Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
059 - SEASON 2


__ADS_3

Klayver menatap wajah istrinya yang tengah terlelap. Mereka berselimutkan selimut yang sama dan menghabiskan malam luar biasa dalam tarian alam paling indah.


Bertemu dengan Alice adalah sebuah keberuntungan paling besar. Beruntung saat itu Alice membutuhkan jasanya. Jika tidak, mustahil mereka akan bisa dipertemukam secara unik.


Klayver berdiri dan mengambil piyama yang terletak di sisi tempat tidur untuk menutupi tubuh polosnya. Dia berjalan ke sudut kamar, menghidupkan laptop dan melanjutkan pekerjaan yang ia punya.


Klayver menatap Alice yang sama sekali tidak terganggu oleh suara ketikan keypad. Wanita itu tetap saja bernafas teratur, menunjukkan tidurnya yang pulas.


Akhir-akhir ini Klayver mulai serius mengatasi banyak masalah berkaitan dengan orang-orang yang memburunya. Dia tak tahu jelas mereka telah melangkah sampai ke titik mana. Yang jelas, Klayver harus cukup waspada. Dia juga meletakkan Alice dalam perlindungannya. Klayver tak boleh salah langkah atau nanti Alice akan ikut terseret jatuh bersamanya.


Wanita sesempurna Alice, seharusnya sudah cukup merasakan kejatuhan. Tidak boleh ada lagi tragedi yang terjadi.


Anson mulai mengontak beberapa orang dan memberikan perintah-perintah yang ia inginkan. Mulai detik ini, ia perlu memberikan perlindungan yang kuat untuk Alice.


Dua jam lebih Klayver berkutat di atas laptop. Tatapannya menajam beberapa kali setiap memikirkan hal yang tak ia sukai dan kembali datar setelahnya.


Setelah merasa cukup puas, dia kembali ke atas ranjang dan memeluk istrinya. Dia memiliki waktu dua jam untuk tertidur. Hari sebentar lagi pagi. Mentari akan datang dengan angkuh dari ufuk timur, menyapa bagian dunia yang tadinya gelap oleh malam.



Waktu berlalu dengan cepat. Tiga hari kemudian Alice mendengar Rachel telah berhasil dibawa pulang. Dia menyiapkan beberapa hal untuk datang ke rumah temannya seorang diri dengan membawa buah tangan.


Siang ini angin bertiup cukup kencang. Musim gugur sebentar lagi datang. Jalanan Manhattan masih sibuk seolah tak pernah mati. Klayver tadi pagi sempat berkata ingin mengurus sesuatu entah ke mana. Sepertinya lelaki tersebut menyembunyikan masalah darinya.


Alice hanya berharap semoga kehidupan mereka baik-baik saja. Urusan apa pun yang tengah Klayver lakukan semoga cepat selesai. Memikirkan ini membuat Alice tak nyaman.


Setelah setengah jam lebih dalam perjalanan, akhirnya Alice sampai juga di kediaman Klayver. Wanita tersebut sedikit canggung saat melewati gerbang utama. Seorang pelayan yang memperkenalkan diri sebagai Mr. Black membimbingnya memasuki mansion.


Alice mengernyit ragu. Dari mana lelaki seperti itu dipanggil Mr. Black, sementara kulitnya sendiri tak ada kandungan melaninnya sama sekali. Apakah julukan tersebut hanya sebagai keisengan saja?


Di halaman depan sebelum memasuki ruang utama, Alice melihat Rachel yang tengah duduk di kursi beton di samping kolam buatan. Tak jauh dari sisinya, Maxen berdiri menemani Rachel dan terlihat asik dalam percakapan. Pasangan tersebut menampakkan kebahagiaan dan saling menggoda satu sama lain.


Alice membeku dan dicekam dilema. Antara ingin meneruskan kunjungan ini atau tidak. Maxen masih saja menjadi momok yang mengganggu dirinya. Melihat sosok tersebut secara langsung membuat Alice mersa tak nyaman. Bisakah salah satu di antara mereka saling menjaga jarak dan menghilang menjadi bayangan?

__ADS_1


Alice dan Maxen seperti minyak dan air. Mereka tak mungkin bersatu dalam keadaan apa pun. Kebersamaan bagaikan kemustahilan yang tak akan pernah terjadi.


Rachel-lah orang pertama yang menyadari keberadaan Alice. Dia melambaikan tangan, memberi isyarat agar wanita itu memdekatinya. Senyum temannya terlihat hangat. Rambut pirangnya yang tergerai menampakkan pesona kecantikan yang selama ini tersembunyi dalam seragam pelayan restoran.


Mata Maxen dan Alice sempat bersirobok beberapa saat. Lelaki itu menghadap ke arah istrinya, mengatakan sesuatu kemudian meninggalkannya seorang diri.


Alice berjalan dengan santai ke arah Rachel. Baguslah. Akan lebih baik salah satu dari mereka menghindar. Suasana pasti akan canggung jika mereka dipersatukan. Alice bukanlah malaikat. Meskipun dia mencoba memaafkan, tetapi hatinya tak bisa ikhlas begitu saja. Kebenciannya masih terlalu kuat setiap kali melihat Maxen secara langsung.


"Bagaimana kabarmu, Rachel?" tanya Alice dengan ringan. Dia menyerahkan bungkusan buah dan beberapa kue kesukaan Rachel.


Rachel menatap hangat sahabatnya dan tertawa kecil. "Duduklah, Alice. Kabarku semakin sehat setiap harinya." Rachel menunjuk sebuah ruang kosong di bangku taman sisi kirinya. Mengharapkan Alice untuk duduk di sisinya.


Udara di taman ini terasa sejuk. Alice duduk di samping Rachel, menikmati suasana. Keheningan mulai menyeruak. Alice menatap tanaman yang mulai gugur beberapa daunnya.


"Bagaimana kabarmu, Alice?" tanya Rachel tersenyum ramah.


"Baik."


"Klayver?"


Temannya baru saja keguguran. Bagaimana mungkin ia membahas anak sementara Rachel sendiri masih diselimuti duka tanpa batas. Meskipun Rachel penuh senyum, sejatinya ia tetap seorang ibu yang hatinya teriris karena kehilangan bayi. Usia bayi itu juga masih muda.


"Tidak perlu sungkan, Alice. Tak apa-apa jika kau membicarakan tentang bayi. Aku baik-baik saja." Rachel menenangkan temannya. Dia tak ingin Alice menjadi kian berjarak gara-gara kesalahan yang tanpa sengaja mereka lakukan satu sama lain.


Kesalahan itu sudah menjadi masa lalu bagi Rachel. Memang menyakitkan saat kehilangan janin. Rachel tak ingin munafik dengan mengakui sebaliknya. Tetapi jika ditimbang dari resiko besar lainnya, Rachel patut bersyukur karena yang hilang darinya hanyalah janin. Rahimnya masih terselamatkan. Nyawanya dan nyawa suaminya juga masih ada hingga detik ini. Apalagi yang bisa ia minta dari Tuhan setelah Dia menyelamatkan banyak hal dari kehidupan Rachel?


Rachel telah berdamai dengan keadaan. Bahkan ia susah ikhlas andai Maxen dipenjara dalam waktu yang lama. Sejak kemarin, dia mencoba menjadi pribadi yang lebih baik. Setiap hal yang ada harus ia syukuri karena setidaknya ini adalah kesempatan yang masih Tuhan sisakan untuknya.


Melihat rasa bersalah yang tak berkesudahan di mata Alice, membuat Rachel merasa tersiksa. Pasti beban moral yang Alice tanggung sangat besar. Setiap kali menatap Alice, hanya ada kepedihan di mata emasnya.


"Alice, tidakkah kau lihat hidupku baik-baik saja? Aku dan Maxen masih hidup. Rahimku juga bisa dipertahankan. Tuhan telah memberikan anugerah yang luar biasa untukku. Dia memberikan Maxen dan kesempatan kedua bagi kami. Lebih dari apa pun juga, aku merasa bersyukur. Jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri, Alice. Tidak ada yang pantas untuk menyalahkanmu. Memang terkadang keadaan berjalan di luar kehendak kita."


Rachel menjelaskan kata hatinya. Alice adalah orang yang cukup keras kepala. Rasa bersalah yang Alice miliki pasti tak mudah hilang begitu saja. Saat ini, hanya Rachel yang bisa menguatkan keyakinan Alice.

__ADS_1


"Yang terpenting adalah, kau temanku. Aku sangat bahagia kita tak harus bermusuhan dan saling membenci. Bisakah kau melihat hal positif dari kejadian ini? Lihatlah yang baik-baik saja dan jangan terfokus pada kesalahan kecil. Bayi yang aku kandung sebelumnya memang belum ditakdirkan menjadi milikku. Nanti, cepat atau lambat aku pasti akan memilikinya lagi. Dokter sudah menjamin aku dan Maxen masih bisa mempunyai anak!" Rachel tersenyum lembut, meraih tangan Alice dan maremasnya perlahan.


Pertemanan mereka telah berjalan begitu lama. Pertemanan itu terjadi semenjak mereka masih mencecap bangku sekolah dan drama remaja. Akan sangat disayangkan jika pertemanan sekuat itu akan hancur karena suatu sebab.


Alice hanya bisa membisu lama. Apa yang dikatakan Rachel adalah sebuah kebenaran. Ia selalu dilingkupi perasaan bersalah setiap kali menatap Rachel. Dalam lubuk hatinya, Alice merasa apa yang terjadi pada hidup Rachel adalah karena ulahnya.


Tetapi hidup ini adalah tempat pembelajaran. Kesalahan selalu memiliki ruang untuk dimaafkan. Pelaku salah selalu memiliki peluang untuk diterima kembali. Bukankah itu prinsip yang harus kita ambil? Sebagian menyebutnya prinsip minus maklum.


"Terimakasih, Rachel. Kau memiliki jiwa besar untuk tidak menyalahkanku." Alice menyambut genggaman tangan temannya dan tersenyum tulus. Sisa beban yang masih ada di sisi hatinya mulai terlepas perlahan. Membuat dada Alice seperti diberi udara segar yang menyejukkan.


"Di mana Axel? Kenapa ia tidak kau bawa?" Rachel teringat putra Alice yang biasanya akan membuntuti mereka setiap kali Alice berkunjung ke rumah Rachel.


Alice hanya bisa mendesis kecil. Dia kembali teringat anak itu berada jauh darinya, menikmati hari-hari bersama grandma yang baru saja ia temukan.


"Dia berlibur ke rumah orang tua Klayver," jelas Alice menunjukkan rasa berat hatinya.


Rachel menatap heran kepadanya dan mengerjapkan mata tak mengerti. Sepertinya Alice sedikit tak senang putranya berlibur bersama keluarga Klayver.


Rachel berdiri perlahan-lahan dan berjalan dengan pelan. Semenjak kuret, Rachel perlu menstabilkan tubuhnya untuk beraktifitas normal. Hari ini perkembangannya sudah cukup baik. Dia bisa melakukan banyak hal seorang diri.


"Kau perlu bantuanku?" Alice khawatir. Dia menyadari tubuh Rachel terlihat kaku di beberapa tempat. Perutnya juga masih menggembung, menandakan ada perban yang membalut luka tembaknya.


"Tidak. Aku perlu melatih ototku." Rachel menggerakkan kedua tangannya untuk merenggangkan persendian. Dia beberapa kali meringis saat gerakannya tak sengaja menarik otot perutnya yang masih terluka.


"Jangan memaksakam diri, Rachel!" Alice mengingatkan. Alice tak ingin luka Rachel semakin parah hanya gara-gara wanita tersebut terlalu keras kepala dalam proses memulihkan diri.


"Tidak. Aku baik-baik saja, Alice. Ngomong-ngomong, kenapa kau terlihat tidak bahagia membicarakan Axel berlibur ke orang tua Klayver? Apakah ada sesuatu?" tanya Rachel tak mengerti. Dia berjalan pelan memutari kolam di sisinya. Ada sebuah air mancur dengan patung naga kecil di tengah-tengah kolam. Mulutnya membuka dan menyemburkan air yang turun kembali ke kolam, membentuk riak-riak kecil.


"Violin terlalu memanjakan Axel. Kau tidak lihat kemarin dia membelikan puluhan mainan hanya dalam waktu setengah hari kepada Axel. Bayangkan, Rachel. Puluhan mainan. Akan jadi apa anak itu jika di bawah pengasuhannya? Aku pernah berpikir andai anak itu meminta mobil sungguhan, mungkin Violin akan mempersembahkannya dengan pita merah yang indah." Alice mengeleng-gelengkan kepala. Dia tak tahu bagaimana bisa wanita dingin itu memiliki keramahan luar biasa pada putranya.


Rachel tertawa kecil mendengar penuturan temannya. Dia tak habis pikir mertua Alice cukup pemurah kepada Axel. Baguslah kalau begitu. Itu artinya Alice mendapatkan keluarga yang tepat.


Saat Rachel tengah tertawa, Maxen hadir di antara mereka. Lelaki itu menatap istrinya dan Alice bergantian. Dia kemudian mengatakan sesuatu terhadap Alice. Air mukanya menunjukkan keseriusan.

__ADS_1


"Kita perlu berbicara, Alice. Secara pribadi."


...


__ADS_2