
Mata Alice terbeliak lebar. Butuh waktu lama untuk menangkap apa yang disampaikan Klayver tentang Susan. Sangat sulit untuk mencerna apa yang lelaki tersebut katakan.
Susan adalah juru masak Anson sejak lama. Bahkan saat Alice bertemu Anson untuk pertama kalinya, lelaki berdarah gipsi itu telah menjadi bagian dari keluarga Anson. Ikatan mereka terbentuk secara alami.
"Mungkin kau melakukan kesalahan tentang Susan." Alice masih memiliki harapan tipis. Berharap jika memang ada mata-mata yang menyusup dalam keluarga, orang itu bukanlah Susan.
Klayver hanya menyunggingkan senyum kecil. Dia paham dilema yang dirasakan Alice. Tak mudah memang menerima informasi bahwa orang terdekatmu adalah orang yang memata-mataimu sendiri.
Dunia ini memang rumit. Tuhan menempatkan orang dengan banyak tujuan di sekitar kita. Sering kali mereka mengenakan topeng sehingga kita tak pernah tahu wujud sebenarnya.
Alice membalikkan badan dan melangkah pergi. Tetapi lengan kuat Klayver menangkapnya. Lelaki itu menahan kepergian Alice dan memeluknya hangat.
"Mau ke mana?" tanyanya persis di telinga Alice.
"Menemui Susan." Alice menunduk lemah, merasa tak berdaya.
"Jangan! Biarkan informasi ini berhenti di sini. Lebih baik Susan tidak mengetahui jika kita telah mengetahui tentang identitasnya."
"Tapi--"
"Ingatlah, Alice. Jika kau membicarakan tentang semua ini kepada Susan, wanita itu bisa memperingatkan tentang kondisi ini pada Maxen. Kita hanya akan kehilangan Maxen dan harus mulai berburu dari awal. Alangkah lebih baik andai kau bisa menahan diri."
Alice bergeming. Apa yang dikatakan Klayver memang benar. Dia tak bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat Maxen waspada. Segalanya terlalu sensitif. Jika ia ingin mengungkit masalah ini, Alice harus menahan diri setidaknya sampai masalah utama teratasi.
Sebuah ciuman hangat Klayver berikan untuk Alice di puncak kelapanya. Tatapan mata mereka saling bersirobok, penuh penahaman. Terkadang, dalam beberapa kondisi, bahkan kata-kata tak lagi dibutuhkan.
…
Malam ini terasa indah. Alam seperti menampilkan diri dalam pesona yang menakjubkan. Alice bergelung manja dalam pelukan suaminya. Dia berbaring nyaman berbantalkan lengan Klayver yang berotot.
Seperti malam sebelumnya, kedua insan tersebut saling menghabiskan malam dan mendeklarasikan perasaan kasih. Mereka menyatu dalam tarian indah dan saling melengkapi satu sama lain.
Semakin hari, Alice semakin mengagumi keindahan yang Klayver miliki. Sosok itu mengandung banyak rahasia. Di balik sikap dingin dan sinis yang lelaki itu miliki, Klayver adalah lelaki yang cukup perhatian.
Kata-katanya memang datar. Tetapi tindakannya telah berbicara banyak. Bagaimana Klayver menyelimuti Alice setiap malam setelah ia tertidur, bagaimana dia menatap Alice penuh pemujaan, bagaimana ia menyentuh Alice dengan kelembutan. Semua itu menunjukkan betapa besar kepedulian yang ia miliki.
Beberapa orang mampu mengungkap emosi hati dengan mudah. Beberapa orang mengapresiasikannya dengan tindakan. Klayver adalah jenis orang yang kedua.
Meskipun tak ada kata sayang yang terucap, tetapi jauh dari semua itu, dia telah memberikan lebih dari yang Alice harapkan. Pernikahan mereka berjalan lebih baik dari rencana awal.
Apalagi yang Alice harapkan? Dia memiliki hal yang sebelumnya ia kira sulit untuk didapat.
"Jadi, bagaimana rencanamu terhadap Maxen?" tanya Alice tiba-tiba. Dia butuh mempersiapkan diri terhadap rencana yang Klayver buat.
Apa pun yang terjadi, Alice bertekad akan membalas Maxen dan membuatnya mengalami seperti yang Klayver alami dulu. Semua hal harus seimbang.
"Kita akan mengeksekusi Maxen bersama ketiga orang bawahannya dua hari yang akan datang. Aku perlu mempersiapkan orang-orangku dulu." Klayver menjawab pelan dengan mata setengah terpejam. Dari sudut yang Alice lihat saat ini, wajah Klayver semakin dominan dan maskulin. Kulitnya yang sewarna tembaga menambah nilai yang Klayver miliki.
"Bukankah sebelumnya kau mengatakan akan mengeksekusi Maxen terlebih dahulu sebelum mengurus ketiga anak buahnya?" Alice sedikit bingung.
__ADS_1
Klayver membalikkan badan, memeluk istrinya lembut dan mengusap surai merahnya yang bagaikan sutra.
Mata Klayver terbuka lebih lebar. Retinanya yang berwarna emas bak kucing malam yang menatap objek dengan ketajaman tinggi.
"Setelah kupertimbangkan, akan lebih efektif jika mereka saling diserang dalam waktu bersamaan. Jadi masing-masing orang tidak memiliki kesenpatan untuk memperingatkan satu sama lain. Meskipun aku tak keberatan untuk memburu mereka satu per satu, tetapi akan lebih baik menyelesaikan satu kasus secara bersamaan. Selain itu …." Kata-kata Klayver mengambang. Dia menatap langit-langit kamar dan menyembunyikan banyak hal.
Alice merasa ada sesuatu yang mengganjal. Dia mengusap lengan Klayver dan berkata lembut. "Ada apa, Klayver?"
"Ada beberapa pihak yang mulai memburuku dengan intensif. Aku perlu mempersiapkan diri terhadap semua kemungkinan terburuk. Jadi aku harus menuntaskan Maxen dan ketiga anak buahnya dengan cepat, agar tak terlalu menghabiskan waktu," jelasnya panjang lebar.
Klayver tak ingin menyembunyikan hal ini dari istrinya. Keadaan mulai perlu diwaspadai. Beberapa pihak yang berseberangan dengan Klayver telah mengambil langkah nyata untuk menyudutkan dirinya.
Identitas Klayver bisa terbongkar sewaktu-waktu. Klayver hanya berharap jika hal itu terjadi, dia tak membawa Alice dalam bahaya. Wanita itu terlalu berharga untuk ia seret dalam kehancuran.
"Apakah semuanya baik-baik saja, Klayver?" Alice tak bisa menyembunyikan rasa khawatir dari suaranya. Dia memandang Klayver, membayangkan jika lelaki ini menghadapi masalah sementara Alice tak bisa melakukan apa-apa pastilah sangat menyakitkan.
Alice tak pernah merasa menjadi wanita yang lemah. Tetapi semenjak bertemu Klayver, dia merasa tidak pantas bersanding bersamanya. Butuh wanita kuat untuk bisa mengimbangi Klayver. Lelaki itu membawa banyak masalah dan membutuhkan wanita yang benar-benar tahan banting. Alice, di sisi lain, hanya akan membawa Klayver dalam kejatuhan.
Seandainya saja Alice wanita kuat yang memahami seluk beluk dunia gelap, mungkin, ia bisa sedikit berguna bagi Klayver. Sayangnya, dia wanita lugu yang tak tahu apa-apa. Sehingga beban Klayver mustahil ia bantu.
"Semuanya baik-baik saja, Sayang." Klayver berkata ringan. Dia tersenyum tulus, menangkap kekhawatiran istrinya.
Ternyata, memiliki seseorang yang perhatian itu sangat menyenangkan. Klayver tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Hanya keluarganya yang cukup peduli padanya, meskipun mereka sempat terpisah selama delapan tahun karena beberapa sebab.
Dulu, Klayver pernah memiliki Holy. Memang secara fisik dia tak kalah cantik dari Alice. Tetapi kepribadian mereka sangatlah bertolak belakang. Tidak pernah ia mendapatkan hal serupa dari Holy. Perhatian seperti ini, kepedulian, bahkan kasih sayang, baru ia dapatkan dari sesosok wanita yang bernama Alice.
"Aku berharap bisa menjadi wanita kuat sehingga bisa membantumu dalam setiap kesulitan." Alice menyurukkan wajahnya dengan lemah ke lekukan bahu Klayver.
Cukup mengejutkan tawaran itu keluar dari mulut Alice. Wanita yang bahkan tak memiliki kekuatan sama sekali.
Sebuah kehangatan mulai menyeruak, menyusup ke setiap celah emosi yang dimiliki Klayver. Dia merasa kacau. Apa yang telah Alice katakan mengguncang nuraninya.
Ya Tuhan. Wanita seperti apakah Alice sehingga ia mampu memporak porandakan emosi Klayver sebegitu rupa.
Klayver merasa beruntung menemukan Alice dalam pengembaraan hidupnya yang sulit. Andai ia lelaki biasa dengan kehidupan normal, mungkinkah kisah mereka akan lebih baik? Hidup, menikah, memiliki banyak anak, dan menua bersama.
Sayangnya, mereka berdua adalah orang yang berbeda. Klayver memiliki jiwa gelap yang mustahil untuk ia tinggalkan. Dia bukanlah Anson yang bisa meninggalkan kehidupan kelam dan menjalani hidup sebagai bisnisman normal tanpa bayang-bayang.
Dia berbeda dengan setiap saudaranya yang memiliki skill bisnis dalam berbagai bidang. Klayver adalah pembunuh. Jiwanya telah rusak dan nalurinya hanya tercipta untuk memburu. Masalah sudah seperti hal wajib yang mengejar dirinya dari arah belakang.
Jujur, dia tak tahu akan ke mana arah hubungan mereka berjalan. Saat ini semuanya masih terlalu samar.
"Aku bangga bisa mengenalmu, Alice. Kau sudah sempurna dengan kondisimu saat ini. Jangan pernah mencoba untuk berubah." Klayver membelai tengkuk istrinya dan mengecupnya pelan. Demi Tuhan, dia mulai mengagumi wanita ini dengan segala kelebihan dan kekurangan.
"Aku juga bangga bisa mengenalmu, Klayver. Kau memiliki sisi lain yang sangat luar biasa. Kau bisa bersembunyi dari dunia dengan sikap dinginmu, tetapi aku tahu di balik ini," Alice menunjuk dada telanjang suaminya. "Ada kehangatan dan kelembutan yang kau simpan." Alice tersenyum hangat.
Klayver merengkuh Alice, membuat wanita itu terpekik kecil dan menghujaninya dengan ciuman mesra.
"Alice, setiap orang selalu memiliki sisi lain. Seseorang tidak akan pernah selamanya benar dan selamanya salah. Tujuanlah yang membuat orang saling berbenturan dan saling menjatuhkan." Klayver mulai menjelaskan.
__ADS_1
Lelaki itu menegakkan tubuh, memilih bersandar di kepala ranjang. Dia mengatur Alice sehingga istrinya berbaring di pangkuannya.
"Alice, cobalah pahami ini. Di balik orang jahat, ada sebuah alasan yang mendorongnya untuk berbuat seperti itu. Di balik orang baik, ada peluang di mana ia bisa melakukan kejahatan. Kita digerakkan oleh keingininan."
Klayver sudah memahami hal ini lama. Dia pernah melihat banyak sisi lain dari seorang penjahat yang patut dikagumi. Dia juga sering melihat sisi buruk dari tokoh ternama yang dipuja-puja.
Semuanya menyimpan rahasia masing-masing. Kita tak pernah bisa menebak sejatinya seseorang seperti apa. Karena bahkan kita pun bisa berubah menjadi sosok yang tak pernah diduga.
"Aku sudah mengalami banyak hal dan bertemu banyak jenis manusia. Kau tahu, Alice. Aku mencoba untuk tidak membenci orang yang memburuku, meskipun aku berhasrat untuk membunuhnya. Karena pada dasarnya, semua itu hanyalah permaianan nyawa. Kita saling berebut kehidupan. Jika bukan aku yang membunuh, maka mereka yang akan membunuhku. Mereka pun juga demikian. Kita semua memiliki tujuan yang berbeda dan saling bersinggungan. Jika suatu hari nanti ada yang membunuhku, aku mencoba untuk tidak membenci mereka. Kondisilah yang membuat kita dalam situasi ini."
Klayver mencoba membuka pemikiran Alice agar ia memahami banyak hal dalam kehidupan. Tidak selamanya kita hanya mengenal hitam dan putih. Ada abu-abu, biru, hijau, dan banyak pencampuran warna lainnya.
Tidak selamanya dunia itu berjalan dengan murni. Ada banyak permainan yang terjadi baik dilakukan sekelompok orang maupun perorangan. Dari hal itu, terjadi bentrok tujuan sehingga masing-masing dari mereka mencoba melenyapkan keberadaan lawannya.
Memang seperti itulah dunia berjalan. Kejam dan tanpa aturan. Jika kita ingin bertahan dalam kondisi ini, kita harus siap dalam permainan licik.
"Maxen dan Anson adalah contoh kecil dari teori yang aku sebutkan. Terkadang, tidak ada yang salah dan benar di antara mereka. Mungkin ada sebuah faktor yang membuat keduanya berada dalam titik yang bertentangan. Cara yang mereka gunakan hanyalah melenyapkan dan dilenyapkan. Sayangnya, Anson menjadi pihak yang kalah.
"Kemudian, kau membalaskan dendamnya dengan mata yang membuta tanpa mengetahui semua penyebab dasarnya. Bisa jadi setelah itu, Rachel akan membalaskan kematian Maxen padamu tanpa mengurai alasannya juga. Semuanya seperti lingkaran setan. Mau tak mau memang harus berjalan seperti itu. Dendam adalah nafas utama dari setiap kehancuran seseorang."
Alice memejamkan mata, merasa kalah oleh teori yang disampaikan Klayver. Dia membenci kenyataan ini. Tetapi sayangnya apa yang disebutkan Klayver merupakan sebuah kebenaran.
Alice tidak peduli alasan apa yang melatar belakangi Maxen menghabisi mendiang suaminya. Satu-satunya yang ada di kepalanya hanyalah lelaki itu telah membunuh Anson sehingga ia pantas menerima hukumannya.
"Apakah aku perlu mengetahui alasan di balik tindakan Maxen?" tanya Alice ragu. Jujur, dia tak siap jika mendengar alasan tersebut disebabkan kesalahan Anson sendiri. Baginya, semua nilai telah pudar di mata Alice. Dia tak peduli jika ia harus menentang malaikat, selama ada orang yang melukai orang terdekatnya, mereka pantas mati. Alice bukan wanita suci. Dia tak memiliki hati yang terlalu baik.
"Kau bisa menanyakannya dua hari kemudian. Aku akan membawamu saat aku mengeksekusi Maxen. Apakah kau ingin aku memaksanya meminum racun Novihock?" tanya Klayver memastikan.
Alice tersentak. Dia menatap Klayver terkejut dan bertanya bingung. "Kau berniat membawaku?"
"Ya. Tentu saja. Kau perlu melihat akhir hidup orang yang membunuh suamimu." Klayver berkata ringan. Dia membimbing Alice agar berbaring menyamping dan memeluknya dari arah belakang.
"Setelah kupikir-pikir, aku tak sanggup melihat kematian orang dengan metode yang sama seperti Anson. Mungkin kau bisa menggunakan pistol atau semacamnya. Apakah ada kendala?"
Alice tak bisa membayangkan menyaksikan Maxen meninggal dengan racun tersebut. Melihatnya sama dengan mengingat kematian Anson. Kenangan itu terlalu menyakitkan.
"Tidak. Aku bisa membunuh dengan semua jenis senjata dan membersihkan bukti secepat kilat. Polisi tidak akan pernah ada yang bisa mendeteksinya." Klayver menenangkan Alice dan mulai menggoda istrinya dengan sentuhan ringan.
Alice memekik pelan dan membalikkan badan secara tiba-tiba. Dia menyurukkan wajah di dada Klayver dan menghindari godaan suaminya.
"Klayver …," panggil Alice kemudian. Sinar matanya nyalang, menginginkan kepastian.
"Ya?"
"Apakah aku jahat? Merencanakan balas dendam dan memburu kehidupan seseorang." Alice merasa kalah. Dia mencengkeram bahu Klayver kuat-kuat untuk menahan diri agar air matanya tak keluar.
"Tidak. Terkadang logika akan hilang jika berhadapan dengan perasaan. Alice, jika ada orang yang menghabisimu, tak peduli siapa yang salah, aku tetap akan memburu orang tersebut dan membuatnya merasakan ribuan penderitaan sebelum memohon kematiannya sendiri. Itulah hakikat cinta yang sebenarnya."
Alice membeku, tak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Klayver.
__ADS_1
"Begitu juga dengan Susan. Meskipun dia terbukti sebagai mata-mata, aku yakin dia memiliki alasan kuatnya sendiri."
…