
Alice melangkah mundur melihat sikap Klayver. Aura Klayver memancarkan dominasi yang sangat kuat. Matanya yang biasa menatapnya lembut, kini menatap Alice tajam.
Tetapi agaknya Kayver tak mengijinkan Alice menjauh. Dia menahan pinggang wanita itu dan memenjarakannya dalam pelukan yang kuat. Tangan kekarnya sekeras besi. Menjebak tubuh Alice dalam dekapannya.
"Aku tak suka milikku berada dalam jangkauan lelaki lain," kata Klayver tajam. Setiap kata-katanya tak ingin dibantah. Saat ini ia laksana raja, yang menuntut semua titahnya dipenuhi tanpa banyak kata.
Alice memejamkan matanya merasa tertekan. Dia tersenyum kecil dan mencoba mengeluarkan pembelaan.
"Dia temanku. Tak lebih. Hanya kaulah lelakiku, Klayver. Tak ada yang lain."
Alice tahu, lelaki seperti Klayver pastilah memiliki ego yang besar. Dia terbiasa mengambil apa pun yang diinginkan tanpa negosiasi. Bahkan nyawa orang lain tak lebih dari sekadar objek untuk bersenang-senang.
Karena itu, Alice yang telah ia anggap sebagai miliknya pasti tak akan mungkin ia ijinkan menemui Daniel. Dalam hal ini, Klayver benar-benar menerapkan prinsip lelaki kuno.
Di balik sosoknya yang modern dan setelan yang ia gunakan, ada sosok chauvinish sejati.
"Aku tak pernah suka membagi milikku dengan yang lain." Klayver mengusap punggung Alice naik turun, kemudian membentuk pola melingkar dengan ibu jarinya.
"Aku tidak—"
"Jangan lakukan itu lagi, sweet heart." Klayver mendekati Alice dan menatap bibir merekahnya dengan penuh arti.
Semarah apa pun lelaki ini terhadap Alice, melihat wajahnya yang lembut dan pesona kecantikannya selalu menbuat kemarahan Klayver pudar.
Dengan wanita ini, ia tak akan pernah bisa terus melampiaskan amarah. Alice laksana air yang mengalir. Keberadaannya membawa kesegaran dan menghilangkan dahaga.
Klayver mencium bibir Alice dengan keras dan mendorongnya ke atas ranjang. Terkadang, rasa kesal perlu disalurkan dengan cara lain.
Dua jam setelah mereka berbagi kasih, Klayver menatap istrinya penuh makna. Dia memeluk pinggang Alice dan mendekap kepala wanita ini lembut.
"Apakah aku menyakitimu?" tanya Klayver sedikit khawatir. Dia melakukan hubungan lebih keras dari pada biasanya. Sedikit banyak, Klayver khawatir hal itu melukai Alice. Penyatuan mereka tak selembut sebelumnya, meskipun mereka berdua sama-sama menikmatinya.
"Tidak." Alice menggeleng lemah. Dia masih merasa tak nyaman tentang masalah pertemuannya dengan Daniel yang dipermasalahkan oleh Klayver.
Pertemanan antara dirinya dengan Daniel telah berjalan baik. Meskipun tidak selama dengan Alice, terapi hubungan mereka cukup baik. Daniel telah banyak membantunya saat Alice memiliki masalah dengan Anson dulu.
Bagaimana bisa Alice memutuskan pertemanan yang seperti itu? Klayver seharusnya tidak berpikiran picik tentang dirinya.
"Apakah kau benar-benar marah atas pertemuanku dengan Daniel?"
Mata Klayver kembali menajam mendengar pertanyaan Alice. Dia merasa tak suka dengan pembahasan ini. Pelukannya semakin menguat, membuat Alice merasa tak nyaman.
"Aku tak suka melihatmu duduk bersama dan bercanda dengan lelaki lain."
"Jadi, kau tadi melihatku? Kenapa kau tidak menyapaku?"
Klayver terdiam lama. Tadi dia perlu mengistirahatkan pikirannya setelah mengurus beberapa hal terkait kasus yang ia selidiki. Tak disangka di caffee tersebut ia justru melihat keberadaan istrinya sendiri.
"Tidak tertarik menyapa," sahutnya datar.
Alice hanya mengerjapkan mata beberaoa kali, memilih mengalah. Klayver saat ini tak bisa diajak berbicara. Lebih baik Alice memilih diam.
Klayver melepaskan pelukannya dan bangkit dari ranjang. Dia berjalan ke luar kamar, ke arah balkon di luar.
Udara malam yang dingin menyapa kulit tembaganya. Angin berdesir pelan, seperti harmoni alam yang sempurna.
Langit menampakkan pemandangan yang sempurna. Bintang menyebar tak beraturan, menebarkan sinarnya yang kerlap-kerlip. Bulan di atas sana terlihat sempurna. Mendeklarasikan keanggunan yang ia miliki.
Malam adalah salah satu hal yang masih memiliki keindahan di tengah kebobrokan dunia dalam berbagai hal. Pemandangan ini seolah terbentuk dari dimensi lain. Terlalu indah dan terlalu sempurna.
__ADS_1
Wajah Klayver terlihat merenung. Pikirannya dipenuni oleh banyak hal.
Sejak ia menikah dengan Alice, Klayver dicekam oleh perasaan posesif di luar nalar. Dia hanya ingin senyum dan tawa wanita ini untuk Klayver seorang. Dia ingin pikiran wanita ini hanya dibagi padanya seorang. Dia ingin hanya dirinya yang menjadi tempat bersandar bagi Alice. Tempat pulang dan tempat kembali.
Melihatnya tersenyum pada lelaki lain, semua itu membuat sebagian dari dirinya merasa tercerabut. Sesuatu yang baru saja ia rasakan sekarang.
Dulu, saat ia bersama Holy, keposesifan yang ia miliki tidak sebesar sekarang. Dengan Holy, semua hal seperti terjadi begitu saja. Tetapi Alice membuatnya merasakan banyak emosi lain.
Terkadang apa yang membelenggu Klayver terasa berada di luar nalar. Karena dia ingin hanya Klayver-lah pusat dunia Alice. Sehingga dia tidak ingin menyisakan hal lain yang bisa membuat Alice menoleh.
Emosinya lama-lama tidak sehat. Selayaknya makhluk sosial, Alice pasti membutuhkan komunikasi pada orang lain. Klayver tak bisa bersikap egois dengan menahannya dalam kekangan.
Setelah menenangkan diri cukup lama, Klayver kembali masuk ke kamar dan sedikit terkejut mendapati istrinya masih tersadar. Alice menatapnya lama, memberikan isyarat bahwa ia memang sengaja menunggu dirinya.
"Apakah ada masalah?" tanya Alice tak yakin. Dia jelas melihat raut muka suaminya yang berbeda dari biasanya. Klayver adalah orang yang pintar menyembunyikan emosi sehingga Alice sulit meraba suasana hati suaminya sendiri.
"Aku sadar mungkin tindakanku terlalu mengekangmu, Alice. Untuk sesaat, pikiranku menjadi picik. Jadi, mungkin ke depan aku akan memperbaiki hal ini." Klayver berkata serius. Dia duduk di sisi ranjang, menatap Alice seolah meminta pemahaman.
Klayver bukanlah orang yang malu untuk mengakui kesalahan. Keluarganya telah mendidik pentingnya sikap tanggung jawab, termasuk keberanian dalam meminta maaf jika salah satu di antara mereka melakukan kesalahan. Mungkin, hal ini tidak berlaku bagi orang lain secara umum. Klayver jelas tidak sudi meminta maaf pada setiap korban-korbannya. Tetapi, untuk orang yang telah menjadi keluarganya, rumus tersebut diberlakukan.
"Kau?" Alice masih tak mengerti.
"Sejak mengenalmu, ada sisi dominan yang sulit untuk kukendalikan. Semua itu terkadang membuatku tanpa sadar mengekangmu. Bisakah kau memaklumu hal tersebut?" Klayver tersenyum kecil.
Alice membalasnya dengan senyum ramah yang sama dan memeluk leher suaminya.
"Baiklah, aku maafkan. Jadi, kau tak akan marah lagi jika besok aku bertemu dengan Daniel, bukan?" Alice memeluk tubuh kekar suaminya, tersenyum menyesap aroma khas Klayver yang bagaikan candu alami.
Sinar mata Klayver menunjukkan rasa tak suka dan menjawab Alice dengan datar. "Jangan pernah memancingku, Alice. Memberimu kebebasan bukan berarti kau bisa semaunya. Harus ada batasan yang kau terapkan dalam sikapmu."
Alice menggerutu dalam hati. Sama saja ternyata. Maaf hanyalah embel-embel Klayver untuk saat ini. Toh nyatanya dia tak rela juga jika Alice terlalu dekat dengan Daniel. Dasar lelaki.
Pertemanannya dengan Daniel cukup kuat. Dia tak ingin pernikahan Alice dengan Klayver membuat hubungan pertemanan mereka pupus. Cinta tak akan pernah mengalahkan ikatan persahabatan.
"Baiklah. Seandainya Daniel sudah menikah, mungkin melihatmu sering bertemu dengannya tak akan terlalu masalah."
Alice membelalakkan mata. Danie menikah? Yah, itu pasti sesuatu yang cukup sulit untuk saat ini. Tidak ada yang tahu jenis wanita seperti yang Daniel inginkan. Bagaimana Alice bisa membantu lelaki tersebut menemukan belahan hatinya?
"Kau punya calon potensial?" tanya Alice tiba-tiba.
"Hah?"
"Wanita yang kira-kira bisa menjadi pendamping Daniel."
Klayver menatap Alice seolah-olah Alice telah memunculkan tanduk di kedua sisi kepalanya. Bagaimana bisa Alice memiliki ketertarikan pada hal-hal yang tidak seharusnya. Mencomblangkan Daniel? Yang benar saja.
Jaman sekarang, lelaki akan lebih tertarik menemukan wanitanya sendiri alih-alih dicarikan oleh orang lain. Jika Daniel masih cukup berpikiran waras, dia pasti tak akan sudi ada yang mencampuri urusannya dalam hal percintaan.
"Berhentilah memikirkan hal itu, Alice. Biar Daniel mencari wanitanya sendiri. Jangan terlalu ikut campur tentang masalah orang lain. Tidak baik untukmu." Klayver mengingatkan.
Alice mendesah kecewa dan kembali membaringkan tubuh. Dia menatap langit-langit ruangan dan mulai memejamkan mata.
"Kau sudah menghubungi Mom dan Axel lagi?" tanya Klayver tiba-tiba, mengalihkan topik pembicaraan.
Pengalihan topik ini membuat Alice semakin meradang. Dia membuka matanya kembali dan menatap suaminya nanar.
Tadi sore dalam perjalanan ke rumah, Violin menghubunginya sebentar. Apa yang disampaikan Violin membuat Alice sedikit kesal.
"Ya, Violin mengatakan dia akan berkunjung ke rumah Angel selama beberapa waktu. Dia meminta Axel memperpanjang liburannya hingga lima belas hari ke depan. Kau tahu bagaimana watak Violin. Aku tak bisa membantahnya. Ya Tuhan, putraku ditahan dua puluh hari jauh dariku." Violin menutup wajahnya mendramatisir suasana. Dia mengerang pelan, merasa kesal dengan permintaan sang mertua.
__ADS_1
Siapa sangka nenek sambung bisa mengembangkan hubungan sejauh itu pada putranya? Tadinya Alice kira hubungan mereka hanya akan menjadi hubungan platonis. Benar-benar tak terduga ikatan mereka akan sedekat ini jadinya.
"Biarkan saja. Bukankah Axel akan menjalani liburan awal musim gugur juga? Sekalian saja dia berlibur di sana. Ngomong-ngomong, aku akan pergi sedikit lama minggu depan. Ada urusan yang harus kutuntaskan."
Alice menatap kalyver. Ada keseriusan di mata suaminya. Entah kenapa, Alice merasa urusan Klayver kali ini cukup serius.
Alice menjadi khawatir. Tidak biasanya Klayver mengingatkan Alice terhadap kepergiannya jauh-jauh hari. Seolah semua itu seperti pengingat terhadap masalah serius yang tengah Klayver hadapi.
Hingga detik ini, Alice tak pernah tahu masalah apa yang masih Klayver geluti. Mungkinkah dia diam-diam menerima orderan untuk membunuh? Ataukah ada kasus lain yang masih menbayangi Klayver? Kasus lain yang ia sembunyikan dari Alice.
Alice ingin mengetahui lebih banyak tentang sisi lain Klayver. Tetapi setiap kali ia ingin bertanya, Klayver memasang jarak tak kasat mata. Seolah-olah ada dinding tak terlihat di mata mereka. Akhirnya, Alice mau tak mau merasa puas dengan situasi yang ada.
Klayver masih tetap menjadi rahasia dan teka-teki. Ada sebagian dari dirinya yang tetap ia sembunyikan dari dunia. Alice selalu menabrak tembok besar jika berusaha mengorek tetang bagian tergelap milik suaminya.
Terkadang, saat Alice dikuasai mimpi dan khayalan, dia berharap suatu hari nanti Klayver sanggup meninggalkan dunia gelap yang kini digelutinya. Sebagai wanita normal, dia menginginkan suaminya memiliki kehidupan normal tanpa resiko terbunuh sewaktu-waktu.
Namun, kembali lagi, Alice tak memiliki kuasa sebesar itu untuk mengendalikan Klayver. Bagaimana pun, dia megenal Klayver dalam keadaan yang seperti ini. Ia tak ingin menuntut lebih dari Klayver. Jika pun nanti Klayver memilih untuk berhenti dari bisnis kelam, Alice ingin langkah tersebut Klayver lakukan atas inisiatifnya sendiri.
Alice percaya, sesuatu yang baik harus berasal dari hati. Orang luar hanyalah sekadar menjadi pendorong. Sejatinya niat itu ada pada diri masing-masing individu.
"Apakah ada masalah, Klayver?" Meskipun Alice tahu Klayver pasti memilih untuk menyimpan semua masalahnya sediri, tak urung ia bertanya juga. Hanya sekadar mencari peruntungan jika saja Klayver tiba-tiba memilih terbuka padanya.
"Ada sedikit kendala. Aku akan mengirimkan orang-orangku untuk menjaga kediaman ini dari jarak aman."
"Ada apa, Klayver? Apakah separah itu?" Alice tersenyum getir. Dalam kondisi seperti ini, Klayver tetap saja memilih untuk menyembunyikan masalah.
"Tidak apa-apa. Hanya masalah ringan. Kau tak perlu khawatir!" Klayver menenangkan.
Dalam hati, dia sedikit merasa bersalah karena menyembunyikan masalah dari istrinya sendiri. Tetapi menilik dari seriusnya masalah yang ada, akan lebih aman bagi Alice tidak mengetahuinya sama sekali. Pepatah mengatakan kadang keingintahuan bisa membunuh seseorang.
Bagi sebagian orang, ada batas untuk tetap menyembunyikan sisi lain dari diri mereka. Bukan karena tak percaya pada loyalitas orang lain, tetapi lebih karena dia ingin melindungi mereka yang terdekat.
"Alice, ngomong-ngomong, kau masih menyimpan buku transaksi ketika Anson masih menyelami dunia hitam?"
Beberapa waktu yang lalu, Alice pernah menunjukkan bukti ini pada Klayver untuk menpermudah lelaki tersebut mencari akar masalah dari pembunuhan Anson.
"Ya, apakah ada masalah?"
"Apakah kau ingin menyerahkan bukti tersebut pada polisi?" tanya Klayver mengingatkan Alice pada sesuatu yang seharusnya ia urus sedini mungkin setelah kasus Maxen kemarin selesai.
Alice merasa gamang. Di lain sisi ia ingin menegakkan keadilan dan memberikan buku tersebut pada lembaga berwenang, tetapi ia takut namanya akan dikaitkan pada informasi sensitif yang bisa saja membahayakan nyawa.
Di sisi lain, ia ingin bungkam untuk menghindari masalah. Tetapi jika ia bungkam, kebenaran tersebut akan terkubur tanpa bisa diungkap ke permukaan. Apakah adil bagi dunia jika ia menyembunyikan informasi tersebut?
Alice bukan orang suci, tetapi ia ingin berbuat benar. Apa yang harus ia lakukan?
"Entahlah, Klayver. Bagaimana menurutmu? Apa tindakan terbaik yang bisa aku lakukan mengenai buku tersebut?" Alice meminta pendapat suaminya. Dia merasa dilematis.
Klayver termenung sejenak. Lebih dari siapa pun, dia tahu buku tersebut sangatlah sensitif dan bisa membawa bahaya. Jika ada orang yang terlibat pada transaksi tersebut dan berhasil mengetahui Alice memiliki informasi mengenainya, pasti hidup Alice dalam bahaya.
"Jika kau percaya padaku. Biarkan aku menyimpan buku tersebut sementara waktu. Pada saatnya nanti jika aku menemukan orang yang tepat dari lembaga hukum untuk menerima buku itu, aku akan memberikan padanya. Aku takut kau akan terseret bahaya jika menyimpan buku sensitif seperti itu, Alice." Klayver mengutarakan isi hatinya.
Buku itu terlalu sensitif. Bahkan orang dalam lembaga hukum pun tidak semuanya bisa dipercaya. Klayver memang pembunuh, tetapi ia masih menghargai penegak hukum yang benar-benar lurus dan dapat dipercaya.
Selama ini yang Klayver temui, lembaga hukum sekadar menjadi formalitas belaka. Oknum-oknumnya merupakan orang-orang korup yang sok suci.
"Baiklah, Klayver. Aku percaya padamu. Aku akan menyerahkan padamu besok!"
…
__ADS_1