
Tiga belas hari berlalu dengan cepat. Hari berganti minggu. Hingga tak terasa, tibalah hari pernikahan Alice dengan Klayver.
Pernikahan mereka digelar dengan sangat luar biasa. Dari awal, Klayver telah mengatakan akan mendeklarasikan pernikahan mereka secara terbuka. Dengan kata lain, dia sengaja memancing dirinya sendiri untuk diakui di kalangan atas dan para kaum arsiktokrat. Itu adalah salah satu usaha agar ia bisa menyusup semakin dalam di dunia kaum bangsawan. Dia perlu menerjunkan diri sepenuhnya dengan identitas sebagai suami bangsawan kaya.
Alice berdiri dengan gaun berwarna putih gading dengan desain yang rumit. Ia mengucapkan sumpah setia bersama Klayver disaksikan oleh ribuan undangan. Mereka bergandengan tangan, memberikan pertunjukan luar biasa.
Dekorasi pernikahan ini jelas bukan dekorasi abal-abal. Sebuah aula gedung dengan luas nyaris tiga ribu meter disulap menjadi ruangan yang penuh romantisme.
Klayver, melakukan sesuatu yang sangat di luar dugaan. Meskipun kepribadianya cukup introvert, tetapi dia menunjukkan ketulusan dan kelembutan sikapnya untuk Alice di hadapan banyak orang.
Sikap lebih ampuh daripada kata-kata. Tatapan tulus Klayver bagaikan sebuah magnet yang mampu menyita perhatian masa kepada mereka. Bahkan, Rachel berhasil mereka tipu.
Pernikahan ini bukanlah pertunjukan drama romantisme berlebihan sehingga membuat orang mual. Tetapi mereka menyuguhkan sikap alami dan sorot pemujaan palsu yang terkesan mendalam.
Tak jauh dari sisi Alice, Rachel menitikkan air mata karena terharu. Ia menyeka sudut wajahnya dan tersenyum kecil. Alice sungguh beruntung. Dia mampu menemukan cinta secepat ini. Setelah segala jatuh bangun yang ia alami sebelumnya, akhirnya sahabatnya mampu menemukam surga kembali. Lebih dari segalanya, Rachel bersyukur atas semua itu.
Kini, tinggal kisah hidupnya yang masih tak memiliki arah. Pernikahanya kacau, pasanganya hanya sekedar pasangan sementara, dan hidupnya hambar tak memiliki arti. Maxen bahkan tak perlu repot-repot hadir untuk menemaninya ke acara ini.
Menjelang malam, tamu masih ramai berdatangan. Rachel masih setia menemani Alice. Dia mempertahankan senyum palsu dengan sempurna.
"Rachel, apakah kau baik-baik saja?" Alice bertanya khawatir, merasa ada yang tidak beres dengan reaksi temanya.
"Baik. Hanya saja, pesta pernikahan membuatku sedikit trauma." Rachel tersenyum canggung. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana rasa sakit yang ia miliki saat Harry meninggalkan selembar surat sebagai alasan kepergianya dari pernikahan mereka. Semua itu masih terlalu tajam di ingatan Rachel.
"Bagaimana jika kau menenangkan diri di halaman belakang. Situasi di sana lebih nyaman sehingga kau tak perlu teringat akan kenangan lamamu." Alice menyentuh bahu Alice dengan lembut. Dia memahami rasa sakit yang dialami Rachel dan berinisiatif meringankan beban yang temanya rasakan.
"Oh, baiklah. Kau tak apa-apa jika kutinggal sebentar?" Rachel sedikit khawatir.
"Pergilah, Rachel." Alice tersenyum dengan tulus.
Setelah Rachel berlalu pergi, Klayver segera mendekat ke arahnya. Tidak ada sentuhan secara fisik yang lelaki itu berikan. Tetapi entah kenapa, auranya yang kental sudah lebih dari cukup sebagai isyarat keberadaanya.
"Kau menikmati pesta ini?" tanyanya datar. Jarak mereka cukup dekat. Klayver sedikit menunduk saat melontarkan pertanyaan sehingga posisi mereka terkesan romantis.
"Tidak terlalu. Kapan kita akan mengakhiri pertunjukan konyol ini?" tanya Alice dengan nada dingin. Aura yang Klayver bawa sangat mendominasi. Alice tak terlalu suka dengan keangkuhan Klayver yang terbentuk secara otomatis.
"Sebentar lagi. Aku sedang mengumpulkan petunjuk dari beberapa orang," jelas Klayver dengan senyum kecil.
Alice sedikit terkejut. Dia jarang melihat Klayver tersenyum seperti ini. Melihat ia melakukanya, sedikit menarik rasa ingin tahu yang dimiliki Alice.
"Petunjuk? Tentang apa?" Alice mencecar Klayver.
Klayver mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Dia membisikkan sebuah kalimat persis di telinga Alice. Suara baritonya terdengar dalam dan berat.
"Tentang beberapa hal. Salah satunya adalah tentang orang-orang yang kucurigai sebagai musuhku dan tentang orang-orang yang terlibat kematian mendiang suamimu."
Alice mundur beberapa langkah. Kata-kata Klayver terlalu menggelitik urat syarafnya sehingga Alice merasa terganggu. Dia mencoba memutus kontak mereka dan menoleh ke sembarang arah. Setelah beberapa saat, Alice kembali menghadap Klayver dan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Apakah semua orang-orang itu di sini?" Alice tak yakin.
__ADS_1
Klayver kembali tersenyum. Kali ini senyumnya lebih dingin dan lebih kejam. Seolah-olah dengan senyuman itu dia siap membunuh dan membantai banyak orang.
Alice mengkerut menahan reaksi ketakutan yang tak wajar. Berada di dekat orang ini jelas tak sederhana. Semua emosinya bagaikan diaduk-aduk seperti roller coster. Adrenalinya selalu dipompa di luar batas maksimal.
"Aku menebak sebagian besar ada di sini. Itulah keuntunganya menggelar pernikahan dengan acara besar dan mengundang semua orang yang berpengaruh."
Alice mengangguk kecil. Dia selalu salut dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Klayver. Lelaki ini cukup detail dalam merencanakan sesuatu sehingga Alice menyebutnya sebagai the king of planner.
"Mari kita membuat pengalihan sebentar. Berdansalah denganku."
Klayver mengulurkan tangan dan berlutut dengan anggun. Banyak pasang mata mulai menatap ke arah mereka dan mengungkapkan teriakan takjub. Siapa sangka lelaki yang sekilas terkesan dingin mampu bersikap seluar biasa itu pada istrinya. Sungguh pasangan yang sempurna. Alice benar-benar beruntung mendapatkanya.
Alice memejamkan mata. Dia tak memiliki pilihan lain selain menerima ajakan Klayver. Banyak pasang mata telah tertuju pada mereka. Sangat tak etis jika ia menolak permintaan lelaki yang kini telah berpredikat sebagai suami sah Alice.
Namun, memikirkan akan bergerak bersama dalam sebuah tarian dengan seorang pembunuh benar-benar menurunkan mentalnya hingga di tingkat terendah. Semua yang ada pada diri Klayver terlalu rumit dan menakutkan. Sering kali Alice tak bisa menebak arah pikiran lelaki ini.
Tangan Alice sedikit gemetar saat ia menyambut uluran tangan Kalyver. Jari-jemari lelaki ini terasa hangat, kuat, dan kokoh. Alice semakin merasa rapuh dan tak berdaya.
Dengan pelan, Klayver membimbing Alice menuju lantai dansa. Sebuah lagu mellow tengah mengisi ruangan ini. Alunan dari Violin menambah romantis suasana. Dengan gerakan luwes, lelaki ini mulai mengambil gerakan pertama yang segera diikuti oleh Alice.
Tatapan Alice tertunduk dalam. Pandanganya hanya ia arahkan ke lantai keramik berwarna krem. Keringat dingin mulai membajiri tengkuk dan telapak tanganya. Dia mengernyit beberapa kali saat ia tak sengaja menabrak kaki Klayver yang kokoh.
Kedekatan Klayver tidak membawa keuntungan sama sekali pada Alice. Yang ada justru ketakutanya seolah membesar berkali-kali lipat. Hawa dingin dan kejam yang lelaki ini miliki semakin terasa mengganggu Alice. Membuat udara yang ia hirup terasa berat setiap saatnya.
"Kau tegang." Klayver berkata ringan. Dia memahami reaksi berlebihan yang Alice miliki. Kedua tanganya terasa lembab karena keringat dingin yang wanita produksi secara berlebih.
Alice hanya terdiam. Dia tak berniat meladeni pertanyaan simbolis Klayver. Untuk apa ia menjawab jika kenyataan sudah terpapar jelas di hadapan mata.
"Ya." Alice mengangkat kepalanya dan bersirobok dengan mata Klayver yang berwarna emas. Gerakanya yang tiba-tiba membuat mereka saling menatap dalam jarak yang cukup dekat. Sangat dekat.
Dari dulu, Alice memang tak terlalu ahli jika berurusan dengan seni tari atau tarik suara. Keahlianya yang paling menonjol adalah dalam bidang eksak. Matematika, Fisika, Kimia, dan semacamnya. Itulah kenapa ia tertarik berkecimpung dalam dunia bisnis. Karena dunia itu seolah menjadi passionya sejak dulu.
Alice kembali menundukkan kepala, mengikuti gerakan Klayver yang sangat luwes. Dalam hati, dia tak menyangka lelaki ini cukup ahli dalam menari. Tubuhnya lentur dan gerakanya alami. Sangat kontras dengan dirinya. Ambrul adul tak karuan.
Lelaki ini membawa kejutan baru baginya. Dari semua hal yang mampu Alice tebak, menari jelas tidak masuk di daftar teratas.
Selain menari, Kalyver juga pandai memasak. Alice pernah mencoba masakanya dan mengakui dengan berat hati bahwa lelaki ini cukup layak disebut sebagai ahli. Melebihi Rachel. Dia seolah-olah bagaikan sosok makhluk yang multi skill. Apapun mampu ia lakukan. Bakat yang paling menonjol tentu saja berkaitan dengan profesi gelapnya. Pembunuh bayaran.
Setelah musik selesai dua putaran, Klayver memutuskan untuk menghentikan dansa mereka. Alice menarik nafas lega. Setidaknya, ia merasa aman sekarang. Keluar dari kungkungan aura jahat dan kejam milik Klayver.
Alice melihat Axel berlari-lari kecil mendekatinya. Ia segera berlalu meninggalkan Klayver dan menyambut putra satu-satunya. Binar-binar kebahagiaan di mata Alice semakin membuncah seiring setiap langkah yang ia ambil untuk mendekati Axel.
"Mom, kau sangat luar biasa menari bersama … bersama … Mr. Vaquez," puji Axel terbata-bata. Ia masih canggung menyebut Klayver. Sepertinya anak ini enggan memanggilnya sebagai Dad. Alice memahami situasi ini dan tidak terlalu memaksa putranya. Bagaimanapun juga, Axel masih terlalu kecil untuk mengerti seluruh situasi yang ada.
"Oh, benarkah? Kupikir aku menjadi penari yang sangat buruk." Alice melirik ke sekitar dan menarik nafas lega saat ia menyadari Klayver sudah tidak ada di sekitar mereka. Lelaki itu entah pergi ke mana. Langkahnya selalu tak terdeteksi sama sekali.
"Tidak, Mom. Sebenarnya jika boleh jujur, kau sangat-sangat payah dalam menari." Axel menutup mulut kecilnya setelah membuat pengakuan tersebut.
Alice tidak marah. Dia justru tertawa lebar dan mengacak-acak rambut putra kesayanganya. Anak ini meskipun usianya masih lima tahun, tetapi kecerdasanya berada di atas rata-rata. Alice selalu merasa bangga denganya.
__ADS_1
"Apakah aku menyinggung Mom?" tanya Axel tanpa raut muka bersalah sama sekali.
"Ya. Kau sangat menyinggung hatiku, Sayang. Jangan lakukan itu lagi," kata Alice dengan senyum lebar.
"Oh, yang benar saja. Berlatihlah menari jika kau tak ingin diejek lagi olehku, Mom. Gerakanmu sangat memalukan." Axel berkacak pinggang seperti orang dewasa. Kedua matanya menyorot tajam, seperti sorot mata yang dulu dimiliki oleh Anson.
Ya Tuhan. Mengingat tentang sosok tersebut selalu membuat hatinya perih. Dia menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan kepedihan yang tiba-tiba melandanya.
"Apakah aku sepayah itu?" tanya Alice tak yakin.
Axel mundur beberapa langkah, melakukan beberapa gerakan menari untuk memperagakan pada Alice dengan pola yang ambrul adul dan terlalu kaku.
"Begitulah tadi Mom menari. Oh tidak, bukan seperti itu. Mom lebih parah dua kali lipat."
Alice tersenyum mendengar lawakan putranya. Dalam hati, ia bersyukur Axel sedikit demi sedikit telah berhasil kembali seperti sebelumnya. Tak lagi terjebak pada penderitaan dan rasa kehilangan yang berlarut-larut.
"Axel," panggil Alice hati-hati. Ia berlutut, untuk mensejajarkan tinggi dengan putranya.
Dahi Axel berkerut serius. Dia seperti menangkap situasi bahwa ibunya akan menyampaikan sesuatu yang cukup penting.
"Boleh Mom minta sesuatu?" tanya Alice serius. Nadanya sedikit diturunkan, sehingga hanya mereka berdua yang mendengarnya.
Axel mengangguk penuh semangat. Alice adalah satu-satunya wanita yang paling berati baginya. Dia ibu, sahabat, dan sekaligus merangkap sebagai ayah selama setahun terakhir ini. Tentu saja apapun yang Alice inginkan akan selalu menjadi skala prioritas Axel. Apapun itu.
"Jika kau masih belum siap memanggil Klayver daddy, Mom tak akan memaksamu. Mom tahu daddy Anson selalu menjadi daddy terbaik bagimu. Tetapi Mom minta, bisakah jika di tempat umum, kau memanggil Klayver sebagai Daddy? Hanya di tempat umum saja. Mari kita mulai bermain sandiwara mulai sekarang. Kau mau?"
Axel menggoyang-goyangkan badanya ke kiri dan ke kanan. Dia seperti sedang berpikir keras. Setelah beberapa waktu berlalu, dia menatap Alice dengan pandangan bertanya.
"Apakah jika di rumah saat sedang ada pelayan aku juga harus memanggilnya Dad?" tanya Axel penasaran. Dia masih tak tahu kenapa Alice memintanya bermain sandiwara. Tetapi Axel cukup antusias membayangkanya.
Alice terdiam sejenak. Dia kembali teringat oleh kata-kata Klayver sebelum ini. Lelaki itu berspekulasi bahwa ada orang dalam yang membocorkan informasi mengenai Anson. Dalam hal ini, orang dalam yang dimaksud Klayver bisa siapa saja. Jika dia ingin segalanya berjalan lancar, ia harus menjadikan sandiwara ini secara sempurna. Jangan ada celah.
"Ya. Bahkan jika di depan pelayan. Di depan Aunty Rachel dan Uncle Daniel pun kau juga harus memanggilnya Dad. Oke?"
Alice melirik ke seluruh ruangan. Malam ini ia tak melihat keberadaan Daniel sama sekali. Ada apa dengan lelaki tersebut? Apakah ia cukup sibuk dalam urusan bisnisnya sehingga tak memiliki waktu untuk menghadiri pernikahan Alice?
Alice menggeleng kecil dan hanya menebak-nebak alasanya. Perhatianya kembali pada Axel dan mengusap lembut lengan kecil putranya.
"Baiklah, Mom. Aku mau melakukan sandiwara ini." Telunjuk dan jari tengah Axel mengacung ke atas, membentuk sebuah janji dengan raut muka yang serius. Alice tersenyum lembut dan merasa puas. Putranya benar-benar luar biasa.
Tak berapa lama setelah mereka berbincang, Klayver mendekati Alice. Dia mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa urusanya telah selesai. Alice balas mengangguk untuk merespon bahasa isyarat yang lelaki itu lemparkan padanya.
"Hai Klayver, emh … hai Dad," Axel memandang Klayver dengan takut-takut. Entah kenapa, sosok di hadapanya ini membuat ketakutan Axel semakin membesar setiap kali berdekatan denganya.
Kalyver menatap Alice dan Axel secara bergantian. Raut mukanya tak terbaca. Dia akhirnya mengambil kesimpulan dan mengangguk kecil.
"Hai juga, jagoan," katanya datar. Tidak ada kehangatan dan kelembutan sama sekali. Alice membulatkan matanya dan mendesah kecil. Bagaimana hubungan mereka akan berkembang baik jika reaksi Klayver saja dingin seperti ini? Ya Tuhan, hidup Alice mulai rumit.
Saat Alice tenggelam pada keputusasaan, tiba-tiba seorang tamu lelaki datang menyapanya. Dia berjalan beriringan dengan William. Alice mengernyitkan dahi dengan ragu. Mungkinkah ia teman William?
__ADS_1
"Nyonya, selamat atas pernikahan ini. Malam ini saya membawa teman sekaligus bawahan kepercayaan. Perkenalkan. Namanya Harry. Harry Millian."
…