Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
006 - SEASON 2


__ADS_3

Aroon berjalan memutari ruangan dengan raut muka tak terbaca. Langkah-langkahnya tanpa suara. Alice hanya berani menatapnya dari sudut mata. Sebenarnya apa yang sedang dipikirkan lelaki tua ini? Mungkinkah ia peduli pada Anson?


"Aku sudah mencurigai ini, Miss. Hanya saja, kata-katamu seperti konfirmasi untuk kecurigaanku." Aaron mengetuk-ngetukkan ujung alas kaki lusuh yang ia kenakan. Ya Tuhan, sekilas penampilan lelaki ini seperti tuna wisma.


"Kau cukup peduli dengan kasus ini rupanya."


Aaron terkekeh kecil mendengar kata-kata Alice. Dia mengambil sebuah botol dari rak lemari besar di sisi ruangan dan meminum isinya secara langsung.


"Aku dan Anson, anggaplah kami berkawan."


Alice mengernyit ragu. Dia kembali mengamati ruangan ini dan memikirkan sesuatu. Kegilaan apa yang dimiliki Anson sehingga ia berteman dengan orang aneh seperti Aaron?


Rumahnya saja sudah memberi peringatan secara langsung betapa nyentriknya lelaki ini. Semua hiasan di dalamnya hanya berupa tulang-tulang manusia yang entah palsu atau pun asli. Semua perabotanya dari kayu. Pondoknya tak terurus berhias semak belukar. Jika saja Alice tak mendapat informasi ini dari Anson, dia pasti berpikir bahwa lelaki ini adalah pertapa sejati.


Tetapi sepertinya lelaki tua itu jauh dari sebutan pertapa. Dia lebih mirip pesakitan jiwa. Sorot matanya seolah memperlihatkan semua hal kotor yang sengaja ia lakukan sepanjang kehidupanya.


"Ehm, jika begitu, bisakah kau membantuku?"


Lelaki itu menoleh dengan mata tak terbaca.


"Biarkan aku menyelidikinya lebih dulu."


Aaron menjentikkan jari, membuat rencana dalam otaknya yang licik. Dia sudah lama tidak terjun ke lapangan langsung. Sepertinya kali ini akan menarik.


"Biar kutinggalkan nomor ponselku sehingga kau bisa menghubungiku sewaktu-waktu." Alice berkata ragu. Dia tak yakin apakah orang ini memiliki ponsel seperti orang pada umumnya?


"Ya, Ya, kau bisa melakukan itu." Aaron mengusap janggutnya pelan. Dia melambaikan tangan, menyuruh Alice untuk segera berlalu dari pondok kecilnya.


"Pergilah kau, aku tak ingin didakwa melakukan pembunuhan lagi jika kau menghilang di sini." Aaron tertawa kecil. Ia bersenandung riang menuju ruang tengah.


"Sir …," panggil Alice lirih.


"Apakah kau membutuhkan dana untuk penyelidikan ini?" tanya Alice takut-takut.


Alice bukanya sok kaya dengan menawari Aaron uang. Dia hanya ingin melancarkan usaha Aaron saja. Dengan kondisi pondoknya yang bobrok, Alice tak yakin Aaron memiliki cukup uang bahkan untuk melakukan penerbangan ke Manhattan.


"Kau menganggapku miskin ya?" Aaron tertawa keras. Dia mendongakkan kepalanya seperti orang gila. Ya Tuhan, Alice sepertinya telah bertemu orang yang salah.


"Tidak, hanya saja …." Kalimat Alice terputus oleh lelaki tua itu.


"Aku bahkan memiliki sembilan rekening di tiga negara yang berbeda. Jangan nilai kemampuan orang dari permukaan, Miss. Kau akan mudah tertipu." Aaron mengedipkan sebelah matanya pelan, penuh makna.


Alice segera mundur dan berlalu pergi secepat kilat. Dia segera menghubungi Max dan meminta untuk dijemput sesegera mungkin. Setelah dua belas menit berlalu, Max tiba di jalan utama di mana ia meninggalkan Alice tadi.


"Mis, sungguh suatu keajaiban melihatmu masih hidup. Kupikir, aku akan mendengar berita kematianmu."

__ADS_1


Alice memutarkan bola matanya mendengar kata-kata Max yang sembarangan. Dia ingin menendang tulang kering Max saat itu juga.



Hari ini Alice memutuskan untuk kembali ke Manhattan. Dia tak yakin Aaron akan melakukan penyelidikan berapa lama, sehingga Alice berpikir lebih baik ia pulang dulu untuk mempersiapkan segala kemungkinan.


Alice di jemput oleh Rachel. Mereka berkeliling kota sebentar untuk membeli beberapa barang.


"Bagaimana pencarianmu mengenai Aaron?" tanya Rachel. Dia telah diberitahu situasi ini dua hari lalu oleh Daniel.


Alice bergidik ngeri mengingat sosok Aaron. Dia memikirkan banyak definisi yang pantas ia sematkan pada lelaki aneh itu.


"Bayangkan saja kau bertemu orang nyentrik, psikopat, dan tersangka pembunuhan secara bersamaan. Dia pantas disebut seperti itu." Alice menggelengkan kepala, merasa heran sendiri.


"Wow, apakah dia tampan dan mempesona?" Rachel menggoda.


"Sangat tampan dan mempesona jika usiamu sudah tujuh puluh tahun dan sedang membutuhkan adrenalin untuk mempercepat kematianmu." Alice menjelaskan dengan nada humor. Tunggu saja sampai Rachel melihat Aaron secara langsung. Alice jamin pasti dia tak bisa berkutik lagi.


"Jadi dia sudah kakek-kakek ya. Aku penasaran kemampuan apa yang ia miliki sehingga Anson bisa merekomendasikanya padamu."


Alice termenung beberapa saat. Dia melihat tatapan membunuh yang kental di mata Aaron. Dua juga melihat kewaspadaan yang tinggi. Aaron seperti seekor singa yang dibekali insting tajam dam kejam. Itulah kenapa Anson mengarahkan Alice padanya.


"Kutebak dia seorang pembunuh dan psikopat yang cerdas." Alice berkata serius. Dia menyandarkan kepalanya ke jok belakang dan merasakan kenyamanan yang sangat dalam. Perjalanan ini benar-benar melelahkan. Dia perlu mengistirahatkan tubuhnya untuk sejenak. Perlahan, Alice memejamkam mata. Tetapi baru beberapa detik, ia dikejutkan oleh curhatan Rachel.


"Alice, kau tahu tunanganku?" Rachel mulai membuka percakapan.


"Dia memang orang yang cukup rumit. Aku tak pernah tahu alasan yang sebenarnya kenapa ia seperti menyembunyikan hubungan ini." Rachel terlihat sedikit tertekan.


Alice menggeser tempat duduknya dan mulai memperhatikan arah pembicaraan temanya. Dia merasa ada yang tak beres dengan orang yang bernama Harry.


"Kau pantas untuk merasa curiga, Rachel!"


Sebuah hubungan yang sehat akan membutuhkan deklarasi. Bukan suatu tindakan sembunyi-sembunyi. Jika kau berstatus tunangan tetapi dilarang menunjukkan hal ini di depan umum, kau harus bangun dan segera sadar bahwa hubunganmu sakit luar dalam.


"Ya. Aku selalu merasa curiga. Tetapi kemudian dia mengajakku untuk menikah dua minggu lagi. Dia benar-benar membuktikan dirinya bertanggung jawab. Aku merasa sangat lega, Alice. Usiaku juga sudah memasuki tiga puluh satu tahun. Aku ingin berkeluarga."


Alice menoleh terkejut dan berteriak histeris. Akhirnya temanya ini benar-benar ingin mengakhiri masa lajang. Mereka harus merayakan kejadian ini.


Rachel tersenyum lebar dengan air mata berlinang. Wajahnya menampakkan raut muka bahagia. Impianya akhirnya terwujud juga.


"Dua minggu? Secepat itu?" Alice sedikit bimbang. Untuk ukuran normal, pernikahan yang dirancang dua minggu adalah pernikahan yang sangat terburu-buru.


"Dia sendiri yang menginginkanya. Pernikahan kami sederhana. Hanya resepsi kecil. Kau harus mendatanginya."


Alice mengangguk ikut bahagia dan kembali tertawa. "Tentu saja Rachel, tentu saja."

__ADS_1



Sepuluh hari telah berlalu, Alice sibuk membantu persiapan pernikahan Rachel. Meskipun hingga saat ini Harry masib belum mau diperkenalkan langsung olehnya, tetapi Alice cukup bahagia karena dia bersedia melakukan komitmen dengan sahabatnya. Kesalahan apa pun yang dilakukan Harry padanya, akan selalu ia maafkan selama Harry bisa membahagiakan Rachel.


Saat menginjak dua hari menjelang hari-H, dia pulang terlalu larut. Rumah sudah gelap tanpa penerangan sama sekali. Mungkin saat ini telah memasuki tengah malam, atau bahkan dini hari.


Alice membuka kunci ruang depan dengan kode alarm keamanan. Dia tak pernah merepotkan pelayanya jika kebetulan pulang larut sehingga Alice selalu menyuruh mereka untuk menghidupkan sistem alarm setelah petang.


Alice mengernyitkan dahi. Kode alarm sudah berkedip-kedip, menandakan terbuka. Apakah para pelayan lupa mengaktifkan sistem alarm? Terkadang, mereka benar-benar ceroboh.


Alice membuka pintu utama yang masih diselimuti kegelapan total. Ia berjalan perlahan meraba dinding di mana tombol lampu ruangan berada.


Cklek.


Sinar lampu terang menyinari seluruh ruangan. Alice membalikkan badan dan nyaris meluruh pingsan saat itu juga.


Aaron, telah duduk santai di atas kursi tamu. Dia menatap Alice dengan pandangan tajam. Kedua kakinya ia silangkan, seolah-olah ia adalah majikan dan pemilik rumah ini.


"Kapan kau ada di sini?" tanya Alice berjalan mundur.


Rasa keterkejutan yang ia miliki masih terlalu besar untuk ia kendalikan. Bayangkan saja jika kau tiba-tiba pulang dan mendapati rumahmu sudah ada yang membajak sistem keamanan tinggi yang kau terapkan.


Lebih hebatnya lagi, para pelayan tak ada yang menyadari keberadaan si penyusup. Bahkan William. Kemana keahlian lelaki itu sehingga ia kebobolan seperti ini? Bukankah William cukup ahli menjaga keamanan rumah?


"Sekitar dua jam lebih."


Dua jam dan dia berhasil duduk diam tanpa diketahui siapa pun. Hebat. Sangat hebat.


"Aaron, aku sudah memberimu nomor ponselku."


Aaron berdiri berkacak pinggang. Dia berjalan menuju dapur tanpa canggung. Alice hanya bisa mengikutinya dari belakang. Jujur, dia sebenarnya takut. Dapur adalah sebuah tempat di mana ada benda-benda tajam sejenis pisau. Pikiran lelaki ini sulit dideteksi, bisa saja dia tiba-tiba berniat membunuh Alice tanpa alasan jelas.


"Apa yang akan aku katakan ini harus dikatakan langsung. Aku yakin ponselmu sudah disadap, mengingat sekarang aku tahu siapa musuhmu sebenarnya."


Aaron mengambil sebuah cangkir dan mulai sibuk membuat kopi seorang diri. Dia tak membutuhkan ijin untuk melakukan apa pun yang ia mau.


Sebenarnya Alice ingin bertanya dari mana lelaki itu bisa mengetahui semua ruangan seolah ia telah memahami semua denah rumah ini. Tetapi lagi-lagi Alice mengurungkan diri. Dia tak ingin terlalu bercakap-cakap dengan lelaki aneh seperti Aaron. Sebisa mungkin, percakapan mereka hanya berkisar tentang kasus kematian Anson.


"Aku sudah menjelajahi rumah ini tadi. Kau harus bersyukur di rumah ini belum dipasangi alat penyadap khusus, sehingga semua tindakanmu tidak mereka curigai. Jika mereka tahu kau sudah menghubungiku, mereka pasti sudah memburumu juga."


Mereka? Alice semakin tertarik dengan penjelasan ini.


Apakah itu artinya selama ini percakapan pribadinya melalui ponsel telah disadap? Jika benar begitu, Alice harus bersyukur karena ia tak pernah melakukan pembahasan sensitif dengan Daniel maupun Rachel melalui ponsel. Mereka biasanya bertemu langsung.


"Jadi, siapa sebenarnya mereka itu?" Alice bertanya penuh rasa ingin tahu.

__ADS_1



__ADS_2