
Luiz tengah duduk berhadapan dengan Liza. Lelaki itu menggenggam sebuah bolpoin di tangan kanan dan mengetuk-ngetukkannya di atas meja tulis sehingga menimbulkan bunyi yang khas.
"Liza, aku akan menyewa sebuah tempat yang berada di Manhattan untuk kita beristirahat selama kita melakukan aksi kita," jelas Luiz. Dia memejamkan mata sejenak, merasa sedikit bimbang.
Informan yang telah ia bayar untuk mengawasi kediaman Alice merupakan informan yang tak becus. Dia telah menunggu lama untuk mencari tahu apa kelemahan keamanan rumah Alice, tetapi hingga detik ini masih belum mendapatkan hasilnya.
Alih-alih mendapatkan informasi tentang celah yang bisa ia bobol, Luiz justru mendapatkan konfirmasi dari bawahannya jika kepala pelayan Alice telah memperkuat keamanan rumah tersebut dan meningkatkan jumlah pengawal dua kali lipat dari sebelumnya. Hal seperti itu tentu saja bukan hal yang diharapkan oleh Luiz. Dia membutuhkan kelemahan lawan, bukan membutuhkan kelebihan-kelebihan lawan.
"Baiklah. Apapun yang anda inginkan, Tuan." Liza mengangguk dalam, menerima semua keputusan yang telah diambil oleh Luiz. Dia hanyalah bawahan, sehingga setiap ruang geraknya terbatas. Mau tak mau, Liza hanya bisa menerima setiap perintah yang diberikan oleh Luiz.
"Bagus. Itulah yang aku harapkan darimu, Liza! Kodrat seorang bawahan dan kodrat seorang anak buah adalah menerima dengan penuh semua keputusanku tanpa ragu-ragu."
Dari awal Luiz merekrut Liza, dia mengharapkan kepatuhan yang penuh dari wanita tersebut. Liza merupakan aset yang sangat istimewa. Dia bukan hanya cantik, tetapi juga memiliki kekuatan dalam hal bakat, kecerdasan, dan kesigapan dalam mengambil keputusan-keputusan sulit.
Liza telah mengabdi kepada Luiz selama bertahun-tahun. Sehingga Luiz bisa mengetahui semua seluk beluk tentang wanita itu. Dari riwayat keluarganya, masa lalunya, dan semua hal yang berhubungan dengan Liza. Sehingga secara tidak langsung, Luiz sebenarnya telah menggenggam kehidupan Eliza secara penuh. Liza hanyalah seorang wanita yang telah terlanjur menciptakan kesepakatan dengan lelaki iblis seperti Luiz.
"Jika aku boleh tahu, rencana apa yang telah kau miliki?" tanya Liza menatap Luiz dengan hati-hati
Luiz adalah orang yang sangat kompleks. Dia tak suka bawahan yang pasif, tetapi juga tak suka bawahan yang terlalu banyak tanya. Akibatnya, banyak anak buahnya yang bingung harus bersikap apa. Mereka seperti sengaja dipermainkan oleh suasana hati Luis sesukanya sendiri.
"Aku akan menyewa sebuah rumah sederhana di Manhattan tak jauh dari Alice dan kau bertugas untuk membawa Alice kepadaku sebagai tawanan. Aku ingin menahan Alice di rumah sederhana itu untuk memancing keberadaan Klayver yang hingga kini masih simpang siur."
Jika Alice berada di tangan Luiz, mau tak mau Klayver pasti akan muncul juga. Lelaki itu pastilah cukup mencintai Alice sehingga dia bisa memutuskan untuk menikahinya. Dengan kata lain, Alice adalah kartu as bagi Luiz.
Luiz tertawa, merasa menang karena berhasil mengalahkan Klayver satu langkah di depan. Siapa sangka lelaki sekuat Klayver ternyata memiliki kelemahan dalam bentuk wanita. Ini semua, seperti tak ubahnya dongeng pada zaman dahulu. Dimana setiap tokoh laki-laki, memiliki kelemahan yang sama. Yaitu cinta dan wanita.
Cinta merupakan sesuatu hal yang sangat sensitif. Bisa dimanfaatkan dan bisa memanfaatkan. Cinta merupakan suatu kelebihan dan juga suatu kelemahan. Tergantung siapa orang yang merasakannya dan siapa yang memanfaatkan hal tersebut. Cinta mampu menjadi sebuah celah bagi kebahagiaan maupun penderitaan seseorang. Cinta juga mampu menjadi suatu sumber kehilangan bagi orang lain.
Itulah Salah satu alasan kenapa Luiz memilih untuk tidak mempercayai cinta. Baginya, kehidupannya sudah sempurna tanpa hal-hal remeh temeh seperti itu. Memangnya, siapa yang mau memiliki perasaan yang nantinya justru akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri?
__ADS_1
"Tuan, bukankah kau tadinya berpikir untuk mencari kelemahan keamanan rumah Alice terlebih dahulu? Kenapa tiba-tiba sekarang kau berubah pikiran untuk mencari celah dan melumpuhkan Alice di luar rumah?" tanya Liza tak mengerti.
Liza orang yang sangat cerdas. Luiz tak heran wanita tersebut melemparkan pertanyaan seperti itu kepadanya. Memang, tadinya Luiz menginginkan informasi tentang celah dan kekurangan keamanan rumah Alice. Dia memiliki niatan terselubung.
" Liza, Awalnya aku memang memiliki tujuan untuk mengambil suatu barang milik Klayver yang kemungkinan besar berada di rumah Alice. Sehingga tadinya, mau tak mau aku harus membobol dahulu rumah Alice dan mencari benda tersebut. Apakah benda itu berada dalam atap yang sama dengan yang Alice tempati atau tidak. Tetapi, melihat orang-orangku yang mengalami kesulitan dalam mencari celah keamanan rumah Alice, maka aku simpulkan lebih baik aku tidak melakukan hal tersebut. Sepertinya, aku harus cukup puas dengan mendapatkan Alice saja tanpa barang itu." Luiz menatap langit-langit ruangan dengan pandangan penuh makna.
Sebagai seorang pembunuh bayaran, Luiz menyimpan catatan dari orang-orang yang pernah membayarnya. Luiz pernah mendengar dari seseorang yang pernah menggunakan jasa Klayver jika lelaki itu menyimpan kesepakatan dalam sebuah buku kecil berupa buku agenda dengan beberapa kode rahasia.
Luiz berpikir andai ia bisa mendapatkan buku tersebut, dia pasti bisa mengungkapkan apa yang ia dapatkan dalam pasar gelap. Informasi yang ada dalam buku tersebut pastilah sangat sensitif. Banyak orang-orang yang mencari tahu siapa pengguna jasa Klayver. Siapa saja yang Klayver bunuh dan dengan alasan apa. Untuk itulah, Luiz tadinya berharap bisa menemukan buku tersebut di dalam kediaman Alice. Tetapi sepertinya, hal tersebut harus ia urungkan karena untuk membobol celah keamanan rumah Alice saja sudah cukup merepotkan.
"Baiklah, jika itu memang keputusanmu. Aku akan siap kapan pun kau butuhkan, Tuan." Liza mengangguk dalam, memahami secara garis besar kemauan Luiz.
Hanya inilah yang bisa Liza lakukan. Menunduk dalam, menyetujui setiap hal yang Luiz katakan seperti orang bodoh, dan menyetujui setiap keburukan yang Luiz umbar. Lama-lama, dengan bekerja bersama Luiz, kewarasan Liza bisa tergerus habis.
"Liza, jika misi ini berhasil dan aku mendapatkan Klayver, aku akan memberimu hadiah istimewa." Luiz berjanji dengan serius.
Liza yang mendengarnya hanya bisa tersenyum miris. Dia tahu dengan sangat baik hadiah yang dimaksud Luiz adalah satu set lelaki tampan. Untuk apa Liza menerimanya jika ia sendiri tidak suka menggunakan jasa seperti itu.
Tetapi menolak hadiah Luiz secara terang-terangan juga bukan hal yang mudah. Bagaimana bisa Liza bertindak menentang majikannya sendiri? Seolah-olah ia tak bersyukur dengan apa yang telah Luiz berikan. Seperti buah simalakama.
"Kau terlalu baik untuk terus memberiku hadiah, Tuan. Aku tak pantas mendapatkannya." Liza mencoba menolak. Tetapi bukannya Luiz memahami hal tersebut, dia justru berdecih kecil dan tak terima.
"Huh. Omong kosong bilang tak pantas. Kau sudah menjadi orangku untuk waktu yang lama. Memang seharusnya begitu. Jangan menolaknya! Aku tak suka kebaikanku ditolak." Luiz menununjuk Liza dengan raut muka tak menyenangkan.
Akhirnya, dengan terpaksa dan dengan menyimpan rasa kesal, Liza mengangguk menerima apa pun yang Luiz inginkan. Akhirnya, dia memang tak bisa untuk mengelak, bukan? Liza tetap saja dipaksa menerima. Setiap kehidupan yang ia miliki sudah dikuasai penuh oleh Luiz. Dia tak diijinkan untuk memutuskan banyak hal dalam hidupnya. Lelaki itu memang benar-benar iblis sejati. Entah dari mana sifat Luiz ini berasal. Dia bagaikan iblis tak berhati yang jahat.
"Terimakasih, Tuan."
Hanya itulah yang bisa Liza lakukan terhadao kata-kata Luiz. Mau tak mau, dia dipaksa tunduk didikte, dan dibuat tak berdaya.
__ADS_1
Liza sempat khawatir jika keadaannya akan terus seperti ini, mungkinkah ia juga akan dipaksa menikah demi organisasi. Misalnya saja Luiz menemukan orang yang menurutnya tepat dan bisa menguatkan posisinya, bisa jadi Liza menjadi mesin bagi Luiz untuk bisa selalu tunduk padanya.
Bagi Luiz, anak buah adalah keuntungan tambahan dan aset yang berharga. Selama memiliki harga dan memiliki nilai guna, apa pun bisa terjadi.
Memikirkan hal ini membuat perut Liza mual. Dia sudah mencoba untuk baik, mengabdi dengan tulus, berbuat apa yang ia bisa. Tetapi tampaknya bagi Luiz memang Liza masih saja kurang sehingga ia selalu menuntut hal-hal lain dari dirinya.
"Kira-kira, kapan aku harus bersiap untuk misi ini?" tanya Liza penasaran. Wajah wanita itu berusaha datar agar tak menampilkan rasa kemarahan terpendam. Jujur, saat ini suasana hati Liza sedang tak baik
"Tiga hari lagi dari sekarang. Semuanya pasti akan siap dan kau hanya perlu menyiapkan diri untuk menahan Alice di titik yang kurencanakan, Liza. Aku tak sabar menanti hari itu. Merebut wanita Klayver, menahannya, dan menunggu Klayver sujud padaku memohon untuk dilepaskan. Huh. Dengan membayangkkannya saja membuatku bahagia tak berkesudahan. Seperti euforiaku akan meledak saja setiap saat." Luiz bersiul kecil dan mengusap-usapkan kedua telapak tangan sebagai bentuk rasa puas.
Wajah tampan Luiz dengan garis-garis latin yang kuat saat ini terlihat seperti iblis. Sinar matanya kejam dan penuh perhitungan. Menyiratkan niat jahat yang ia miliki dalam hatinya.
Liza hanya bisa mengangguk dan berbalik pergi. Dia mulai melangkahkan kaki untuk menjauh dari Luiz dengan segenap kekuatan baru yang ia miliki.
Muak. Itulah apa yang tengah ia rasakan untuk Luiz. Selalu saja perasaan seperti ini. Ambisinya sudah hilang. Keinginannya untuk memiliki kemewahan juga sudah tiada. Yang Liza inginkan adalah kehidupan sederhana, mapan, dan baik-baik saja, jauh dari kata kejam dan dingin.
Telah lama Liza kehilangan jiwanya. Dia mulaii bosan. Ya. Itulah yang mulai ia alami. Berdiri di samping Luiz, bersikap seperti putri baik yang siap sedia tunduk pada rajanya, memuja dengan penuh, hingga lama-lama Liza kehilangan nilai dan hidupnya sendiri. Oh. Benar-benar mengenaskan.
Liza mengusap liontin kecil yang ia pakai. Dia tersenyum miris dan dengan cepat mengecup benda pemberian ibunya yang telah lama mememani setiap hari-hari sulitnya.
Liontin ini merupakan hadiah ulang tahunnya yang ke tujuh belas, dan hingga kini masih setia ia gunakan menghiasi leher jenjangnya. Sebuah benda keramat yang ia dapatkan dari orang tersayang.
"Maafkan aku, Mom. Aku telah memilih jalan yang salah. Aku semakin tenggelam setiap hari, kehilangan udara, dan jatuh ke dalam pusat jurang yang menakutkan. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menyerah dengan keadaan dan menerima nasib buruk yang menjelang tiba, Mom." Liza berbisik lirih, menjadikan liontin itu sebagai media untuknya berkeluh kesah.
Liza adalah orang yang cukup introvert. Dia terbiasa melakukan hal seorang diri dan menyimpan rahasia seorang diri, tanpa seorang pun yang tahu. Itulah kenapa ia jadi orang kepercayaan Luiz. Setiap informasi yang lelaki itu sampaikan kepadanya selalu Liza jaga dengan baik. Dia orang yang tak suka membocorkan hal-hal penting dan sensitif.
Jika ia memiliki situasi yang tak menyenangkan, sering kali Liza mengungkapkannya dengan lirih pada benda-benda kesayangan. Baginya, benda merupakan alat penting yang bisa menjadi media bagus dalam hal menyimpan rahasia.
Benda sifatnya bisu. Tak berbahaya dan setia. Berbeda dengan orang yang mudah berbalik kata-katanya dan sering kali mulutnya membawa petaka.
__ADS_1
…