
Jasmine memandang Klayver dengan raut tak percaya. Dari semua hal yang terjadi di dunia ini, membayangkan Klayver menikah adalah hal yang paling tak mungkin ia lakukan.
Seorang Eyes Evil. Menikah. Membentuk komitmen. Bersama wanita. Memiliki anak tiri.
Kata-kata tersebut jika dirangkai mampu membuat Jasmine terlontar sendiri dari kursi yang ia duduki.
Baiklah. Menikah memang kodrat seorang manusia. Wajar dan selayaknya terjadi. Tetapi Klayver adalah sosok yang terlalu misterius dan jauh dari bayangan seseorang yang mampu mencintai. Mendengar dia menikah itu seperti mendengar besok pagi akan terjadi perang nuklir.
Klayver, yang terbiasa menghabisi wanita setelah percintaan tengah malam, kini mengikat komitmen sakral dengan seorang wanita. Entah ini merupakan anugerah untuk sang wanita, atau musibah yang mengerikan.
"Berhentilah menatapku seolah-olah aku adalah benda keramat, Jasmine. Aku alergi dengan matamu yang melotot seperti itu." Klayver menatap tak suka.
Jasmine mengerjapkan mata beberapa kali dan mendengus tak sopan. Klayver menikah. Bagus. Lelucon yang hebat.
"Aku sangat syok sehingga aku tak bisa tertawa. Kau menikah. Drama apa yang kau mainkan? Huh! Lucu! Sangat lucu." Jasmine melemparkan sebuah tisu bekas ke lantai, membuat ruangan ini memiliki poin tambah dalam hal kekotoran.
Klayver heran, lelaki seperti apa yang bisa bertahan lima menit bersama Jasmine dan saling memadu kasih? Dia cantik, tapi kelakuannya sangat tak tau etika.
"Aku berharap kau bisa menemukan lelaki yang cocok sehingga merasakan cinta dan tidak lagi memperolokku."
Jasmine tertawa geli mendengar penuturan Klayver. Dia menaikkan kedua kakinya semakin tinggi, membuat paha dalamnya mudah terlihat dan tak berhenti tertawa.
Membayangkan cinta membuat Jasmine geli sendiri. Memang di dunia ini ada hal seperti itu?
"Cinta hanyalah dongeng untuk anak balita. Kupikir kau cukup dewasa, nyatanya pikiranmu serendah anak-anak."
Siapa yang menyangka pembunuh bayaran sekaliber Klayver bisa terjebak dengan hal-hal konyol seputar cinta. Sungguh lucu.
"Terserah apa katamu, Jasmine. Pada saatnya nanti, jika kau menemukan serpihan jiwamu dan jatuh cinta setengah mati, giliran aku yang akan menertawakanmu." Klayver mengetuk-ngetukkan sebelah jarinya di atas meja giok. Dia melipat kakinya di bawah meja, berusaha mengontrol emosinya sendiri.
"Baiklah. Silahkan nanti tertawakan aku karena hal itu selamanya tak akan pernah terjadi. Hidupku cukup mapan dengan bisnis dan bisnis. Jika aku harus menikah suatu hari nanti, aku akan menikah dengan uang. Janji setia berupa kemewahan sehidup semati. Selesai." Jasmine tertawa kecil, bangga pada dirinya sendiri yang bisa mengendalikan hidup.
Bisnis Jasmine malang melintang dalam pelacuràn dan ekstasi. Ada satu lagi bisnis kelam yang tak pernah diketahui siapa pun. Hanya segelintir orang yang diijinkan mengetahui. Salah satunya adalah Kalyver. Jadi, secara tidak langsung, mereka terikat pertemanan tanpa kata.
"Hidupmu adalah milikmu. Aku tak peduli bagaimana bobroknya dirimu, seperti ruangan ini yang kau desain indah tapi dikotori dengan hal-hal murahan tingkahmu sendiri. Lama-lama, aku mengasihani diriku sendiri jika terlalu sering berada satu ruangan denganmu."
Klayver menggelengkan kepala. Jika ia memikirkan kembali langkahnya, sepertinys bukan ide yang baik memberikan kepercayaan Jasmine untuk menjaga Alice secara berdekatan. Entah pengaruh apa yang akan wanita itu bawa untuk istrinya yang lembut.
Tetapi, mengingat keadaan genting yang ia alami, Klayver tak memiliki banyak pilihan. Tiga pihak besar di dunia hitam tengah mengincarnya. Dia takut selama pergi membereskan mereka, salah satu pihak ada yang mengetahui keterkaitan Klayver dengan Alice dan menjadikan istrinya sebagai incaran.
Klayver tentu saja akan lebih memilih opsi pertama. Lebih baik menarik Jasmine sebagai pendamping dan pelindung Alice dengan sikapnya yang luar biasa bobrok, dari pada harus mengambil resiko bahaya yang bisa saja menyapa Alice sewaktu-waktu.
__ADS_1
Jasmine adalah pilihan paling masuk akal. Wanita itu selain memiliki kekuatan, juga memiliki koneksi luas. Rahasianya juga terjamin aman. Saat ini, Jasmine solusi yang paling baik.
"Hidupku penuh dengan surga dunia, bagaimana bisa kau berharap aku menjadi malaikat suci tanpa kebobrokan? Wajar jika ruanganku seperti ini. Jangan terlalu sok suci, Ice Boy."
Jasmine membuang puntung rokok di tangannya ke tempat sampah di ujung ruangan. Abu rokonya berterbangan di sepanjang perjalanan sebelum akhirnya benda itu jatuh persis di dalam tempat sampah kecil.
Dengan gesit, wanita itu membuka laci di bawah meja dan mengambil sebatang rokok baru beserta pemantik otomatis. Jasmine mengulurkan rokok, mengisyararkan tawaran tanpa kata dan diterima oleh Klayver. Setidaknya, asap rokok lebih baik dari pada aroma parfum murahan di ruangan ini.
Mereka berdua sama-sama menyesap asap rokok tanpa suara. Masing-masing dari keduanya sibuk dalam pikirannya sendiri.
Setelah sepuluh menit lebih tanpa suara, Jasmine membuang rokoknya yang masih tersisa dan menatap kalyver serius.
"Baiklah. Aku akan membantumu dengan menjaga istri dan putra tirimu. Tetapi pertama-tama, ucapkan harganya terlebih dahulu. Ingat, berilah harga yang fantastis. Aku tak tertarik bisnis abal-abal."
Jasmine tersenyum kecil, merasa bangga bisa mengatakan hal ini. Dua tahun yang lalu ia pernah menyewa jasa Klayver dan tebak apa yang Klayver lakukan. Lelaki keparàt itu memberikan harga yang sangat mahal.
Sekarang, kini giliran Jasmine yang berada di atas awan. Untuk pertama kalinya ia merasa memiliki kendali mengatur bisnis dengan orang sedingin Klayver.
Klayver yang mengetahui niat Jasmine, hanya mendengus kesal. Datang pada Jasmine tentu saja berarti kerugian secara finansial. Wajah wanita itu berubah menjijikkan setiap kali memikirkan tentang keuntungan yang bisa ia raih dari momen seperti ini.
"Apa yang kau minta?" tanya Klayver langsung.
"Mansionmu yang berada di Itali, satu paket bersama kebun anggur di sekitarnya."
Mansion yang ia miliki beserta kebun anggur berhektar-hektar di sekitarnya merupakan salah satu aset favorit Klayver. Jasmine terlalu jeli melihat daftar properti Klayver dan langsung mengarah untuk memiliki mansion tersebut.
"Kau berbisnis dengan orang yang tepat, Klayver. Jasa terbaik membutuhkan harga terbaik juga." Senyum Jasmine kian merekah. Dia tahu Klayver saat ini tak memiliki pilihan lain. Mau tak mau lelaki itu pasti harus menyerah juga.
Siapa yang mengira kerugian dua tahun lalu mampu Jasmine tebus sekarang. Dulu, demi meminta bantuan Klayver, Jasmine harus kehilangan salah satu perhiasan langka yang ia dapatkan dari lelang gelap. Perhiasan itu merupakan harta mahal yang menjadi warisan kerajaan Inggris dua ratus tahun yang lalu.
"Jangan terlalu perhitungan denganku, Klayver. Kau pasti masih memiliki ratusan aset lain yang sama berharganya. Apa ruginya melepaskan satu untukku?"
"Baiklah. Aku akan mengurus surat-surat penyerahan mansion itu melalui pengacara."
Klayver menyerah. Meskipun enggan, tetapi apa yang dikatakan Jasmine benar. Dia masih memiliki aset lain yang tak terhitung. Menyerahkan satu tidak akan membuat dirinya miskin.
"Good Joob. Begitu seharusnya cara kita berbisnis, Sayang …." Mata Jasmine berbinar cerah, bak permata mahal yang paling langka.
"Dua hari lagi, kau harus ikut denganku ke Manhattan dan tinggal satu rumah bersama istri dan anak tiriku. Aku perlu menjemput anak itu dulu sebelum ini." Klayver mencoba menimbang-nimbang.
Saat ini ia tak jauh dari kediaman ibunya. Akan lebih baik ia segera menjemput Axel dan bergegas membawanya pulang bersama Jasmine.
__ADS_1
"Baiklah. Kira-kira, berapa lama aku harus menjaga tuan putri tercintamu itu?" tanya Jasmine tiba-tiba.
Sebuah bisnis harus dibicarakan dengan detail. Jika waktu yang dikehendaki Klayver cukup lama, mungkin Jasmine bisa menegosiasikan bayarannya kembali. Bagaimanapun juga, uanglah yang berbicara.
"Paling lama setengah tahun."
"Oh, sialan kau, Klayver. Aku butuh dilipatkan bayarannya lagi. Mansionmu terlalu murah untuk membayarku selama setengah tahun." Jasmine berdiri mendadak, menghentak-hentakkan kakinya tak terima
Sialan Klayver. Dia bisa mati berdiri hidup serumah menjaga wanita lain selama enam bulan lamanya dan hanya dibayar dengan mansion.
"Apakah kau wanita yang sangat matrealistis?" Klayver bertanya sinis.
"Aku wanita realistis. Jika aku harus menjaga istrimu cukup lama, bagaimana aku mengurusi bisnisku di sini?"
"Kau bisa mengaturnya dari jauh."
"Tapi itu tidak seefektif terjun langsung."
"Baiklah. Apa lagi yang kau inginkan?"
"Berikan aku cek kosong. Biar aku tulis sendiri harga yang pantas untuk jasaku kali ini."
Klayver melemparkan buku cek dari saku kemeja ke atas meja persis di hadapan Jasmine. Dia sudah memperkirakan akan terjadi hal seperti ini. Jasmine terlalu matre untuk sekadar menerima mansion miliknya.
"Bagus. Kau masih menjadi lelaki favoritku."
Klayver tak menanggapi dan memilih keluar dari ruangan tak bermoral milik Jasmine. Dia akhirnya menarik nafas lega setelah terbebas dari aroma murahan yang menyertai wanita tersebut. Jasmine memang kaya. Sangat kaya. Tetapi seleranya tak ubahnya seperti wanita jalanan.
Setelah kepergian Klayver, Jasmine memutarkan pandangan ke segenap penjuru ruangan dan mendesah frustasi.
Sebenarnya, bukan hanya Klayver saja yang merasa sesak terjebak dalam ruangan bobrok miliknya.
Aroma parfum murah berbalut séks dan nikotin terkadang membuat perut Jasmine sendiri mual. Tetapi kehidupan sering kali berjalan tak seharusnya. Terkadang, kita membutuhkan drama untuk menutupi siapa diri kita sesunggugnya.
Di balik penampilan murahan Jasmine, ada jiwa wanita normal yang coba ia sembunyikan.
Dunia kelam telah banyak membuat orang menipu dan tertipu. Penampilan ini adalah salah satu penipuan dangkal yang coba dilakukan Jasmine untuk menutupi diri.
Dengan pandangan lelah, Jasmine mencoba untuk tertawa getir.
Klayver telah menemukan pelabuhannya. Lelaki itu sungguh beruntung. Entah Jasmine akan seberuntung Klayver atau tidak. Jalan hidup terlalu sulit sehingga membuat Jasmine berubah menjadi pribadi lebih keras setiap saatnya.
__ADS_1
Hingga tak terasa, ia kini telah menjadi wanita bobrok yang tak bermoral.
…