Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
106 - SEASON 2


__ADS_3

Matahari pagi merasuk perlahan melalui jendela besar yang dibiarkan terbuka tirainya. Angin sejuk berhembus lewat celah-celah ventilasi udara. Pohon-pohon di halaman masih saja berguguran, membiarkan daun-daunnya berserakan di tanah dengan aroma lembab yang khas.


Jasmine bergelung di sebuah kamar dengan posisi yang nyaman. Dia membalikkan tubuh beberapa kali ke samping, mencari kehangatan tambahan di balik selimut tebal milik Daniel.


Tak jauh darinya, seorang lelaki menatap sosok Jasmine dengan tatapan khusus. Dia tengah duduk di kursi tunggal dengan sandaran tinggi, membelakangi sinar mentari yang mulai menyebar di punggung belakangnya.


Tatapan lelaki itu semakin manajam kepada Jasmine. Salah satu tangannya ia topangkan di bawah dagu, menciptakan posisi dominan yang jarang lelaki itu perlihatkan pada orang lain.


Perlahan, Jasmine bergerak beberapa kali mencari posisi yang lebih nyaman. Dia merenggangkan tubuh, mengedipkan mata beberapa kali dan menutup wajahnya dengan sebelah tangan untuk menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam pupilnya.


Entah karena silau atau karena sadar bahwa ini bukan kamarnya, Jasmine tiba-tiba membuka mata sepenuhnya dan menatap ke sekeliling ruangan. Dia tampak terkejut melihat dirinya berada di kamar yang bukan miliknya. Kamar yang telah ia tinggali selama satu setengah bulan ini bersama Alice.


Keterkejutan Jasmine semakin menjadi saat ia melihat seorang lelaki yang tengah mengamatinya dengan seksama di atas kursi bersandaran tinggi. Dia membulatkan mulutnya membentuk huruf O dan mengerjap tak percaya.


"Daniel?" katanya dengan suara serak. Dia menyipitkan mata, memberikan fokus pada indera penglihatannya agar menatap dengan lebih serius.


Benar. Itu memang Daniel. Kamar ini juga milik Daniel. Jasmine masih ingat detail-detail yang ia tangkap dari pertama kali ia melakukan kesepakatan bersama Daniel beberapa waktu silam.


Jika sosok yang ada di hadapannya adalah Daniel, dan ia berada di tempat lelaki itu, artinya apa yang terjadi semalam memang sebuah kenyataan.


Yang membawanya dengan paksa dari club dan menggemdongnya tanpa tahu sopan santun. Yang menggerutu panjang lebar saat membawa tubuhnya seperti barang, tak lain dan tak bukan adalah Daniel Stranger. Lelaki yang Jasmine nilai mustahil untuk memberi perhatian lebih padanya.


"Kau sudah sadar? Kupikir wanita mabuk sepertimu butuh waktu yang lumayan lama untuk kembali sadar dan bangun dengan normal." Daniel berkomentar. Dia masih menatap Jasmine tanpa bergerak sama sekali.


Dengan bingung, Jasmine menangkap komentar tersebut dan merutuk kecil. Bagus. Semalam dia memang mabuk. Suasana hatinya kacau setelah banyak mengingat tentang putrinya sehingga ia berpikir bahwa alkohol merupakan solusi paling ampuh. Nyatanya, dalam keadaan seperti itu, Daniel justru muncul pada saat yang tidak tepat.

__ADS_1


"Kau bilang seperti itu seolah kau tidak pernah mabuk saja." Jasmine menggerutu. Dia menatap penampilan Daniel yang masih mengenakan piyama tidur.


"Aku pernah. Tapi tak separah kau yang bahkan bisa memuntahi dress dan kaos orang lain." Daniel menggeleng pelan, seolah-olah mencemooh tindakan ceroboh wanita itu.


Dengan bingung, Jasmine menatap baju yang ia kenakan dan ia tampak terkejut menyadari dia telah memakai jubah mandi berwarna silver dengan aroma khas laki-laki, lebih khususnya aroma Daniel.


Ya Tuhan. Bagaimana bisa ia tidak sadar dan terlambat menyadari dirinya telah berganti pakaian sejak terakhir kali ia ingat. Dia mengenakan dress merah semalam dengan tinggi di atas lutut. Sekarang, entah dress itu berada di mana. Jasmine menatap ke lantai, menyapu ke sekeliling dan tetap gagal menemukan benda yang ia cari.


"Apakah kau yang telah melakukan ini?" Jasmine menunjuk baju yang ia kenakan, memberikan isyarat siapa yang telah mengganti bajunya tadi malam.


"Siapa lagi? Aku tidak terlalu suka menyusahkan pelayan untuk pekerjaan remeh temeh seperti menggantikan pakaian pemabuk yang teledor." Daniel mengangkat kedua bahunya, merasa konyol sendiri.


"Oh, kupikir kau pasti bukan hanya sekadar menggantikanku pakaian. Alasan yang cukup pintar untuk kau gunakan mencuri kesempatan, Daniel!" Jasmine menatap lelaki di hadapannya dengan raut muka tak terima. Dia menuding Daniel, merasa telah dimanfaatkan sebegitu rupa.


Wajah Daniel langsung menggelap saat itu juga. Dia tak pernah dituduh serendah itu oleh siapa pun juga, apalagi yang menuduh adalah wanita rendah yang telah sering menjadikan tubuhnya sebagai transaksi kotor. Untuk apa Daniel melakukan hal itu? Seolah-olah wanita di dunia ini hanya ada Jasmine saja. Dipikirnya dia lelaki yang tak laku sehingga perlu memanfaatkan dirinya dalam keadaan tak sadar?


Mereka berdua saling bertatapan penuh makna. Yang satu marah karena merasa dituduh, yang satu marah karena dianggap terlalu rendah. Masing-masing keduanya memiliki sisi yang berlawanan. Mereka bagai hewan buas yang terjebak pada situasi paling tak mengenakkan.


"Kau berkata seolah-olah kau adalah dewa yang melakukan hal suci setiap waktu. Kau lupa lelaki sepertimu toh nyatanya tetap saja membutuhkan wanita sepertiku. Jangan terlalu tinggi menilai dirimu." Jasmine berteriak tak terima. Dia menyingkap selimut yang masih menutupinya dan berdiri dari ranjang dengan gerakan kasar.


Lelaki dan segala egonya. Sesuatu hal yang selalu Jasmine benci. Mereka selalu bertindak seolah-olah wanita memang hanya pelampiasan sekilas tanpa perlu ditilik maknanya. Lebih dari itu, mereka tak mau disebut lelaki murahan meskipun hobinya memakai wanita murahan. Lantas apa bedanya mereka dengan objek yang mereka gunakan?


Pejabat yang menggunakan jasa wanita malam, mereka menolak disebut lelaki malam. Pengusaha yang memakai jasa wanita rendah, mereka tak sudi dianggap sebagai pengusaha rendah.


Apakah karena mentang-mentang mereka adalah pihak yang memakai dan pihak yang mengeluarkan uang sehingga merasa tidak layak dicap murah? Apakah karena telah membayar sesuatu, seseorang lantas dianggap mampu menghapus dosa untuk dirinya sendiri dan membiarkan kaum wanita yang menanggung rendahnya harga diri mereka?

__ADS_1


Jika memang begitulah rumusnya, maka semua orang di dunia ini picik. Jasmine tak mengelak dia memang murahan dan rendahan. Tetapi siapa pun yang memakai jasanya dengan sadar, mereka juga golongan orang yang serupa. Tidak ada bedanya, sekali pun mereka telah menggelontorkan banyak dollar untuk ini.


Nilai moral berlaku untuk semua kaum dan semua gender, tidak terbatas karena lelaki atau perempuan. Tidak terbatas dia yang membayar atau dibayar. Tidak terbatas dia yang memanfaatkan atau dimanfaatkan. Semuanya sama saja. Memiliki barometer yang sama dan tak akan bisa berubah.


"Aku tidak terlalu tinggi menilai diri. Kau saja yang terlalu melambungkan nilaimu sendiri," ucap Daniel penuh sindiran.


Mereka saling menatap dengan penuh kebencian. Ada api amarah yang mulai terbentuk di antara mereka, semakin kuat dan kental di udara. Membuat suasana pagi yang seharusnya sejuk disempurnakan angin musim gugur, menjadi pagi yang penuh emosi dan amarah.


"Lelaki memang seperti itu. Kau memiliki ego yang sama besarnya dengan kaum picik di luar sana. Selalu saja wanita sepertiku yang disalahkan. Kapan kau akan menyalahkan nuranimu sendiri dan intospeksi pada keadaan yang sebenarnya? Tidak selamanya kaum rendah sepertiku pantas dihakimi rendah terus!" Jasmine menghentakkan kakinya, melampiaskan emosinya yang sudah ada di ubun-ubun.


Melihat suasana hati Jasmine yang kacau, Daniel jadi menyumpah serapah dalam hati. Wanita itu tidak ada rasa terimakasih sama sekali. Dia sudah ditolong saat mabuk, dibawa ke rumahnya, diurus, tetapi lihat apa yang dia lakukan. Menuduh Daniel begitu saja dan menghakiminya dengan banyak hal yang Daniel sendiri tak mengerti.


Apakah kemarahan kaum wanita memang seperti ini? Jika ya, beruntung sekali Daniel belum memiliki seorang istri. Hidup bersama makhluk yang bisa meledak setiap waktu pasti tak terlalu nyaman. Dia bisa-bisa cepat menua sebelum waktunya. Baru kali ini Daniel bersyukur atas possinya yang masih melajang.


"Otakmu benar-benar ada masalah, Jasmine. Kau menuduhku memanfaatkanmu, marah-marah padaku karena pernah menggunakan jasamu, dan menyumpah serapah seperti itu. Di mana akal sehatmu? Lama-lama aku merasa berhadapan dengan monster. Jika kau merasa memiliki masalah, selesaikan saja urusanmu! Jangan melibatkanku dengan kemarahnmu yang tak masuk akal itu!" Daniel berdiri dengan kasar, membuat kursi yang ia duduki terjengkang ke belakang dengan suara berdebum keras.


Suasana jadi semakin menegangkan. Tak ada yang berbicara sama sekali setelah Daniel meluapkan kemarahannya. Jasmine hanya menatap kursi di depannya dengan pandangan hampa. Ekspresi wanita itu tak terbaca sama sekali. Sinar matanya redup dan menggelap tiba-tiba. Sepertinya suasana hati Jasmine sedang labil. Dia mudah terbawa keadaan dan terpancing emosinya.


"Keluarlah! Aku butuh waktu untuk sendiri!" pinta Jasmine dengan suara lirih. Melihat Daniel berada di kamar ini dari sejak ia tidur, itu merupakan tindakan yang tak seharusnya dilakukan laki-laki normal. Wajar jika Jasmine menuduh Daniel yang tidak-tidak. Lelaki itulah yang telah memancing tuduhan terhadap dirinya sendiri. Jangan salahkan Jasmine terhadap hal ini.


Tanpa kata, Daniel keluar kamar, menjauh dari Jasmine dengan langkah-langkah cepat. Pagi ini dia bangun lebih awal. Tidurnya tak lebih dari setengah jam. Itulah kenapa Daniel memilih untuk datang ke kamar Jasmine diam-diam dan menatap wanita itu yang tengah tertidur lelap,


Jika mau ditilik kembali, Daniel sendiri heran kenapa ia memiliki pikiran seperti ini. Duduk menatap wanita yang tengah tertidur bukanlah hobinya. Apalagi wanita ini adalah Jasmine. Seseorang yang telah sering berseberangan dengan dirinya dalam segala hal.


Demi Tuhan. Daniel masih normal dan tidak memiliki kelainan sama sekali. Keinginan untuk menatap Jasmine perlu ia selidiki lebih detail. Mungkinkah memang ada bagian otaknya yang bekerja melawan arus sehingga ia tertarik pada hal yang tak seharusnya?

__ADS_1


Dengan lemah, Daniel menggelengkan kepalanya. Dia memyugar ramburnya dan mulai mendesah kecil. Sepertinya kali ini dia melakukan kesalahan. Sesuatu yang baru ia sadari dengan terlambat.



__ADS_2