Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
043 - SEASON 2


__ADS_3

Alice menggigit bibir. Dia menatap Violin dengan keterkejutan baru. Sinar matanya meredup. Ada duka dan ketidakberdayaan.


Harusnya Alice sudah memperkirakan semua ini. Violin adalah orang yang sangat peka pada semua kondisi. Mustahil bagi Alice untuk bisa membohonginya.


Mungkin, Klayver masih bisa menutupi semua dari Violin. Tetapi yang jelas Alice tidak. Kemampuannya dalam bersandiwara dan menyembunyikan ekspresi sangatlah buruk. Klayver pernah berkata perasaan Alice bagaikan sebuah buku yang mudah dibaca siapa pun.


"Pernikahan kami terjadi karena adanya sebuah kesepakatan. Katakanlah, kami memiliki simbiosis mutualisme. Tetapi aku tidak pernah memiliki niat buruk untuk menghancurkan Klayver ataupun semamacamnya. Percayalah padaku, Violin. Aku bukan musuh dalam selimut."


Alice memilih jujur dan meyakinkan mertuanya. Sangat bodoh jika ia terus berura-pura segalanya baik-baik saja dan tetap melanjutkan sandiwara. Dia tak ingin terus menentang Violin.


"Sudah kuduga." Violin menarik nafas berat.


Dari awal, pribadi Alice sudah menjadi pertanyaan bagi Violin. Wanita itu terlalu berbeda dengan Klayver. Dia memiliki kecantikan fisik diatas rata-rata. Sikapnya terkendali bak arsiktokrat. Alice memancarakan kelembutan alami sebagai seorang wanita dan kesetiaan mutlak layaknya seorang istri.


Sementara Klayver adalah kebalikan dari Alice. Karakternya keras, dominan, berego tinggi, dan memiliki pribadi kelam. Memang tidak mustahil bagi Klayver untuk memiliki wanita cantik karena dia juga menjadi lelaki incaran. Tetapi jika wanita itu juga dilengkapi dengan karakteristik sempurna dan keindahan watak bak malaikat, semua itu sulit untuk dimasukkan nalar.


Kehidupan akan membawa seseorang pada arus yang sama. Pencuri akan bertemu dengan seorang pencuri juga. Pembunuh akan bersinggungan dengan penbunuh juga. Mafia akan bertemu dengan sesama mafia juga.


Iblis dan malaikat seperti Klayver dan Violin adalah suatu kemungkinan yang sangat langka untuk dipertemukan secara alami. Kecuali Violin memiliki sisi gelap atau Klayver memiliki setitik cahaya.


Violin berkesimpulan ada sebuah rahasia dalam pernikahan mereka. Entah apa itu, sesuatu itu mengantarkan pada kebersamaan.


"Apakah kau membenciku, Violin?" tanya Alice sedikit takut. Jujur, dia tak terlalu ingin memancing apa pun yang bisa membuat Violin marah. Wanita itu sangat kompleks. Sedikit saja salah kata, bisa membangkitkan emosinya yang menakutkan.


"Benci? Bagimana aku bisa membenci wanita sepertimu?" Violin balas bertanya.


Jika bisa, dia justru berharap Alice akan menjadi menantu untuk selamanya. Sangat sulit untuk memiliki wanita seperti Violin. Klayver gila jika ia tak mempertahankan istri sempurna seperti Alice.


"Kupikir, kau akan membenciku." Alice merasa lega. Setidaknya, Violin cukup dewasa menerima kenyataan ini.


"Tidak. Bagaimana pun juga, kau tetaplah menantuku. Alice, jika suatu hari nanti kau menemukan masalah, apa pun itu, kau bisa datang padaku. Rumah ini selalu terbuka lebar untukmu. Bagiku, kau sudah seperti putriku. Aku berharap hubunganmu dengan Klayver akan berhasil. Tetapi jika nanti semua itu gagal, kau masih tetap memiliki keluarga Liecester." Violin berkata tulus.


Sebelah tangan Violin meremas jari-jemari Alice dan tersenyum keibuan. Alice memiliki sisi yang rapuh. Sisi ini telah membangkitkan keposesifan tersendiri dari Violin. Dia tak ingin dunia yang keras melukai Alice dengan kejam.


Mendengar penuturan Violin, Alice balas meremas tangan mertuanya dan tersenyum kecil. Dia telah lama tidak merasakan kasih sayang orang tua. Dilindungi dan diterima seperti ini membuat hatinya menghangat.


Prasangka-prasangka buruk tentang Violin yang Alice bentuk di dalam hatinya mulai berkurang. Wanita ini ternyata menyimpan kelembutan. Tidak selamanya dia bersikap kasar dan keras. Sisi keibuannya bisa keluar secara alami untuk memberikan perlindungan.


"Terimakasih." Tanpa sadar, sudut mata Alice mengalirkan air bening. Dia menatap Violin dengan senyum kecil yang lemah.


"Jangan menangis. Kau sudah menjadi seorang Liecester. Keluarga kami sangat kuat dan tidak membiarkan air mata menitik jatuh. Be strong, Alice!" Violin menepuk bahu Alice dengan kuat.


"Aku akan menjadi kuat. Aku janji, Violin. Aku janji."


"Bagus. Aku suka semangatmu."


Violin berdiri dan mengajak Alice kembali turun. Dalam hati, Violin berencana untuk membiarkan kondisi ini dulu. Belum saatnya ia ikut campur.


__ADS_1


Malam ini, Maxen dan Rachel duduk di ruang tengah menghabiskan waktu bersama. Binar mata mereka menampakkan kebahagiaan. Cinta telah membuat mereka menyatu dengan cara yang luar biasa.


"Aku tak pernah menyangka akhirnya kau benar-benar mencintaiku." Maxen menatap wajah lembut istrinya. Rambut pirangnya bagaikan surai malaikat yang turun dari surga.


Rachel menyuruk pelan ke dalam pelukan Maxen dan menikmati aroma khas suaminya. Senyum wanita itu menghangat.


"Kehidupan tidak pernah ada yang tahu akan berakhir seperti apa. Setiap hal memiliki jalannya masing-masing." Rachel berkata lirih. Dia menatap wajah maskulin suaminya dan mengecup rahangnya yang baru saja ditumbuhi jambang baru.


"Aku bahagia memilikimu. Kupikir, aku sudah terlanjur mencintaimu cukup lama."


"Oh ya?" Rachel menaikkan satu alisnya, merasa tak percaya.


Maxen terkekeh kecil. Dia ingat saat itu ia melihat Rachel diperkenalkan oleh Harry beberapa tahun yang lalu. Sekali melihat, Maxen memiliki emosi aneh yang meluap-luap.


Hasrat asing mulai terbentuk sejak pertama ia menatap wajah lugu Rachel. Saat itu dia memiliki keinginan terpendam untuk memiliki dan mengklaim Rachel sebagai miliknya.


Perasaan yang cukup aneh memang. Tetapi itulah yang terjadi. Saat mengetahui bahwa Harry sudah berniat melamarnya, Maxen jadi memiliki kebencian yang mendalam.


Kemarahannya muncul dengan tiba-tiba. Dia tak rela lelaki lain, bahkan adiknya sendiri memiliki wanita tersebut. Padahal saat itu, dia bahkan belum mengenal Rachel dengan cukup dalam.


Untuk menyikapi emosinya yang tidak normal, Maxen menutupinya dengan bersikap antipati terhadap Rachel. Dia menjauh, menjatuhkan nama Rachel, mengatakan wanita itu tak pantas masuk dalam keluarga Millian dan bla bla bla. Semua alasan dangkal yang bisa ia buat-buat.


Semua tindakannya membuat keluarga lain ikut terprovokasi. Bagaimana pun juga, Maxen telah menjadi kepala keluarga. Kata-katanya didengarkan banyak pihak. Tindakannya ketika menyudutkan Rachel membuat yang lain juga bersikap antipati.


Hingga kemudian saat tiba-tiba Harry mengatakan untuk menikahinya, semua anggota keluarga Millian geger. Mereka sudah terlanjur mengikuti opini Maxen dan mencoba menolak keberadaan Rachel.


Semua itu membuat Maxen berpikir ulang. Sikapnya tak pernah logis sepanjang mengenai Rachel. Wanita itu terlanjur ia benci karena alasan konyol yang tak ia mengerti. Hanya karena Maxen tak bisa memilikinya secara utuh.


Maxen mengumpulkan semua keluarga dan meminta mereka agar tak bersikap subjektif terhadap Rachel. Bagaimana pun, jika Harry cukup serius untuk menikahinya, mereka semua harus menerima Rachel dengan baik.


Lagi-lagi, keluarga Millian mendengarkan titahnya. Terutama Alana, ibu Harry. Dia mulai menerima Rachel dan bersikap baik.


Higga kemudian tragedi tersebut terjadi. Tanpa alasan jelas, Harry meninggalkan Rachel sebelum acara pernikahan dimulai.


Entah lelaki itu gila, atau cukup bodoh sehingga meninggalkan permata di detik-detik terakhir. Otak Maxen berputar cepat dan membalikkan keadaan sehingga ia mengambil kesempatan tersebut sebagai jalan baginya untuk memiliki Rachel.


Dengan alasan nama baik keluarga dan sebagainya, Maxen mendorong Rachel menikahinya dan mengatakan semua itu untuk sementara waktu.


Dalam hati, Maxen berjanji dengan waktu sedikit ini ia bisa membuat Rachel terikat padanya dan tidak lagi berpaling.


Saat ia sudah mulai menyerah karena sikap Rachel yang tidak mudah ditaklukkan, dia dikejutkan dengan reaksi asing yang Rachel berikan untuknya.


Bahkan, di luar dugaan, wanita itu bersedia menatapnya dan memberinya sesuatu yang sebelumnya ia pikir tak mungkin. Yaitu cinta.


Bagaimana mungkin Maxen tidak bersyukur atas kenyataan ini? Tuhan sedang menbuat keajaiban. Wanitanya, satu-satunya sosok yang ia inginkan, kini mencintainya.


"Rachel, aku sangat beruntung memilikimu. Kuharap pernikahan kita akan bertahan untuk selamanya." Maxen mengelus puncak kepala istrinya dan mengecupnya pelan.


"Benar. Aku suka pernikahan yang langgeng. Aku ingin memiliki banyak anak. Dulu, cita-citaku memiliki rumah yang ramai dengan anak-anak." Rachel bersandar di dada bidang Maxen, matanya mulai berbinar membayangkan banyak hal.

__ADS_1


Rachel merasa ada sesuatu yang salah saat Maxen hanya terdiam lama tanpa menanggapi satu kata pun. Dia melirik Maxen, terkejut melihat air mukanya yang menggelap.


"Ada apa? Kau tak suka anak-anak?" tanya Rachel tak mengerti.


Maxen menatap Rachel dengan intens.


"Rachel. Harry benar. Aku memiliki sisi kelam yang sangat gelap. Aku hanya berharap … kau masih sanggup berdiri di sisiku hingga akhir. Sekali pun kau tahu semua keburukan yang aku punya." Maxen berkata serius.


Maxen telah lama tenggelam dalam kegelapan. Dia berkawan dengan iblis. Cahaya adalah sesuatu yang telah lama tidak ia lihat. Berharap jika suatu hari nanti Rachel mengetahui siapa dia sebenarnya, wanita itu cukup kuat bertahan di sisinya.


"Maxen, setiap orang selalu memiliki sisi kelamnya sendiri. Aku tak ingin memaksamu untuk mengorek semua itu darimu. Aku hanya berharap kau percaya tidak selamanya kegelapan akan menguasaimu. Selalu ada setitik cahaya untuk menuntunmu pulang."


Maxen tertawa kecil. Dalam hati, dia memiliki kekhawatiran besar mengenai ini semua. Rachel adalah wanita baik-baik. Kemampuannya tak cukup kuat untuk menerima dirinya secara utuh.



Di sebuah tempat lain, di dalam markas tempat William mengorganisasikan organisasinya, dia tengah berbincang-bincang dengan seseorang.


"William, bagaimana jika aku memiliki petunjuk siapa sebenarnya yang membunuh Anson?" tanya Harry duduk tak jauh dari sisi William.


Lelaki tua itu menatap tajam, terkejut dengan apa yang diungkapkan oleh Harry.


Kematian Anson adalah sesuatu yang ditutupi dengan sangat kuat oleh banyak pihak.Meskipun William mencurigai banyak orang, dia tetap tidak bisa mengambil kepastian yang konkret tentang siapa dalang di balik semuanya. Segalanya terlalu rapi. Membongkar kasus ini sangatlah rumit.


Belum sempat William menanggapi informasi Harry, ponsel miliknya bergetar. Dia mengambil benda kecil itu dari saku celana belakang dan mengernyit heran saat melihat nama yang terlihat di layar utama. Klayver.


"Halo, Tuan?" William menjawab panggilan tersebut.


"William, malam ini aku akan tiba di Manhattan. Bisakah kau siapkan organisasimu untuk membahas sebuah kasus?"


"Baik, Tuan. Akan saya kumpulkan mereka semua." William menjawab dengan cara meyakinkan.


"Maaf, Tuan. Jika boleh tahu, apa topik pembahasan malam ini?"


"Aku ingin mengambil langkah-langkah untuk meyakinkan diri mengenai siapa pembunuh Anson sebenarnya."


"Oh, anda telah mencurigai seseorang?" tanya William sedikit terkejut. Dia menatap Harry yang berada di samping, bertanya-tanya dalam hati apakah informasi mereka saling terkait.


"Ya. Aku mencurigai seseorang."


"Siapakah orang itu?" William mengeratkan ponselnya yang berada dalam genggaman.


"Maxen Milliam. Suami dari Rachel, teman Alice."


Wiiliam menoleh kembali pada Harry dan melemparkan pertanyaan.


"Kau memiliki petunjuk pada pembunuh Anson? Jika boleh tahu? Petunjuk itu mengarah pada siapa?" William ingin memastikan.


Harry mendesah berat dan berkata yakin. " Maxen Millian, kakakku sendiri."

__ADS_1



__ADS_2