Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
141 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine terdiam lama. Dia tak menyangka akan mendengar


pembahasan tentang pernikahan seinstan ini dari lelaki seperti Daniel.


Pernikahan bukanlah sesuatu yang ringan dan mudah untuk diucapkan seperti ini.


Dia tentu tak mengharapkan pembahasan seperti ini dalam situasi genting.


Jasmine terkekeh geli dan menutup mulutnya untuk


menahan tawa sinis yamg keluar dari bibir. Daniel keterlaluan kali ini. Dia


melemparkan candaan yang tak seharusnya. Dengan kejam, lelaki itu mulai mempermainkan


psikis Jasmine yang saat ini sangatalah ringkih.


“Jangan membahas pernikahan dengan cara yang seperti


ini. Kau pikir pernikahan adalah sebuah lelucon tragis yang bias kau bahas


dengan mudah? Dan kau pikir, kau bisa mengancamku dengan cara kotor? Kau mau


mengambil naka ini di bawah asuhanmu? Itukah yang kau inginkan, Daniel?”


Jasmine berkacak pinggang, menatap Daniel dengan


tatapan tajam. Alice tak yakin jia Daniel benar-benar berniat akan mengasuh


anak dartinya. Bisa jadi itu hnyalah alasan klise yang dipakai Daniel untuk


melenyapkan keberadaan anak mereka nanti. Jasmine bukanlah wanita polos yang bias


dibodohi begitu saja. Dia sudah mengenal kehidupan malam lama sebelumnya.


Kehidupan malam yang penuh intrik dan manipulasi.


Dalam kehidupan yang Jasmine miliki, waktu telah lama

__ADS_1


mengajarinya banyak hal. Bagaimana dia harus waspada terhadap orang-orang


tertentu, bagaimana dia harus hati-hati kepada orang lain, dan bagaimana ia


harus menanggapi semua kemunafikan yang sengaja dilakukan oleh banyak golonga


laki-laki.


Jadi, jika Daniel sekarang mengiming-imingi tentang pernikahan


dan mengancam tentang pengambilan hak asuh anak yang bisajadi kepua-puraan


belaka, itu semua sebenarnyabukan permainan baru. Keterkejutan Jasmine tak


bertahan lama. Dia mulai bisa meraba rencana-rencana Daniel yang sangat licik.


“Ya. Aku tak akan memaksa untuk menikah denganmu.


Tetapi yang jelas, jika anak ini lahir nantinya, selama kita tidak terikat


pernikahan, maka kuoastikan aku kaa melawamu di pengadilan untuk mengambil hak


serius. Dia benar-benar terlihat tak bermain-main.Kata-katanya berjeda lama,


sengaja membiarkan Jasmine mencernanya.Jika wanita itu cukup cerdas, dia pasti


akan bisa mengambil keputusan dengan lebih baik.


Daniel ingn bermain sportif. Dia akan melakukan banyak


cara-cara kasar nantinya andai Jasmine tak bisa bekerja sama. Wanita itu harus


diyakinkan bahwa Daniel kali ini sungguh-sungguh serius. Tak ada ruang baginya


untuk bercanda.


“Kau tak bisa berbuat seperti itu!” Jasmine menolak

__ADS_1


diancam begitu saja. Dia masih perlu meraba-raba apa maksud dari Daniel


sesngguhnya. Lelaki itu mulai bermain teka-teki. Dengan Jasmine sebagai koerb


annya.


Siang ini seharusnya sudah memasuki waktu makan siang.


Tetapi baik Caterine maupun pelayan lain tak ada yang berani menginatkan mereka


berdua. Jasmine sempat melihat sososk Caterine yang mengintip sebentar dari


sisi ruang tegah. Pelayan itu kembali berbalik dan tak berkata apa pun saat ia


melihat pembicaraa Jasmine dan Daniel yang sepertinya sangat serius.


Musim dingin yang biasaya membawa cuaca tak


bersahabat, kini tak terllau tersa dingin. Punggung Jamsine terasa bsah oleh


keringat. Keningya juga terlihat lembab karena tekanan yang ia alami dalam


pembicaraannya dengan Daniel.


Bertbeda dengan Daniel, meskipun lelaki iyu juga


terlihay tertekan dan tak nyaman dengan pembicaraan mereka, tetpi ia cukup


berhasil mengendalikan diri. Di sinilah kekuatan Daniel terlihat. Di balik


sikap ramahnya dengan orang lain, dia menyimpan banyak kelebihan diri.


“Aku bisa berbuat apa pun yang aku mau. Asalkan kau


tahu, Jasmine. Meskipun kau memiliki koneksi besar, tetapi aku pun juga sama.


Kita sama-sama memiliki koneksi yang kuat. Untuk mengambil anak itu, aku tak

__ADS_1


akan setengah-setengah dalam mengambil sikap.Mari kita bertarung di meja hijau


jika perlu."


__ADS_2