Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
138 - SEASON 2


__ADS_3

Kaget. Terkejut. Tak menyangka.


Itulah apa yang Daniel rasakan saat ini. Daniel kini berada di ruang tengah rumahnya dengan sebotol wine di tangan. Isi botol itu hampir tandas saat ini. Jam sudah menunjukkan dini hari. Mungkin sebentar lagi fajar. Daniel sudah tak lagi memperhatikan waktu. Satu-satunya yang ia perhatikan adalah ingatannya tentang kabar kehamilan Jasmine yang disampaikan oleh Alice.


Jasmine hamil anaknya.


Jasmine mengandung darah dagingnya.


Jasmine menyimpan benih darinya.


Jasmine …


Nama itu menjadi sesuatu yang saat ini mengacaukan penuh konsentrasinya. Kabar yang dibawa Alice merupakam kabar yang hingga detik ini masih ia cerna dan tak menghasilkan apa pun juga. Daniel sangat terguncang. Sangat. Ia akui itu. Reaksinya masih tak terkontrol untuk bisa menyikapi kabar ini dengan baik. Satu-satunya yang terpikirkan saat fakta itu terungkap dari Alice adalah keinginan yang sangat besar untuk menemui Jasmine dan mengonfirmasi berita ini secara langsung.


Namun, Alice menghalanginya. Wanita itu mati-matian melarang Daniel untuk membuat keributan dengan Jasmine. Membiarkan Daniel dan Jasmine berbicara saat ini hanya akan memperkeruh suasana. Alice mengusulkan Daniel untuk pulang dan merenungkan diri. Berharap dengan seperti ini, Daniel bisa memilah-milah sikap apa yang akan ia ambil ke depannya.


Tidak setiap hari seorang lelaki mendapat kabar ia akan menjadi seorang ayah. Wajar jika Daniel terguncang.


Satu-satunya hal yang bisa Daniel lakukan setelah mendengar kabar tentang kehamilan Jasmine adalah kembali pulang ke rumah dan merenungkan semuanya dengan ditemani sebotol wine. Cairan yang biasanya ia sukai tapi entah kenapa saat ini terasa hambar di mulutnya.


Beberapa bulan yang lalu ketika Daniel melakukan kesepakatan dengan Jasmine di siatu malam, dia telah memastikan diri menggunakan pengaman. Dia adalah orang yang sangat disiplin dalam masalah seperti itu. Dia tak ingin dengan tanpa sengaja menyebarkan bibitnya tanpa rencana matang sebelumnya.


Tetapi yang namanya pengaman selalu memiliki potensi kebocoran entah berapa persen. Tidak ada yang menjamin bisa seratus persen menghindari kehamilan. Apalagi pengaman seperti itu sangat rentan terhadap sobekan dan hal-hal sejenisnya. Bisa jadi tanpa sengaja Daniel sendirilah yang telah membuat fungsi pengaman miliknya gagal.


Namun, semua itu masih perlu kepastian langsung dari Jasmine. Mau tak mau Daniel harus membicarakan hal ini dengan wanita itu.

__ADS_1


Jasmine adalah wanita bayaran dan pintar dalam bersandiwara. Bisa jadi sebelum melakukan kesepakatan dengan Daniel, wanita itu juga melakukan aktifitas dengan lelaki lain. Siapa yang bisa menjamin hal ini? Satu-satunya cara adalah melakukan tes DNA andai Jasmine benar-benar hamil.


Entah nanti Jasmine akan menyetujui ini atau tidak. Wanita itu semakin ke sini semakin tak tertebak. Daniel hanya bisa berharap besok dia akan memiliki cara untuk bisa bernegosiasi dengan Jasmine. Bagaimana pun juga, jika benar Jasmine mengandung, bisa jadi itu adalah anaknya.


Daniel mulai merangkai sebuah rencana. Dia menginginkan semuanya bisa dalam kendali. Dia jelas tak akan diam saja jika calon anaknya akan lahir ke dunia ini tanpa kontribusi dari dirinya. Dia jelas tak akan membiarkannya.


Daniel menatap botol yang ada dalam genggamannya. Dia menggerakkan benda bening itu perlahan, mengamati buih-buihnya yang mulai tercipta seperti keajaiban alam. Pemandangan ini menyimpan sebuah keindahan tersendiri. Bertolak belakang dengan suasana hati yang tengah ia rasakan saat ini.


Tak terasa, Daniel tenggelam dalam kesendirian hingga pagi menjelang. Matahari menyapa dengan cahaya samar di musim dingin. Daniel terpuruk kacau, duduk tak berdaya di kursi ruang tengah.


Dia perlu beristirahat sebentar untuk mengembalikan pikiran sehatnya. Nanti, setelah kondisi lebih baik, Daniel akan segera menemui Jasmine untuk membahas masalah ini.



Siang ini Jasmine menghabiskan sebagian waktunya untuk meneliti berbagai macam laporan keuangan yang dikirimkan oleh asisten kepercayaannya. Beberapa bar, kasino, dan tempat hiburan malamnya mengalami kenaikan keuntungan beberapa persen dari bulan kemarin. Jasmine tersenyum puas menyadari anak buahnya pintar dalam menghandel usaha miliknya tanpa kehadiran Jasmine. Jasmine mulai memikirkan untuk memberi mereka reward yang sangat menarik.


Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Alice merenggangkan otot-otot lengan dan merentangkan tangannya untuk menghilangkan keletihan. Layar komputer di depannya masih menampilkan sederetan tabel angka-angka. Jasmine segera menekan tombol off dan membiarkan benda itu beristirahat untuk sejenak setelah bekerja dari pagi tanpa henti.


Baru saja Jasmine selesai, Caterine memanggilnya dari luar pintu kamar. Wanita itu sepertinya membawa informasi untuk Jasmine. Dengan segera, Jasmine melangkahkan kaki mendekat. Sepertinya Jasmine akhir-akhir ini kurang berolah raga. Dia mudah merasa lelah karena melakukan hal-hal yang ringan. Sekarang misalnya. Beberapa jam menghabiskan waktu untuk meneliti laporan keuangan membuat Jasmine sudah sangat letih dan kelaparan.


"Ada apa, Cat? Makan siang sudah siap? Aku sangat kelaparan," tanya Jasmine sembari merapikan rambut pirangnya yang pendek. Sinar matanya menunjukkan kelelahan.


"Emh, makan siang sedang disiapkan. Sebentar lagi aku pasti akan mengabarimu jika siap. Aku ke sini untuk memberitahu, Daniel menunggumu di bawah. Katanya ia perlu berbicara sebentar denganmu."


Caterine memiliki sikap yang lebih bersahabat dan lebih luwes dalam berkomunikasi dengan Jasmine. Berbeda dengan Alice dan Daniel, yang setiap kali bersinggungan selalu dipanggil dengan nama belakang atau sapaan 'Nyonya'.

__ADS_1


"Daniel?" tanya Jasmine memastikan.


Sebuah anggukan dari Caterine mengonfirmasi jika apa yang baru saja Jasmine tanyakan merupakan kebenaran.


"Untuk apa Daniel mencariku lagi? Bisakah kau katakan padanya aku tidak bisa untuk bertemu? Cari saja alasan yang masuk akal. Aku sibuk, demam, atau alasan-alasan lain semacamnya."


Terakhir Daniel meminta bertemu dengannya, lelaki itu menawarkan sebuah kesepatakan tentang malam bersama. Jasmine enggan untuk membahas ini lagi. Dia lelah. Dia membutuhkan ketenangan diri dan kehadiran Daniel hanya membuat Jasmine semakin kacau.


"Tidak bisa, Jasmine."


"Tidak bisa?" Jasmine menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.


"Daniel … dia mengancam akan mendobrak kamarmu jika kau tak mau berbicara dengannya."


"Oh."


Hanya itu yang tanggapan yqng bisa diberikan oleh Jasmine. Dia tak mengerti kenapa Daniel memiliki tekad kuat seperti itu. Apakah lelaki itu sangat keras kepala sehingga sekarang mulai berani mengancam Jasmine melakukan apa pun yang ia mau?


Memangnya siapa Daniel sehingga dia bisa melakukan semua itu? Jasmine adalah wanita yang sangat mandiri dan tidak pernah bisa didikte oleh orang lain. Jadi, Daniel tidak bisa semena-mena terhadapnya untuk melakukan apapun yang ia mau hanya demi keinginannya terpenuhi.


"Memangnya siapa dia sehingga bisa mengancamku begitu saja? Dia pikir hanya karena dia lelaki, jadi bisa seenaknya berbicara?" Jasmine segera keluar kamar untuk menemui Daniel secara langsung. Dia bahkan melalui anaik tangga lebih cepat dari biasanya. Wajah Jasmine memerah menahan amarah. Ujung bibirnya mengerucut, menunjukkan amarah yang coba ia tahan sekuat tenaga.


Di lantai bawah di ruang tamu, Jasmine melihat sesosok lelaki yang sangat dikenalnya. Kali ini Daniel berdiri dengan ekspresi wajah tak terbaca. Sorot mata Daniel lebih gelap daripada biasanya. Rahangnya terlihat mengeras seperti tengah menahan sesuatu.


Karena rasa penasaran, Jasmine mencoba untuk mendekat ke arah Daniel. Dia mengamati lebih seksama ekspresi Daniel yang ganjil. Tapi baru saja Jasmine mulai membuat penilaian dalam hati, dia dikejutkan dengan sebuah pertanyaan yang tak pernah ia duga sebelumnya.

__ADS_1


"Apa benar kau sedang hamil? Apa benar aku adalah ayah dari bayi yang kau kandung?



__ADS_2