
"Kenapa kau membawa wanita itu, Klayver?" Violin menatap tak senang pada putranya saat lelaki itu mengunjungi kediaman keluarga untuk menjemput Axel.
Violin dan James sudah saling memberikan kode pada satu sama lain ketika mereka melihat Jasmine mengekori putra mereka dengan penampilan terbukanya. Wanita itu sekarang tengah duduk di ruang utama dengan selinting rokok di tangan. Tanpa menunggu ditawari, dia telah mengambil sendiri wine kualitas terbaik milik keluarga Liecester. Violin yang melihatnya hanya mencebik tak suka.
"Dia wanita yang akan kubawa pulang untuk menjaga Alice sementara waktu." Klayver menjawab dengan datar.
Tadinya Klayver berniat untuk tidak membawa Jasmine ke kediaman Violin. Tetapi untuk menghemat waktu dan mengejar penerbangan, dia terpaksa membawa wanita itu menjemput putranya langsung.
"Wow. Kenapa istrimu membutuhkan penjagaan? Seandainya pun memang membutuhkan, apakah kau lupa keluarga kita memiliki sumber daya yang besar? Aku bisa menyiapkan beberapa orang untuk menjaga menantuku sendiri, alih-alih menyerahkannya pada wanita làcur yang kau bawa itu." Violin duduk di kursi kerjanya dan menggeleng tak suka.
Pagi ini Violin berencana untuk mengajak Axel jalan-jalan ke taman terdekat. Tetapi suasana hatinya langsung berubah turun di titik terendah melihat Klayver berkunjung dengan membawa wanita asing untuk menjemput cucunya. Acara yang telah ia bicarakan dengan Axel terpaksa dibatalkan.
"Aku perlu meninggalkan Alice untuk suatu keperluan, Mom. Mungkin nanti aku membutuhkan orang-orangmu untuk menemaniku Tetapi yang jelas, aku tak ingin menggunakan orang-orangmu menjaga Alice. Menggunakan mereka sama saja mengumumkan pada dunia bahwa Alice memiliki keterkaitan dengan keluarga Liecester. Kita sama-sama tahu akan lebih baik menyembunyikan hal itu sekarang."
Untuk saat ini, Klayver masih belum menggunakan nama Liecester sebagai nama belakang. Semata-mata hanya untuk mengecoh orang-orang agar mereka tak mengetahui identitas latar belakang Klayver yang sebenarnya.
Beberapa pihak ada yang tahu bahwa putra kedua dari keluarga Liecester merupakan seorang pembunuh bayaran hebat. Sayangnya, putra kedua ini menghilang bertahun-tahun lamanya sehingga orang-orang mulai mengabaikan keberadaannya.
Jika tiba-tiba Klayver membentuk keterkaitan yang cukup mencolok dengan Violin, dia takut orang-orang mulai mencurigai dirinya. Selama ini dia telah berusaha berhati-hati setiap kali berkunjung atau pun membentuk kontak dengan keluarga Liecester.
Bahkan untuk menutupi identitasnya, dia selalu memakai penerbangan komersil alih-alih jet pribadi keluarga Liecester. Untuk masuk ke rumah ini, dia menggunakan kartu kunjungan khusus demi bisa mengelabui banyak orang bahwa status Klayver sekadar pengunjung sementara.
Mengenai Axel, Violin ekstra hati-hati merawat anak itu. Dia melarang cucunya sendiri memanggilnya grandma di depan publik. Bahkan Violin menyebarkan isu jika Axel merupakan anak dari kepala pengawalnya. Semua itu ia lakukan untuk melindungi Axel.
Memiliki keterkaitan dengan keluarga Liecester, selain membawa keuntungan, juga membawa petaka. Banyak pihak-pihak yang mengincar mereka untuk melakukan dendam lama dan menghabisinya tanpa ampun.
Karena itulah, semua anak-anaknya selain Klayver selalu membawa pengawal pribadi di setiap kesempatan. Meskipun mereka dijaga secara diam-diam, tetapi mereka semua terlindungi. Setidaknya, ketiga anaknya cukup kuat dan tidak terlalu memancing masalah dengan pihak lain yang sensitif.
Berbeda dengan Klayver. Walaupun dia kuat, tetapi Klayver terlanjur menyinggung banyak pihak. Satu-satunya cara untuk menutupi identitasnya adalah tidak mengaitkan Klayver dengan keluarga Liecester secara langsung.
"Orang-orangmu memiliki tato khusus di bagian tengkuk. Jika kau mengirim beberapa orang untuk menjaga Alice, keberadaan mereka mudah diketahui dan akan ada spekulasi yang muncul untuk mengaitkannya dengan keluarga Liecester. Semua itu masih belum saatnya terjadi. Aku perlu menghabisi banyak orang dan menguatkan sayap sebelum akhirnya mengakui identitasku sebenarnya. Bisakah kau pahami itu, Mom? Akuilah, wanita itu adalah pilihan terbaik saat ini untuk menjaga Alice."
Violin menyugar rambutnya dengan lemah dan menatap Klayver dengan sorot mata tajam. Dia tak suka, tapi tak berdaya untuk membantah. Apa yang disampaikan Klayver adalah sebuah kebenaran.
Violin selalu menandai orang-orang yang setia padanya dengan sebuah tato berbentuk naga kecil dan dua bintang di daerah tengkuk. Tato itu sudah terkenal sehingga orang yang melihatnya akan otomatis mengaitkannya pada keluarga Liecester.
Jika ia mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk melindungi Alice, tidak menutup kemungkinan malah akan memvawa Alice pada bahaya. Jika ada yang menebak keterkaitan Alice dengan keluarga Liecester pasti akan membuat orang-orang memanfaatkan kondisi Alice yang lemah sebagai sandra atau pancingan ke dalam masalah yang lebih besar lagi.
"Baiklah, aku mengalah kali ini. Tapi bisakah kau menjamin wanita itu tidak akan membawa dampak negatif bagi Axel?"
Klayver hanya bisa menyengir kecil. Memang jika dipikir-pikir, Jasmine yang seperti itu akan membawa pengaruh buruk untuk putranya. Tetapi mau bagaimana lagi? Klayver tak memiliki pilihan banyak kali ini.
"Aku akan bicara tentang hal itu padanya nanti. Kuharap dia bisa sedikit mengendalikan diri jika berada dekat dengan Axel."
__ADS_1
"Sedikit mengendalikan diri, katamu? Dia butuh lebih dari itu. Kau harus memasukkannya ke sekolah etika perempuan dulu. Ya Tuhan, aku tahu reputasi Jasmine. Kau pikir aku tak tahu dia siapa? Setengah New York ini membicarakan tentang betapa jalàngnya dia. Dia patut mendapat penghargaan karena mencetak rumah pelacurån paling banyak di negara ini." Violin berdecih tak senang. Dia berdiri dan berjalan memutari ruang kerja untuk menenangkan diri. Emosinya sedang meluap-luap. Langkah yang Klayver lakukan saat ini membuatnya murka.
"Bukankah itu prestasi hebat? Bahkan kau sendiri tak bisa menyainginya dalam hal usaha seperti itu!" Kalyver terkekeh geli, melihat Violin mondar mandir dengan wajah masam.
Melihat Violin seperti ini adalah sesuatu yang sangat langka. Biasanya Violin selalu pintar menyembunyikan emosi. Hanya hal-hal luar biasa saja yang bisa membuatnya menampakkan emosi terdalam. Saat ini adalah salah satunya.
"Aku tak perlu terjun dalam bisnis seperti itu lagi. Dulu saat aku memiliki bisnis itu, setidaknya aku masih memiliki etika sehingga orang-orang tetap menghargaiku. Tapi lihat dia, caranya bersikap dan berkelakuan tak menyiratkan wanita sama sekali."
"Dress dan stiletto yang ia gunakan menyiratkan bahwa ia wanita sejati kok, Mom." Klayver masih senang menggoda ibunya.
"Dress yang kau sebut itu adalah kain setengah meter dari bahan transparan yang dia letakkan di dada dan jauh di atas lutut. Setiap orang bisa melihat apa yang ada di baliknya."
"Berhentilah menghakiminya, Mom. Kau tak biasanya bersikap seperti ini."
"Aku memang tak biasa menghakimi orang lain. Tetapi orang itu akan kau tempatkan satu rumah bersama istri dan anakmu. Bagaimana bisa aku tak menghakimi?" Violin memukul ujung meja kaca di depannya dengan kepalan tangan. Sepertinya kemarahan ibunya kali ini tak main-main.
"Bisakah kau mengendalikan emosimu, Mom? Saat ini aku benar-benar memerlukan Jasmine."
Suasana menjadi hening. Violin memejamkan mata lumayan lama, menarik nafas secara teratur seperti yang diajarkan instruktur yoga yang ia ikuti dan mengeluarkannya dengan pelan.
Setelah mersa tenang, Violin kembali menatap putranya.
"Baiklah. Demi kebaikan semua pihak, aku memilih mengikuti opsimu kali ini. Pastikan saja dia tak memberi pengaruh fatal pada Alice." Violin menyerah kalah. Dia kembali terduduk dengan lemas di atas kursi. Bukannya simpati, Klayver malah tertawa lebar.
Setiap kali Violin mengalah, dia pasti akan melawan dulu habis-habisan. James sendiri menyebutnya sebagai singa jantan.
"Kenapa kau tidak menggunakan jet pribadi saja alih-alih malah mengejar penerbangan komersil?" Jasmine bertanya ingin tahu saat mereka berada di mobil menuju bandara terdekat.
"Apa kau tak pernah belajar rumus kehati-hatian? Untuk apa aku menggunakan jet keluargaku jika setelah itu yang menburuku akan semakin banyak?" Klayver melirik heran pada wanita yang duduk di sebelahnya.
Klayver mengontrol keadaan Axel lewat kaca spion. Anak itu memilih duduk di depan bersama supir karena malas ikut mendengar perdebatan tanpa ujung antara Klayver dan Jasmine semenjak mereka berada dalam mobil yang sama.
Klayver tersenyum kecil melihat Axel telah tertidur lelap. Kepalanya sedikit miring ke arah kanan dan mulut mungilnya terbuka sedikit, mengeluarkan air liur.
"Oh, kupikir kau suka diburu orang." Jasmine menimpali Klayver dengan mengangkat kedua bahunya tak peduli.
"Antara diburu dan mencari masalah itu berbeda tipis. Kupikir otakmu lebih cerdas dari itu."
"Otakku memang cerdas. Kau saja yang tidak melihatnya."
"Tidak. Otakmu kau letakkan di dada dan pinggulmu, sehingga kau hidup hanya dengan mengandalkan aset tubuhmu."
"Oh ayolah, kita sama-sama tahu nilaiku lebih dari itu semua. Kau seharusnya bisa mengetahui lebih baik dari pada orang lain." Jasmine berkata tak terima. Dia melotot tajam ke arah Klayver dan meluapkan kekesalan.
__ADS_1
"Ya. Otakmu memiliki kelebihan dalam hal merampok dollar dari dompet laki-laki. Itulah kenapa kekayaanmu berlipat setiap waktu."
"Oh, bilang saja kau masih sakit hati karena aku mengambil mansion dan uangmu kemarin." Jasmine berkata sinis. Dia melipat kakinya dengan santai dan mencoba untuk mencari posisi nyaman. Dari dulu, mereka selalu bermain kata-kata. Saling menyerang satu sama lain.
"Jangan bahas hal itu lagi, Jasmine. Sudahlah. Aku lelah." Klayver ikut mencari posisi yang nyaman dan merebahkan kepala. Dia tergoda melakukan hal yang sama seperti Axel. Mungkin perjalanan singkat ini bisa sedikit menghilangkan lelah.
"Kutebak Violin pasti tak setuju kau menggunakan aku sebagai pelindung istrimu tercinta." Saat Jasmine mengucapkan bagian "istrimu tercinta", sudut bibirnya ia tarik sedemikian rupa sebagai sindiran.
Klayver merasa menyesal kenapa ia terlalu mempercayai Jasmine sehingga membuka semua rahasia yang dimilikinya, termasuk tentang identitas keluarga Liecester.
Akibatnya, sekarang wanita itu jadi semakin nyinyir mengomentari setiap hal tentang keluarganya. Benar-benar merepotkan.
"Tentu saja tidak. Kau pikir ibuku gila menyetujui wanita sepertimu berada dalam ruangan yang sama dengan keluargaku?" Klayver terkekeh geli, merasa memiliki bahan untuk mengolok-olok Jasmine.
"Kau sudah terlalu sering menyudutkanku sejauh menyangkut tentang moralitas. Berhenti menghakimi."
"Baiklah."
Klayver tak ingin memperpanjang pembicaraan. Dia juga tak ingin terlalu menghakimi Jasmine. Bagaimanapun juga, hidup Klayver tak ubahnya seperti kegelapan. Percuma dia menilai orang lain karena dirinya sendiri tak lebih baik dari orang tersebut.
"Kita semua sama-sama terjebak pada kegelapan. Apa yang kita harapakan jika bukan olok-olok?" Klayver berkata dengan mata terpejam.
Jasmine menoleh ke luar jendela, menatap jalanan New York yang sangat ramai. Mobil berlalu lalang layaknya permainan otomatis yang siklusnya tak pernah berhenti. Setiap individu selalu disibukkan urusannya sendiri-sendiri.
Beberapa kali, Jasmine melihat gelandangan yang memilih duduk di sudut jalan tanpa alas sama sekali. Hanya tas ransel yang menemani mereka. Tak ada satu orang pun yang peduli. Pejalan kaki meneruskan langkahnya tanpa menoleh. Pengemudi meneruskan perjalanannya dan enggan untuk sekadar berhenti.
Ego. Adalah sifat dasar manusia. Setiap jiwa cenderung memikirkan dirinya sendiri dan hanya menyisakan sedikit kepedulian pada yang lain. Memang menyedihkan, tapi itulah kenyataan hidup. Satu-satunya yang bisa merubah nasib kita adalah tangan kita sendiri. Orang lain tak berperan di dalamnya.
Memang, ada segelintir orang yang masih menyimpan sedikit kepedulian untuk kaum bawah. Tapi yang "segelintir" itu tak akan pernah sanggup menopang beban hidup banyak orang. Yang ada, pertolongan itu hanya untuk sesaat. Setelah itu kejamnya kehidupan akan kembali mereka sapa.
Jasmine pernah berada pada posisi seperti itu. Terasingkan, tersudutkan, dan terbuang. Hingga satu-satunya cara untuk terlepas adalah membuang segala moral yang tersisa.
Biar saja sekarang orang menganggapnya jalång, lácur, atau murahan. Yang jelas, mulut-mulut yang menghakimi itu toh nyatanya tak pernah peduli pada beban hidup yang dulu ia derita. Mereka juga tak memberi sesuap roti saat musim salju tiba hingga pernah ia dulu mengemis hanya untuk sesuap gandum.
Menyedihkan? Memang. Tetapi itulah kehidupan. Berjalan lurus tanpa mempedulikan banyak orang terseok-seok untuk sekadar menjalani hari demi hari.
Kini, saat Jasmine berada di puncak, ia menulikan telinga dan menutup mata pada semua omong kosong yang tak penting. Baginya, selama ia memiliki uang dan harta berlimpah, ia tak peduli dinilai serendah apa.
Bagi mereka yang pernah merasa kelaparan, mereka akan tahu menjadi làcur tidak serendah ketika kau mencari sepotong roti saja tidak sanggup. Hingga kau terpaksa berjalan menadahkan tangan ke setiap orang hanya memakai baju rombeng bekas terkoyak di sana-sini. Udara dingin pernah membuat Jasmine pingsan berulang kali. Dulu dia hidup di London. Setiap musim salju tiba adalah tragedi panjang yang harus ia lalui detik demi detik.
Kini, Jasmine tak perlu lagi merasakan semua itu. Di New York musimnya tidak sekeras London. Udara lebih hangat, rumah mewah menjamin hidupnya, dan semua fasilitas mampu ia beli. Apa lagi yang perlu ia khawatirkan? Hidupnya sempurna.
Peduli setan jika ia harus membayar dengan semua etika yang Jasmine miliki. Etika dan moral tidak pernah bisa mengenyangkan perutmu. Jangan menjadi orang yang terlalu naif. Terkadang, kita harus berpikir realistis.
__ADS_1
Jasmine memejamkan mata sekejap dan memilih untuk tertidur sebentar. Tubuhnya lelah. Jiwanya pun demikian.
...