Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
069 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine menatap Alice dengan penuh penilaian. Wanita yang Klayver akui sebagai istrinya itu terlihat mengesankan.


Jangan lagi membahas tentang kecantikan. Jasmine yakin jika mereka saling bersaing dalam bisnis wanita panggilan, bisa jadi Alice-lah pemenangnya.


Alice lebih dari pada sekadar cantik. Ada aura tersendiri yang bisa Jasmine tangkap. Kecantikan yang dimilikinya tidak sekadar kecantikan wajah, tetapi lebih kepada nilai karakter dan sikapnya.


Setiap gerakannya anggun, menunjukkan ia kaum arsiktokrat sejati. Senyumnya, bahkan Jasmine yang memiliki jenis kelamin perempuan saja mengagumi cara Alice tersenyum. Seperti seolah-olah langit memberikan keberkahan baru melalui makhluk yang disebut wanita.


Sebagian besar dari pertanyaan Jasmine mulai terjawab. Tadinya ia bertanya-tanya wanita seperti apa yang sanggup mengambil perhatian Klayver. Nyatanya, wanita di hadapannya ini bak reinkarnasi dewi yang memiliki pesona anggun.


Cara berbicaranya, cara tersenyum, cara bersikap, semuanya menunjukkan Alice bukanlah wanita sembarangan. Baiklah. Klayver memang pantas tergoda olehnya. Justru sangat tak masuk akal jika ada lelaki yang tidak tergoda oleh kecantikan murni sepertinya.


Jasmine tersenyum kecil, mengulurkan tangan dengan tulus.


"Hai, Alice. Aku sudah mendengar banyak hal tentangmu dari mulut tak berguna Klayver. Rupanya dia memang tak melebih-lebihkan. Pantas saja Klayver memujamu." Jasmine tertawa kecil dan melirik Klayver yang mengernyit tak terima.


Sejak kapan Klayver membicarakan tentang Alice panjang lebar dengan Jasmine? Lama-lama wanita itu mulai berhalusinasi sendiri.


Jasmine adalah jenis wanita yang coba Klayver hindari dalam keadaan normal. Membicarakan istrinya dengan wanita itu adalah hal yang ia sendiri sulit mempercayai.


"Kau membicarakan aku?" Alice menerima jabat tangan Jasmine, tetapi wajahnya menatap Klayver dengan raut kebingungan.


Klayver adalah lelaki yang cukup dingin dan tertutup. Membayangkan lelaki itu terbuka dengan wanita lain sedikit tidak masuk akal.


Tetapi, jika memang Jasmine merupakan wanita yang telah lama menjalin komunikasi dan berhubungan baik, tidak mustahil hal tersebut terjadi. Hanya saja, selama ini Alice jarang mendengar Klayver memiliki teman dekat. Agak aneh jika tiba-tiba sosok itu Klayver munculkan di hadapan Alice.


"Jangan terlalu percaya dengan kata-katanya. Dia adalah wanita yang mulutnya masih perlu diajari banyak hal," sahut Klayver tak peduli.


Jasmine hanya tertawa lebar, sementara Alice dan Rachel terbengong bingung.


"Kau terlalu memujiku, Klayver." Jasmine kembali duduk di kursi makan dan mengetukkan jari telunjuknya, memberi isyarat pada semua orang untuk memulai acara makan malam.


"Kau perlu dipuji dengan cara yang sangat istimewa agar karaktermu bisa normal kembali," balas Klayver sinis.


Rachel bergidik mendengar nada Klayver yang sinis. Dia masih merasa tak nyaman berdekatan dengan Klayver dalam satu ruangan semenjak kejadian penyergapan di rumahnya beberapa waktu lalu.


Alice yang memahami situasi Rachel, menepuk tangan Rachel pelan dan mengajaknya duduk untuk makan malam.


"Karakterku sudah bawaan dari lahir. Sulit untuk dirubah." Jasmine menyilangkan kaki, mulai mengambil beberapa menu pembuka untuk ia lahap mendahului yang lain.


Klayver memilih tak menanggapi dan menarik dua buah kursi di sampingnya untuk diduduki Alice dan Rachel.


Axel yang telah kembali duduk di kursinya hanya bersikap acuh tak acuh mendengar perbincangan di meja makan. Selama perjalanan pulang, anak itu sudah terbiasa menghadapi perdebatan sengit antara Klayver dan Jasmine. Axel sudah tak lagi terkejut.


Mereka, di lain sisi, sering kali bersikap kekanakan dan berdebat tanpa ujung. Hanya Klayver saja yang beberapa kali menbuat batas untuk mengimbangi sikap keterlaluan Jasmine.


"Klayver, kau tadi bilang dia akan menjagaku untuk sementara waktu. Maksudmu bagaimana?" Alice kembali teringat hal ini. Dia menoleh ke arah suaminya, meminta penjelasan.


Ini adalah hal yang sulit untuk Klayver beberkan. Dia menatap istrinya dalam dan berkata serius.


"Setelah makan malam, mari kita bicara hal ini nanti." Klayver tersenyum kecil, seolah memberi isyarat topik itu perlu mereka bicarakan secara pribadi.


"Baiklah." Alice memahami situasi ini. Dia memilih mengalah dan tidak akan mendesak Klayver lagi.

__ADS_1


"Mom, aku membawa sebagian mainan yang diberikan Grandma padaku. Aku ingin membawa semuanya tapi Dad tidak membolehkanku. Katanya lebih baik menyimpan sebagian di rumah Grandma jadi, jika aku ke sana masih memiliki mainan itu untukku bermain." Axel mulai membuka ceritanya.


Alice tersenyum kecil dan membenarkan sikap Klayver. Axel perlu ditahan. Tidak setiap keinginannya harus dituruti. Jika tidak, karakter anak itu bisa tak terkendali dan tumbuh dengan sikap yang cukup buruk.


"Apa yang dikatakan Dad memang benar, kau pasti ingin meninggalkan kenangan di rumah Grandma, bukan? Mainan yang kau tinggalkan di sana bisa menjadi pengingat Grandma setiap kali dia merindukanmu." Alice menjelaskan dengan nada keibuan.


Paras Alice melembut setiap kali menatap putranya. Axel, adalah bagian dari Anson yang masih Tuhan sisakan untuknya. Warisan yang tak akan pernah ia lepaskan sepanjang kehidupannya.


Semua hal yang ada dalam diri Axel merupakan eksistensi yang Anson wariskan. Matanya, caranya bersikap, bahkan tutur katanya.


Cinta itu banyak macamnya. Apa yang Alice rasakan untuk Anson adalah hal berharga. Dia menghargai setiap kenangan yang ada dan tidak menghilangkannya hanya karena Klayver telah hadir.


Posisi Anson dan Klayver bukanlah posisi persaingan. Mereka berdua merupakan individu yang berdiri terpisah, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing layaknya manusia biasa dan melengkapi Alice dengan cara yang berbeda.


Alice cukup bersikap dewasa. Dia menempatkan kenangan dirinya bersama Anson di sebuah kotak sendiri yang ia simpan terpisah dari kenangan baru yang ia ciptakan bersama Klayver. Keduanya berjalan beriringan. Membentuk Alice menjadi pribadi yang sekarang.


"Kau benar, Mom. Grandma juga bilang seperti itu." Axel menaggapi pernyataan Alice sebelumnya.


Alice mendesah lega mengetahui Violin masih memiliki batas dalam memanjakan putranya. Dia sempat khawatir wanita itu akan melakukan apa saja kemauan Axel tanpa pertimbangan.


Jasmine duduk sebagai pengamat. Sepanjang makan malam, dia melaluinya dengan sikap acuh tak acuh. Tetapi, di balik sikapnya yang seperti itu dia melihat semuanya secara detail.


Jasmine adalah orang yang bisa membuat keberadaannya seolah tak penting. Sikapnya cenderung blak-blakan dan terkesan murahan.


Namun, di balik semua itu dia merupakan pribadi yang cukup sensitif. Telinganya terpasang secara tajam untuk menangkap setiap pembicaraan. Matanya yang sering dianggap mengerling manja, terlatih untuk mengamati keadaan dengan mendetail. Semua tindakannya ia lakukan otomatis, karena ia memang telah terbiasa melakukan.


Hanya saja, untuk sebagian besar orang, kemampuan yang Jasmine miliki tak mudah untuk ditebak. Jika saja Klayver tak mengenal Jasmine lama, dia juga pasti masuk ke dalam perangkap wanita tersebut dan meremehkan Jasmine. Bahkan untuk seukuran Klayver, Jasmine merupakan aset paling unik yang ia jumpai.


Karakter dan kemampuannya sangat bertolak belakang. Siapa sangka di balik rok pendek dan dada besar yang Jasmine miliki, tersimpan otak cerdas setingkat einstein.


"Aku baik-baik saja, hanya tak mau menjadi pengganggu di tengah-tengah moment romantismu," jawabnya datar dengan senyum yang tulus. Tidak ada kepura-puraan kali ini.


Alice membalasnya dengan senyum serupa dan mendesah lega. Dalam hati, ia yakin wanita ini tidak seburuk penampilan luar yang Jasmine pamerkan.


"Kau berasal dari New York, Jasmine?" Alice bertanya ramah. Dia memilih untuk membentuk ikatan persahabatan dengan tamu barunya.


Jasmine menarik nafas beberapa kali sebelum akhirnya menjawab ringan. "Aku benci New York, beruntung aku tidak berasal dari sana."


"Bisnis utamamu berpusat di sana, bagaimana mungkin kau membenci New York?" Klayver memotong steak sapi dan mencelupkannya di saus yang tersedia.


Alice dan Rachel saling melirik heran. Jasmice cukup kontradiktif. Untuk seukuran wanita yang mengaku membenci New York, tetapi sumber bisnisnya malah berada di sana.


"Kurasa, kami sedikit tak mengerti cara berpikirmu." Kali ini Rachel yang berbicara. Dia tak tahan juga setelah sekian lama bertahan untuk tetap diam.


"Tidak selalu apa yang menjadi tumpuanmu pasti menjadi hal yang kau cintai juga. Itulah yang terjadi padaku. Aku hanya … katakanklah, musafir yang kebetulan terjebak di metropolitan kota New York dan memilih bisnis di sana. Tapi asalku dari London." Jasmine tertawa kecil, merasa lucu oleh penjelasannya sendiri.


Alice berdaham beberapa kali dan melanjutkan makannya kembali. Dia merasa Jasmine terlalu ambigu. Untuk saat ini, baik Alice maupun Rachel memilih untuk tidak mencampuri urusan Jasmine. Belum saatnya. Biarkan saja wanita itu membawa rahasia yang ia pegang. Toh, setiap individu selalu memiliki rahasianya sendiri. Sisi yang orang sembunyikan dari dunia.



Malam telah larut. Angin semakin kuat menerpa setiap dedaunan dan membuatnya gugur menyerah di atas tanah tanpa daya. Suara gemerisik dedaunan yang bersua dengan angin menciptakan harmoni. Membentuk nyanyian mengiringi suara binatang malam yang masih setia menemani purnama.


Alam bak kanvas, di mana pelukis bisa berubah-ubah suasana hatinya dan menumpahkan semua ekspresi di atas sebidang kertas.

__ADS_1


Coretannya yang bernilai membuat apa pun yang dituangkan kuas sang pelukis mencapai makna yang dalam.


Beberapa objek ada, beberapa objek hilang. Di lain kesempatan, beberapa objek beralih, beberapa objek tersamarkan. Begitulah kehidupan. Tuhan adalah skenario terhebat. Alam hanyalah pendukung bagi setiap keputusan-Nya yang absolut. Sejatinya, manusia hanya sekadar boneka yang setiap batas geraknya dikuasai oleh Sang Pencipta.


Pada akhirnya, mereka yang sampai pada pengetahuan tertinggi akan memahami manusia hanya sekelumit kecil dari bagian dunia yang diijinkan untuk tetap menjaga kelangsungan hidup. Kekuatan, adalah suatu kemustahilan bagi makhluk kerdil seperti kita.


Apa yang digembar-gemborkan orang selama ini, tentang bagaimana kekuatan manusia dapat mengubah dunia sebenarnya hanya suatu perantaraan yang diijinkan Tuhan untuk terjadi. Tanpa restu dari-Nya, semua hal yang kita lakukan hanyalah kesia-siaan belaka.


Mungkin, ini jugalah yang terjadi pada Alice dan Klayver. Mereka berdua duduk di atas ranjang, membahas satu demi satu masalah yang tengah Klayver hadapi.


Rachel, dengan rasa sungkannya telah memilih sebuah kamar tamu untuknya tidur dan membiarkan sepasang suami istri tersebut saling berbagi cerita satu sama lain. Rachel sempat terpikir untuk pulang, tetapi dicegah oleh Alice karena hari telah cukup malam.


"Banyak pihak telah membayar orang-orang tangguh untuk mengejarku. Beberapa orang mulai mencurigai identitasku sebenarnya sebagai Eyes Evil dan menghubungkannya dengan keluarga Liecester. Sebelum mereka mengonfirnasi kebenarannya, aku harus bergerak dulu."


Tibalah waktu dimana Klayver menjelaskan niatnya. Dia meraih tangan wanita yang kini memandangnya dengan kesedihan. Air mata mulai menggantung, siap untuk turun deras membasahi pipinya yang sehalus pualam.


"Kau dalam posisi berbahaya, bukan?" Allice mengusap pipinya yang telah berlinang air bening. Rasa khawatir mulai menggerogoti hatinya yang terdalam. Sebuah ketakutan baru menyeruak hebat, menuntut untuk ditenangkan.


"Saat ini tidak seberbahaya itu. Aku hanya harus mengatasi mereka terlebih dahulu. Percayalah padaku, Alice. Aku hanya perlu waktu yang mungkin sedikit lebih lama untuk membereskan masalah ini."


Klayver mengusap lembut air mata Alice. Ada keprihatinan tulus yang Alice berikan. Sebuah dukungan tanpa kata. Hingga terkadang, klayver merasa tak berhak menerima perhatian sebesar itu dari wanita sesempurna Alice.


Alice adalah berkah dari setiap mimpi yang telah lama Klayver pendam. Wanita itu bukan hanya memberikan cinta. Tetapi juga rumah yang pintunya selalu terbuka untuk Klayver.


Bagi lelaki buron dan pembunuh berdarah dingin sepertinya, rumah dan cinta adalah kemewahan terlarang yang mustahil dicecap. Akan tetapi, wanita ini telah mewujudkan hal tersebut.


"Berapa lama? Kau ingin meninggalkanku lama, bukan?"


Klayver tak pernah membicarakan hal-hal seemosional ini sebelumnya. Dengan pembicaraan mereka sekarang, Alice menyimpulkan pasti kepergian Klayver kali ini tidak sesederhana seperti yang coba ditunjukkan suaminya.


"Mungkin. Aku mencoba untuk meninggalkanmu sesebentar mungkin. Tetapi terkadang beberapa keadaan jadi tak menentu, jadi aku tak bisa menjanjikan banyak hal. Paling lama, aku akan meninggalkanmu setengah tahun."


Setengah tahun?


Waktu yang sebentar bagi sebagian orang. Tetapi untuk wanita yang pernah merasakan kehilangan, setengah tahun merupakan waktu paling lama yang bisa ditanggung.


Setengah tahun adalah waktu di mana apa pun bisa terjadi pada suaminya. Bagi lelaki penantang maut seperti Klayver, hal-hal buruk bisa terjadi hanya dalam hitungan bulan.


"Apakah kau akan baik-baik saja?" Meskipun pertanyaan ini terdengar konyol, Alice perlu memastikan. Setidaknya, hatinya butuh ditenangkan.


"Tentu akan aku baik-baik saja. Tetapi ada satu hal yang ingin aku minta. Selama aku pergi, jangan hubungi aku. Semua kontak dan komunikasi akan kututup sementara. Apa yang akan kulakukan sangatlah sensitif. Teknologi yang aku pakai rentan untuk disusupi. Aku tak ingin jika mereka berhasil membobol media yang kupakai, kontakmu menjadi yang pertama yang mereka cari."


Alice terdiam lama. Bulir-bulir air mata mulai bercucuran lagi. Ia akan ditinggalkan tanpa kontak sama sekali? Tanpa komunimasi? Ya Tuhan. Bayangkan itu. Demi apa pun juga, Alice merasa tak sanggup.


Tetapi melihat keseriusan di mata suaminya, Alice tahu masalah kali ini bukanlah masalah yang sederhana. Jika Klayver saja sanggup mengekang ego untuk menahan diri demi Alice, seharusnya Alice bisa melakukan hal yang serupa.


"Jadi, itulah kenapa kau memilih Jasmine untuk menjagaku?"


Di mata Alice, Jasmine bukanlah wanita sembarangan. Pilihan Klayver selalu memiliki rahasia tersendiri. Alice tak ingin mendebat keputusan suaminya saat ini. Segala yang dilakukan Klayver pasti penuh perhitungan.


"Berjanjilah satu hal padaku," pinta Alice lirih.


"Apa pun."

__ADS_1


"Kembalilah dengan selamat."



__ADS_2