
Pagi ini Rachel membentuk janji bersama Daniel. Mereka sudah lama tidak bertemu sebagai teman. Rachel merasa mereka perlu saling membagi komunikasi dan cerita.
Hubungan Rachel dan Daniel sudah semakin dekat semenjak mereka mengurus Alice bersama dulu ketika Alice divonis lumpuh. Pertemanan itu menjadi jembatan penunjang di antara mereka. Sehingga dengan caranya sendiri, kedekatan otomatis terjalin begitu saja.
Racel tahu masalah utama Daniel ketika lelaki tersebut memilih pergi menjauh. Dia menbocorkan rahasia tentang Klayver. Meskipun Rachel tidak bisa menebak rahasia apa yang ia umbar, tetapi Rachel pikir pasti bukan masalah sederhana.
Apa pun yang berhubungan dengan Klayver, semua itu terasa sensitif. Sepertinya suami Alice bukanlah lelaki sembarangan. Rachel tidak bisa meraba siapa sebenarnya Klayver. Identitas apa di baliknya. Yang ia tahu hanyalah tidak ada yang sederhana jika menyangkut tentang Klayver. Bahkan Maxen pun juga tak bisa menebaknya secara akurat. Insting mereka sama-sama mengatakan bahwa mereka harus berhati-hati sejauh berinteraksi dengan Klayver.
Saat jam menunjukkan pukul sembilan waktu Manhattan, Daniel tiba di mansion Rachel. Lelaki itu terlihat sedikit berkurang berat badannya. Ada lingkaran hitam di kedua matanya. Menandakan bahwa selama ini Daniel jarang beristirahat dengan cukup.
"Hai Daniel? Kau terlihat seperti zombie. Apakah kau sibuk dengan proyekmu akhir-akhir ini? Apa lagi yang sedang kau kerjakan?" Rachel menyambut temannya di pintu utama.
"Aku sedang menangani proyek baru tentang metode pengamanan rumah yang canggih. Sepertinya aku harus mulai melebarkan sayap untuk menjajal sistem keamanan rumah dan gedung. Kelihatannya sangat menguntungkan." Daniel menjawab sambil lalu.
Rachel mengarahkan Daniel menuju ruang tengah melalui banyak perabot antik yang ditata berjejer sedemikian rupa.
Banyak lukisan-lukisan lama yang legendaris di sepanjang dinding. Daniel mencoba megamatinya secara sekilas dan berdecak kagum melihat garis-garisnya yang rumit.
"Wow. Suamimu pasti menghabiskan uang yang besar untuk melengkapi isi mansion ini. Kupikir kau telah menikahi miliarder paling berpotensi, Rachel."
Daniel hanya pernah bertemu sekali dengan sosok yang menjadi suaminya Rachel. Sepertinya lelaki itu memiliki nilai yang tinggi sejauh menyangkut bisnis. Ada baiknya Daniel membentuk koneksi yang baik dengan mengenalnya lebih dekat. Siapa tahu Maxen bisa menjadi jalan bisnis baginya.
"Hahaha, mungkin. Aku malah tak tahu berapa dollar yang dia buang untuk melengkapi mansion ini. Kupikir, banyak perabotan di sini yang terlalu berlebihan. Seharusnya tidak sebanyak ini, bukan? Aku suka bangunan yang simpel." Rachel menaikkan kedua bahunya dengan polos.
Rachel dibesarkan di dalam rumah sederhana sehingga meskipun ia menghargai keindahan, tetapi masih memiliki batas dalam menggunakan anggaran demi sekadar memperindah rumah.
"Sebagi istri, kau tergolong cukup buruk. Seharusnya seleramu bisa lebih tinggi dari ini." Daniel menjelaskan. Dia duduk di salah satu kursi berpelitur indah yang ditata artistik di ruang tengah.
"Kopi?" tawar Rachel.
"Jangan. Aku sudah keranjingan kopi satu bulan terakhir ini. Buatkan saja sesuatu yang lebih ringan. Perutku bisa-bisa meledak karena mengandung banyak kafein."
Rachel tertawa kecil dan menyuruh seorang pelayan bernama Abel untuk menyediakan lemon tea dan beberapa makanan ringan.
"Bagaimana kabarmu, Rachel? Kudengar suamimu terlibat kasus dan mendekam di balik jeruji." Daniel menampakkan wajah simpati.
Pasti berat bagi pengantin baru seperti Rachel ditimpa musibah seperti ini. Seolah-olah dunia sedang berbalik menyerangnya.
"Ya. Tidak selamanya kehidupan berjalan mulus, bukan? Tetapi kupikir setidaknya untuk saat ini aku masih bisa menerimanya. Dia hanya dihukum selama beberapa tahun saja. Tiga tahun hakim memutuskannya dalam persidangan terakhir." Rachel menjelaskan. Ada mendung di wajahnya, terapi senyumnya masih tersungging dengan sempurna.
Daniel salut dengan ketegaran yang dimiliki temannya. Dia tak habis pikir kekuatan apa yang telah Rachel miliki dalam menghadapi pukulan berat seperti ini.
__ADS_1
Daniel mendengar kasus yang menyerang Maxen adalah kasus pembunuhan atas Anson. Dia sebenarnya telah mengulik banyak tentang masalah ini, tetapi sekarang setelah ia dihadapkan pada Rachel, dia tak tega untuk mengonfirmasi hal ini secara langsung.
Hubungan Rachel dan Alice kelihatannya juga cukup baik. Mungkin permasalahan mereka sudah berhasil diselesaikan secara kekeluargaan. Daniel tal ingin membahas masalah yang telah lalu dan memilih untuk mendiamkan rasa penasaran yang dimilikinya.
"Maxen beruntung mendapatkan istri sesempurna dirimu." Daniel berkomentar. Tatapan matanya menunjukkan kejujuran. Dia mengungkapkan pikirannya yang terdalam.
Memiliki wanita yang setia merupakan impian bagi kaum laki-laki. Tidak peduli sesulit apa pun keadaan mendera, pasangan seperti itu patut diberi penghargaan.
"Masih ada ribuan wanita baik-baik di luar sana, Daniel. Carilah satu dan ambillah sebagai istri. Usiamu sudah tiga puluh satu tahun. Apa kau ingin melajang seumur hidupmu? Ya Tuhan, jangan biarkan itu terjadi." Rachel memutar matanya dan menjatuhkan punggungnya di sandaran kursi empuk di belakangnya.
Ada kepedulian tulus dari Rachel untuk Daniel. Rachel tahu di balik penampilan Daniel yang mencoba tidak peduli, ada sedikit rasa yang sulit ia hilangkan untuk Alice. Perasaan itu sudah mendarah daging sejak bertahun-tahun yang lalu. Terkadang kisah lama memang membekas terlalu dalam.
Terkadang, Rachel ingin sekali-kali mendorong Daniel lebih keras agar bisa melepaskan Alice secara penuh dari hatinya.
Daniel adalah lelaki yang baik. Dia pantas mendapatkan kebahagiaannya sendiri dan mengejar mimpi yang dimilikinya. Sudah tidak ada tempat lagi bagi kenangan lama untuk menghantuinya.
"Daniel, lupakan Alice dan carilah wanita lain." Rachel mengungkapkan kata hatinya yang terpendam. Dia mengusap ujung kursi lembut di sisinya dan berharap Daniel mendengarkan nasihatnya.
"Aku sudah mulai melupakan Alice, Rachel. Ambisiku untuk memilikinya sudah tidak lagi sebesar dulu. Perasaanku padanya sudah tidak lagi menggebu-nggebu. Waktu telah banyak mengajariku tentang berbagai hal. Salah satunya adalah melepaskan seseorang yang berharga."
Senyum Daniel terbentuk kecil. Dia menatap lantai di bawahnya dan menunduk dalam.
Melepaskan adalah mantra terhebat dari seorang pecinta terhadap yang ia cintai. Sulit, tetapi harus.
"Aku tahu kau pasti tidak percaya pada kata-kataku." Daniel tertawa kecil. Dia mengangkat salah satu kakinya dan menopangkan ke atas kakinya yang lain.
Seorang pelayan menginterupsi mereka dengan mengantarkan dua gelas lemon tea dingin dengan beberapa kudapan. Daniel langsung menyambar minuman tersebut dan menandaskannya dalam sekali tenggak. Musim panas telah berlalu. Tetapi tidak lantas membuat dahaganya berkurang.
"Yah, memang tidak." Rachel mengakui fakta tersebut. Dia menatap gelas kosong milik Daniel dan meminta Abel untuk membuatkannya lagi.
"Percayalah, Rachel. Aku sudah benar-benar mekepaskan Alice dari hatiku. Tidak ada harapan yang tidak seharusnya dariku untuknya," jelas Daniel apa adanya. Tidak ada kebohongan di matanya, sehingga mau tak mau Rachel mulai mempercayai apa yang disampaikan oleh Daniel.
Wajah Daniel menggelap untuk beberapa saat. Dia tersenyum miris dan kembali melanjutkan.
"Hanya saja, ada kekosongan besar di hatiku saat ini. Siapa pun yang datang, secantik apa pun wanita tersebut, belum ada yang sanggup menggerakkan minatku. Rachel, apalah menurutmu hatiku telah mati? Apakah itu pertanda aku tak akan bisa menyanding wanita sebagai istri di masa depan?" Daniel mendesah panjang, merasa bimbang.
Ketika dia berhasil melepaskan Alice, masalah lain datang menghadang. Hatinya kosong, tak lagi tergerak oleh seorang pun. Lama-lama, Daniel mulai meragukan dirinya sendiri. Mungkinkah ada yang tidak normal dari dirinya? Ada sebagian dari hatinya yang menolak setiap kali ia mendekat pada wanita.
Mungkinkah cinta yang lama ia pendam untuk Alice menyisakan efek yang besar sehingga ia jadi memiliki jarak pada yang lain? Dengan cara apa lagi Daniel mengembalikan kondisi hatinya.
"Wajar jika kau mengalami hal itu, Daniel. Dulu, setelah aku tak bersama Harry juga merasakan kekosongan serupa. Tidak ada yang sanggup menyentuh hatiku. Tetapi percayalah. Jika nanti tiba saatnya orang yang tepat hadir di hadapanmu, hatimu pasti akan tergerak. Jangan terlalu memikirkan hal itu." Rachel berusaha menenangkan. Dia mengambil salah satu kudapan dan mulai menikmatinya secara perlahan.
__ADS_1
"Kau yakin aku akan tergerak jika menemukan wanita yang cocok?" Daniel kembali memastikan.
Rachel mengangguk yakin. Dia sudah melalui tahap seperti itu. Daniel pun juga akan merasakan hal serupa. Tinggal masalah waktu saja.
"Auntyyy Racheeellll … kau di mana? Aku mencarimu dari tadi." Suara cempreng Axel terdengar keras dari ujung ruang tengah.
Baik Rachel dan Daniel menoleh secara bersamaan. Menatap wajah gembil putra Alice yang terlihat polos dengan bekas selai di sekitar mulutnya. Helema berlari-lari di belakang Axel mengejar anak tersebut di belakangnya. Pengasuh itu mulai kerepotan mengatasi tingkah Axel yang terlalu aktif. Di usianya yang menjelang enam tahun, Axel mudah sekali bergerak ke sana-sini untuk melakukan banyak hal.
"Halo jagoan, aku di sini menemani Uncle Daniel. Kemarilah! Ucapkan salam padanya." Rachel melambaikan tangannya pada bocah kecil tersebut dan tersenyum hangat.
Axel menginap di rumahnya dari kemarin. Pagi ini Axel sibuk sarapan di balkon bersama Helena sehingga Rachel memutuskan untuk tak mengganggunya dan meninggalkannya saat menyambut Daniel.
"Selamat pagi, Uncle … Daniel." Axel sedikit terlihat berpikir. Mungkin dia mulai melupakan sosok Daniel. Telah lama mereka tak bertemu sehingga ingatan Axel tentang Daniel telah menjadi bayangan samar.
"Kau sudah melupakanku ya ternyata! Haha. Dulu saat kau masih sekecil ini," Daniel menunjukkan tinggi badan Axel dengan tangannya yang setinggi tujuh puluh centi meter dari lantai. "Aku sering menggendongmu."
Saat itu Alice sedang mengalami masa terberat dalam hidupnya. Bukan hanya kedua kakinya yang lumpuh, tetapi juga pikirannya. Rachel dan Daniel sering kali menemani Alice dan mendukungnya dalam situasi sulit, termasuk merawat Axel.
"Benarkah? Aku pernah sekecil itu?" Axel mengernyitkan kening, merasa sulit membayangkan dirinya setinggi yang dijelaskan Daniel.
"Tentu saja," Daniel tertawa kecil dan menarik Axel ke dalam pangkuannya. Anak ini tumbuh dengan cepat. Berat badannya jadi lebih berat empat kilogram dari terakhir ia menggendongnya.
"Bagaimana ia bisa bersamamu?" tanya Daniel kepada Rachel.
"Dia menginap di sini tadi malam. Terkadang, jika aku rindu, aku membawa anak itu ke sini untuk menemaniku." Rachel menatap Axel dengan rasa sayang. Bagi Rachel, anak itu sudah seperti anaknya sendiri. Rasa sayangnya terhadap Axel sudah mendarah daging.
"Aunty, kapan kau akan mengantarku pulang? Aku ingin pulang." Axel mulai merengek. Dia turun dari pangkuan Daniel dan menjatuhkan dirinya pada Rachel.
"Aku ingin pulang!" ulangnya lagi memelas. Rachel menatap Daniel bingung dan melirik ke arah Helena.
Dia menyuruh Helena untuk memanggilkan supir jika memang Axel ingin segera kembali. Daniel masih berada di sini. Rachel tak sampai hati jika harus meninggalkan Daniel seorang diri.
"Bagaimana kalau kita mengantarkan Axel ke rumahnya? Aku juga sudah lama tak mengunjungi Alice. Ada baiknya kita mampir ke rumah Alice sebentar." Daniel menawarkan diri.
"Kau yakin?" Rachel memastikan.
"Iya. Apa kau perlu bersiap-siap dulu?" Daniel kembali melemparkan pertanyaan.
Rachel segera berdiri dan meminta sepuluh menit untuk berganti baju. Daniel menggunakan waktu yang tersisa untuk menggoda Axel.
Tak disangka, waktu berjalan begitu cepat. Axel telah tumbuh menjadi anak yang menyenangkan. Wajahnya berbinar penuh cahaya, menampakkan bahagia khas anak-anak.
__ADS_1
Begitulah kehidupan. Sering kali semua hal berlalu dengan cepat hingga tanpa sadar kita telah menua dan menghabiskan ribuan detik di belakang kita.
…