
Lelaki dengan wajah perpaduan James dan Violin. Rambut cokelat gelap dengan mata berwarna emas layaknya elang. Luiz menyipitkan mata, menebak dengan cukup cepat.
"Klayver. Kau terlalu cepat datang ke sini. Bagaimana bisa?" tanya Luiz sedikit tak mengerti. Dia kembali menatap jasad beberapa pengawalnya yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Bibir Luiz berdecik dengan jijik. Jika pengawalnya tak becus, mungkin lebih baik mereka memang harus dilenyapkan dengan cepat. Apa gunanya memiliki orang-orang ***** yang hanya bisa menghambatmu saja?
Tak jauh dari Klayver, berdiri seorang lelaki dengan postur tubuh ideal. Dia memegang senjata tajam berupa belati yang sedikit lebih panjang dari rata-rata. Dari sinilah Luiz mulai menyimpulkan orang itu adalah pembunuh pengawalnya dengan cara menggores titik-titik penting bagian tubuh. Belati itu masih meneteskan cairan merah pekat. Entah darah pengawal mana yang telah lelaki itu ambil.
Sementara Klayver menggunakan dua pistol yang masih ia genggam dengan erat di kedua tangannya. Moncong pistol itu sungguh menunjukkan jika benda tersebut baru saja dipakai untuk mengambil beberapa nyawa.
Kemarahan Luiz semakin menjadi. Melihat mereka melenyapkan banyak anak buahnya mau tak mau membuat Luiz merasa tersinggung. Dua orang melawan puluhan pengawal yang Luiz miliki. Sangat memalukan.
"Aku tak bisa membiarkan kau menahan istri dan ibuku terlalu lama, Luiz. Ngomong-ngomong, apakah kau masih menggunakan alasan klise dalam memburuku? Dendam lama karena aku pernah menghabisi banyak anak buahmu yang terpercaya." Klayver tersenyum kecil.
Klayver teringat masa lalu. Dia memang pernah menghabisi banyak orang yang menjadi tokoh utama dalam organisasi Black Hell. Beberapa anak orgaisasi Black Hell sudah sering kali mengejar Klayver. Tetapi mereka semua berhasil Klayver hadapi dengan mudah. Agaknya, hal ini membuat Luiz, kepala utama dari organisasi Black Hell merasa tersinggung. Sehingga dia memutuskan untuk memburu Klayver langsung.
Klayver bukannya tak bisa menebak apa yang dilakukan Luiz selama ini. Dia memiliki informan yang cukup terpercaya sehingga Klayver mendapat banyak info tentang Luiz Martinez.
Hanya saja, Klayver tak menyangka Luiz akan memilih bertindak gila saat Klayver tengah menyelesaikan urusannya dalam beberapa bulan ini. Klayver kehilangan perkembangan beberapa langkah penting. Di tak tahu Luiz memilih membantai keluarganya saat ia sedang pergi. Andai tahu akan begini, Klayver lebih memilih untuk mengurus Luiz lebih awal sebelumnya. Alice dan Violin tak perlu ditawan seperti sekarang.
Beruntung beberapa waktu yang lalu, Klayver mengirim Edward untuk mengecek secara langsung kondisi Alice. Edward adalah salah satu orang kepercayaan Klayver. Dia segera melaporkan apa yang ia dapatkan. Edward berhasil mencari tahu dengan keahliannya jika Alice sedang dalam kondisi sulit. Butuh dua hari bagi Edward untuk mengecek secara penuh keberadaan Alice. Luiz menyembunyikan Alice dengan sangat tertutup. Meski begitu, Edward akhirnya berhasil mendeteksi keberadaan Alice dengan bantuan William. Lelaki tua yang mengaku sebagai kepala pelayan Alice. Sungguh beruntung wanita itu memiliki kepala pelayan yang sebaik William. Masa tua tak menjadikan lelaki tersebut lemah dan pasif.
Klayver yang mendapat kabar tentang situasi darurat istrinya, segera terbang ke Manhattan dan meninggalkan misinya. Dia butuh menyelamatkan Alice secepat mungkin. Bukan hanya Alice, tetapi Violin juga.
"Aku sebenarnya hanya tertarik untuk menahan Alice. Mengenai Violin, itu adalah ide dari ayahmu sendiri!" Luiz terkekeh kecil, melihat keterkejutan yang sekilas lewat di mata Klayver.
"Dad?" Klayver tak mengerti.
"Ya, Klayver. Akulah yang menginginkan Violin ditawan juga. Sepertinya semua itu berjalan lancar, sebelum akhirnya kau datang secepat ini dan dengan mudah melumpuhkan orang-orang Luiz. Jika tahu begini, aku pasti akan menyuruh Luiz meningkatkan keamanannya sepuluh kali lipat."
Seorang lelaki yang sangat dikenal oleh Klayver berjalan pelan dari belakang Luiz. James saat ini mengenakan setelan hitam dengan sepatu senada. Wajahnya tampak datar. Tak memperlihatkan ekspresi hangat yang biasanya hadir ketika ia melihat putranya.
__ADS_1
Klayver menyipitkan mata. Dia terlalu sering belajar tentang jenis-jenis ekspresi seseorang. Saat ini Klayver tak terlalu senang dengan tebakan yang mulai tercipta di otaknya.
"Dad," sapa Klayver dengan nada dingin. Dia mulai waspada.
"Kau mengkhianati Mom. Kau mengkhianati kami!" tuduh Klayver langsung tanpa basa-basi.
Klayver adalah seorang pembunuh yang terporgram berpikir dengan cepat. Dia bisa menyimpulkam sesuatu dengan akurat. Otaknya adalah mesin yang bergerak dengan canggih.
"Ya. Kau lebih tanggap dan lebih cermat dari pada ibumu!" James mengangguk kecil, membenarkan apa yang dikatakan oleh putranya.
Sebuah kenyataan tak perlu ditutup-tutupi. Sekarang atau pun nanti toh Klayver tetap akan tahu yang dilakukan James. Lebih baik dia mengatakannya secara langsung di awal pertemuan mereka kali ini.
"Kenapa?"
Hanya itu tanya yang Klayver lontarkan. Dunia ini merupakan tempat misteri. Pengkhianatan bisa terjadi begitu saja. Bahkan dari orang-orang terdekat kita. Hanya saja, setiap sesuatu membutuhkan motif dan alasan. Itulah apa yang ingin Klayver ketahui dari ayahnya. Seseorang yang selama ini berdiri kuat di sisinya dan mendukung anggota keluarga yang lain.
"Karena aku memiliki ambisi yang lebih besar. Sedangkan ibumu hanya menghalangi jalanku. Bersamanya, aku hanya akan menjadi bayang-bayang semu. Dengan kata lain, aku perlu tempat berpijak yang kuat. Harus ada salah satu dari kami yang menyingkir!"
"Ambisi ya." Klayver mengangguk kecil. Ekspresinya tak terbaca. Hanya ada kerut samar di dahinya yang segera hilang begitu saja.
Dunia telah membuat Klayver belajar banyak hal. Bisnis gelap telah membawa Klayver mengenal banyak orang. Jenis-jenis orang yang mengagung-agungkan ambisi dengan menghalalkan segala cara memang ada sejak dahulu.
Ambisi adalah ruh dari sebuah tekad seseorang. Dia bisa menjadi penyemangat tetapi juga kadang dipuja tanpa batas. Saat ambisi diletakkan lebih tinggi dari yang sebarusnya, banyak manusia akan melakukan semuanya tanpa lagi peduli batas-batas moral yang ada.
Tak disangka, James adalah salah satu dari orang yang terjebak dengan ambisi. Tiga puluh lima tahun James menikah dan memiliki anak, ternyata iq menyimpan ambisi besar yang membuatnya tega mengorbankan keluarganya sendiri.
"Kau kecewa padaku, Klayver?" James menatap putranya yang tak terbaca. Klayver selalu menjadi satu-satunya putra yang tak ia ketahui bagaimana emosinya. Semua yang Klayver rasakan tersimpan rapi di dalam hatinya. Semua yang Klayver pikirkan tersimpan rapi di otaknya. Tidak ia biarkan sebagian pikirannya tergelincir keluar dan dilihat orang lain. Ibarat sistem, dia adalah mesin canggih yang sulit dibobol.
"Kecewa?! Pantaskah aku merasa kecewa karena seorang lelaki memiliki moral bobrok sepertimu?" Klayver tertawa sadis. Dia mempermainkan pistol di tangannya dengan gerakan teratur.
__ADS_1
"Sebobrok apa pun diriku, masih tetap menjadi ayahmu."
"Ayah yang mengorbankan istri dan anaknya sendiri dalam jebakan musuh? Untuk apa kita mempertahankan ikatan ayah dan anak? Berhenti munafik, James. Aku bukan orang yang memiliki hati nurani untuk memaafkan orang-orang sepertimu!"
Dooooorrrr
Sebuah tembakan terlontar begitu saja persis di dada James. Lelaki itu melebarkan matanya tak menyangka dan mundur beberapa langkah dengan gerakan kacau. Dia memegang dadanya yang mulai mengeluarkan darah segar. Ada rasa sakit tak terkira yang kini dirasakan James.
Waktu seolah berhenti berputar. Mata James memfokuskan pandangannya pada Klayver yang kini terlihat memegang pistol dengan moncong masih terarah padanya. Ujung moncong itu mengeluarkan bau terbakar, menunjukkan benda tersebut baru saja digunakan.
Perlahan, tubuh James tumbang ke tanah. Matanya masih menunjukkan ekspresi tak percaya. Tangan dan kakinya terasa mati rasa dan kebas. Sakit di dadanya menjadi berkali-kali lipat dan terasa seperti ditusuk-tusuk ribuan jarum dari neraka. Perlahan, mata James mulai kehilangan sinarnya. Tak ada tanda-tanda kehidupan di mata lelaki itu. Sebelum nyawa James melayang, hanya satu pertanyaan yang ia miliki. Seperti inikah rasanya mati? Rasa sakitnya jauh dari yang orang-orang bilang selama ini. Detik-detik kematian itu seperti ketika kau berada di garis tengah binatang buas dan mereka mengoyak tubuhmu hingga tak bersisa sama sekali. Terlalu menyakitkan.
Klayver menatap jasad ayahnya dengan pandangan dingin. Edward yang berdiri tak jauh darinya hanya bisa menelan ludah. Dia sangat terkejut dan tak menyangka Klayver mampu membunuh ayahnya sendiri dengan begitu mudah. Ayah yang hingga kini masih tertulis secara hukum di surat keluarga mereka.
Menakutkan. Itulah kesan yang Edward miliki untuk Klayver. Lelaki yang mengangkat pistolnya semudah itu adalah lelaki yang patut diwaspadai. Seolah-olah nyawa tak memiliki arti sama sekali. Seperti serpihan debu yang diterbangkan angin.
"Agaknya kau lebih kejam dari pada ayahmu. Untuk mengorbankanmu dan Violin, James masih ragu-ragu dan tetap saja memiliki pertentangan batin. Tetapi dengan mudah, dalam waktu sesaat, kau tanpa ragu-ragu menutup nafas hidup James. Pantas saja kau memiliki julukan Eyes Evil. Karena lelaki iblis sepertimu hanya ada beberapa saja dalam sejarah!" Luiz berkomentar terhadap tindakan Klayver.
Dalam hidup Luiz, dia jarang menemukan orang yang tanpa hati dan bisa bertindak hanya dalam waktu sekejap. Seseorang yang mampu mempertimbangkan banyal hal secara singkat dan memutuskan mengambil keputusan penting dalam situasi kritis. Situasi yang bahkan tak melihat apakah kau bersinggungan dengan orang yang menjadi keluargamu sendiri atau tidak.
"Ada sebuah aturan kuat dalam hidupku. Jangan pernah memanfaatkan seorang pengkhianat. Sekali pun dia memiliki darah yang sama denganmu!"
Klayver menjawab dengan santai. Seolah-olah apa yang baru saja ia lakukan merupakan hal yang wajar baginya.
Dalam kehidupan Klayver, dia telah melihat bagaimana bahayanya seorang pengkhianat. Banyak lelaki yang mengorbankan anak istrinya karena hal-hal kecil. Lelaki seperti itu akan membawa dampak yang tidak kecil. Ribuan kesulitan dan jutaan penderitaan akan ditanggung anak istrinya kelak hanya karena kesalahan sang suami.
Klayver telah melihat banyak kasus yang berhubungan dengan kematian mengenaskan karena pengkhianatan. Karena itulah dia mampu menarik pelatuk dalam situasi kritis untuk melawan James.
Saat ini, James bukan lagi ayahnya. Dia hanya lelaki asing yang kebetulan memiliki darah yang sama dan berbenturan keinginan. Lelaki yang dikuasai ambisi dan bisa melakukan semua cara untuk tujuannya.
__ADS_1
Tidak ada lagi cahaya cinta dan kehangatan dari James. Tidak ada lagi sinar tulus darinya. Jiwa James tidak lagi seperti dulu. Orang seperti itu hanya akan menyulitkan semua orang jika tetap dibiarkan lolos. Bisa-bisa Violin nanti yang akan ikut tewas karena ambisi James. Klayver jelas tak ingin membiarkan hal itu terjadi.
…