
Hari masih pagi ketika Maxen merasa ada yang janggal. Jam menunjukkan pukul 06.02 waktu Manhattan. Suasana rumah yang biasanya ramai terdengar hening dan senyap.
Maxen menegakkan tubuh tanpa membangunkan Rachel yang masih tidur nyenyak. Istrinya masih terlalu lelah untuk saat ini. Ia tak tega mengganggu istirahat wanita tersebut.
Baru saja Maxen bermaksud untuk mengecek keadaan, terdengar suara tembakan saling beradu. Maxen menyadari ada yang tidak beres dengan situasi. Pikiran pertamanya adalah menyelamatkan Rachel secepat mungkin. Dia berlari ke arah Rachel dan mengguncang tubuh istrinya kuat.
"Rachel," Maxen mencoba menarik kesadaran Rachel. Wanita itu mengerjap beberapa kali dan menatap Maxen dengan pandangan penuh tanya.
"Apakah aku bermimpi? Baru saja aku seperti mendengar suara tembakan." Rachel mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Dia merapikan rambut pirangnya yang berantakan dan menatap Maxen dengan kebingungan.
"Kau tidak bermimpi. Sepertinya kita sedang diserang. Aku belum tahu siapa penyerangnya tetapi langkah pertama yang harus kita lakukan adalah keluar dari kamar ini dan bersembunyi ke ruang bawah dekat garasi, oke?"
Di sana merupakan tempat yang cukup aman. Maxen membuat semacam pertahanan kuat di sebuah ruangan tak jauh dari garasi. Ruangan itu hanya berukuran lima kali tujuh meter, tetapi terbuat dari material khusus yang tahan terhadap segala jenis serangan.
Mendengar kata serangan, Rachel membulatkan mata dan menutup mulutnya dengan syok. Suara tembakan kembali terdengar semakin dekat. Jeritan kesakitan dari orang-orang yang menjadi bawahan Maxen bagaikan nyanyian menyeramkan.
Selama penyerang itu sibuk menghadapi anak buahnya, Maxen menggunakan kesempatan ini untuk membimbing Rachel ke luar kamar. Ada sebuah pistol standar di bawah ranjang mereka. Maxen segera mengambilnya dan bergegas keluar. Selama bertahun-tahun ia menyimpan senjata, tak pernah ia duga akhirnya akan ia pakai juga.
Baru saja Maxen dan Rachel membuka pintu, empat moncong pistol telah menyambut mereka. Maxen mundur, memberi perlindungan bagi istrinya.
Logika Maxen mulai berjalan. Dia hanya memiliki satu pistol sementara orang di hadapan mereka menggenggam empat pistol. Sekali pun ia berhasil melindungi dirinya, tetapi Rachel akan mudah terpapar dalam bahaya.
"Buang pistolmu dan kami akan membiarkan istrimu pergi. Kami hanya disuruh untuk membawamu, tidak dengan yang lain." Kata salah seorang berpakaian hitam dengan skibo gelap. Mereka semua seperti kelompok ninja. Masing-masing menutupi identitasnya dengan warna pakaian yang sama. Hitam.
Mendengar perintah tersebut, Maxen tak berpikir dua kali untuk membuang pistolnya ke lantai. Maxen telah terbiasa menghadapi banyak orang. Dia menjadi peka dalam menilai karakter dan psikologis manusia.
Mendengar sikap mereka yang tenang, Maxen tahu musuhnya mengatakan kebenaran. Mereka hanya mengincar Maxen. Tidak yang lain. Jika sikap patuh Maxen bisa membawa keselamatan bagi Rachel, lelaki itu tak keberatan untuk melakukannya.
"Angkat kedua tanganmu ke atas dan ikuti aku." Lelaki berpakaian itu menunjuk Rachel. "dan kau, pergilah ikuti temanku. Kami akan menahanmu sementara waktu selama urusan kami belum selesai. Setelah semuanya beres, kau akan kami bebaskan." Seorang lelaki berperawakan sedang menyerahkan Rachel kepada salah satu anak buahnya.
Rachel berjalan mengikuti orang yang ditunjuk dan dikunci di sebuah ruangan. Rachel tak tahu apa yang akan terjadi pada Maxen. Mereka saling terpisah dan tak bisa melakukan komunikasi terakhir. Semua hal telah berjalan dengan kacau.
Rachel duduk di sebuah kursi kayu. Ruangan ini biasanya digunakan sebagai gudang. Udara di sini sedikit apak. Banyak debu berterbangan. Rachel yang biasanya alergi pada debu, kini tak lagi merasakan apa pun.
Jantungnya bertalu-talu tak menentu. Keringat mengucur deras dari dahinya. Kedua tangan dan kakinya gemetar hebat, terasa bergerak sendiri di luar normal.
"Ya Tuhan, oh, Ya Tuhan …." Rachel menangkupkan kedua tangannya, mencoba menenangkan diri.
Mungkinkah ini semua rencana Alice dan Klayver? Mereka telah mengambil langkah sejauh ini sehingga bisa berhasil menembus pertahanan Maxen yang sangat kuat. Pasti mereka sangat matang merencanakan semuanya. Tak mudah mengalahkan Maxen. Apalagi menyudutkan Maxen sedemikian rupa. Hampir mustahil.
Tetapi kenyataan telah membuat kesadarannya tercabik pilu. Maxen memilih menyerah dengan sangat mudah. Bahkan tanpa perlawanan sama sekali hanya untuknya.
Apa yang dikatakan Maxen adalah sebuah kebenaran. Jika mereka hanya diberi kesempatan dua nyawa, nyawa itu adalah milik Rachel dan anaknya. Maxen memilih luruh dalam nasib tak menentu.
Hati Rachel tergores pilu. Maxen adalah orang yang sangat berego besar dan tak mudah menyerah. Melihatnya menjadi lemah hanya karena Rachel benar-benar mencengangkan.
Setelah setengah jam lebih Rachel terjebak di tempat ini, akhirnya pintu mulai terkuak secara perlahan. Entah kenapa, pikiran bodoh Rachel berharap itu adalah Maxen. Tetapi kenyataan mengejutkan menerpanya kembali.
Sosok yang berdiri di balik pintu itu adalah Alice. Wanita tersebut memakai pakaian kasual dengan jaket jins pas badan. Aura tubuhnya menunjukkan kekelaman. Sinar matanya mulai sedikit meredup .
__ADS_1
"Pergilah, Rachel. Kau tak seharusnya di sini. Pergiah sejauh mungkin dari kasus ini!" pintanya datar, membiarkan pintu terbuka dan meninggalkan Rachel dalam kesendirian.
Pintu tak lagi terkunci. Rachel telah bebas. Hati nurani Alice tak bisa menahan keinginan untuk membebaskan temannya. Dengan mantap, Rachel keluar dari gudang. Bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk mencari tahu kondisi Maxen.
Di luar ruangan, Keadaan mansion Maxen bagaikan tempat perang. Beberapa pengawal tergeletak di lantai dengan darah berceceran. Bau mesiu dam bau anyir bersatu menyesakkan indera penciuman. Rachel menopang dirinya sendiri, menenangkan perutnya yang mulai bergejolak tak nyaman.
Ruangan telah sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Barang-barang yang berserakan telah menjadi saksi bisu semua tragedi yang terjadi. Rachel memang sempat mendengar kericuhan ketika ia mulai dikunci di ruang gudang. Tetapi ia tak pernah menduga akan separah ini efeknya.
Dengan menajamkan fokus dirinya, Rachel mencoba menguatkan indera. Dia harus mencari jejak di mana mereka semua menahan Maxen. Semoga semuanya masih belum terlmabat.
Rachel tahu apa yang dilakukannya adalah tindakan gila. Tetapi jika ia ingin mempertahankan satu-satunya harapan tipis yang ia miiki, Rachel harus siap tenggelam dalam kegilaan.
…
Alice berada di lantai dua di sebuah ruang keluarga bersama Klayver dan Maxen. Setelah berhasil melumpuhkan Maxen dan memborgol tangannya, Klayver menbiarkan anak buahnya menyelesaikan urusannya menghabisi Andre, Adam, dan Souvery.
Situasi Maxen sekarang mudah untuk dihadapi. Dia tak mungkin lagi bisa melarikan diri dengan keadaannya kini. Jadi, Klayver merasa tak keberatan melepaskan semua anak buahnya pergi. Mereka perlu membungkam banyak orang lagi.
Alice, yang berada tak jauh dari Klayver, berdiri membeku menatap pembunuh mendiang suaminya yang kini tengah terduduk tak berdaya ditahan di semua sisi. Maxen mereka dudukkan di atas kursi besi dan dikunci geraknya dengan rantai yang melingkar dari tangan hingga kaki.
Alice menarik nafas panjang. Dulu ia selalu bertanya-tanya bagaimana reaksinya jika ia melihat pembunuh Anson. Pasti akan marah, murka, dan bertindak di luar kontrol.
Tetapi ternyata, yang ia rasakan saat ini adalah kehampaan yang mendalam. Kekosongan yang menjebak nuraninya terlalu dalam sehingga Alice takut semua itu bisa membunuhnya.
Kemarahan yang ia miliki tak lagi bergelora seperti dulu. Rasa sakit yang ia alami tak lagi seperih dulu. Duka itu memang masih ada, tetapi terletak di sudut hati paling dalam.
Maxen pernah mengkhawatirkan kerumitan semacam ini akan terjadi. Tetapi ia pikir dirinya telah berhasil menanggulangi pokok masalah jauh sebelumya. Tak ia kira masalah itu tetap saja datang.
Dia pikir, tindakannya membunuh Anson tidak akan membawanya pada kejatuhan secepat ini. Siapa sangka dunia malah menjebaknya.
"Jadi kau mengakui kalau kau memang membunuh mendiang suamiku?" tanya Alice tajam.
Ada dua jenis penjahat. Mereka yang terus membuat alibi akan tindakannya, dan mereka yang justru akan menantang karena tindakan kejahatan yang mereka lakukan. Sayangnya, Maxen termasuk kelompok yang kedua.
"Ya. Meskipun aku tak pernah menyangka kau akhirnya mampu menghubungkan bukti tentang tindakanku. Seharusnya, aku membunuhmu saat aku masih memiliki kesempatan. Aku menyesal mendengar perkataan Susan dan membiarkanmu hidup." Maxen terkekeh pelan. Dia teringat beberapa kali putra Alice datang ke rumah ini, bermanja-manja dengan Rachel. Seharusnya saat itu ia bunuh saja anak Alice. Karena dia merupakan darah daging Maxen.
Tetapi, karena kelembutan yang Rachel miliki, membuat semua tindakan Maxen serba tertahan. Jadi ia memilih mengalah dan membiarkan Rachel bahagia bersama orang-orang terdekat Alice. Sebuah keputusan salah yang membawa pada penyesalan.
"Jadi, Susan yang telah membujukmu untuk membiarkan aku hidup?" tanya Alice tak mengerti.
Klayver benar. Dalam dunia ini, orang selalu memiliki alasan untuk saling berbenturan satu sama lain. Masing-masing dari kita selalu memiliki komposisi kebaikan dan kejahatan yang seimbang. Tujuan yang berbedalah yang membuat manusia saling menyerang dan bermusuhan.
"Ya. Sudahkah kau selesai mengintrogasiku? Kapan kau akan membunuhku?" tanya Maxen seolah tak sabar.
Saat ini, Maxen mengetahui akhir hidupnya yang sebentar lagi diambang kematian. Maxen adalah orang yang tak suka menunda sesuatu dan membenci berada pada posisi tak berdaya dan melemahkannya. Dia tentu saja lebih memilih matinya dipercepat dari pada ditunda-tunda. Toh, hasil akhirnya tetap sama saja.
Satu-satunya dalam hidup ini, adalah ia belum menbahagiakan Rachel secara sempurna. Andai ia diberi waktu lebih, dia akan mencoba jujur pada istrinya dan memberikan kebabahagiaan lebih besar lagi.
"Tidakkah kau takut pada kematian, Maxen?" tanya Alice dengan sinis. Ia melirik ke arah Klayver yang tengah mengarahkan pistol berperedam suara ke kepala Maxen dalam jarak lima meter.
__ADS_1
Klayver menatap Alice penuh arti. Seolah ia menyerahkan semuanya pada Alice. Jika wanita itu memilih mengintrogasi Maxen untuk seminggu lamanya, Kalyver tetap akan setia mendampingi.
"Apa kau pikir lelaki yang berurusan dengan dunia gelap pantas untuk takut mati?" Maxen membalikkan pertanyaan serupa kepada Alice.
"Katakan padaku kenapa kau membunuh Anson dan anak-anakku. Aku menginginkan alasan yang sesungguhnya. Anggap saja, itu permintaan terakhir dariku sebelum kau mati." Alice berbicara ringan, menyembunykikan emosi hatinya yang sangat kacau.
"Kau ingin tahu alasan yang sebenarnya?" tanya Maxen kembali menjawab pertanyaan Alice dengan pertanyaan. Alice terkpaksa mengangguk. Semakin cepat Maxen merespon, semakin cepat Alice munyudahi urusan ini.
"Aku tak memiliki masalah dengan bisnis Anson. Aku juga tak pernah bertransaksi dengannya," jawab Maxen apa adanya.
Alice terhenyak cukup lama. Pantas saja selama ia meneliti ribuan kali buku transaksi rahasia yang Maxen tinggalkan, tak ada satu data pun yang menyangkut Maxen Millian.
Awalnya, Alice mengira pihak yang membunuh Anson pastilah pihak yang pernah menjalani bisnis dengannya. Setelah Anson memutuskan keluar dari dunia gelap, orang itu mungkin merasa terancam sehingga bermaksud membungkam Anson untuk selamanya.
Alice tak pernah mengira ternyata alasan kematian Anson tidaklah sesederhana itu. Semuanya semakin berkembang di luar dugaan.
"Lantas?" tanya Alice lirih. Jika bukan karena bisnis, alasan apalagi yang melatar belakanginya?
"Karena dendam lama." Suasana yang tadinya telah tegang, semakin tak karuan ketika Maxen mengungkapkan hal ini. Lelaki itu sengaja diam lama. Membiarkan waktu menggantung dalam hening sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya kembali
"Orang tuaku terlibat dalam pembunuhan keluarga Anson. Setelah Anson berusia sekitar sembilan belas atau dua puluh, aku lupa usia tepatnya saat itu. Dia membalas dendam membunuh keluargaku. Dad, Mom, dan adik bayi kembarku dihabisi olehnya. Sayangnya, dia menyisakan aku dan Harry karena saat itu kami berada di luar kota untuk melanjutkan sekolah. Anson telah menutupi semua bukti, tetapi aku memiliki insting tinggi sehingga bisa menyelidiki tindakannya."
Ayah Maxen termasuk penganut sistem poligami. Dia memiliki tiga istri selama hidupnya. Saat itu yang selamat dari tragedi pembantaian Anson hanyalah Alana, ibu Harry, dan kedua putra mereka. Ibu kandung Maxen dan istri lain ayahnya mengalami nasib tragis mengerikan.
Seandainya saja saat itu Anson hanya menghabisi ayahnya, Maxen tidak akan semarah ini karena ayahnya merupakan lelaki yang cukup bajing*n. Tetapi masalahnya, dia menghabisi dua adiknya yang masih bayi. Makhluk yang tidak bersalah sama sekali. Dari situlah dendam dimulai.
"Jadi karena dendam?" Alice memastikan dengan nanar. Dia seperti lumpuh mendadak. Alice menjatuhkan diri di kursi dan duduk bertopang dengan kedua tangan.
Tak ada kebohongan sama sekali dalam raut muka Maxen. Alice tahu lebih dari siapa pun juga Maxen menyampaikan sebuah kebenaran. Kebenaran yang tak jauh berbeda seperti yang Klayver sampaikan.
Dendam adalah lingkaran setan. Ia akan membelenggu banyak orang untuk saling melenyapkan satu sama lain. Hingga akhirnya siapa pun yang tertarik oleh arusnya akan dibawa hanyut tanpa jiwa.
"Ya. Dia telah membunuh bayi tak bersalah. Kenapa aku tidak bisa membunuh anaknya? Bayi itu adalah adik-adikku. Jadi demi apa pun juga mereka tak berhak mati dibantai sedemikan hina."
Alice menunduk dalam. Merasakan kekosongan yang kejam. Alice tahu keluarga Anson memiliki riwayat dibantai. Lelaki itu sendiri telah mengakuinya dan mengatakan telah mengurus siapa pun yang membantai. Tak pernah ia duga, Anson menghabisi bayi-bayi tak bernyawa juga dalam proses pembalasan.
Mungkin Anson tak sengaja menghabisinya. Mungkin Anson hanya melakukan kecerobohan kecil. Tetapi fakta itu tetap saja menohok kesadaran Alice dengan telak.
Namun, semua hal telah terjadi. Kesalahan akan selalu melahirkan konsekuensi besar. Alice sudah berada di titik ini. Dia tak bisa mundur dan menyerah kalah.
Mungkin, Anson memang pernah melalui masa suram, tetapi bagaimanapun juga ia tetaplah mendiang suaminya. Demi dia, Alice rela melakukan banyak hal. Termasuk membungkam orang-orang yang tak seharusnya ia bungkam.
Saat Alice mulai memutuskan niatnya, sebuah bayangan berkelebat mendekati Maxen. Alice ternganga tak percaya. Rachel berdiri di sisi Maxen, memilih mencarinya dari pada meninggalkan seperti yang telah Alice sarankan untuknya.
Rachel berdiri menjulang, memilih berada di sisi suaminya dan menatap Alice penuh tantangan.
"Sudah kuputuskan. Aku akan berdiri di sisi Maxen hingga aku mati."
…
__ADS_1