
Daniel duduk dikursi kayu dapur. Dia menghadap Alice yang berdiri tegang di sudut ruangan. Sementara Rachel, makhluk satu itu berhasil melarikan diri dalam pembicaraan serius seperti ini.
"Anson dulu memiliki hidup yang normal, dia menjadi ikon tentang kesempurnaan. Memiliki keluarga terpandang, orang tua yang hebat, dua orang adik lelaki luar biasa dengan selisih umur lima dan tujuh tahun lebih muda darinya."
Daniel menarik nafas dalam, bersiap menyampaiakan awal tragedi yang melanda hidup Anson.
"Tetapi semua itu hanya sebuah topeng. Keluarga Mallory telah lama berpartisipasi dalam dunia gelap sebagai pemasok senjata illegal, pelacuran dan narkotika. Usaha haram mereka berkembang hingga mampu menembus pasar Amerika, Eropa dan Asia." Daniel beringsut, merasa tak nyaman menyampaikan informasi ini.
"Semakin besar bisnis gelapnya berlangsung, semakin besar pula musuh yang mengincar mereka. Sebagian besar sainganya merasa dirugikan oleh perkembangan bisnis mereka. Hingga terbentuklah sekumpulan orang-orang yang memiliki misi untuk melenyapkan keluarga Mallory. Pada saat Anson berusia tujuh belas tahun, sekumpulan orang-orang itu menyerang keluarga Mallory melalui salah seorang pelayan wanita yang mereka susupkan dalam keluarga tersebut. Pelayan itu memasukkan racun ke dalam makanan, membuat keluarga Mallory pingsan dan mudah dibantai. Satu-satunya yang tidak memakan racun itu adalah Anson."
"Anson berhasil selamat dari pembantaian tersebut dengan luka yang cukup parah. Kau tak akan pernah sanggup membayangkan separah apa lukanya dulu. Luka yang ia miliki saat ini adalah luka yang telah berhasil ia pulihkan dengan banyak operasi plastik. Wajah Anson yang sebenarnya jauh lebih hancur dari sekarang."
Alice mengerut, tak bisa membayangkan luka Anson yang sebenarnya. Pasti sangat parah.
"Dia adalah satu-satunya orang yang selamat. Musuhnya membiarkan Anson kabur dari mereka begitu saja, karena mereka fikir anak remaja tak akan membuat masalah. Namun mereka salah, dua tahun kemudian Anson kembali membalas dendam. Dia membantai satu persatu orang yang terlibat dengan peristiwa tewasnya keluarga Mallory."
"Kau tak akan percaya jika kusebutkan bagaimana ia membalas dendam. Sebagian ada yang dimutilasi, sebagian ada yang disiksa sebelum meninggal, sebagian ada yang digorok. Ya Tuhan ... dia melakukanya seorang diri saat usianya masih sembilan belas tahun. Bisa kau bayangkan seperti apa dia?"
Alice tak berkedip mendengar penjelasan Daniel. Ada kengerian yang terpancar dari kedua mata Daniel.
"Setelah itu, dia kembali meneruskan bisnis keluarga. Perusahaan, aset dan harta keluarga dialihkan secara legal padanya sebagai warisan. Orang-orang mengenalnya sebagai pebisnis sukses. Meskipun itu memang benar, tapi ada yang disembunyikan dari banyak orang. Diam-diam, dia meneruskan usaha gelapnya sebagai pemasok senjata illegal dan menjadi perantara penjualan senjata dalam pasar gelap."
Daniel bergidik ngeri.
__ADS_1
"Bisnisnya sangat rapi. Tidak ada aparat yang sanggup menindaknya, karena tidak ada bukti secara langsung yang mampu memberatkanya. Anson adalah orang yang perfeksionis. Jika ada sedikit saja kesalahan, dia akan langsung menindaknya. Jika memang harus menghilangkan saksi, dia tak ragu untuk membunuhnya. Bahkan dengan cara yang sangat kejam, sebagai peringatan kepada yang lain."
Alice merosot tak berdaya mendengar penjelasan dari Daniel.
"Dia masih melakukanya hingga sekarang, Alice. Dunia gelap menyebutnya sebagai Mr. Guns. Kau bisa mengeceknya sendiri jika tak percaya padaku."
"Jika bisnis Anson adalah sebuah rahasia, bagaimana kau bisa mengetahuinya? bagaimana aku bisa yakin bahwa kau tak membohongiku?" tanya Alice dengan emosi yang mulai kacau.
Daniel bergerak gelisah. Dia mengetuk-ngetukkan jari di pinggir meja, merasa tak yakin untuk melanjutkan penjelasanya.
"Apa kau tahu siapa aku?" Daniel bertanya ragu-ragu.
"Ya. Kau Daniel Stranger, pemilik dari perusahaan perangkat lunak. Jadi bagaimana mungkin orang sepertimu mendapatkan pengetahuan seluas itu tentang Anson?"
Alice membenarkan. Daniel terkenal sebagai ahli komputer sejak mereka masih kuliah. Bakatnya sangat alami dalam mengotak-atik pemograman.
"Aku tidak sejujur yang kau kira, Alice. Kau pikir bagaimana mungkin aku menciptakan perusahaan besar begitu saja? aku ... katakanlah aku menggunakan bakatku sebagai hacker untuk banyak pihak yang berkepentingan."
Apakah maksud Daniel ia menjual jasanya untuk membobol data-data terlarang pada pihak yang menyewanya? Apakah Daniel selama ini juga terlibat dalam dunia gelap sebagai penyampai informasi data illegal?
"Apakah kau ..."
"Ya. Aku melanggar banyak hukum karena kemampuan yang kugunakan untuk mereka, Alice. Itulah kenapa aku bisa mengetahui siapa Anson sebenarnya. Karena kami sama-sama tenggelam dalam dunia gelap. Bedanya hanyalah dia termasuk pemain utama, sedangakan aku tidak. Siapapun yang terlanjur masuk dalam dunia hitam, pasti mengenal sosoknya."
__ADS_1
Alice menyadari ada kejujuran yang terpancar dari sorot mata Daniel. Dia mampu menangkap kebenaran yang disampaikan oleh lelaki itu, betapapun sulitnya.
"Apakah Anson melakukan bisnis pelacuran dan narkotika juga?" Alice bertanya kebas.
"Tidak. Setahuku tidak. Setelah keluarganya meninggal, usaha gelap yang ia lanjutkan hanya di bidang senjata."
Entah kenapa ada sebuah kelegaan yang membanjiri hati Alice. Nafasnya sedikit terkontrol.
"Tapi jangan kau pikir sesederhana itu, Alice. Anson adalah lelaki dingin yang menghalalkan segala cara untuk kepentinganya. Membunuh adalah sebuah cara yang biasa ia lakukan, meskipun tidak melalui tanganya langsung," Jelas Daniel meruntuhkan kembali kelegaan yang Alice miliki.
"Dia sangat berbahaya, Alice. Bisakah kau melepaskanya? Aku tak ingin terjadi apa-apa padamu jika kau terus mengusik hidupnya."
Itu juga yang dikatakan Anson terakhir kali sebelum kepergianya. Dia mengancam akan menghancurkan kehidupan Alice jika berani mengganggu kehidupan Anson.
Alice meninggalkan Daniel dengan langkah yang tertatih. Fikiranya semakin tak stabil. Ketakutan dan kekecewaanya bergulung menjadi satu. Harapanya kian menipis untuk tetap memperjuangkan putranya.
Alice berdiri termenung, menekan kuat dadanya yang terasa menyesakkan. Buku-buku jarinya telah memutih dan terasa kebas. Keringat dingin mulai menjalar di sepanjang punggung belakang.
Harapan, adalah sesuatu yang menguatkan, namun juga sesuatu yang sangat menghancurkan. Seutas tipis harapan mampu membuat kita terjatuh sangat dalam.
Alice kembali meluruh putus asa. Semua kekuatan tubuhnya melemah tanpa daya. Dia menjerit dalan hati, menangis tanpa suara.
Bagaimana bisa ia terjebak memasuki kehidupan iblis seperti Anson?
__ADS_1
...