Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
108 - SEASON 2


__ADS_3

Malam ini luiz Martinez duduk di atas kursi kebesarannya. Dia berbincang dengan seorang asisten andalannya yang selama ini telah menemaninya, Liza. Wajah Luiz Martinez sedikit menggelap. Dia mengetuk-ngetukkan kedua jarinya secara teratur di atas meja sehingga menimbulkan bunyi ketukan yang lumayan keras. Wajahnya menyiratkan emosi seperti kemarahan mendalam. Kedua mata tajamnya juga menyiratkan bahwa ia menyimpan kemarahan yang besar. Tetapi kali ini Luiz Martinez mencoba untuk menahan semua emosinya, tidak seperti kebiasaan-kebiasaannya yang telah lalu.


Liza yang menyaksikan reaksi Luiz semakin hati-hati untuk bersikap. Dia sadar lelaki itu merupakan lelaki yang penuh dengan ekspresi kemarahan dalam waktu sejenak dan bisa tiba-tiba berubah menjadi ramah dalam sejenak pula. Jika sampai lelaki tersebut menahan amarah, itu artinya sesuatu yang genting telah terjadi. Entah masalah apa yang kini telah menghantui Luiz sehingga dia mampu untuk bersikap terkendali.


"Tuan, Apakah semuanya baik-baik saja?" Liza bertanya dengan nada rendah.


"Apakah kamu pikir semuanya baik-baik saja, Liza? Setelah aku tahu orang yang kau ambil sebagai mata-mata di rumah Alice memutuskan untuk bunuh diri, aku merasa semuanya tidak lagi baik-baik saja. Aku membutuhkan suatu kepastian. Apakah rencana kita mulai terpengaruhi karena hal tersebut atau tidak."


Dari awal, Luiz sudah merasa ragu pada Sila. Wanita itu terlalu mudah direkrut untuk menjadi mata-matanya, sehingga kesetiannya pantas ditanyakan. Orang yang mengkhianati majikannya sendiri demi uang, adalah orang yang bisa mengkhianati orang lain demi hal serupa.


Karena pertimbangan inilah, Luiz merasa perlu membuat rencana untuk mengamankan Sila. Orang itu sudah terlanjur menjadi mata-mata dan bertemu dengan Luiz secara langsung. Dia tidak bisa mengambil resiko organisasinya dibahayakan oleh wanita seperti itu. Bagaimana pun juga, Sila perlu dibungkam dan dilumpuhkan.


Luiz yang telah merancang skenario untuk memberikan racun syaraf dalam dosis yang rendah kepada Sila saat Sila pingsan melalui suntikan. Dengan asumsi wanita itu masih bisa digunakan dalam jangka waktu tertentu, tetapi cukup aman setelah semuanya selesai. Luiz masih menginginkan jasa Sila untuk satu bulan ke depan. Informasi yang Sila berikan meskipun lengkap, tetapi belum sumpurna untuk membuatnya mengambil langkah penting.


Sayangnya, wanita itu melakukan kesalahan besar. Dia memilih memutus sendiri garis hidupnya. Sesuatu yang tak pernah Luiz perkirakan sebelumnya.


Tugas Sila masih belum selesai. Dia belum cukup menggiring Alice menuju situasi yang diinginkan Luiz. Wanita itu sudah memilih pergi ke dimensi lain tanpa alasan. Jangan-jangan, dia sudah mengetahui racun yang Luiz berikan?


Luiz memiliki banyak racun yang sulit untuk diidentifikasi dalam laboratorium rumah sakit standar. Jika racun yang ia berikan pada Sila mampu terdeteksi dengan mudah, mungkin racun itu memiliki kebocoran dalam beberapa susunannya sehinggga pantas disebut gagal. Nanti Luiz akan mengonfirmasikan hal ini pada anak buahnya. Apakah benar racun itu belum sempurna sehingga mudah diidentifikasi atau sekarang ada alat canggih yang rumah sakit gunakan untuk mendeteksinya. Jika begitu kasusnya, dia harus mulai hati-hati dari sekarang.


Bisnis yang Luiz lakukan sangatlah luas. Jika satu hal saja menyeretnya ke dalam kasus hukum, maka hal-hal lain yang berkaitan dengan usahanya juga pasti ikut terseret.


Bukan berarti Luiz lemah dan mudah dibantai hukum. Tidak. Usahanya cukup kuat berakar di sini sehingga masalah personal tidak akan bisa menumbangkannya. Hanya saja, Luiz adalah orang yang terlalu steril. Dia lebih suka memangkas masalah sebelum membuat konflik semakin runyam di belakang. Itulah salah satu alasan yang ia miliki kenapa mudah sekali mengambil senjata dan menghabisi anak buahnya sendiri. Orang yang bermasalah lebih baik dibunuh, dari pada membebaninya nanti. Terlalu merepotkan.


"Maafkan saya, Tuan." Liza menunduk dalam.


Liza adalah orang yang telah menawari Sila untuk menjadi mata-mata mereka. Kesalahan yang terjadi pada Sila merupakan kesalahan yang harus ia terima juga konsekuensinya. Begitulah cara kerja Luiz selama ini. Terlalu mudah mengambil nyawa atas setiap hal-hal kecil.


Luiz menatap bawahannya dengan seksama. Liza adalah orang yang cukup unik. Dia sangat loyal, berani melakukan apa pun yang Luiz perintahkan tanpa banyak tanya, dan menjadi sumber daya yang cukup mumpuni.


Dia bisa saja membunuh Liza saat ini. Tetapi mengingat kesalahan ini tidaklah terlalu fatal, Luiz mengurungkan niatannya.


Mudah membunuh Liza. Tapi akan sulit mencari penggantinya untuk saat ini. Lebih baik ia biarkan dulu. Untuk kasus ini, Luiz harus membuat pengecualian. Demi kelangsungan bisnisnya sendiri.


"Kau pantas dihukum karena mempersembahkan orang tak berguna seperti Sila padaku, Liza. Kau tahu kesalahanmu? Terlalu mudah percaya pada orang lain. Bisa saja Sila bunuh diri karena merasa bersalah telah mengkhianati Alice. Jika itu yang terjadi, hanya Tuhan yang tahu informasi apa saja yang telah Sila akui pada Alice sebelum kematiannya." Luiz menggemeretakkan giginya, merasa marah membayangkan hal ini.


Luiz tak butuh orang yang masih memiliki nurani. Mereka terlalu merepotkan. Luiz lebih senang ia memperkerjakan robot yang tanpa hati dan tanpa perasaan dari pada manusia sok suci yang bisa diserang dengan rasa bersalah sewaktu-waktu.


Rasa bersalah merupakan hukuman moral yang paling berat. Cuci otak yang sangat manjur. Pendosa sebesar apa pun, ketika dihinggapi rasa bersalah ia bisa berubah bertingkah layaknya pastor. Terlalu menyedihkan jika nurani mulai bermain.


Prinsip yang Luiz jalani selama ini adalah berbisnis dengan otak, menghidupkan logika, dan meninggalkan semua ***** bengek moralitas dan sebangsanya. Dia lelaki hebat yang tak pantas dibelenggu etika sosial.


"Dia tidak akan berani, Tuan." Liza menunduk dalam. Kedua kakinya sedikit tegang, membayangkan kira-kira hukuman apa yang akan Luiz jatuhi karena kesalahannya.


"Hahaha, dari mana kau bisa seyakin itu, Liza?" Luiz tertawa kecil dengan ujung bibir yang melengkung ke atas, membentuk cibiran.


"Karena aku telah mengancamnya. Jika dia sampai membuka mulut tentang aksinya, keluarganya akan menjadi orang-orang yang menanggung akibat dari perbuatannya. Aku akan menghancurkan keluarganya dengan kejam. Sila terlalu rapuh melakukan hal yang bisa mengancam keselamatan keluarganya sendiri!" Liza tersenyum kecil, merasa sangat yakin.


Di dunia ini, tidak mudah menemukan orang yang sudi tunduk di bawah kaki orang lain tanpa dorongan kuat. Manusia memiliki sisi ego yang sangat tinggi. Itulah kenapa Liza msngancam akan menghabisi keluarga Sila jika wanita itu berbuat hal-hal yang bisa membongkar tentang kesepakatan mereka.

__ADS_1


Luiz menatap Sila dengan penuh rasa puas. Bagus. Liza telah melakukan tugasnya dengan baik. Jika Sila telah mendapatkan ancaman seperti itu, pasti mustahil wanita tersebut berani bertingkah di belakang mereka. Sepertinya kematian bunuh dirinya memang suatu kesengajaan untuk menutup rasa bersalah diri Sila sendiri tanpa ia membongkar semua rahasia dan kesepakatan kotor mereka.


"Bagus, Liza. Kau melakukan hal yang benar. Begitulah sistem operasi kita berjalan selama ini." Luiz tertawa keras, merasa diliputi kemenangan.


Sungguh Sial Sila. Kematiannya merupakan hal yang sia-sia. Wanita itu sudah terlanjur memberikan banyak informasi tentang Alice meski masih belum lengkap, belum menerima seluruh pembayaran sesuai yang Luiz janjikan, tetapi malah justru memilih mati dengan cepat. Sia-sia.


"Terimakasih, Tuan." Liza merasa lega. Kelihatannya ia bisa terlepas dari kemarahan Luiz siang ini.


"Kau adalah asetku yang paling bagus.Cobalah lain kali lebih memikirkan hal ini ke depan."


Liza hanya mengangguk kecil. Dia memilih menjadi pendiam tanpa kata mendengar toleransi yang diperlihatkan oleh Luiz. Biasanya toleransi seperti ini harga penebusannya lumayan berat.


"Aku tak suka membuang sesuatu yang sulit kutemukan penggantinya. Bersyukurlah kau bukan anak buahku yang biasa, Liza. Jika kau bagian dari mereka, aku sudah menghabisimu sekarang." Luiz tersenyum penuh maksud. Dia menbuat Liza merasa semakin berhutang budi. Itu adalah salah satu trik yang bisa ia gunakan untuk meningkatkan loyalitas seseorang kepadanya. Bagaimana pun juga, Luiz adalah lelaki yang sangat licik. Dia mengatur semua hal demi keuntungannya.


"Terimakasih atas kebaikanmu, Tuan." Liza tertunduk dalam.


Mengabdi untuk Luiz selama bertahun-tahun telah membuat ia memahami bagaimana karakter lelaki tersebut dengan sangat baik. Luiz tidak mungkin tulus dalam memberikan pengampunan. Hidupnya penuh dengan kalkulasi untung dan rugi. Untuk apa ia memaafkan seseorang jika tak ada keuntungannya sama sekali. Dia cukup licik dalam mengambil tindakan.


Liza saat ini hanya bisa pura-pura tidak tahu atas cara Luiz bertindak. Lebih aman baginya menampilkan keluguannya seolah-olah sangat berterimakasih, sembari menunggu hukuman dan konsekuensi apa yang nanti akan ia dapatkan.


"Tidak akan lama lagi, aku memiliki tugas untukmu, Liza. Kali ini, lakukanlah dengan baik. Aku tidak akan menoleramsimu lagi." Luiz mengibaskan tangannya, menyuruh Liza pergi dari hadapannya.


Liza mundur beberapa langkah dan berbalik pergi meninggalkan ruangan mansion mewah milik Luiz. Dalam perjalanan langkahnya, dia mulai membenarkan dugaannya. Luiz bermaksud menggunakan dirinya untuk melakukan sesuatu dalam waktu yang tak akan lama. Entah apa yang telah Luiz pikirkan saat ini.


Luiz adalah lelaki yang merencanakan sesuatu dengan sangat hebat. Tak mengherankan jika bisnisnya berkembang dengan sangat cepat. Otaknya terpogram secara otomatis. Mungkin, semua yang ada dalam pikirannya hanyalah tentang dollar dan kekuasaan.


Sebenarnya, Liza lelah lama merasa lelah. Semua hal yang ada dalam hidupnya hanya berkisar tentang Luiz dan organisasinya. Lama-lama, dirinya tak memiliki arti untuk hidupnya sendiri. Dia tenggelam di balik bayang-bayang yang sengaja Luiz ciptakan untuknya.


"Ya, Ma?" tanyanya.


"Liza, bagaimana kabarmu? Kau tak pernah menghubungi Mama akhir-akhir ini." Suara seorang wanita dengan aksen latin yang sangat kuat terdengar di telinga.


"Baik, Mama. Akhir-akhir ini aku sedang sibuk. Bella baik-baik saja, bukan?"


Bella adalah adik Liza yang masih berusia sekitar lima belas tahun. Saat ini adiknya berada di sekolah berasrama dengan kendali pergaulan yang sangat ketat. Itu semua atas ide Liza.


Setelah hidup Liza terjebak dalam organisasi gelap, dia berusaha sebisa mungkin adiknya tidak terjebak dalam dunia yang sama. Cukup dia saja yang mengalami hal ini. Dia harus berusaha memberikan kehidupan yang lebih baik dan lebih stabil untuk Bella. Jangan sampai anak itu mengalami pergaulan bebas dan terseret pada kehidupan liar.


Pergaulan saat ini mampu membentuk kepribadian seseorang. Liza takut jika dibiarkan begitu saja, jiwa labil dan rasa ingin tahu Bella mampu menjerumuskannya ke hal-hal yang negatif.


"Baik. Dia hanya sering mengeluh ingin berada di sekolah normal." Mama Liza menarik nafas dalam, merasa kewalahan setiap menerima keluhan dari putri remajanya.


"Biarkan saja, Mama. Bella lebih baik berada di sekolah berasrama." Liza tersenyum kecut.


Tidak apa-apa. Lebih baik Bella mengeluh dengan sejuta keluhan selama anak tersebut tetap berada di sekolah asrama dari pada bersenang-senang di sekolah umum yang pergaulannya banyak mengandung hal-hal negatif.


"Baiklah. Aku selalu percaya kata-katamu. Bella akan lebih baik di sana. Liza, kabari aku lagi saat kau memiliki waktu luang, oke? Mama menantikan kabarmu." Mama Liza mengirim kecupan jauh melalui media suara. Mereka saling berpamitan dan menutup panggilan secara bersamaan.


Liza menatap ponsel yang ada di tangannya dan merasa perasaannya campur aduk tak karuan.

__ADS_1


Ibu dan adiknya. Salah satu alasan besar baginya untuk tetap bertahan dalam neraka yang bernama Luiz.



Klayver duduk di bangku taman di London. Daun-daun kuning berserakan di bawah kakinya. Dia tengah menikmati panorama pemandangan senja di bawah pohon besar. London tak jauh berbeda dengan Manhattan. Negara ini juga sedang dalam musim gugur. Membuat banyak jalanan dihiasi pemandangan yang mengagumkan. Banyak dedaunan yang mulai berubah warna dan jatuh satu per satu ke tanah.


Banyak turis dan wisatawan yang mengunjungi kota ini. Baik dari Asia maupun dari wilayah Amerika. Sebagian bahkan dari Timur Tengah dengan pakaiannya yang khas. Orang-orang yang hidup di iklim tropis dan gurun biasanya memiliki ketertarikan berlibur ke negara-negara lain saat musim gugur atau musim dingin. Sebuah pengalaman yang mereka cari untuk melengkapi koleksi kisah perjalanan mereka.


Klayver telah banyak berkunjung ke berbagai tempat. Dia tak lagi mudah tergoda dengan siklus alam dan musim. Baginya, semua tempat kini sama saja. Selama ia berada di sisi orang yang ia cintai, bahkan hidup di siang hari di musim panas pada negara gurun lebih baik dari pada menikmati senja di ujung London seorang diri di bawah panorama yang sempurna.


Nilai kehidupan mulai tampak, tergantung siapa yang menemani dan memberi arti pada kita. Semewah apa pun kehidupan yang kita miliki, jika di situ tidak ada orang yang kita cintai, semua itu tak ada artinya sama sekali.


Bersama orang yang kita cintai, neraka tak akan pernah terasa seperti neraka. Tanpa orang yang kita cintai, bahkan surga pun tak akan penah terasa seperti surga.


Klayver membetulkan letak kemejanya yang kedodoran dan menyesuaikan kacamata besarnya yang tebal. Saat ini dia masih menyamar sebagai lelaki lugu dan berkumis tebal. Matanya ia kedip-kedipkan, seolah kesulitan menatap objek yang berada di dekatnya.


Tak jauh darinya, Klayver melihat seorang perempuan berpakaian rapi keluar dari gedung perpustakaan besar. Dia berusia sekitar dua puluh delapan tahun dengan kacamata besar yang tebalnya hampir menyamai kacamata Klayver.


Pakian yang wanita itu kenakan tampak sangat formal dan berpotongan kaku. Roknya hampir sepanjang mata kaki. Bajunya seperti baju karung yang memiliki lebar dua kali lipat dari tubuhnya sendiri. Sepatunya berwarna hitam dengan model jaman dahulu. Benar-benar khas pustakawan.


Dengan langkah kaki sedikit canggung, Klayver berjalan menuju wanita itu. Dia melambaikan tangannya sebentar dan menunjuk ke perpustakaan besar yang baru saja ditutup.


"Maaf, Miss. Sa-saya m-men-mencari koran lok-lokal dua tahun yang la-lalu. Kudengar d-dari orang lain kau p-penjaga perpustakaan." Raut wajah Klayver menampakkan kekecewaan melihat pintu perpustakaan yang telah tertutup.


"Oh, maafkan aku, Sir. Jam operasional perpustakaan sudah tutup. Kau bisa kembali lagi besok pada pukul sembilan pagi." Wanita itu menjelaskan dengan sopan. Rambutnya yang bersanggul tinggi terlihat kaku, seperti model perawan jaman dahulu.


Klayver mengusap wajahnya dengan sedikit putus asa. "Miss, tapi ini sang-sangat penting. Ak-aku perlu mengerjakan tesis sebagai penelitian dan syarat ge-gelar doktorku. A-aku butuh koran itu sebagai bahan u-uji untuk riset d-dan penelitianku."


Wanita itu menatap Klayver sedikit lama. Wajahnya sedikit melembut melihat raut putus asa darinya.


"Oh, Baiklah. Mungkin aku bisa membantumu sebentar. Dengan siapa aku berbicara, Sir?" Wanita yang memakai name tag Alexandra Felton itu mengulurkan tangan, memberi penawaran.


"Darrel Grint." Klayver menyambut uluran tangan Alexandra dengan penuh rasa terimakasih.


"Ikuti saya, Sir. Aku akan memberi kompensasi untukmu dan mencarikan koran yang kau inginkan."


Alexandra berjalan cepat menuju pintu samping perpustakaan. Pintu ini adalah satu-satunya pintu non formal yang bisa Alexandra operasikan untuk kepentingan darurat. Dari sini, Alexandra bisa menuju ruang utama perpustakaan lebih cepat. Hanya satu kelemahannya. Pintu ini tak dipasangi kamera CCTV karena memang bukan pintu yang patut diawasi.


Klayver mengikuti langkah Alexandra dengan hati-hati. Dia mengamati keadaan, memastikan sekeliling mereka aman dari perhatian orang lain.


"Baik, Sir. Mari lewat sini!" Alexandra membuka pintu samping dengan perlahan, menunjukkan ada lorong panjang di depan mereka.


"Ya, Miss!" Klayver menunduk kecil, sebuah gerakan yang sayangnya tak dilihat oleh Alexandra.


Mereka baru memasuki lorong ini beberapa langkah saat Alexandra menoleh untuk memastikan Klayver mengikutinya.


"Mr. Grint, lorong ini sedikit gelap, ta—"


Dooorr

__ADS_1


Sebuah tembakan Klayver arahkan persis di pelipis Alexandra. Membuat wanita itu membelalak lebar di akhir hidupnya dan jatuh tersuruk mengenaskan.



__ADS_2