya, hanya untuk memastikan. Sekarang setelah ia melihat kebencian langsung dari sorot mata Alice, dia berharap harapanya bisa menghilang secepatnya. Namun nihil. Hasrat lama dan obsesinya semakin tumbuh membesar. Butuh kekuatan luar biasa untuk menekanya kembali.
Suara kuat dari dalam jiwanya, seolah menuntutnya untuk kembali menguasai Alice. Dari semua sisi yang wanita itu miliki.
...
__ADS_1