Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
058 - SEASON 2


__ADS_3

Alice membisu lama. Dia menatap Klayver dengan cahaya baru di matanya. Telah banyak dongeng yang mengungkapkan bagaimana arti bahagia yang sesungguhnya. Telah banyak cerita yang mengatakan bahagia selama-lamanya. Tetapi semua definisi tersebut tak pernah berhasil mewakili apa yang tengah Alice rasakan untuk saat ini.


Kebahagiaan itu adalah ketika hati kita tercurah pada sesuatu dan dibimbing lebih dalam lagi untuk merasakan manisnya sesuatu tersebut.


Klayver bukan hanya memberikan pernyataan cinta, ia lebih kepada mendeklarasikan diri pada Alice sedalam apa emosi tersebut menguasainya.


Alice pun sama. Ia terjebak dalam perasaan yang orang sebut cinta dengan cara paling gila. Hingga seluruh mata dan padandangannya tertuju pada lelaki itu seorang. Hingga fokusnya direnggut oleh Klayver dan tak lagi menyisakan sosok lain selain dirinya.


Cinta itu adalah penjara tetapi juga kebebasan. Sebuah penjara karena tak memperbolehkan orang menatap keluar dan memandang yang lain. Sebuah kebebasan karena bahkan ruangan yang kecil pun akan tetap terasa surga selama kita menjalaninya bersama orang tercinta.


Cinta itu adalah air tetapi juga dahaga. Ia laksana air karena menjadi obat bagi kegersangan hati. Tetapi juga menjadi dahaga bagi kerinduan murni.


Cinta itu adalah obat tetapi juga racun. Ia mampu menghilangkan rasa sakit dalam setiap langkah pengorbanan seseorang. Memangkas rasa derita yang ada dan membuatnya kebal. Akan tetapi juga mampu menjadi racun bagi setiap kesengsaraan hidup. Hingga semua hal yang dilakukan orang tak lagi memiliki nyawa karena kehilangan yang ia cinta.


Secara keseluruhan, cinta adalah ciptaan Tuhan yang kontradiktif. Berapa banyak orang melindungi dan berani terluka karena cinta. Sebaliknya, berapa banyak orang saling membunuh satu sama lain sebab cinta.


Cinta


Cinta


Cinta


Kata itu bak mantra paling hebat sedunia. Tuhan mendeklarasikan diri menciptakan makhluk karena cinta. Agama mengakui diri ada untuk cinta kasih. Orang-orang mengatakan saling menjunjung cinta.


Fungsinya sungguh luar biasa. Di setiap celah yang dunia punya cinta hadir laksana udara. Menjadi kebutuhan dasar dan memenuhi semua ruang.


Alice terdiam lama. Perasaan yang membuncah ini telah membuatnya buta akan segala hal. Yang ada dalam pikirannya hanya Klayver seorang. Lelaki tersebut, kehadirannya membawa banyak hal hingga Alice tanpa sadar bergantung padanya secara total.


Perlahan, Alice menyentuh mesra dada suaminya. Dia memeluk lembut lelaki ini, merasakan detak jantung yang akhir-akhir ini menemani setiap malamnya.


Dadanya kuat, seperti didesain khusus untuk menopang kerapuhan yang Alice miliki. Detak jantungnya cepat, sebagai tanda kehidupan dan bukti nyata emosi yang dibawa Klayver pada hidup Alice.


Lelaki ini telah menjanjikan surga kecil untuknya. Dan Alice merasakan lebih dari surga setiap kali bersamanya. Tatapan Klayver telah menjadi candunya. Sentuhannya telah menjadi sebagian dari dirinya. Pelukannya juga menjadi hal yang ia butuhkan. Secara keseluruhan, arti sosok ini semakin dalam setiap saat dan mengakar kuat di lubuk hati terdalam.


Dengannya, Alice ingin menikmati sisa hidup. Hingga mereka menua nanti, melihat generasi-generasi mereka tumbuh dan menceritakan kisah luar biasa mereka.


Dengannya, Alice ingin menaklukkan dunia bersama. Tak perlu besar dan tak perlu muluk. Cukup dunia kecil yang menjadi surga bagi mereka berdua.


Dengannya, Alice ingin melalui semua kepedihan hidup dan kenyataan pahit. Dunia adalah akar dari setiap permasalahan. Menjalaninya bersama Klayver akan membuatnya lebih baik.


Dengannya, Alice ingin mengukir kisah dan riwayat hidup. Hingga kematian nanti menjemput, tangan inilah yang ia inginkan menggenggam dirinya. Bahkan nanti ketika kelak surga itu benar-benar ada, ia ingin melaluinya bersama Klayver. Surga tak akan pernah terasa surga tanpa orang yang kita cintai. Dan neraka tak akan terasa seperti neraka jika bersama dengan orang yang kita cinta.


Klayver merengkuh tubuh lembut istrinya dan mengecup kepalanya lembut. Ia membimbing istrinya melewati ribuan mawar yang ia sebar dan mendudukkannya di atas kursi kayu bak raja yang membimbing ratunya di atas tahta.


Klayver berlutut di sisi Alice,mengeluarkan kotak beludru berwarna merah dan menyodorkannya pada istrinya.


Di dalamnya, terdapat sebuah cincin permata berwarna emas. Sewarna dengan netra Violin yang sejernih kristal.

__ADS_1


Tanpa kata-kata, lelaki tersebut menyusupkan cincin di jari manis Alice dan mengecupnya lembut.


Inilah yang mampu Klayver berikan untuknya. Sebuah deklarasi besar-besaran. Menyatakan pada dunia kecil mereka bahwa Alice adalah bidadari yang ia pilih. Bidadari yang ia ambil untuk menemani hidupnya hingga Tuhan menutup usia mereka.


Klayver tersenyum kecil. Matanya terlihat berkaca-kaca. Sepanjang kehidupan yang ia miliki, hatinya tak pernah tergerak dengan sangat besar oleh seseorang. Rasa yang ia miliki tak pernah berhasil di rampas oleh wanita.


Tetapi Alice, bukan hanya merampas hati Klayver. Ia sanggup menyimpan setengah jiwanya di ruang khusus dan menawannya untuk waktu lama.


Separuh hidupnya telah ia temukan. Setengah jiwanya telah ia dapatkan. Mereka bagaikan sisi lain dari sebuah koin. Saling berbeda tetapi membentuk kesatuan yang utuh. Melengkapi satu sama lain dalam kehidupan yang sebelumnya terasa dangkal.


Air mata Klayver mengalir. Menyerah dengan rasa agung yang ia miliki. Cinta ini adalah hal besar yang baru ia cecap. Pengaruhnya membawa banyak dampak yang tak pernah Klayver duga.


Alice yang melihat suaminya menitikkan air mata, ikut terbawa suasana dan mengikuti jejaknya juga. Mereka adalah dua orang yang menangis haru karena cinta. Hingga hati mereka tergerak dengan sangat mendalam dan memberikan reaksi murni.


"Kau tahu, cinta yang aku miliki terlalu dalam hingga terkadang aku sendiri ketakutan menghadapinya," aku Klayver masih dalam posisi berlutut.


Cinta bagi Klayver adalah sesuatu yang asing. Menemukannya dan mampu merasakannya dengan begitu besar, mampu membuat ketakutan yang tak pernah ia miliki ikut memberontak juga.


Alice mengetahui situasi Klayver. Dia pernah merasakan dua cinta dalam hidupnya dan keduanya sama besar. Anson dan Klayver. Mereka berbeda sehingga Alice mencintai mereka dengan cara yang berbeda pula.


Cinta itu unik. Sekali pun kita pernah mengenal cinta pada seseorang, setelah kepergiannya kita masih mampu mengenal cinta lain sama besarnya tanpa mengurangi porsi sebelumnya.


Tetapi bagi Klayver yang belum pernah mencecap cinta sebesar ini, pasti akan mengejutkan. Alice memahami reaksi Klayver dan mengusap rahang suaminya penuh rasa sayang.


"Jangan takut, Kalyver. Cinta itu mampu menjadi sebuah kekuatan besar. Untuk apa kita menyimpan ketakutan akan hari esok jika yang kita miliki lebih dari cukup untuk melengkapi satu sama lain?" kata Alice lembut.


"Aku ingin kau menjadi ibu bagi anak-ankakku, Alice. Berapa pun anak yang kau inginkan, selama wanita itu adalah kamu, aku akan mengabulkannya." Klayver berdiri dan mengecup kening Alice dengan sepenuh rasa. Tatapan matanya selalu menghangat setiap kali perhatiannya terfokus pada Alice. Wanita ini berhasil menjadi matahari baginya.


Alice tersenyum bahagia. Dia kembali teringat akan kata-kata Violin yang mencona menyuapnya dengan pulau pribadi jika ia berhasil memiliki anak. Entah itu adalah bualan semata atau benar-benar serius, hal itu berhasil membuat Alice mengulum senyum.


"Berapa anak yang kau inginkan? Dua? Tiga? Empat? Atau kau mau melahirkan sepanjang akhir tahun dan membuat rumah kita penuh teriakan bayi?" kali ini Klayver telah duduk di kursi yang berseberangan dengan Alice. Ia menyerahkan salah satu gelas kristal kepada Alice dan mengajaknya bersulang.


"Jangan bercanda, Klayver. Usiaku sudah memasuki tiga puluh satu sehingga aku tak terlalu berani memiliki banyak anak. Mungkin dua cukup." Alice mengulúm senyum. Membayangkan mereka berdua diributi balita-balita kecil dengan wajah mirip Klayver membuat hati Alice merasa hangat.


Alice tak bisa menebak jika setelah menjadi ayah nanti lelaki itu akan bersikap tegas atau penuh toleransi. Melihat interaksinya dengan Axel akhir-akhir ini, Alice takut jika anak-anaknya kelak akan dididik dengan cara 'unik' suaminya.


"Bukankah usiamu baru dua puluh sembilan tahun, Klayver?" Alice mulai menyadari sesuatu. Ia mengerjap beberapa kali, menahan diri.


"Ya. Masih tiga bulan lagi menuju tiga puluh," sahut Klayver tak peduli.


Oh Ya Tuhan. Alice jatuh cinta pada lelaki yang lebih muda dua tahun darinya. Ke mana saja ia selama ini, kenapa baru sadar situasi sekarang? Alice ingin tertawa, tetapi ia urungkan.


"Bagus! Kau memilili selera yang cukup buruk. Biasanya lelaki menyukai wanita yang lebih muda dan segar dengan kecantikan luar biasa. Tetapi kau justru terjebak denganku!" sahut Alice menatap Klayver, ingin menangkap semua reaksinya.


Klayver mengangkat bahunya tak peduli. Dia menatap Alice seksama dan menemukan kecantikan unik yang belum pernah ia temukan pada wanita lain. Apakah istrinya itu terlalu naif sehingga ia tidak menyadari nilainya sendiri yang luar biasa?


Alice adalah wanita anggun yang tak mungkin terkalahkan begitu saja oleh wanita lain hanya karena usianya lebih muda. Dia menyimpan banyak nilai tersembunyi yang tidak sembarangan wanita miliki.

__ADS_1


Sikapnya, ketegarannya menghadapi hidup, kemauannya yang keras, dan hatinya yang sensitif. Semua itu adalah daya tarik yang luar biasa. Klayver justru heran jika ia tidak jatuh cinta habis-habisan padanya.


"Aku bosan dengan yang muda. Aku tertarik dengan wanita berusia tiga puluhan," jelas Klayver santai.


Alice mengerucutkan bibir dan berkata tak terima. "Jawaban macam apa itu?"


"Jawabanku. Alice, dengarkan aku. Memangnya kita bisa mengendalikan perasaan pada orang lain? Aku harus memilih dulu wanita seperti apa yang pantas aku cintai baru kemudian membentuk cinta? Dangkal sekali pendapatmu, Sayang." Klayver tertawa renyah, melihat wajah lucu istrinya sendiri.


Menu dinner kali ini adalah kepiting panggang dengan saus spesial. Alice menghabiskan satu porsi sebelum akhirnya memakan puding sebagai hidangan penutup.


Kalyver memang tak pernah setengah-setengah. Ketika dia menjaga rahasia, dia benar-benar menahannya . Tetapi ketika ia memberikan sesuatu, ia benar-benar memberikannya secara penuh.


"Bagaimana kau bisa menyiapkan semua ini, Klayver? Kenapa aku tidak menyadarinya sama sekali padahal aku sering berada di rumah."


Klayver tersenyum mendengar pertanyaan Alice dan berniat untuk tidak menjawabnya sama sekali. Biarkan saja ini menjadi rahasia kecilnya.


"Aku pandai melakukan semua hal." Hanya itulah yang ia katakan. Membuat Alice mau tak mau merasa kesal.


"Dasar lelaki." Alice menggeleng, memutuskan untuk tidak membujuk Klayver terus menerus. Lelaki itu memiliki pendirian yang kuat. Jika ia bermaksud menyembunyikan sesuatu, apa pun yang Alice lakukan tetap saja percuma. Mulut Klayver akan tetap tertutup rapat.


"Alice, apakah kau bahagia hidup bersamaku?" tanya Klayver tiba-tiba, mengalihkan topik sebelumnya.


Klayver sebenarnya menyimpan banyak pertanyaan-peryanyaan terpendam yang sangat ingin ia utarakan. Tetapi tertahan oleh situasi. Saat ini keadannya sedang mendukung. Akan lebih baik ia menuntaskan rasa penasarannya.


"Bahagia?" Alice terlihat keheranan.


Bagaimana bisa Klayver masih menanyakan pertanyaan dangkal seperti itu. Pertemuannya dengan Klayver adalah sebuah anugerah. Alice bukan hanya bahagia, tetapi juga merasa lengkap dam senpurna. Kata apalagi yang bisa ia definisikan untuk menarasikan perasaan yang ia miliki?


Alice memejamkan mata sejenak, mencoba merangkai kata-kata dan membuka matanya kembali dengan anggun.


"Jika ada sebuah ungkapan yang bisa kupakai untuk mendefinisikan perasaan ini, aku pasti akan memakainya sekarang. Aku bukan hanya bahagia, tetapi juga merasa sempurna. Sesuatu yang kupikir seperti rasa candu berlebihan setiap kali menatapmu. Dan sesuatu yang lebih dari kehancuran ketika aku kehilanganmu. Perasaan macam apa itu menurutmu, Klayver?" Alice tersenyum kecil.


Apa yang ia rasakan terhadap Kalyver telah mengakar secara mendalam. Hingga Alice sendiri merasa bingung dengan semua hal yang ia alami.


Ibarat bunga, Klayver adalah tanahnya. Tempat semua nutrisinya bermula. Ibarat awan, Klayver adalah langitnya. Kemana pun ia pergi, tak akan pernah terlepas dari langit yang menaunginya.


"Aku terkadang sering bertanya-tanya, Alice


Mungkinkah hatimu masih dimiliki Anson sehingga nilaiku hanya sekadar pelarian bagimu? Sesuatu yang hanya menjadi bayang-bayang semata."


Klayver telah mengungkapkan kekhawatirannya yang mendalam. Anson adalah keberadaan yang kuat. Demi Anson, Alice rela menceburkan diri dalam dendam yang rumit. Apa yang lelaki itu tinggalkan untuk Alice pastilah cinta yang amat besar, sehingga keadaan tersebut membuat Klayver merasa tertohok. Jujur, Klayver tak akan pernah bisa bersaing dengan arwah. Nilai Anson akan terus baik meskipun jasadnya telah tiada. Dia lebih memilih bersaing dengan lelaki hidup dengan cara sportif.


"Aku memiliki cinta yang besar untuk Anson. Dia adalah lelaki yang luar biasa. Kenangannya akan terus ada dan hidup di sisi hatiku. Tetapi, dunia telah merenggutnya. Kita hidup dalam dunia nyata, Klayver. Aku tak akan menjadi munafik dan mengatakan bahwa cintaku pada Anson telah pudar dan tiada. Tidak." Alice berhenti sejenak, menyesap wine yang Klayver siapkan dan kembali memandang lelaki di hadapannya.


"Tetapi aku juga mencintaimu dengan cara yang berbeda, Klayver. Cinta yang tidak sama seperti yang aku miliki untuk Anson. Cinta ini berdiri sendiri dan tidak bersaing satu sama lain. Apa yang aku miliki untukmu sangat istimewa. Jangan merendahkan nilainya dengan memberi perbandingan kepada yang telah lalu. Saat ini, rasa ini, nafas ini, semuanya hanya bermuara padamu." Alice berdiri, mendekati Klayver dengan penuh pertimbangan. Dia mengusap sisi wajah suaminya pelan. Menatap semua garis-garis samar yang mulai terlihat.


"Aku mencintaimu dengan cara yang tak pernah aku melakukannya pada orang lain, Klayver. Cinta yang akan aku kenang sepanjang kehidupanku."

__ADS_1



__ADS_2