
Jasmine terdiam lama. Dia tak menyangka akan mendengar
pembahasan tentang pernikahan seinstan ini dari lelaki seperti Daniel.
Pernikahan bukanlah sesuatu yang ringan dan mudah untuk diucapkan seperti ini.
Dia tentu tak mengharapkan pembahasan seperti ini dalam situasi genting.
Jasmine terkekeh geli dan menutup mulutnya untuk
menahan tawa sinis yamg keluar dari bibir. Daniel keterlaluan kali ini. Dia
melemparkan candaan yang tak seharusnya. Dengan kejam, lelaki itu mulai mempermainkan
psikis Jasmine yang saat ini sangatalah ringkih.
“Jangan membahas pernikahan dengan cara yang seperti
ini. Kau pikir pernikahan adalah sebuah lelucon tragis yang bias kau bahas
dengan mudah? Dan kau pikir, kau bisa mengancamku dengan cara kotor? Kau mau
mengambil naka ini di bawah asuhanmu? Itukah yang kau inginkan, Daniel?”
Jasmine berkacak pinggang, menatap Daniel dengan
tatapan tajam. Alice tak yakin jia Daniel benar-benar berniat akan mengasuh
anak dartinya. Bisa jadi itu hnyalah alasan klise yang dipakai Daniel untuk
melenyapkan keberadaan anak mereka nanti. Jasmine bukanlah wanita polos yang bias
dibodohi begitu saja. Dia sudah mengenal kehidupan malam lama sebelumnya.
Kehidupan malam yang penuh intrik dan manipulasi.
Dalam kehidupan yang Jasmine miliki, waktu telah lama
__ADS_1
mengajarinya banyak hal. Bagaimana dia harus waspada terhadap orang-orang
tertentu, bagaimana dia harus hati-hati kepada orang lain, dan bagaimana ia
harus menanggapi semua kemunafikan yang sengaja dilakukan oleh banyak golonga
laki-laki.
Jadi, jika Daniel sekarang mengiming-imingi tentang pernikahan
dan mengancam tentang pengambilan hak asuh anak yang bisajadi kepua-puraan
belaka, itu semua sebenarnyabukan permainan baru. Keterkejutan Jasmine tak
bertahan lama. Dia mulai bisa meraba rencana-rencana Daniel yang sangat licik.
“Ya. Aku tak akan memaksa untuk menikah denganmu.
Tetapi yang jelas, jika anak ini lahir nantinya, selama kita tidak terikat
pernikahan, maka kuoastikan aku kaa melawamu di pengadilan untuk mengambil hak
serius. Dia benar-benar terlihat tak bermain-main.Kata-katanya berjeda lama,
sengaja membiarkan Jasmine mencernanya.Jika wanita itu cukup cerdas, dia pasti
akan bisa mengambil keputusan dengan lebih baik.
Daniel ingn bermain sportif. Dia akan melakukan banyak
cara-cara kasar nantinya andai Jasmine tak bisa bekerja sama. Wanita itu harus
diyakinkan bahwa Daniel kali ini sungguh-sungguh serius. Tak ada ruang baginya
untuk bercanda.
“Kau tak bisa berbuat seperti itu!” Jasmine menolak
__ADS_1
diancam begitu saja. Dia masih perlu meraba-raba apa maksud dari Daniel
sesngguhnya. Lelaki itu mulai bermain teka-teki. Dengan Jasmine sebagai koerb
annya.
Siang ini seharusnya sudah memasuki waktu makan siang.
Tetapi baik Caterine maupun pelayan lain tak ada yang berani menginatkan mereka
berdua. Jasmine sempat melihat sososk Caterine yang mengintip sebentar dari
sisi ruang tegah. Pelayan itu kembali berbalik dan tak berkata apa pun saat ia
melihat pembicaraa Jasmine dan Daniel yang sepertinya sangat serius.
Musim dingin yang biasaya membawa cuaca tak
bersahabat, kini tak terllau tersa dingin. Punggung Jamsine terasa bsah oleh
keringat. Keningya juga terlihat lembab karena tekanan yang ia alami dalam
pembicaraannya dengan Daniel.
Bertbeda dengan Daniel, meskipun lelaki iyu juga
terlihay tertekan dan tak nyaman dengan pembicaraan mereka, tetpi ia cukup
berhasil mengendalikan diri. Di sinilah kekuatan Daniel terlihat. Di balik
sikap ramahnya dengan orang lain, dia menyimpan banyak kelebihan diri.
“Aku bisa berbuat apa pun yang aku mau. Asalkan kau
tahu, Jasmine. Meskipun kau memiliki koneksi besar, tetapi aku pun juga sama.
Kita sama-sama memiliki koneksi yang kuat. Untuk mengambil anak itu, aku tak
__ADS_1
akan setengah-setengah dalam mengambil sikap.Mari kita bertarung di meja hijau
jika perlu."