Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
DUA DUA


__ADS_3

Alice duduk berhadapan dengan Mr. Ritz Sampson, seorang detektif swasta. Mereka telah membuat janji sebelumnya. Dan disinilah mereka berada sekarang. Sebuah ruang kantor dengan desain modern minimalis milik perusahaan penyedia layanan detektif swasta.


Setelah sebulan lebih berlalu, Alice akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah ini. Semua cara telah ia gunakan untuk mencari keberadaan Anson, namun berakhir buntu. Bahkan di buku telepon saja nama Anson Mallory seolah lenyap tak terdaftar. Sepertinya, lelaki itu benar-benar serius menghilangkan jejak dari Alice.


"Saya menginginkan anda mencari tahu keberadaan seorang lelaki yang telah pergi membawa putraku."


Alice mengamati Mr. Ritz secara keseluruhan, menebak kualitas lelaki yang berusia sekitar pertengahan empat puluhan. Secara fisik, Mr. Ritz tak terlihat sebagai lelaki yang cukup kuat, mengingat dia memiliki tinggi badan di bawah rata-rata dan berperawakan gempal. Namun jika diamati secara seksama, tampak kewibawaan dan kecerdasan yang tinggi dari kerut-kerut wajahnya.


"Baiklah. Bisakah anda memberikan nomor jaminan sosial atau semacamnya, sebagai modal bagi saya melakukan pencarian awal?"


Alice menggeleng. Seandainya saja ia tahu sedetail itu, Alice pasti tak akan serepot ini. Daniel pasti bisa melacak keberadaan Anson melalui nomor jaminan sosial tanpa harus menggunakan detektif.


"Kalau begitu, apa yang anda miliki yang sekiranya bisa saya gunakan untuk mencarinya?"


Alice mengambil ponsel dari tas merah yang ia selempangkan, mengotak-atiknya beberapa saat sebelum menyerahkan pada Mr. Ritz.


"Ini fotonya. Hanya inilah yang saya miliki. Namanya Anson Mallory." Alice menunjukkan foto Anson yang ia ambil lima bulan lalu, saat hubungan mereka masih baik-baik saja.


Mr. Ritz mengirimkan foto tersebut untuk ia simpan. Ia mengangguk mengerti, seolah-olah ia terbiasa melakukan operasi dengan petunjuk minimal.


"Baiklah aku akan berusaha melakukanya, Ms. White. Sepertinya wajahnya tak terlalu asing. Mungkin saya pernah melihatnya," katanya, memperbesar foto dari layar ponselnya.


"Dia pengusaha besar dalam bidang real estate. Mungkin anda pernah bertemu denganya dalam beberapa acara formal." Alice tersenyum maklum.


"Mr. Ritz, dia bukan orang yang sembarangan Bisakah anda mencarinya secara hati-hati? Saya tak ingin terjadi hal buruk pada anda." Alice berusaha mengingatkan.


Setelah dia mengetahui pfofil Anson yang sebenarnya, Alice mulai mempersiapkan langkahnya secar hati-hati. Dia harus melakukan tindakan dengan pertimbangan yang matang.


"Saya sebenarnya tak terlalu tertarik lagi dengan riwayat Anson Mallory. Yang saya inginkan adalah Axel, putra saya. Selama kau bisa menemukan keberadaanya, saya akan membayar berapapun yang anda minta." Uang memang segalanya. Semenjak perusahaan Alice berkembang kembali, Alice bisa melakukan apapun yang dia inginkan.


"Bukankah anda adalah ibu kandungnya? Bagaimana mungkin hak asuh putra anda jatuh pada pihak lain?"


"Karena selain dia ayah biologis putra saya, dia juga seorang lelaki yang memiliki kekuasaan. Anson Mallory sanggup menggerakkan putusan pengadialan. Dia bisa memanipulasi bukti serta saksi sehingga saya dianggap sebaga ibu yang tak layak untuk mengasuh putraku sendiri."


Alice memijat kepalanya putus asa. Sidang hak asuh Axel telah bergulir. Pengacara Anson sudah mendapat otorisasi penuh untuk mewakili urusanya di pengadilan.

__ADS_1


Alice sudah mendapatkan panggilan sidang yang kedua, namun dia tak terlalu antusias untuk bertarung mati-matian di pengadialan. Percuma. Jika Anson telah menyusun rencana untuk mengalahkan Alice, apapun yang Alice lakukan tak akan mengubah keadaan. Dia hanya menjadi pion catur yang mudah dikendalikan oleh kehendak Anson.


Satu-satunya cara agar ia bisa kembali mengambil putranya, adalah melalui cara illegal. Dia akan mencari celah untuk mengambil putranya secara paksa. Alice akan membawanya pergi sejauh mungkin dari jangkauan Anson, menciptakan kehidupan baru yang layak untuk mereka.


Jika nanti ia berhasil membawa kembali putranya, Alice telah berencana menjual semua aset miliknya dan menggunakanya sebagai modal membangun kehidupan barunya di sebuah tempat yang lebih baik. Mungkin Asia. Atau Afrika. Kemanapun, selama jauh dari Anson.


"Kalau begitu, siapa yang mewakili urusan hukum Mr. Mallory di pengadilan? Kutebak, dia tidak datang langsung."


"Tebakan yang bagus, Mr. Ritz. Dia tak pernah datang secara langsung. Dia menyerahkan urusanya pada pengacaranya."


"Bisakah anda memberikan nama pengacara tersebut? Saya akan memulai penyelidikan pada pengacara Mr. Mallory, mungkin dia akan membawa saya pada kediaman baru Mr. Mallory."


Mr. Ritz memberikan sebuah kertas memo, meminta Alice menuliskan nama pemgacara Anson.


"Baiklah, saya akan mengusahakan yang terbaik untuk anda, Ms. White," katanya tersenyum, menyemangati Alice.


"Bisakah kau menjamin kerahasiaan misi ini?" Alice bertanya memastikan.


"Tentu saja. Rahasia klien adalah prioritas utama kami." Mr. Ritz mengangguk, meyakinkan.


Alice berdiri dengan senyum puas. Dia meninggalkan Mr. Ritz penuh keanggunan.


...


"Kopi?" Rachel menawarkan secangkir cairan hitam pekat kesukaan Alice.


"Kau selalu tahu yang kuinginkan, Rachel" Alice tersenyum, menerima cangkir darinya.


Malam ini, Alice mampir untuk berkunjung ke rumah Rachel. Dia perlu keluar untuk membebaskan beban mentalnya karena selalu memikirkan keberadaan putranya. Suara tangisnya, cecapan mulut mungilnya, matanya yang membulat sempurna, semua kenangan itu semakin membuat Alice nyaris gila setiap saat.


"Kau sudah mendapat kabar terbaru dari detektif itu?" Rachel membuka topik percakapan yang sebenarnya ingin dihindari Alice.


"Belum. Kupikir, dia perlu waktu lebih lama lagi untuk mencari bayiku." Alice mengangkat bahu, merasa sedikit tertekan membahas masalah ini.


"Sudah dua bulan, Alice. Apakah perlu selama itu untuk mencari keberadaan seseorang?" Rachel mendesah frustasi.

__ADS_1


"Entahlah Rachel. Kita semua tahu Anson bukan orang sembarangan. Pasti dibutuhkan usaha yang luar biasa untuk mengorek informasi tentangnya." Alice tertawa kecil, menguatkan dirinya sendiri.


"Bukankah dulu kalian saling bertemu di acara amal? Bagaimana jika kau mulai menghadiri lagi acara-acara semacam itu? Mungkin saja kau bisa menemukanya." Rachel mencoba memberi solusi.


Alice mengerutkan keningnya lama. Dia seperti berfikir keras untuk mengambil langkah selanjutnya. Sepertinya, dia sudah terjebak dengan sejenis sindrom kehati-hatian.


"Aku, sebenarnya enggan berurusan denganya secara langsung, Rachel. Jika aku bertemu denganya, memang apa yang harus aku lakukan? menyapa dan berbicara basa-basi? Atau memintanya langsung untuk mengijinkanku membawa Axel? Kau pikir itu akan berhasil? Dia hanya semakin merendahkanku, Rachel. Yang lebih parah, dia pasti menganggapku mengusik kehidupanya dan bisa saja membunuhku," Jawab Alice sarkatis, tersenyum getir.


Rachel bergidik ngeri. Dia mengambil biskuit dari rak penyimpanan, mengangsurkanya pada Alice dan menawarkan beberapa cemilan lain.


"Apa kau yakin dia sanggup melakukan itu? Membunuhmu?" Rachel bertanya lirih.


Alice berdiri gelisah, menolak semua sajian yang ditawarkan oleh sahabatnya. Dia mengetuk-ngetukkan sepatu berhak rendahnya di lantai dengan berirama.


"Mungkin. Aku lebih suka menganggap yang terburuk darinya." Alice tampak pias.


Untuk seseorang yang suka bermain dalam dunia gelap, membunuh pasti menjadi hal yang umum. Hukum rimba selalu berlaku. Siapa yang kuat, dia yang menang.


"Alice ... apakah kau menyesal mengenalnya? Apakah kau merindukanya?" Rachel bertanya hati-hati.


"Aku membencinya, Rachel," jawab Alice terlalu cepat.


Rachel mengangkat tanganya menyerah. Alice bisa mengaku membenci Anson ribuan kali, tetapi ekspresi dan sorot matanya menampakkan hal yang sebaliknya. Alice hanya membohongi dirinya sendiri.


Ponsel Alice berdering nyaring. Dia mengerutkan kening, tak menyangka akan mendapat panggilan selarut ini dari pihak kantor detektif yang ia sewa. Apakah akhirnya Mr. Ritz berhasil menemukan kediaman Anson? Apakah akhirnya dia bisa menemui putranya kembali?


Namun, bukan kabar bahagia yang yang ia terima. Sebuah fakta baru menggebrak kesadaran Alice dengan sangat keras.


Alice menyudahi pembicaraan itu dengan wajah pucat pasi. Lenganya mencengkeram ujung kursi dengan sangat erat, seolah-olah benda itu adalah penopang kehidupanya.


"Alice, apakah semuanya baik-baik saja?" Rachel tampak khawatir. Dia berjalan tergesa mendekati sahabatnya.


"Detektif yang aku sewa telah meninggal. Dia terbunuh dengan sebuah peluru jarak jauh tadi pagi. Pelakunya belum bisa dipastikan."


Rachel dan Alice saling terdiam lama. Mereka sama-sama tahu kemungkinan pelaku utamanya adalah Anson. Entah bagaimana lelaki itu bertindak, dia pasti telah merasa diusik dengan kehadiran detektif yang terlalu lancang menyelidikinya.

__ADS_1


"Ya Tuhan. Siapa sebenarnya Anson?" Rachel sama terguncangnya dengan Alice.


...


__ADS_2