Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
074 - SEASON 2


__ADS_3

Alice menatap benda mungil di tangannya dengan tangan gemetar hebat. Dia sudah mencoba melakukannya dua kali, dan hasilnya tetap sama. Dua garis merah tercetak jelas di benda kecil berukuran sepuluh centi meter.


Alice telah mengalami keterlambatan dalam siklus bulanan selama hampir satu bulan. Dia pikir itu hanyalah efek yang ditimbulkan karena beban pikiran. Nyatanya, setelah ia beranikan melakukan tes mandiri, dirinya positif mengandung.


Alice mengusap perutnya yang masih rata. Di dalam sini, ada kehidupan yang mulai terbentuk dan menjadi bagian dari diri Klayver. Bagian yang lelaki itu tinggalkan saat suaminya memilih untuk mengurus masalah yang kini mengganggunya.


Air mata kebahagiaan mengalir turun. Membasahi lantai keramik kamar mandi yang berdesain abstrak. Pipinya sembab dalam waktu sesaat.


Ya Tuhan. Dia akan menjadi ibu dari anak Klayver. Sesuatu yang sudah ia nantikan dari dulu. Pernikahan mereka telah berlangsung lumayan lama. Anak merupakan hal yang sangat mereka idam-idamkan.


Bahagia. Itulah apa yang tengah Alice rasakan. Dia keluar dari kamar mandi dan berjalan ringan keluar kamar untuk menemui teman-temannya. Rachel dan Daniel masih setia berada di sini dan sedang berniat untuk melakukan makan siang di rumah Alice.


Alice menyusuri lorong demi lorong menuju ruang makan. Setibanya ia di sana, Alice melihat ketiga temannya berada di sisi meja dan menatap bersamaan ke arahnya, seolah mengatakan melalui isyarat bahwa mereka telah lama menunggu kedatangannya.


"Apa kau baik-baik saja?" Rachel bertanya khawatir. Dia menatap wajah Alice yang terlihat berbeda dari pada biasanya.


"Aku hamil. Kalian dengar itu, aku hamil. Aku mengandung anak Klayver." Alice mengacungkan test pack dan melambaikannya di depan mereka. Dia seperti anak kecil yang sedang mendapat hadiah besar karena berhasil bertindak baik.


Mulut Daniel dan Rachel menganga lebar. Mereka menatap perut Alice yang rata dan tak bisa berkata-kata.


Hanya Jasmine saja yang cepat tanggap dan berdiri menghampiri Alice dengan mata berbinar. Dia memeluk Alice seperti teman lama dan mengecup setiap sisi wajahnya dengan bahagia.


"Selamat, Alice. Klayver pasti bahagia mendengarnya. Aku bertaruh dia akan menjadi ayah yang hebat." Jasmine menepuk bahu Alice beberapa kali dan berpindah mengusap perutnya.


Barulah saat itu Daniel dan Rachel tersadar dari keterkejutannya dan mulai berteriak heboh.


"Oh Ya Tuhan. Kau benar-benar hamil. Kau hamil. Bayangkan itu, Alice. Kau mengandung janin." Rachel berkata tersendat-sendat. Wajahnya terlihat berseri-seri, ikut merasa bahagia atas berita ini.


"Ya Rachel. Aku benar-benar hamil. Ya Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu betapa aku bahagia atas hal ini." Alice menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan air mata mulai kembali menetes.


Manusia itu makhluk yang unik. Setiap puncak rasa selalu ditampakkan melalui air mata. Setiap penderitaan yang berat, kita menumpahkannya dalam bentuk tangisan. Setiap kali merasa bahagia berlebih, kita juga mengekspresikannya dalam bentuk tangisan.


Mungkin, air mata adalah bahasa dari semua puncak bahasa tubuh. Ia adalah ekspresi murni yang dikeluarkan dari seseorang.


Rachel yang melihat hal itu merasa terbawa suasana dan ikut berkaca-kaca. Dia memeluk Alice dengan lembut dan memberi semangat melalui kata-kata.


"Alice, hari ini kau mendapatkan berkah yang luar biasa. Aku harap anak ini akan menjadi anak yang hebat dan membanggakan." Rachel bekata lembut.


Daniel yang berada tak jauh dari mereka hanya bisa tersenyum kecil. Dengan mata kepalanya sendiri, dia melihat Alice mulai kembali bahagia. Klayver telah berhasil memberikan apa yang tak bisa Daniel berikan padanya.


Daniel sudah merelakan. Rasa sakit itu sudah tak lagi sebesar dulu. Ketika seseorang sudah pada tahap penerimaan, dia pasti akan merasa kuat menerima banyak hal yang sebelumnya terasa berat.


Rumus dari cinta itu adalah ikhlas. Sekuat apa pun kita mencintai seseorang, kita tak bisa menjamin dia akan merasakan hal serupa juga pada kita.


Ada saatnya kita merelakan. Bukan berarti kita lelah berjuang, tetapi karena kita menyadari karena jalan takdir memiliki keinginannya sendiri. Tidak selamanya keinginan manusia bisa membelokkan takdir. Ada beberapa hal yang memang perlu dibiarkan tanpa perjuangan.

__ADS_1


"Aku ikut bahagia, Alice. Apapun itu selama kau bahagia, aku pun bahagia." Daniel berkata tulus. Dia mendekat ke arah Alice perlahan, menepuk tangannya dengan rasa persahabatan dan kembali duduk ke kursi makan kembali.


Setelah keadaan kembali normal, mereka melanjutkan kegiatan makan siang dengan suasana yang menyenangkan. Berkali-kali ruang makan ini dipenuhi canda tawa dari mereka semua. Bahkan Jasmine dan Daniel bersedia melakukan gencatan senjata sebentar tanpa kata demi Alice.



Jasmine mengelus perutnya yang rata, memandang langit sore yang mulai berwarna jingga di halaman belakang. Matanya terlihat redup, menyembunyikan banyak kedukaan tanpa kata.


Dulu, di perut ini, pernah ada kehidupan untuk makhluk mungil yang orang sebut sebagai janin. Dulu, dari perut ini, pernah lahir seorang bayi lucu yang ia beri nama Isabella.


Ya Tuhan. Jasmine masih ingat bagaimana rupa menggemaskan bayi kecil miliknya. Ketika mulutnya yang kecil bergerak kehausan menginginkan ASI. Ketika tangan kecilnya yang terkepal imut meninju angin menginginkan perhatian.


Jasmine masih ingat semua itu. Tangis anaknya laksana musik yang paling merdu di dunia. Tak peduli suara itu membangunkannya di tengah malam sekali pun, Jasmine selalu menyambutnya dengan riang gembira.


Anak. Adalah sebuah warisan yang ditinggalkan generasi ke generasi. Ia adalah hal yang dibutuhkan dunia. Dengannya, populasi manusia terjaga utuh.


Tapi layaknya hukum alam, selalu ada seleksi dalam setiap tahap. Ada yang tak bertahan, ada yang sengaja dibuat agar tak mungkin bertahan.


Putrinya adalah salah satu contoh. Dia gugur di masa awal kehidupan karena kebobrokan moral ayahnya sendiri. Ayah yang sebelumnya Jasmine pikir akan menjadi sosok pelindung, nyatanya justru menikam dan menbunuhnya.


Jack sangat bajingán. Dia bukan hanya memainkan Jasmine, tetapi bahkan sanggup memutus nafas anaknya sendiri.


Ayah macam apa yang telah Tuhan kirimkan untuk Isabella? Di saat banyak pria di luar sana yang bersedia menukar nyawanya demi keluarga, Jack malah jadi pecundang yang menghabisi anaknya hanya karena nilai tak pantas yang ia pegang.


Bagi Jack, Jasmine adalah ketidakpantasan yang hadir. Jasmine sekadar permaianan yang ia harapkan berakhir di tengah jalan dan tak pernah diharapkan merawat benih dari yang ia berikan.


Jasmine ingin tertawa saat itu. Jika Jack menyesal atas kehamilannya, kenapa juga ia menikahinya. Yang namanya permainan tak mungkin dibawa hingga masuk ke atas pelaminan.


Orang kaya terkadang lucu. Mereka memainkan game dengan taruhan hidup orang lain. Demi untuk memuaskan sensasi, tak masalah ada hidup orang lain yang terpaksa dirusak dan dihancurkan. Bagi mereka, kehidupan kaum marginal seperti Jasmine pantas untuk dibuat uji coba.


Itulah penyesalan terbesar dari hidup Jasmine. Mempercayai seorang lelaki. Kepercayaan itulah yang merenggut sisa kedamaian yang masih Tuhan sisakan untuknya. Hingga tragedi itu terjadi, Jasmine menjadi sadar akan kebodohannya dan mulai membangun dinding baru pada makhluk yang namanya lelaki.


Tak akan ia berikan lagi kepercayaan serupa. Tak ada lelaki di dunia ini yang pantas mendapatkan hatinya lagi. Bagi Jasmine, cinta hanyalah sandiwara kosong. Dia tak tertarik untuk dipermainkan olehnya.


"Aku tak menyangka wanita sepertimu masih mampu menikmati sepotong senja di langit Manhattan." Sebuah suara yang mulai dikenalnya menyapa indera pendengaran Jasmine. Wanita itu menoleh ke belakang dan tersenyum sinis.


Daniel. Lelaki itu mulai menyandang predikat sebagai pengganggu bagi Jasmine. Wanita itu tak terlalu ingin peduli pada keadaan ini dan kembali menatap ufuk barat yang mulai menampilkan siluet secara samar.


Angin musim gugur mulai menerpa rambut pirang pendeknya dan menerbangkannya tak beraturan. Sebuah daun jatuh di rambutnya dan mulai meluruh ke tanah secara perlahan.


Andai tak ada Daniel, mungkin Jasmine bisa menkmati suasana ini lebih lama. Kondisi alam terlalu indah untuk ia tinggalkan begitu saja.


"Apa kau tak ada kegiatan lain selain menggangguku?" tanya Jasmine sarkatis. Lelaki itu memang punya alasan untuk mencari celah dan membuatnya kesal di saat-saat indah seperti ini.


Jasmine mulai heran sendiri. Dia baru mengenal Daniel tak lebih dari enam jam tetapi kekesalan yang Jasmine miliki sudah melebihi enam tahun pertemuan. Mungkinkah di dunia ini selain ada jatuh cinta pada pandangan pertama juga ada kebencian pada pandangan pertama?

__ADS_1


"Kau cukup percaya diri menganggap layak untuk diganggu. Waktuku lebih penting dari sekadar mengganggumu."


Jasmine melirik heran ke arah Daniel dan tersenyum kecut. Benar-bebar kalimat yang ambigu. Daniel seperti mengatakan ia tak suka gandum setelah ia memakan sepuluh potong roti hingga kenyang.


"Mr. Stranger, untuk ukuran lelaki yang bukan pengganggu, kau cukup ***** karena mendekatiku hanya untuk mengolok-olokku. Sebuah perhatian bisa lahir dari kebencian-kebencian kecil." Suara Jasmine terdengar tajam, sengaja menyudutkan Daniel.


Dengan santai, Jasmine menyalakan selinting rokok yang ia ambil dari saku belakang rok dan menghidupkannya tanpa memedulikan pandangan Daniel. Jika lelaki itu mau tetap menghakiminya di sini, silahkan saja.


"Untuk seukuran wanita sepertimu, kau cukup percaya diri." Daniel berdecih kecil.


"Memangnya aku wanita seperti apa menurutmu?" Jasmine mencoba menguji insting Daniel. Jika Daniel cukup peka, dia pasti bisa menebak dengan benar identitas Jasmine.


Dilihat sekilas dari sikap Daniel, Jasmine tahu lelaki tersebut memiliki insting yang lebih tinggi dari orang lain. Sebuah insting yang dimiliki lelaki yang telah lama berkecimpung dalam bisnis gelap. Mungkinkah di balik penampilan lembutnya dia melakukan transaksi di luar hukum? Atau setidaknya melakukan kegiatan yang memfasilitasi transaksi illegal?


"Jenis wanita yang menjajakan diri dan menggunakan semua cara untuk mencari uang. Tak peduli sekotor apa pun cara tersebut." Daniel berkata jujur.


Daniel memang tak memiliki ketajaman seperti Klayver. Tetapi sekali pandang, dia bisa menilai jenis wanita seperti apa sosok di sampingnya.


Di dunia ini, memang banyak jenis orang-orang yang menjalankan bisnis di luar moralitas dan norma sosial. Sebagian dari mereka, memakai jas mahal dengan penampilan halus yang tak bisa ditebak. Sebagian lagi dari mereka berpenampilan vulgar dan mencerminkan dengan jelas siapa diri mereka. Jenis orang yang terakhir ini seolah tak lagi peduli pada penilaian masyarakat sekitar. Jasmine termasuk salah satu dari kelompok yang terakhir.


"Kau benar, Daniel. Itulah aku. Kau ingin tahu yang lebih detail lagi? Aku bukan hanya melacurkan diri sendiri, tetapi juga memfasilitasi pelacúran. Jadi jika suatu kali kau bosan dan membutuhkan hiburan, kau bisa menghubungiku." Jasmine berkata ringan, menatap Daniel dengan berani.


Dia telah menyebutkan identitasnya tanpa tedeng aling-aling. Jika Daniel ingin tetap mengolok-oloknya, Jasmine dengan senang hati memberinya bahan baru. Silakan saja Daniel memyudutkannya. Bukan hal yang baru lagi bagi jasmine menerima penghakiman.


Pernah suatu waktu, Jasmine bahkan ditemui secara langsung oleh istri pejabat yang sering menggunakan jasanya. Dia dimaki-maki dan diancam sedemikian rupa. Tetapi bukannya takut, malamnya Jasmine justru menggaet kembali suami dari wanita tersebut. Besoknya dia mengirimkan bukti memalukan tentang kisah mereka. Biar saja wanita itu mati karena marah. Toh nyatanya bukan dia yang merusak rumah tangga seseorang. Tetapi lelaki itulah yang mendatangi Jasmine dengan suka rela.


Beruntung wanita itu tidak melaporkan Jasmine karena perselingkuhan. Tebakan Jasmine tepat sasaran. Wanita selalu memiliki harga diri yang tinggi. Sebagian dari mereka lebih memilih bungkam suaminya selingkuh dari pada mengeksposnya di tempat umum. Nama baik masih saja menjadi pertimbangan utama.


"Untuk apa aku menggunakan jasamu. Asal kau tahu, aku tak tertarik memakai wanita bayaran di ranjangku." Daniel menjawab dengan sinis.


Wanita baik-baik saja sulit untuk ia perhatikan. Apalagi wanita bayaran. Semenjak ia melepaskan Alice, sebagian dari hatinya terasa hampa. Tak ada seorang pun yang bisa menggerakkannya kembali.


Apalagi Daniel bukan jenis lelaki yang bisa mendapatkan kenikmatan dengan membeli wanita. Dia tak serendah itu. Untuk apa juga dia membutuhkan bantuan Jasmine dalam hal ini.


"Kau tak tertarik karena kau memang belum pernah mencobanya."


"Bahkan seandainya aku mencoba, aku tetap tak akan tertarik."


"Oh ya? Mari kita buktikan."


Dengan secepat kilat, Jasmine meraih tengkuk Daniel. Dia sedikit berjinjit untuk menyamai tinggi lelaki itu dan menatap sekejap bibir Daniel sebelum akhirnya merangkumnya dengan bibirnya sendiri dalam sebuah ciuman panjang.


Untuk sejenak, Jasmine menangkap kekagetan dari diri lelaki ini. Tetapi ia tak ingin berpikir panjang. Jasmine mendesak Daniel dengan gerakan yang cukup agresif dan mengeksplorasi diri Daniel dengan segenap kekuatan.


Tanpa mereka sadari, percikan-percikan api mulai tercipta di antara mereka. Membuat mereka tenggelam dalam sensasi asing yang tak pernah mereka sentuh sebelumnya.

__ADS_1



__ADS_2