Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
079 - SEASON 2


__ADS_3

Alice menampilkan wajah bingung. Dia mengedipkan mata beberapa kali dan semakin merasa tak masuk akal.


Apa yang baru saja dikatakan oleh Jasmine? Menjadi lebih kuat? Yang benar saja.


Jasmine memukul kaki Alice untuk menyadarkan wanita ini. Terkadang, melihat Alice linglung seperti ini lucu juga. Membuat Jasmine ingin tertawa lebar.


"Kau terlihat seperti orang bodoh, kau tahu?" Jasmine berkata terus terang.


Satu hal yang Alice pelajari dari Jasmine selama ini. Wanita itu selalu berterus terang pada semua situasi. Mulutnya terlalu jujur, hingga kadang Alice berpikir jenis wanita seperti Jasmine tak cocok untuk dimasukkan dalam ruang lingkup kaum bangsawan yang semua tindak tanduknya penuh aturan. Jasmine merupakan momok tersendiri.


"Apa maksudmu, Jasmine?" Alice bertanya penuh rasa ingin tahu.


"Alice, bukalah matamu lebar-lebar. Kau adalah wanita yang cantik dan luar biasa cerdas sepanjang masalah intelektual. Tetapi kau orang paling bodoh dalam hal intrik dan kekuatan."


Alice terbelalak tak percaya. Jasmine adalah orang pertama yang mengucapkan kata bodoh pada Alice sebanyak dua kali dalam satu menit. Entah otak wanita ini yang mengalami gangguan, atau otak Alice sendiri yang mulai rusak karena dipaksa berpikir terlalu keras.


"Berhenti mengatakan aku bodoh, Jasmine. Aku tidak separah itu." Alice meradang. Dia bangkit dari duduknya, berjalan memutari ruang kerja dan memilih duduk nyaman di atas kursi besar di balik meja kerjanya. Berdekatan dengan Jasmine membuat cara berpikir Alice kacau. Wanita itu memang trouble maker sejati.


"Baikah. Kau tidak bodoh. Kau hanya payah. Tidakkah kau menyadari ekspresi wajahmu selalu mudah terbaca oleh orang lain? Cara berpikirmu mudah ditebak oleh orang lain? Kebaikanmu tergambar jelas dari ekspresi wajahmu, siapa pun orang yang mengenalmu tahu kalau kau sebaik santa."


"Aku bukan santa. Cukup, Jasmine. Jangan mengolokku berlebihan!" Alice mulai tak terima. Dia mengerutkan keningnya menbentuk garis-garis kecil yang jelas.


"Aku tidak mengolokmu. Aku hanya mencoba menyampaikan apa yang aku tangkap dari dirimu. Untuk seukuran wanita yang menjadi istri Klayver, kau cukup lugu dan polos."


"Jadi, apa yang kau harapkan dariku?" Alice bertanya tak yakin.


Baiklah. Jasmine memang benar. Sebagai istri Klayver, Alice memang merasa terlalu polos. Sering kali dia merasa menjadi pihak tak tahu apa-apa dan hanya dilindungi oleh Klayver setiap saat. Bahkan hampir semua rahasia gelap Klayver, Alice tak diijinkan tahu. Semua itu pasti semata-mata demi kebaikan Alice.


Terkadang, Alice merasa Klayver menyimpan banyak beban yang tak ia bagi bersamanya. Dia memendamnya sendiri, merahasiakan sedemikian rupa karena takut apa yang akan ia bagi memberatkan Alice.


Hubungan mereka berjalan dengan baik, dengan Klayver sebagai penerima beban yang paling berat. Bukan sekali dua kali Alice berharap andai dirinya cukup kuat untuk menerima semua keluh kesah Klayver.


Andai ia bukan wanita lemah. Andai ia bukan wanita rapuh. Mungkin, ia dan Klayver akan menghadapi dunia bersama bergandengan tangan. Tidak selalu berada di punggung Klayver dan berlindung terus di baliknya.


"Jangan terlalu merasa bersalah, Alice. Merupakan hal yang wajar bagi seorang lelaki melindungi istri dan anak-anaknya. Kau tidak bersalah sama sekali. Kau bisa menerima Klayver itu sudah menjadi berkah tersendiri baginya." Jasmine melihat rasa bersalah yang jelas dari kedua mata Alice. Dia jadi menyesal juga karena sebelumnya sempat memojokkan Alice sedemikian rupa.


"Kau tidak perlu mengatakan hal itu, Jasmine. Aku tahu betapa tak bergunanya aku untuk Klayver saat ini." Mata Alice berkaca-kaca, mengalirkan butiran bening dalam kepasrahan.


Merasa tak berguna adalah perasaan yang paling menyedihkan dari seorang manusia. Hal itu menggerogoti terus dalam hatinya dan menimbulkan banyak efek lain.


"Bukan begitu maksudku. Maafkan aku, Alice. Sepertinya aku telah mengatakan sesuatu hal yang salah sebelumnya." Jasmine merasa menyesal.


Terkadang, salah satu hal yang Jasmine sesali dari dirinya adalah kemampuan mulutnya yang sembarangan berbicara. Dia cenderung tak berpikir sebelumnya.


"Kau tak perlu meminta maaf. Memang itulah kenyataannya." Alice tersenyum kecil, merasa rapuh dan ringkih.


Alice dibesarkan dalam keluarga yang normal. Keluarga yang tidak mempersiapkan anak-anakmya menghadapi tragedi pembunuhan atau semacamnya. Sehingga pribadi Alice terbentuk seperti wanita lain pada umumnya. Berkarakter lembut dan sedikit keras kepala.


Siapa sangka jalan hidup mengantarkan Alice pada banyak lika-liku dan cerita asing. Dia berjodoh dengan Anson dan kemudian Klayver. Dua lelaki yang sama-sama menggeluti dalam bidang dunia kelam yang semua hal diukur dari kekuatan dan keberanian.


Andai tahu begini, Alice akan memilih mengambil sekolah kemiliteran dan menerjuni semua bidang seni bela diri. Dengan begitu, saat ini setidaknya ia bisa sedikit berguna dalam membantu Klayver.


"Sebenarnya aku memiliki sebuah ide sederhana. Bagaimana jika kau kubekali beberapa kemampuan dasar?"


Alice manatap Jasmine dengan tatapan bingung. Dia mengerjap beberapa kali, merasa heran.


Kemampuan dasar?

__ADS_1


"Tunggu tunggu! Apa maksudmu?" Alice berdiri secepat kilat, berjalan mendekat ke arah Jasmine. Dia masih tak tahu apa maksud Jasmine mengatakan hal itu.


Jasmine membenarkan posisi rambutnya yang mulai keluar dari tatanan awalnya dan mengusapnya lembut.


"Aku sedikit memiliki kemampuan bela diri dan keahlian menggunakan beberapa senjata. Kau tertarik untuk menpelajarinya? Enam bulan ke depan, meskipun aku tidak bisa menjamin kau bisa menjadi hebat luar biasa, tapi setidaknya lumayan untuk membela diri pada saat-saat darurat."


Jasmine tersenyum kecil, merasa sedikit tak yakin Alice akan menerima tawarannya. Semua itu tergantung kemauan Alice. Dia tak bisa memaksanya.


"Kau yakin tentang hal itu? Aku sangat bersedia sekali, Jasmine. Itu pasti akan berguna untukku di masa depan."


Alice merasa beruntung dan bodoh pada saat yang bersamaan. Harusnya dari dulu dia bisa melakukan hal ini, kenapa baru sekarang terpikirkan saat Jasmine mengusulkannya?


Seandainya dari setahun lalu Alice belajar menggunakan senjata, mungkin saat ini Klayver tidak terlalu merasa terbebani olehnya.


"Kau yakin mau?" Jasmine sedikit tak percaya. Dia mengamati seluruh tubuh Alice yang mencerminkan kelembutan dan kecantikan alami. Wanita seperti ini bisakah dibentuk dengan baik?


Semuanya harus dicoba. Alice adalah orang yang cukup cerdas. Pasti tak sulit untuk menempanya menjadi seseorang yang lebih kuat lagi.


"Tentu saja. Kau tak bermaksud menarik kata-katamu kembali, bukan? Kau baru saja menawarkan hal ini padaku. Awas jika tiba-tiba berubah pikiran." Alice menatap Jasmine dengan pandangan yang tajam.


Jasmine sudah berhasil mengiming-imingi sesuatu yang sangat menggiurkan. Akan tidak baik jika ia menarik tawarannya secara tiba-tiba.


"Tidak. Aku bukan orang yang suka menarik kata-kataku kembali." Jasmine berkata serius. Dia menatap ke sekeliling ruangan dan mengamati dengan teliti. Kening Jasmine sedikit berkerut samar. Sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu dengan cukup serius.


"Ada apa lagi, Jasmine?" tanya Alice penasaran.


"Kau memiliki ruangan yang cukup besar? Ruangan untuk berlatih. Sepertinya aku harus memesan beberapa perlengkapan untuk latihanmu. Pertama-tama, kau perlu belajar menggunakan pistol dan mengenal senjata otimatis."


Jasmine menyipitkan mata, memikirkan tempat yang sekiranya cocok sesuai keinginannya.


"Sebenarnya, Kalyver telah menggunakan salah satu ruang bawah tanah sebagai tempat pelatihan semacam itu untuk dirinya sendiri. Apakah kita bisa memakainya juga?" Alice teringat sesuatu.


Setelah pernikahan mereka, selain meminta ruang tersendiri sebagai kamar kerja, Klayver juga menyulap salah satu ruang bawah tanah yang cukup luas untuk ia gunakan sebagai tempat pelatihan mandiri. Alice hanya pernah melihatnya sekali. Ruangan itu cukup luas dengan banyak peralatan yang sebagian besar tidak Alice kenal.


"Wow. Kita sangat beruntung jika Klayver telah memiliki tempat khusus untuk berlatih."


"Kau harus melihatnya dulu. Sekilas tempat itu seperti tempat olahraga. Ada treadmill, barbel, semacamnya."


Alice kembali teringat akan tempat itu. Klayver cukup rajin untuk berlatih fisik. Dalam sehari, dia bisa satu hingga dua jam berada di tempat latihan.


"Ya, sekilas memang seperti itu. Apa di sana ada samsak tinju?" Jasmine bertanya dengan mata yang berbinar lebar.


Salah satu olahraga favorit Jasmine adalah berlatih tinju. Seolah-olah saat ia melakukannya, Jasmine merasakan kebebasan tersendiri.


Olahraga juga mampu menjadi pelarian bagi seseorang. Dengan mengeluarkan tenaga dan keringat, pikiran yang tadinya membebani mampu terlepas secara perlahan.


Jasmine sudah menyukai hampir semua jenis olahraga dari dulu. Karena itulah fisiknya meskipun tidak terlalu berotot, tetapi cukup kuat. Buktinya dia bisa berlari dalam jarak jauh tanpa kehabisan nafas sama sekali.


Pelatihan demi pelatihan telah Jasmine lakukan. Terlebih setelah ia kehilangan Isabella, putrinya sendiri. Olahraga dan bela diri merupakan cara Jasmine melarikan diri. Dengannya, kepedihan jadi sedikit samar sehingga hati Jasmine terobati untuk sejenak.


"Harusnya ada. Kita lihat saja sekarang." Alice berjalan keluar ruangan menuju ruang bawah tanah. Jasmine membuntutinya dari belakang, merasa adrenalinnya mulai terpompa dengan cepat.



Daniel menatap rumah Alice sore ini dengan pandangan bimbang. Hari sudah mulai petang. Cahaya jingga di langit tersebar dengan indah.


Daniel menekan pedal gas, memutuskan untuk meneruskan niatnya memasuki halaman depan rumah Alice.

__ADS_1


Hari ini Daniel lumayan kacau. Dia berangkat ke kantor, merasa marah pada banyak hal sepele dan karyawannya terpaksa menerima setiap kejengkelannya yang tidak berdasar.


Daniel sendiri bingung kenapa. Dia mudah sekali naik emosinya tanpa aba-aba. Hal-hal kecil yang biasanya tidak penting terasa mengganggu dirinya.


Ema, asisten sekaligus sekretaris pribadinya sempat dia ceramahi setengah jam lebih hanya karena salah membuatkan kopi. Lama-lama, Daniel merasa ada yang salah dengan dirinya sendiri.


Mungkin Daniel kurang istirahat. Mungkin Daniel kurang tidur. Tadinya Daniel berpikir itulah pemicu utamanya.


Istirahat merupakan kebutuhan tubuh yang paling dasar. Layaknya makan, istirahat adalah asupan yang sangat penting. Sementara Daniel hampir satu bulan kekurangan aktifitas yang namanya tidur.


Dalam beberapa hari, Daniel hanya menghabiskan beberapa jam saja untuk tidur. Itupun hanya sekilas-sekilas. Jadi, setengah hari tadi Daniel menyempatkan pulang lebih awal dari biasanya khusus untuk ia gunakan beristirahat.


Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Daniel berbaring dengan nyalang, menatap langit-langit kamar tanpa bisa memejamkan mata sama sekali.


Yang ada dalam ingatannya justru Jasmine. Wanita itu benar-benar sukses menjadi pengganggu baginya. Heran. Apa yang wanita itu miliki yang tidak dimiliki wanita lain sehingga otak Daniel selalu tertuju padanya sejak pertama kali ia berjumpa.


Akhirnya, dengan berat hati, Daniel memutuskan untuk datang ke kediaman Alice demi untuk melihat Jasmine secara langsung.


Dia ingin membuktikan pada dirinya sendiri bahwa Jasmine bukanlah siapa-siapa. Bahwa otaknya saja yang kacau sehingga terlalu besar memberikan perhatian padanya.


Setelah ia melihat Jasmine secara langsung, Daniel ingin membuktikan wanita itu tak lebih baik dari wanita lain. Bahkan lebih rendah lagi. Jadi untuk membungkam otaknya yang kacau, dia perlu membuktikan dengan datang secara langsung. Terkadang bayangan memang lebih menyenangkan dari pada kenyataan.


Daniel disambut oleh William di gerbang utama. Lelaki tua itu sedikit mengernyitkan mata, merasa heran atas kedatangan Daniel yang tiba-tiba.


"Apakah ada masalah, Daniel?" tanya kepala pelayan Alice yang sangat setia.


"Tidak ada. Aku hanya ingin berkunjung sebentar."


William mengangguk kecil, menatap wajah Daniel yang kacau. Penampilan Daniel sangatah berantakan. Rambut tam rapi, mata hitam seperti hantu, pipi tirus kekurangan lemak, dan wajah yang terlihat seperti zombie.


"Daniel, adakah orang yang menyebutmu seperti zombie berjalan?" tanya William tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Ada. Rachel dan kau salah satunya. Apakah aku memang separah itu?" Daniel sedikit merasa malu. Dia merapikan rambutnya yang acak-acakan dan ambrul adul tak karuan.


Rambut itu membandel. Berkali-kali Daniel merapikannya, rambut itu justru menyerupai rerumputan liar. Daniel meringis putus asa. William yang melihatnya malah nyengir lebar.


Semenjak Alice menikah dengan Klayver, William terlihat sedikit tenang dan tidak lagi tertekan. Mungkin dia berpikir ada seseorang yang telah cukup peduli untuk melindungi Alice sehingga dia merasa sedikit tenang. Ada beban yang terangkat menyadari seseorang yang pernah menjadi bagian dari diri Anson telah kembali aman.


"Kau masih muda. Bersenang-senanglah sesekali." William mencoba menasehati Daniel.


"Tentu. Apakah aku terlihat tak pernah bersenang-senang?"


"Huh. Kau pikir aku tak tahu selama ini perhatianmu tertuju pada Alice saja."


Daniel tertawa lebar. Dia tak mengira orang sedingin William memperhatikan hal sedetail itu. Rupanya perasaan yang sebelumnya Daniel miliki jelas terlihat di mata orang lain. Pantas Klayver pernah marah-marah kepada Alice karena menemui dirinya. Lelakinya itu pasti melihat dengan jelas bagaimana emosi Daniel untuk Alice. Beruntung Alice sendiri masih percaya dan menceritakan hal itu padanya beberapa hari yang lalu.


"Itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Ngomong-ngomong, di mana Alice sekarang?"


"Masuk saja ke dalam. Dia dan Jasmine melakukan latihan fisik hari ini."


Mata Daniel membulat lucu. Dia terlihat bingung untuk sesaat.


"Latihan fisik?"


"Ya. Dan latihan menembak. Tetapi jangan tanya hasilnya seperti apa. Kadang sasaran dan target yang ditembaknya bisa melenceng dari barat ke timur."


__ADS_1


__ADS_2