
Daniel tenggelam dalam dunianya sendiri. Dia kini tengah duduk di balkon kamar, menikmati secangkir kopi pagi dengan sebuah lagu dari eagles yang mengalir merdu. Kepala Daniel mengangguk-angguk menikmati setiap lirik.
*There she stood in the doorway
I heard the mission bell
And I was thinkin' to myself
'This could be heaven or this could be hell
Then she lit up a candle
And she showed me the way
There were voices down the corridor
I thought I heard them say
Welcome to the Hotel California
Such a lovely place (such a lovely place)
Such a lovely face
Plenty of room at the Hotel California
Any time of year (any time of year)
You can find it here*
Daniel menatap mentari pagi yang mulai menggoreskan cahanya .Tangannya mengusap ujung cangkir dengan lembut. Dalam hati, dia mulai mengolok dirinya sendiri. Bagaimana bisa lagu dari eagles setiap kali terdengar, kini lebih mirip mengenang kisahnya dengan Jasmine. Ini lucu. Mulai tak masuk akal.
Daniel bersandar ke belakang kursi kayu, mendongak ke atas langit-langit.
Pernah ada pepatah yang mengatakan ciuman dewi bak lautan narkotika terlarang. Candunya membuat darahmu terkuras kering hingga maut menjemput.
Sepertinya itu bukan pepatah. Pepatah tak akan berbunyi seperti itu. Entahlah Daniel mendengarnya dari mana. Yang jelas, hal itu mengandung kebenaran saat Daniel menyadarinya.
Jasmine.
Wanita itu. Yang menjual setiap moral demi dollar. Yang menjual setiap etika demi sesuatu yang disebut kemewahan sekilas. Demi semua itu, dia rela menempatkan dirinya pada suatu ketidakpantasan.
Daniel tercenung. Dia memejamkan mata dan merasa menyerah. Hasratnya pada wanita itu tak hilang. Ciuman yang ia pikir mampu membungkam hatinya justru menginginkan lebih dan sulit untuk dipadamkan.
Mungkinkah ini karma karena Daniel terlalu dalam menghakimi Jasmine sebelumnya? Atau Tuhan sedang membuat lelucon kecil.
Entahlah. Dari kedua kemungkinan itu tak ada yang lebih disukai Daniel. Dia merasa enggan untuk melakukan apa pun saat ini.
Fokus, perhatian, hasrat. Segalanya sedang berada dalam fase membingungkan.
Lagu yang ia sukai perlahan-lahan mulai berhenti mengalun, digantikan lagu sembilan puluhan lainnya. Daniel adalah pecinta musik lama. Hampir semua playlist musiknya berisi lagu lawas.
Mentari telah mengintip dari ufuk timur. Daniel tersenyum kecil. Dia mengambil sebuah gitar di sudut balkon, mulai menyanyikan lagu hotel california seorang diri. Perlahan, dia mulai mengambil nada awal.
*On a dark desert highway
Cool wind in my hair
Warm smell of colitas
Rising up through the air
Up ahead in the distance
I saw a shimmering light
My head grew heavy and my sight grew dim
I had to stop for the night
There she stood in the doorway
I heard the mission bell
And I was thinkin' to myself
'This could be heaven or this could be hell
Then she lit up a candle
And she showed me the way
There were voices down the corridor
I thought I heard them say
__ADS_1
Welcome to the Hotel California
Such a lovely place (such a lovely place)
Such a lovely face
Plenty of room at the Hotel California
Any time of year (any time of year)
You can find it here
Her mind is Tiffany-twisted
She got the Mercedes Benz, uh
She got a lot of pretty, pretty boys
That she calls friends
How they dance in the courtyard
Sweet summer sweat
Some dance to remember
Some dance to forget
So I called up the Captain
"Please bring me my wine"
He said, "We haven't had that spirit here since 1969"
And still those voices are calling from far away
Wake you up in the middle of the night
Just to hear them say*
Daniel menghentikan petikannya dan mulai membayangkan kembali. Dia jadi teringat saat Jasmine menyanyikan lagu ini kemarin di restoran. Suara wanita itu cukup kuat dan merdu sebenarnya. Hanya harga dirilah yang membuat Daniel menahan diri dan mengolok-oloknya.
Sekarang, Daniel jadi berandai-andai mereka saling menyanyikan diri bersama di balkon rumah ini, menyambut pagi dan secercah sinar mentari, tersenyum bersama karena hal-hal sepele.
Senyum Jasmine sangat indah sebenarnya. Asal wanita itu tak terlalu mengumbarnya kepada yang lain. Sayangnya, semua yang ada pada diri Jasmine merupakan milik publik. Semuanya. Tanpa kecuali.
Mengenaskan memang. Dulu dia jatuh cinta habis-habisan pada wanita bersuami, Alice. Kini, hasratnya menggelegak tak terkendali pada wanita bobrok seperti Jasmine
Hidup Daniel selalu pada porsi yang tak sesuai. Rachel pasti akan tertawa jika mengetahuinya. Lelaki sepertinya, merupakan sebuah naugerah jika berhasil memfokuskan perhatiannya pada sesuatu. Sayangnya, fokus itu jatuh pada orang yang tak pernah tepat.
Setelah duduk lama di balkon berteman kopi, Daniel beranjak dan masuk ke dalam kamar. Hari ini akhir pekan. Dia mungkin akan kembali mencoba tidur. Siapa tahu saja tubuhnya sedang mendukung dan bersedia beristirahat. Jujur, Daniel merasa lelah luar dalam.
Sebuah ranjang berukuran king size berwarna biru dongker seolah melambai-lambaikan tangan untuk disentuh. Daniel menjatuhkan diri di atasnya dan mulai memejamkan mata. Jika Tuhan baik, Daniel pasti bisa mengistirahatkna tubuhnya sedikit lebih lama. Sesuatu yang dibutuhkannya selama ini.
Sungguh, keberuntungan sedang berpihak pada Daniel. Tak butuh waktu lama baginya terlelap. Kali ini tidurnya cukup lama. Sekitar lima jam ia baru bangun kemudian.
Hari sebentar lagi menjelang tengah hari. Daniel sedikit linglung ketika menyadari dia tidur selama itu. Beberapa kali dia menengok ke arah jam di dinding dan menghitung ulang waktu yang telah ia lewati.
Benar. Dia tertidur cukup lama. Tubuhnya juga terasa lebih baik. Lebih segar. Daniel melemaskan otot-ototnya dan berdiri dengan lega.
Jika setiap hari begini, sepertinya dia tak lagi membutuhkan konsultasi psikolog seperti yang dianjurkan Alice. Hidupnya bisa sedikit tertata mulai sekarang. Semoga saja ke depan bisa seperti ini terus.
Daniel mendesah lega dan berjalan keluar kamar. Dia membutuhkan olahraga. Sepertinya berenang merupakan pilihan yang cukup bagus. Dengan langkah ringan, Daniel menuju kolam renang di belakang rumah yang kini telah ditaburi beberapa dedaunan baru.
Musim gugur ini membuat udara sedikit lebih rendah dari pada biasanya. Sepertinya Daniel harus bertahan dengan angin yang cukup menggigit jika tetap ingin berenang. Dengan mantap, Daniel menceburkan diri ke dalam dinginnya air.
…
Alice melakukan sarapan pagi ini bersama dengan Jasmine. Axel memilih menginap akhir pekan di rumah Rachel.
Anak itu, semakin lama semakin lengket saja pada Rachel. Alice jadi berandai-andai sekiranya dulu Rachel tidak keguguran, mungkin anaknya nanti akan mudah akrap dengan Axel. Mereka pasti akan menjadi teman yang cocok satu sama lain.
Sayangnya, semua hal telah terjadi dengan skenario tersendiri. Alice hanya bisa berangan-angan saja. Tragedi telah membuat Jasmine mengalami semua ini.
Yang terbaik sekarang adalah tetap optimis dalam menghadapi masa depan. Suatu hari nanti Alice yakin pasti Rachel akan mendapat ganti putra atau putri lucu yang akan ia rawat dengan sepenuh hati.
"Ada apa, pikiranmu terlihat berada di surga firdaus." Jasmine mengomentari Alice yang terlihat jelas tengah melamunkan sesuatu.
Alice mencebikkan bibirnya. "Kau juga sama saja. Kau pikir aku tak tahu sebelumnya pikiranmu juga melayang ke tempat lain," protes Alice.
Sebelum ini, Alice mendapati pandangan mata Jasmine terlihat tak fokus. Wanita itu pasti tengah memikirkan sesuatu.
"Ada apa, Jasmine? Tidak ada berita buruk tentang Klayver, bukan?"
Jasmine menggeleng cepat. "Tidak. Tidak. Aku hanya berpikir jika kau hari ini harus lebih keras dalam berlatih fisik."
__ADS_1
Alice mengangguk kecil. Setiap hari setelah mereka sepakat akan menjadikan tubuh Alice lebih kuat, Jasmine selalu memaksa Alice berlatih di ruangan bawah tanah. Ada saja teori yang disampaikan Jasmine.
Dari mulai cara membidik sasaran, memukul di tempat yang tepat, memiting musuh, menggunakan benda tajam yang ada di sekeliling, dan banyak hal lainnya
Lama-lama, Alice menyadari di balik penampilan Jasmine yang terkesan tak tahu moral, dia merupakan wanita dengan kualitas tinggi.
Kemampuan bela diri Jasmine cukup mumpuni. William yang tak sengaja melihat mereka berlatih sempat mengomentari Jasmine jika wanita tersebut pastilah cukup tangguh. Hanya William yang tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Jasmine untuk mengasah keahliannya sekarang.
Jasmine melalui banyak proses yang cukup berat. Dia melewati rintangan-rintangan besar dalam hidupnya sehingga kemampuannya bisa terbentuk sebagus ini.
"Sebenarnya, sejak kapan kau melatih dirimu sendiri dalam bela diri?" Alice bertanya tiba-tiba.
Jasmine yang sedang menghabiskan salad jadi mendongak secepat kilat. Pertanyaan itu menggelitik dirinya.
"Bela diri? Dari sejak aku remaja." Jasmine tersenyum kecil.
"Hebat. Dulu saat remaja aku sibuk dengan produk fashion keluaran terbaru dan kau sudah sibuk dengan pelatihan bela dirimu."
Jasmine jadi tertawa kecil melihat kekesalan Alice yang terlihat jelas.
"Semua orang memiliki jalannya masing-masing, Alice. Begitupun juga denganku. Di usia tiga belas tahun, ayah tiriku melecehkanku. Jadi dari situlah aku mulai bertekad akan belajar bela diri. Setidaknya aku bisa memukul bagian paling pentingnya saat dia mencoba beraksi padaku." Jasmine mengedipkan sebelah matanya, memberi kesan humoris.
Tetapi Alice tahu ada duka yang terlihat berkilat sesaat di sinar mata Jasmine. Pasti masalah itu tak sesederhana seperti yang disampaikan Jasmine.
Setiap orang memiliki rahasianya sendiri. Begitu juga Jasmine. Alice tak ingin terlalu mengorek masa lalu Jasmine jika wanita itu memang belum bersedia membuka diri.
"Alice," panggil Jasmine dengan serius.
Alice menyudahi makannya dan mendorong beberapa piring ke sisi lain. Dia menatap Jasmine yang terlihat serius.
"Kau tahu wanita itu paling rentan terhadap ekspresi?"
Alice menatap mata Jasmine dengan cara yang membingungkan. Apa maksud Jasmine kali ini? Wanita itu jarang berfilosofi. Jika mulai muncul kata-kata filsafat darinya, Alice harus mulai waspada.
"Aku tak paham maksudmu."
"Maksudku, jenis wanita seperti kita, adalah jenis orang yang terlalu sering menampakkan ekspresi wajah sesuai dengan apa yang tengah kita rasakan. Itulah deskripsi dari ekspresi."
Alice mematung dengan kesal. "Aku tahu apa itu ekspresi, Jasmine."
Jasmine tersenyum kecil melihat rasa tak terima dari wajah Alice.
"Kau sendiri yang bilang tak paham maksudku."
"Bukan begitu, aku hanya tak paham apa hubungan pembicaraanmu padaku kali ini." Alice meluruskan kaki, meletakkannya di penopang kayu di bawah meja makan.
Rambut Alice terlihat basah. Dia menggeleng-gelengkan kepala beberapa kali agar airnya terjatuh ke bawah. Rambut merahnya terlihat indah saat ini.
"Aku ingin kau paham bahwa, untuk hidup dengan lelaki seperti Klayver yang menantang bahaya dan maut, ekspresi merupakan sesuatu yang sangat penting."
"Bagaimana bisa?" Alice masih tak memahami pembicaraan ini.
Jasmine berdiri, menunjuk ke arah Ruang kerja dan segera diikuti oleh Alice di belakang.
Sepanjang perjalanan singkat ke ruang kerja, Alice bertanya-tanya dalam hati topik apa yang sedang Jasmine siapkan untuknya.
Jika diibaratkan sebuah permainan, Jasmine merupakan permainan yang tak memiliki rules jelas. Dia bergerak ke mana pun ia mau, bertindak apa pun sesuai keinginannya, dan memberikan kejutan-kejutan lain di akhir cerita.
Alice duduk di sofa lembut dan menelengkan kepalanya menghadap Jasmine yang kini berdiri dua meter darinya.
"Alice, kita tak pernah tahu bahaya apa yang akan kita hadapi nantinya. Musuh-musuh Klayver merupakan orang-orang yang rumit. Orang seperti mereka adalah orang yang bisa melakukan apa pun demi tujuannya. Salah satunya, menahanmu dan menahan anakmu demi untuk menangkap Klayver dan memancingnya keluar. Karena itulah aku ditempatkan di sini. Semata-mata untuk melindungimu dari orang yang menginginkan kematian Klayver."
Jasmine menjelaskan panjang lebar. Dia mengambil sebuah kursi putar, menyeretnya ke dekat Alice dan duduk di sana dengan santai.
"Musuh-musuh Klayver adalah orang yang ahli dalam mendeteksi ekspresi wajah. Mereka bisa mengira-ngira saat kau bohong, saat kau menutupi sesuatu, bahkan saat kau berpura-pura. Tidakkah kau mengetahui intinya sekarang? Jika kau ingin melindungi Klayver dan memperkuat dirimu sendiri, salah satu hal yang harus kau lakukan adalah mencoba mengkamuflase ekspresi wajahmu. Jangan biarkan mereka tahu saat kau berbohong. Pancing mereka ke arah yang salah, permainkan pikiran mereka. Itu merupakan sesuatu yang bisa berguna di masa depan." Jasmine menyentuh bahu Alice, mengamati apakah apa yang baru saja ia sampaikan merasuk ke dalam pikiran Alice.
Sepertinya Alice wanita yang cukup cerdas. Dia mudah menangkap setiap pembicaraan Jasmine, meskipun pada beberapa praktiknya dia perlu mengulangi kembali apa yang telah disampaikan.
"Jadi, kau berniat membuatku bisa mengolah ekspresi wajah, berharap jika suatu hari nanti ada masalah, aku bisa menggunakan hal ini demi kebaikan."
Jasmine menjentikkan jarinya, merasa berhasil menyampaikan teorinya barusan.
"Pintar. Kau tahu? Kau seperti buku yang terbuka. Setiap apa yang kau rasakan mudah untuk ditebak orang lain. Saat marah, kecewa, sedih, dan emosi-emosi dasar lain."
Jasmine mendesah berat. Jasmine juga belum sempurna dalam mengendalikan emosi dan ekspresi wajah. Dia tidak seperti Klayver yang setiap tindakannya tanpa emosi sama sekali.
Tetapi setidaknya Jasmine lebih baik dari pada Alice. Alice benar-benar seperti anak kecil yang polos.
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Berlatih mengendalikannya. Mulai dari sekarang."
"Tapi aku tak ingin berubah menjadi dingin dan tak berperasaan untul Axel. Klayver sudah menjadi lelaki dingin. Jika aku juga menjadi wanita dingin, akan jadi seperti apa keluargaku nanti?" Alice meradang tak terima.
"Demi Tuhan, Alice. Jangan terlalu polos. Kau bisa mengungkapkan ekspresimu pada orang-orang yang kau mau. Latihan ini hanya berfungsi agar kau menggunakannya pada orang yang kau inginkan saja. Tidak pada semua orang. Kau tak harus kehilangan kepribadianmu hanya karena ini."
__ADS_1
…