Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
087 - SEASON 2


__ADS_3

Dalam dunia kelam, banyak orang yang hanya digunakan sebagai pion. Fungsinya hanya untuk digerakkan semaunya dan dikorbankan saat-saat tertentu.


Luiz tersenyum kecil, menbaca banyak riwayat tentang Alice Vaquez dalam sebuah dokumen yang Liza serahkan tadi untuknya. Dokumen itu memuat semua riwayat Alice dari kecil hingga dewasa. Wanita seperti ini cukup menarik bagi lelaki seperti Luiz.


Menikah empat kali, memiliki seorang putra, menjadi pebisnis hebat. Bagus. Sebuah daftar hidup yang cukup menarik untuk dicantumkan dalam wikipedia. Riwayat yang akan dibaca hingga anak cucu nanti.


Bagaimana jika riwayat ini Luiz jadikan lebih menarik? Alice, seorang pebisnis yang pernah disekap dan ditawan oleh seorang mafia bernama Luiz.


Menarik. Riwayat yang akan membuat anak turun Alice membacanya dengan adrenalin yang terpompa.


Luiz meletakkan map yang ia pegang dan duduk termenung di kursi kebesaran. Selain Alice, Luiz sebenarnya ingin mengetahui riwayat tentang Klayver. Terapi seperti yang ia duga, orang itu bak hantu yang tiba-tiba keluar dari antah berantah dan tak memiliki riwayat jelas.


Tidak ada asal usul dari data mana pun yang bisa Luiz ambil. Hanya riwayat klise dari nomor jaminan sosial miliki Klayver. Tetapi itu pun Luiz tak yakin data yang dimasukkan benar-benar real.


Klayver Vaquez. Seseorang yang dianggap hantu oleh sebagian orang lainnya. Keberadaannya yang ternyata orang selama ini sebut sebagai eyes evil.


Siapa sangka di balik identitas itu, ada lelaki yang memiliki kehidupan rumah tangga normal, dengan seorang istri hebat dan anak tiri menggemaskan.


Dunia gelap bisa geger andai mereka tahu eyes evil memiliki kelemahan. Apa yang dikira orang selama ini sebagai hantu tak kasat mata, nyatanya tak lebih dari sekadar lelaki normal seperti yang lain.


Luiz merasa berada di atas awan. Dia menggenggam rahasia penting yang tak sembarangan orang tahu. Katakanlah, dia adalah kunci dalam keselamatan eyes evil.


Mari kita lihat seberapa besar eyes evil memiliki kemampuan menyelamatkan diri dari rantai yang akan Luiz kalungkan untuknya.


Keberadaan Eyes Evil masih misteri. Luiz tebak saat ini orang itu pasti tengah sibuk membereskan banyak orang yang menjadi musuh-musuhnya.


Sebelumnya Rico dan Pollo, setelah itu ada tiga agen federal yang meninggal beberapa hari yang lalu. Luiz beranggapan kematian agen itu pasti ulah Klayver, mengingat tiga agen itu terkenal sebagai pemburu eyes evil tanpa kenal lelah.


Beruntung, markas Luiz masihlah tersembunyi. Klayver hanya mengetahui tentang keberadaan Rico dan Pollo, tetapi belum terlalu jauh sehingga mengetahui kediaman pribadi Luiz.


Mungkin, lelaki secerdas Klayver pasti akan tetap mengetahui Luiz dan markas ini. Akan tetapi, untuk sampai pada hal ini Klayver membutuhkan waktu dalam penyelidikan. Waktu yang Luiz gunakan untuk mempertahankan posisinya dengan mengambil kartu as yang Klayver miliki. Istri dan anak tirinya. Atau, mungkin istrinya saja cukup. Luiz tak terlalu suka menahan anak-anak. Terlalu merepotkan.


Luiz berjalan mengitari ruangan, teringat akan sesuatu. Dia kemudian menghubungi seseorang yang telah ia janjikan untuk dikirim sebagai hadiah bagi Liza.


Seorang pemuda tampan, blasteran eropa dan timur tengah. Siapa yang tidak tergoda?


Liza terlalu dingin selama ini. Dia butuh diberi kesenangan dalam bentuk lain. Jika uang tak lagi berarti, maka Luiz tahu apa yang paling berarti bagi seorang wanita. Laki-laki kekar dengan kemampuan liar biasa dan ahli dalam memanjakan pasangannya.


Dua hari sepertinya akan lebih dari cukup untuk membuat Liza bahagia. Luiz sudah memikirkan hal ini matang-matang.


Luiz tersenyum kecil, sekali lagi merasa menang. Dia belum tahu sejatinya lelaki yang dikirimkan ke Liza hanya akan menjadi sia-sia.


Wanita itu, tak tergerak pada semua jenis ketampanan yang Luiz tawarkan.


Sebenarnya, Liza pernah sekali dua kali tergerak pada kaum lelaki. Seperti Luiz atau Klayver contohnya. Tetapi sebesar apa pun kekaguman terhadap mereka, Liza memiliki kewaspadaan yang tinggi sehingga ia tak mungkin dirayu hanya dengan lelaki berwajah tampan.

__ADS_1


Di awal-awal Liza memasuki dunia kelam, Liza sempat menaruh kekaguman sekilas kepada Luiz. Tetapi setelah dia tahu sifat dan karakternya, dia jadi mewaspadai lelaki tampan. Pada semua lelaki tampan.


Klayver. Sekali pun Liza mengagumi wajahnya, dia tetap merinding membayangkan apa saja yang telah lelaki itu lakukan dalam menghabisi nyawa orang lain. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana wanita seperti Alice sanggup menikahi lelaki seperti Klayver.



Malam ini telah larut. Jasmine berada di dapur untuk mencari beberapa makanan pengganjal perut yang bisa ia temukan.


Jasmine membuka kulkas dan merasa senang. Dia mengambil sekaleng sarden, mengolahnya kilat di atas sebuah panci, dan memakannya seorang diri di atas meja kecil.


Saat Jasmine sibuk menikmati makanannya, Sila datang ke dapur dan tersenyum kecil melihat cara Jasmine yang memakan sarden seperti orang kelaparan tiga hari tiga malam.


"Jasmine, apakah aku perlu membantumu membuat sesuatu?" tawar Sila ramah.


"Tidak, Sila. Jam sudah malam. Kenapa kau kembali lagi ke dapur? Tidak istirahat?" Jasmine membalasnya dengan sebuah pertanyaan juga.


"Aku meninggalkan kudapanku di sini. Saat aku tak bisa tidur, aku perlu memakan sesuatu yang ringan." Sila membuka salah satu lemari makanan di atas meja kitchen set dan mengambil sekotak biskuit kering.


"Kau mau?" tawar Sila.


"Tidak. Bawa saja ke kamarmu."


Sila tersenyum kecil dan kembali lagi ke arah ia tadi datang.


Jasmine termenung lama. Dia menatap punggung Sila dan merasa curiga. Ada sesuatu yang Sila sembunyikan. Wanita itu kelihatannya tidak sederhana seperti kelihatannya.


Setelah menghabiskan sarden, Jasmine berdiri dan berjalan ke arah kamarnya yang terletak di lantai atas.


Dia perlu tidur. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam waktu Manhattan. Alice pasti sudah tertidur. Jasmine menyusuri lorong di lantai atas, berdiri lama di depan kamar dan kemudian membuka pintunya secara perlahan.


Di dalam kamar, Jasmine berjalan menuju lemari pakaian dan membuka laci paling bawah. Dia menatap sebuah bungkusan kecil. Bungkusan yang ia terima dari kurir tempo hari.


Sebuah senyum kecil tersungging di bibir manis Jasmine. Benda itu adalah benda yang berharga. Jasmine pasti akan menggunakannya di masa depan nanti. Benda yang telah lama ia inginkan.


Setelah puas mengamati, Jasmine merebahkan diri di atas ranjang dan bersiap-siap untuk terlelap. Baru saja Jasmine berhasil memejamkan mata, ia dikejutkan dengan dering telepon.


Jasmine menyambar benda kecil yang bergetar di ujung ranjang. Dia menatap nama yang tak asing di layar utama. Peter Brown. Sang senator.


Untuk apa lagi lelaki itu menghubungi Jasmine di jam malam? Tidak mungkin dia hanya membagi kata selamat malam begitu saja, bukan?


"Ya, Mr. Brown? Apakah ada masalah?"


"Jasmine, akhir-akhir ini aku memiliki keluhan insomnia. Bisakah kau mengirimkan wanita yang kemarin kau kirim kepadaku sebagai wanita unggas?" tanya Peter semangat.


Jasmine melirik jam dan kembali memastikan jika ini sudah hampir tengah malam. Kenapa Peter harus mengganggunya semalam ini? Tidakkah ia memiliki istri? Kenapa tidak istrinya saja yang disuruh memakai kostum gila dan keliling ruang tamu?

__ADS_1


"Ya, Mr. Brown. Kau memiliki permintaan tertentu?" tanya Jasmine merasa lelah.


Hari ini Jasmjne sudah memerikasa banyak laporan tentang tempat club yang ia miliki. Ada selisih kas di beberapa laoporan. Dia sudah cukup pusing. Sekarang ditambah permintaan Peter yang pastinya tidaka akan normal.


"Aku ingin menyewanya lagi dan tolong suruh ia berdandan seperti pramugari."


Oh. Kali ini pramugari. Sepertinya tidak akan sulit. Hanya saja, kostum pramugari tidak bisa didapatkan dengan cara mendadak. Rose harus memesannya jauh-jauh hari untuk dibuatkan sesuai ukuran tubuhnya.


"Kapan kau menginginkannya, Mr. Brown?" Jasmine masih menanggapi dengan sopan. Setiap kali ia ingin membentak pelanggannya, dia teringat uang yang mengalir turun dari mereka.


"Malam ini. Aku ingin malam ini. Bagaimana jika aku tunggu di hotel seperti biasanya?"


Jasmine memukul ranjang di sampingnya. Gila. Peter benar-benar gila.


Apakah dia lupa sekarang jam berapa? Apakah dia tak tahu kostum juga butuh persiapan? Hidup di mana Peter selama ini sehingga setiap kemauannya harus terwujud dalam hitungan detik.


Di jaman yang serba instan, yang namanya memesan sesuatu selalu memiliki proses.


Jasmine ingin mengungkapkan kemarahannya pada Peter, tetapi ia urungkan. Lelaki itu cukup bebal. Jasmine tak ingin menambah beban dirinya sendiri dengan melayani orang seperti itu.


Melihat tingkah Peter yang tak masuk akal, Jasmine jadi berpikir sendiri kenapa orang sepertinya bisa masuk jejeran senator selama dua periode? Dengan cara apa lelaki itu melewati tes?


"Malam ini tidak bisa, Peter. Paling cepat dua hari lagi. Jadwal Rose sudah penuh untuk saat ini. Selain itu, untuk mempersiapkan kostum juga perlu waktu. Kau harus sedikit bersabar. Bagaimana jika malam ini kupanggilkan wanita yang kosong selain Rose? Setidaknya aku akan mencari wanita yang cantik untuk menemani malammu yang sepi?" tawar Jasmine riang.


Dalam menjalani bisnis sepertinya, pelayanan merupakan hal yang paling utama. Jasmine hrus pintar-pintar menghadapi pelanggan. Dia tak ingin para lelaki hidung belang itu berhenti mengalirkan uang untuknya.


"Ya, … baiklah. Itu bisa kuterima. Aku tunggu di kamar hotel seperti biasa." Peter memutuskan sambungan, membuat Jasmine menatung seorang diri.


Jasmine tengah menimbang-nimbang. Dia perlu mengecek beberapa tempat miliknya untuk mengetahui siapa yang memiliki jadwal kosong untuk ia alihkan dan datang ke hotel Peter.


Jasmine segera melakukan tugasnya dan akhirnya mendapat satu orang wanita yang ia panggil sebagai Flow. Orangnya cukup manis dan manja. Peter pasti tak akan kecewa.


Setelah selesai dengan hal itu, Jasmine melemparkan ponselnya ke atas ranjang dan mendesah lega.


Andai Peter itu uangnya tak segendut badannya, dia sudah enggan melayani permintaannya yang aneh-aneh.


Hari ini dia meminta ini, besok dia meminta itu. Lusa meminta hal yang berbeda lagi. Bagus. Kepala Jasmine bisa copot karena pusing.


Jasmine jadi teringat. Dia pernah tak sengaja melihat istri Peter secara langsung. Wanita itu cukup muda, sekitar tiga puluh tahun. Peter menikah sebanyak tiga kali dan setiap kalinya istrinya selalu lebih cantik dan lebih muda.


Dilihat dari sudut pandang mana pun, istri Peter cukup sempurna. Dia adalah mantan model remaja yang masih memiliki sisa kecantikan alami.


Heran. Wanita seperti itu masih saja tak cukup bagi Klayver. Dalam seminggu, Peter bisa menghabiskan waktunya untuk datang ke wanita-wanita yang menjadi anak buah Jasmine.


Entah sebenarnya istrinya mengetahui hal ini atau tidak. Kelihatannya Peter cukup nyaman melalakukan penyelewengan. Mungkin bisa jadi wanita itu menutup mata. Bagaimana pun juga uang Peter mengalir deras, untuk apa istrinya membuat masalah yang bisa berakhir pada perceraian.

__ADS_1


Pasangan yang sangat cocok satu sama lain. Jasmine tertawa sendiri, membayangkan kehidupan pernikahan Peter yang kacau.



__ADS_2