Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
025 - SEASON 2


__ADS_3

Alice menegang. Apa yang baru saja diucapkan oleh Klayver membuat perasaanya kacau.


Alice menatap wajah Klayver yang menyiratkan keganasan. Ia bak seorang iblis yang siap membantai musuh. Kebencian jelas tercetak di kedua matanya.


Alice tak pernah menyangka Klayver akan mengetahui kebenaran secepat ini. Baru tadi siang ia mengkhawatirkan fakta ini, sore hari Alice sudah sudah harus menghadapi kebencian Klayver.


"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal tersebut?" tanya Alice sedikit takut.


Mungkinkah Klayver memiliki intusi yang tinggi? Atau ia memiliki sumber terpercaya lain yang menyediakan informasi akurat?


Entah itu yang mana yang benar, Alice beranggapan Klayver pasti tak sederhana seperti yang terlihat. Otaknya berada di atas rata-rata. Instingnya pasti terbiasa mendeteksi bahaya. Dia telah hidup lama berteman dengan banyak kondisi sulit.


"Wajahnya sedikit familiar. Saat kau menyebut dia sebagai Daniel, aku jadi teringat ada sumberku yang mengatakan nama yang sama dengan miliknya, telah mencoba mengorek identitasku. Hari ini aku memeriksa kebenaran tersebut dan mengonfirmasi kecurigaanku. Ternyata benar. Dia adalah salah satu pemburuku."


Klayver bertindak dengan cepat. Setelah ia pergi dari rumah Alice, ia menggerakkan organisasi William dan bergegas mmenghubungi informan yang ia miliki.


Alice diliputi perasaan khawatir. Ia melihat Klayver dan memikirkan banyak cara untuk menenangkan lelaki tersebut.


Daniel mungkin memang melakukan tindakan yang telah menyinggung Klayver. Tetapi Alice yakin Daniel hanya sebuah alat bagi orang lain untuk mencari informasi ini. Pada dasarnya, Daniel tak memiliki niat untuk melukai Klayver secara langsung.


"Klayver, tolong pahami keadaan Daniel. Dia bukanlah jenis orang yang bisa merencanakan pembunuhan. Dia bukan orang yang kejam. Aku yakin semisal dia tak sengaja menerima job mengorek informasi tentangmu, dia hanya sekedar perantara. Daniel bukan orang yang menginginkan kematianmu. Dia hanya sekadar alat."


Klayver mendengar pembelaan yang dilontarkan Alice dan matanya kian menyipit membentuk bulan tsabit. Emosinya masih saja tak terbaca. Alice sulit untuk mendeteksi emosi yang Klayver miliki. Lelaki itu memiliki wajah datar yang menyembunyikan emosi dari dunia. Entah siapa yang ia ijinkan untuk menyingkapnya.


"Jika aku menoleransi orang yang memburuku, hidupku sudah berakhir lama, Alice." Klayver berbalik membelakangi Alice. Niat membunuh di matanya semakin kental. Alice curiga dia akan membuat perhitungan pada Daniel malam ini juga.


Alice blingsatan. Dia berdiri dan berjalan ke arah Klayver, meraih lengan Klayver dan menggenggamnya erat.


Saat kulit mereka saling bersentuhan, seperti ada arus listrik yang mengalir. Sentuhan yang membawa efek dalam sebagaimana dulu Alice rasakan dengan Anson.


Sejenak, pikiran Alice seperti terblokir untuk sementara. Sentuhan ini membuat akal sehatnya kacau. Dia melonggarkan genggamannya, tetapi segera ia perkuat lagi setelah ingat apa tujuannya sekarang.


"Daniel adalah temanku. Dia adalah salah satu orang yang sangat berharga bagiku. Tolong jangan buat perhitungan dengannya. Aku berjanji dan akan menjamin dia akan menghentikan tindakannya. Akan kubuat ia tak lagi mencari informasi mengenaimu."


Alice meremas lengan Klayver dengan kuat. Dia menjadikan lengan ini sebagai satu-satunya tali yang menyelamatkan Daniel. Wajah Daniel semakin terbayang dalam ingatan Alice. Lelaki yang menyimpan kepedulian padanya kini terancam hancur karena Klayver. Ada perasaan berat yang menggelayuti hatinya.


"Memaafkan bukanlah salah satu sifat dasarku, Alice. Kau tak bisa meminta hal itu dariku. Bukan hanya Daniel. Bahkan jika kau sendiri menjadikan informasi mengenai diriku sebagai transaksi bisnis, aku juga tak akan pernah mengampunimu." Klayver berkata ringan, tetapi kata-katanya bagaikan belati yang mengoyak hingga kedalaman hati.


Jiwa Klayver memang kejam. Alice tadinya berpikir kata-kata yang ia janjikan mampu mengubah pendirian lelaki itu. Tetapi agaknya, sekali pun ia menangis darah tak akan mengubah keadaan yang dikehendaki Klayver.


"Kali ini saja, Klayver. Jangan lukai Daniel. Jika setelah ini Daniel masih melakukan sesuatu yang mengganggumu, aku tak akan pernah menghalangi niatmu lagi. Aku akan membuat Daniel mundur dari hal tersebut."


Alice masih mencoba melakukan tawar menawar dengan Klayver. Dia tak yakin apakah ini berhasil, tetapi Alice harus mencoba hingga titik akhir sebelum ia memutuskan untuk menyerah.


"Aku tak bisa."


Klayver tetap keras kepala. Dia menatap Alice yang kini menyorotkan ketidakberdayaan. Ada rasa sakit yang terlihat jelas dari raut mukanya. Mungkin, wanita itu memang menganggap Daniel adalah sosok yang penting. Sehingga sulit bagi Alice untuk kehilangannya.


"Klayver, aku--"


"Mari kita buat taruhan," ujar Klayver memotong perkataan Alice.


Alice terbelalak bingung. Dia tak bisa memahami arah pembicaraan Klayver yang tiba-tiba berganti arah.


"Apa yang akan kudapat jika aku membiarkan Daniel lolos dari ekesekusiku?" tantang Klayver penuh makna. Tatapan mata Klayver masih saja tak terbaca, membuat Alice terpaksa menerka-nerka.

__ADS_1


Mungkinkah Klayver mencoba mengambil keuntungan lain dari kondisi ini? Jika pun benar, Alice tak peduli asalkan Daniel selamat dari situasi ini. Nyawa Daniel berada pada prioritas utama.


"Berapa yang kau inginkan? Aku akan memberikan kompensasi yang besar untukmu, selama kau melepaskan Daniel."


Sebuah tekad terbaca kuat dari raut muka Alice. Dia akan melakukan apa pun selama Daniel selamat. Hanya itulah yang Alice ingikan.


Setelah semua hal yang Daniel lakukan untuknya di saat-saat Alice terpuruk, kini giliran ia melakukan sesuatu untuk temannya. Hanya inilah yang bisa Alice lakukan sebagai bentuk terimakasih pada Daniel.


"Aku tak lagi membutuhkan uang, Alice. Benda itu sudah lama tak memiliki harga di mataku." Klayver menjawab pelan.


"Lantas?" tanya Alice meragu. Genggaman tangannya di lengan Klayver semakin mengerat. Apa yang diinginkan lelaki ini? Tidakkah uang adalah salah satu hal yang paling dicari?


" Mari kita bertaruh. Jika Daniel tak bisa menghentikan tindakannya mengganggu prifasiku, aku akan melakukan satu hal yang kau minta dariku. Walaupun itu tidak masuk akal." Klayver mengambil jeda sebelum akhirnya kembali melanjutkan.


"Namun, jika identitasku berhasil diketahui dan bocor pada pihak lain karena tindakan Daniel, kau berhutang satu malam denganku. Satu malam aku akan menuntutmu melakukan kewajibanmu sebagai seorang istri. Dan, menghabisi Daniel, tentu saja."



Klayver berdiri di bawah langit malam. Dia duduk di gazebo belakang seorang diri. Suasana malam lumayan hening. Hanya ada suara jangkrik yang menjadi latar, melengkapi desau angin seperti rintihan malam.


Kedua lengan Klayver ia silangkan. Matanya menajam seolah mampu menembus kegelapan. Pikirannya dipenuhi banyak hal.


Klayver kembali teringat transaksi yang terlanjur ia ucapkan sore tadi kepada Avery. Apa yang ia lontarkan adalah suatu pikiran kilat yang belum sempurna ia cerna. Tetapi terlanjur diungkapkan.


Klayver adalah orang yang penuh perhitungan. Selama hidupnya, ia menempatkan logika di atas semuanya. Segala tindakan yang ia ambil melalui pemikiran matang dan panjang.


Sore tadi adalah salah satu pengecualian. Entah kenapa, melihat reaksi Alice saat itu hasrat dirinya bangkit dan menuntut untuk disempurnakan.


Alice adalah wanita yang cukup tangguh. Kesetia kawanan yang ia miliki lebih besar dari pada ketakutannya. Rasa posesifnya membuat Klayver kagum. Mau tak mau lelaki tersebut merasa salut dengan kekeraskepalaan wanita itu.


Klayver bisa saja menolak permohonannya, toh bagaimana pun juga selama ini dia tak pernah memaafkan orang yang berpotensi membawa bahaya baru, terutama untuk hidupnya.


Itulah kenapa ia disebut sebagai Eyes Evil. Karena ia memiliki kekejaman seperti iblis. Tetapi entah kenapa, satu kali sepanjang hidupnya ia telah membuat pengecualian. Dia bersikap lunak pada Daniel hanya karena Alice.


Wanita itu terlalu unik. Klayver melihat banyak perpaduan karakter pada diri Alice. Ada sebuah magnet otomatis yang menarik Klayver untuk lebih dekat kepada Alice.


Mungkin ini tak baik. Penilaian yang mulai goyah bisa menjadi pertanda bahwa dirinya kurang kompeten. Apalagi penilaian itu disebabkan karena wanita. Dia meletakkan semua peraturan yang ia miliki hanya demi sorang Alice.


Sialan memang. Klayver telah menantang dirinya pada titik yang sulit diterima. Dia memancing Alice untuk berbagi malam dengannya. Padahal, jika ia mau, ia bisa mencari wanita lain yang lebih sempurna dan lebih sederhana dari Alice.


Tetapi hasrat yang ia miliki terlanjur terbentuk dengan sangat kuat. Ada keinginan yang kuat di sudut hati untuk menarik cerita baru antara ia dan Alice. Entah nanti alam akan membuatnya seperti apa, tetapi Klayver bertekad akan menuntaskan hasrat yang ia miliki. Setidaknya, saat ini ia memiliki sedikit waktu.


Setelah cukup lama berdiri di tempat ini berteman dengan malam, Klayver berbalik pergi dan memasuki rumah kembali. Dia langsung berjalan menuju kamar Alice. Kamar yang telah seminggu ini ia tempati bersama.


Alice telah tertidur. Nafasnya lembut dan teratur. Dia berbaring miring, membelakangi Klayver. Rambutnya yang berwarna merah terang seolah menantang Klayver untuk menyentuhnya.


Dengan pelan, Klayver berbaring di sisi ranjang yang lain. Dia menopangkan tangan di bawah kepala, menghadap ke atas dan mulai memejamkan mata. Dalam waktu yang singkat, nafasnya mulai teratur. Malam menyelimuti mereka berdua dengan mimpi indah.



Pagi ini Alice terbangun tanpa Klayver di sampingnya. Lelaki itu selalu bangun lebih awal dan tidur lebih akhir. Sehingga Alice hanya bisa melihat ranjang yang kusut, bekas tidur Klayver.


Alice bersiap-siap dengan kecepatan tinggi. Hari ini dia berniat mendatangi Daniel, memberikan peringatan pada lelaki tersebut tentang pencarian Eyes Evil. Alice harus bertindak cepat sebelum Daniel melakukan hal-lain lain yang lebih jauh lagi.


Setelah mandi dan ganti baju, Alice turun ke lantai bawah dengan terburu-buru. Dia menghubungi Daniel sembari menuju meja makan untuk mengingatkan Daniel bahwa sebentar lagi ia akan berkunjung. Daniel sedikit terkejut mendengar kunjungan mendadak temannya. Tetapi ia tetap menerima dengan tangan terbuka dan menunggu kedatangan Alice.

__ADS_1


Beruntung saat ini Daniel masih belum berangkat kerja, Alice tak perlu menelan kekecewaan baru.


Susan menghidangkan iga sapi bakar dengan dilumuri madu. Alice menghabiskan seluruh hidangan seorang diri. Axel masih sibuk dengan Helena sedangkan Klayver entah berada di mana.


"Klayver sudah keluar pagi-pagi sekali, Alice," jelas Susan seperti tahu rasa penasaran yang dimiliki wanita tersebut.


"Oh, ke mana dia keluar?" tanya Alice sembari mengambil satu gelas air putih yang berada di ujung meja.


"Entahlah. Dia tak memberitahuku. Saat aku tanya, dia hanya menjawab akan ke suatu tempat. Jika kau khawatir, hubungi saja ponselnya," saran Susan pengertian.


Alice mengangguk kecil menerima masukan Susan. Dalam hati, dia berjanji tak akan menghubungi Klayver. Mereka memiliki urusan sendiri sehingga akan lebih baik bagi Alice tidak mengetahui banyak rahasia yang Klayver miliki.


Terserah Klayver mau ke mana. Selama dua bulan ke depan nanti, ia bisa menbantu mencari titik temu tentang kematian Anson, itu sudah lebih dari cukup.


"Susan, hari ini aku akan pergi ke tempat Daniel. Jika nanti Axel bertanya, katakan padanya aku pasti akan kembali pulang sebelum gelap." Alice memberi pesan pada Susan.


Axel sering kali menanyakan keberadaannya. Jika ia tak diberitahu, Alice khawatir anak itu akan membuat masalah.


"Baiklah. Jangan khawatirkan itu, Alice. Perlukah kupanggilkan supir untuk mengantarmu?" tawar Susan tulus.


"Tidak. Tidak. Biarkan aku pergi sendiri."


Alice berjalan keluar dari ruang makan dengan langkah-langkah mantap. Susan yang melihat kepergiannya hanya bisa mendengus kecil. Pandangan matanya berubah menjadi sedikit gelap. Dia membersihkan meja makan dengan ekspresi tak enak dilihat.


Dengan pelan, Susan menghubungi seseorang melalui ponsel.


"Dia sedang dalam perjalanan menemui Daniel. Aku curiga kunjungan Alice kali ini tak sesederhana biasanya. Aku melihat raut mukanya sedikit tertekan. Mungkinkah ia akan membahas masalah itu?" tanya Susan pada orang di seberang sana.


"Kita tidak tahu. Kita juga tidak bisa mengikuti pergerakannya. Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menunggu apa yang terjadi selanjutnya. Tetap pasang telinga baik-baik!" titah orang tersebut.


"Baik," jawab Susan dengan penuh takdzim.



Alice menghabiskan satu jam lebih dalam perjalanan menuju rumah Daniel. Pagi ini beberapa jalur mengalami kemacetan, sehingga perjalanan yang biasanya ditempuh selama tiga puluh menit bisa menjadi dua kali lipat lamanya.


Setelah tiba di rumah Daniel, Alice disambut temannya secara langsung. Daniel berdiri ragu-ragu dengan setelan formal. Sepertinya dia sudah berencana untuk berangkat kerja sebelumnya.


Alice sedikit merasa bersalah karena menahan kepergian Daniel. Tetapi mengingat betapa pentingnya apa yang ia ingin sampaikan, Alice kembali membulatkan tekad.


"Tumben kau datang kemari sepagi ini, Alice." Daniel mempersilahkan Alice masuk ke ruangan depan.


"Ya. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu," kata Alice mencoba memberi senyum tulus.


Daniel yang menangkap kecanggungan dari wanita ini hanya bisa mengernyitkan dahi. Sepertinya kedatangan Alice menyimpan suatu maksud.


Daniel mengarahkan Alice ke ruang tengah dan meninggalkan ruang depan. Pembahasan sensitif akan lebih baik di ruangan dalam. Mereka lebih enak untuk saling bertukar percakapan di sana.


"Kopi?' tawar Daniel menuju ke sudut ruangan.


Daniel hidup melajang tanpa seorang pun pelayan di sekitar. Dia terbiasa hidup praktis dan melayani diri sendiri dalam segala hal. Maka dari itu, rumah ini di desain sedemikian rupa sehingga mudah bagi Daniel melakukan apa saja. Salah satunya dia menempatkan beberapa alat pembuat kopi otomatis di beberapa sudut ruangan yang strategis.


"Baiklah. Dengan cream dan gula," balas Alice.


"Sebenarnya, apa yang membuatmu datang sepagi ini ke rumahku, Alice? Aku yakin ada suatu hal penting yang akan kau sampaikan." Daniel bertindak sigap menyiapkan kopi untuk mereka berdua. Alat otomatis ini mulai mengeluarkan suara yang familiar.

__ADS_1


"Aku ingin kau menghentikan tentang pencarian Eyes Evil."



__ADS_2