Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
071 - SEASON 2


__ADS_3

Udara terasa memiliki tekanan yang berbeda. Oksigen seperti berkurang dalam hitungan nano detik mengiringi kalimat penjelasan yang keluar dari mulut Jasmine.


Sebuah fakta yang sulit diterima, mendengar wanita seliar Jasmine pernah membentuk komitmen bernama pernikahan.


"Kau ingin mendengar sebuah cerita?" tawar Jasmine, menopangkan salah satu tangannya di atas meja makan.


Mata biru Jasmine terlihat bening, menampakkan kejujuran dan kepercayaan. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam Jasmine yakin bahwa Alice adalah orang yang tepat untuk mendapatkan kejujuran darinya.


Alice memiliki kualitas yang tinggi. Buktinya, Klayver saja sanggup mempercayai Alice. Tak ada salahnya juga Jasmine melakukan hal serupa.


"Jika kau tak keberatan." Alice tersenyum kecil, mencoba tak terlalu memaksa Jasmine. Sepertinya apa yang ingin disampaikan Jasmine adalah sebuah rahasia terpendam. Alice tak terlalu ingin mengorek-orek kehidupan orang lain kecuali jika orang tersebut bersedia membagi kisahnya secara tulus.


"Tentu saja tidak. Bagaimana jika kita pindah ke ruang keluarga? Aku tak terlalu nyaman melanjutkan pembicaraan di ruang makan." Jasmine menyatakan keberatannya. Ruang makan ini terlalu terbuka meskipun sebenarnya cukup aman untuk membicarakan topik sensitif. Akan tetapi untuk wanita seperti Jasmine, tempat tertutup adalah favoritnya.


Alice bangkit dan berjalan ke ruangan lain diikuti oleh Jasmine. Mereka menuju ruang tengah yang menawarkan privasi secara sempurna. Para pelayan jarang berlalu lalang di sini. Membuat mereka tidak akan diinterupsi begitu saja.


Jasmine menjatuhkan dirinya di sebuah sofa lembut berwarna cream. Dia bertelekan tangan dan bersandar santai, berpose seperti wanita penggoda.


Alice berjalan di sudut ruangan, meracik kopi melalui sebuah mesin canggih dengan dengung lembut.


"Kau suka kopi dengan cream?" tawar Alice halus pada Jasmine.


"Tidak. Hanya kopi saja tanpa campuran," pinta Jasmine ringan.


Alice berkutat sebentar sebelum akhirnya membawa dua cangkir putih berisi cairan hitam pekat. Satu cangkir ia berikan pada Jasmine yang segera diterima dengan senyum simpul. Satu cangkir lagi ia sisakan untuk dirinya sendiri.


"Seperti Klayver," komentar Alice.


"Apanya?"


"Seleramu dalam hal kopi. Tanpa campuran sama sekali. Tidakkah terlalu pahit?" Alice menjelaskan. Dia mengambil tempat duduk di samping Jasmine dan menyesap kopinya perlahan yang masih mengepulkan uap panas.


"Bagi orang yang pernah merasakan pahitnya hidup seperti kami, kopi masih terlalu manis." Jasmine berfilosofi.


Pahitnya kopi adalah bentuk kenikmatan. Tetapi kehidupan telah menawarkam hal yang lebih pahit dari sekadar kopi. Bagaimana bisa kedua hal tersebut dibandingkan satu sama lain?


"Kau benar. Kehidupan bisa berupah sangat pahit di suatu waktu."


Kedua wanita itu saling terdiam untuk sejenak. Mereka disibukkan oleh pikirannya sendiri-sendiri. Jauh di lubuk hati, Alice penasaran dengan semua kepahitan yang pernah Jasmine terima sehingga membentuk kepribadinya yang sekarang. Mungkinkah tragedi hidup wanita itu sangat besar?


"Kau bilang kau pernah menikah sebelumnya, Jasmine. Bagaimana itu bisa terjadi?" Akhirnya, Alice tak sanggup menahan rasa penasarannya. Pertanyaan itu terlontar juga dari bibirnya. Padahal sebelumnya ia bertekad tidak akan terlalu mengulik cerita hidup orang lain.


Jasmine meniup cairan pekat dalam genggaman tangannya dengan hati-hati dan menyesapnya perlahan. Arabica Coffee. Aroma ini terlalu akrab baginya. Alice termasuk penyeduh kopi yang cukup handal. Sepertinya dia jenis wanita pecinta kopi.


Jasmine mengambil kotak rokok dari saku rok beserta pemantik kecil otomatis. "Keberatan aku merokok?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


"Silahkan saja," Alice melambaikan tangan tak peduli. Dia bukan wanita kolot yang suka mengekang moralitas wanita. Terserah saja jika Jasmine mau merokok. Toh efeknya tidak akan sampai pada Alice. Dia hanya terpaksa menghirup sebagian asapnya saja nanti.


Jasmine menghidupkan pemantik, mendekatkannya di ujung rokok yang ia pegang di sela-sela jemari dan menghisapnya perlahan untuk membuat rokok tersebut mengeluarkan bara api kecil di ujungnya.


Asap samar mulai mengepul di udara. Membumbung tinggi ke atas, membentuk pola bulat yang semakin membesar. Jasmine menatap langit-langit ruangan dengan pandangan nanar. Ingatannya mulai kenbali pada tujuh tahun lalu, saat ia masih berusia sembilan belas tahun.


"Aku mengenal kehidupan malam saat usiaku empat belas tahun. Bisa dibilang, aku semakin berpengalaman dari tahun ke tahun." Jasmine mulai menjelaskan kisahnya.


Dulu, Jasmine menjadi gadis menarik dengan rambut panjang tergerai berwarna pirang yang sering kali dilirik kaum lelaki. Di usianya yang masih empat belas tahun, beberapa bagian tubuhnya telah berkembang dengan sempurna. Membuat Jasmine merasa percaya diri memamerkan asetnya pada setiap orang.


Kehidupan Jasmine sangatlah sulit. Dia lahir dari orang tua yang tak bermoral sehingga pendidikannya sangatlah terbatas. Karena itu, satu-satunya yang ia pelajari dalam hidup ini adalah menjual kecantikannya setiap kali keadaan mendesak. Dia hanya perlu mengobral diri sehingga uang pun mengalir deras.


"Dulu, saat usiaku delapan belas tahun, ada seorang lelaki kaya mendekatiku. Dia berbeda dari yang lain dan memberiku banyak hal yang kuinginkan. Dia menawarkan pernikahan padaku, hingga kupikir surga tiba-tiba datang padaku."


Siapa yang menyangka wanita rendah seperti Jasmine tiba-tiba mendapatkan lelaki sempurna yang bukan hanya kaya, tetapi juga bersedia mengarungi hidup keluarga bersama.


Ketika mimpi terasa kian menjauh, ketika harapan mulai pupus, lelaki itu laksama oase yang keberadaannya seperti mukjizat. Mulut manisnya menawarkan cinta. Sesuatu yang saat itu asing di telinga Jasmine.


Demi lelaki tersebut, Jasmine bahkan sempat berpikir untuk berhenti dari dunia malam. Dia mulai melatih diri menjadi wanita baik-baik dan mengembalikan moralitasnya perlahan-lahan.


Dia ingin menjadi sesuatu yang layak bagi seseorang. Sesuatu yang berarti. Sesuatu yang memiliki nilai.


"Dari awal pertemuan, dia tidak pernah sekali pun menghakimi apa yang aku lakukan. Dia juga tidak pernah memandangku rendah sehingga untuk pertama kali dalam hidupku, aku merasa menemukan rumah. Bayangkan itu, Alice. Seorang ******* yang menemukan pangerannya. Kau tahu betapa hal tersebut sangat berharga bagiku."


Jasmine menghentikan penjelasannya untuk sejenak. Dia menarik nafas panjang dan membenarkan posisi duduknya. Pandangan matanya berubah menggelap sedikit, menampakkan kedukaan.


Perdebatan mulai terjadi. Jasmine dan Jack, suaminya, mulai saling memiliki perbedaan sudut pandang. Saat itulah Jasmine tahu, di balik penerimaaan Jack, masih ada ketidakpercayaan yang ia sisakan untuk Jasmine.


Seharusnya Jack bisa mempercayainya. Membagi setiap mimpi dan membangun surga kecil bagi mereka. Tetapi, alih-alih melakukan semua itu, Jack justru menyerang Jasmine dengan ketidakpercayaan total dan keraguan. Di matanya, status Jasmine memang selamanya sebagai wanita jaláng. Tak akan pernah berubah.


"Keburukan-keburukan suamiku lama-lama mulai terkuak. Ternyata, dia menikahiku hanya untuk permainan sesaat. Baginya, bermain-main bersama seorang wanita lácur merupakan sensasi tersendiri. Setelah dia puas, aku hanya akan menjadi sampah yang bisa Jack tendang kapan pun ia mau.


"Dia menyuruhku menggugurkan kandungan karena takut anak ini nantinya hanya akan menjadi orang tak berguna sepertiku. Aku menolaknya berkali-kali hingga akhirnya berhasil melahirkan seorang putri yang cantik. Suatu malam, dia meminta maaf padaku dan berjanji akan memperbaiki hubungan kami. Tentu saja aku memaafkannya, karena jauh di lubuk hatiku, Jack masih tetap menjadi malaikat bagiku."


Seburuk-buruknya Jack, Jasmine selalu memandangnya sebagai lelaki sempurna yang tuhan kirim untuknya. Lelaki yang sanggup menyentuh sisi rapuhnya dan mengangkat dukanya yang terlalu dalam. Lelaki yang menjadi pelangi setelah hujan.


"Siapa sangka di malam kedua setelah aku berbaikan dengannya, Jack membunuh putri kami dengan mencekiknya. Dia berkata bahwa aku tak layak melahirkan putrinya karena aku hanyalah wanita jaláng yang hanya pantas untuk dipermainkan. Dia berkata anak pelacúr tak pantas menyandang nama belakangnya. Wanita sepertiku tak mungkin menjadi bagian hidup Jack selamanya. Baginya, pernikahan ini hanyalah permainan. Karena mungkin dia lelah bermain dengan wanita jenset, jadi dia mempermainkan wanita kotor sepertiku."


Tidak ada yang tahu bagaimana terlukanya Jasmine mendengar pengakuan tersebut. Hatinya tersayat pilu, bak ditetesi air garam di atas luka. Bagaimana ia tidak menderita jika suaminya sendiri memilih membunuh darah dagingnya hanya karena lahir dari wanita serendah Jasmine.


Jika ia hanya permainan, kenapa Jack melibatkan bayinya yang tak bersalah? Bayi sekecil itu masih layak mendapatkan kesempatan hidup. Tak seharusnya Jack memutus nafasnya yang masih rapuh.


Jasmine merasa benci dan tak berdaya pada saat yang bersamaan. Benci pada dirinya sendiri karena mudah dibodohi oleh sandiwara Jack yang licik, dan tak berdaya karena melihat putrinya telah menjadi mayat terbujur kaku tanpa bisa ia selamatkan lagi.


"Aku ikut berduka mendengarnya," Alice merasa pilu. Pasti menyakitkan melihat anak kita sendiri terbaring dijemput maut sementara kita tak memiliki daya apa pun untuk mengubah takdir tersebut.

__ADS_1


"Kau tahu apa yang lebih parah? Dia mengatur bukti sedemikian rupa sehingga seolah-olah akulah yang membunuh anakku sendiri. Aku digiring ke penjara atas tuduhan palsu dengan saksi yang sudah Jack suap agar menjatuhkan namaku."


Alice menatap wajah Jasmine yang sedikit menggelap. Saat ini meskipun ia tak mendeteksi aura kebencian dari wanita di sampingnya, tetapi Alice yakin pasti di balik semua itu masih tersimpan emosi besar untuk Jack. Emosi yang lebih dari sekadar kebencian.


Jasmine adalah wanita yang cukup pintar menyembunyikan emosi. Wajahnya hanya sedikit menggelap, tetapi tak mencerminkan reaksi yang berlebihan. Jika ada orang yang kebetulan melihatnya secara sekilas, pasti Jasmine hanya dikira bercerita tentang hala-hal sederhana saja.


"Bagaimana selanjutnya?" tanya Alice penasaran.


Jasmine tersenyum simpul, penuh rahasia. "Aku dikeluarkan dari penjara oleh seseorang. Dia telah kuanggap sebagai penolongku. Melaluinya, aku belajar sesuatu. Dua tahun kemudian, aku membuat Jack menerima konsekuensi dari perbuatannya."


"Konsekuensi?" Alice sedikit heran.


"Ya. Konsekuensi. Aku membuat Jack membayar harga tinggi karena telah mempermainkanku dan membunuh putriku. Jangan tanya apa yang telah aku lakukan padanya. Kau pasti tak ingin tahu detailnya seperti apa."


Jasmine tersenyum penuh makna. Alice hanya bisa menelan ludah dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Jika Jasmine telah mengatakan hal itu, Alice tak berani lagi mendesak. Dia tak suka mendengar detail mengerikan tentang pembunuhan atau semacamnya. Baginya, lebih baik tidak tahu dari pada tahu tetapi membuat pikirannya tertekan.


"Ngomong-ngomong, penolongmu pasti orang yang sangat hebat." Alice mengalihkan pembicaraan pada topik lainnya.


"Tentu. Dia orang yang hebat." Jasmine memejamkan matanya, menolak memberi tahu sosok tersebut pada Alice secara langsung. Jasmine tak ingin ia membocorkan rahasia ini. Belum tentu orang tersebut suka jika ia membicarakannya.


"Oh, mungkin jodohmu sebenarnya adalah penolongmu sendiri." Jiwa romansa Alice mulai bangkit. Dia membayangkan ikatan kuat yang terbentuk di antara sang penolong dan wanita tak berdaya yang dipersatukan takdir. Hal-hal seperti itu terkadang sudah tertulis di catatan rahasia Tuhan.


"Tidak mungkin. Dia memiliki kehidupan yang sempurna bersama keluarganya sendiri dan aku juga memiliki kehidupanku sendiri. Hubungan kami hanyalah pertemanan murni. Tak ada hubungan istimewa lainnya."


Jasmine melirik Alice dan berusaha menahan senyumannya. Apa jadinya jika wanita di sampingnya ini diberitahu bahwa penolong Jasmine saat itu adalah Klayver, suami Alice sendiri.


Ya. Jasmine dan Klayver dipertemukan dalam kondisi yang tidak biasa. Karena itulah mereka memiliki ikatan yang kuat sebagai teman.


Mereka telah saling melihat kekurangan masing-masing. Ada kepercayaan tanpa kata yang Jasmine berikan pada Klayver, begitu pun sebaliknya.


Meskipun sering kali transaksi mereka lebih sering didasari harga yang sangat mahal, tetapi pada dasarnya hubungan mereka lebih pada membantu dan saling memberikan pertolongan dalam kondisi darurat. Uang hanyalah pemanis yang membuat hubungan bisnis mereka terasa masuk akal. lagi pula, untuk apa jika transkasi tak menggunakan uang jika mereka memiliki harta kekayaan yang berlimpah ruah.


"Kuharap kau segera menemukan orang yang cocok dan memulai hubungan yang sesungguhnya. Percayalah, Jasmine. Masih ada lelaki baik di luar sana yang bisa menerimamu apa adanya."


Di balik gaun ketat dan penampilan murahan Jasmine, tersimpan hati wanita rapuh yang butuh dilindungi dan direngkuh dengan lembut. Sejatinya, wanita tetaplah wanita. Kaum yang membutuhkan perhatian dan kemanjaan dari lawan jenisnya.


"Sayangnya, aku tak lagi percaya pada kaum yang disebut lelaki. Aku lebih tertarik membunuhnya dari pada mengambilnya sebagai suami. Meskipun aku saat ini menjajakan diri sebagai wanita lacúr, tetapi hatiku telah lama beku."


Jasmine tersenyum miris. Apa yang ia arah dari kaum hawa hanyalah dollar dam kekayaan saja. Dia tak lagi tertarik membentuk hubungan romansa yang sesungguhnya. Luka yang digoreskan oleh Jack telah membuat hantinya tertutup.


"Kau hanya belum menemukan sosok yang tepat. Pada saatnya nanti jika kau berhasil menemukannya, kau pasti akan menemukan kebahagiaan baru. Percayalah padaku." Alice menepuk lembut bahu Jasmine, mencoba mendukungnya dengan tulus.


Tidak semua lelaki sebrengsék Jack. Ada sebagian dari mereka memiliki ketulusan murni dan sanggup menerima Jasmine dengan tangan terbuka lebar. Jasmine hanya harus mempercayai hal itu. Tak ada ruginya membentuk kepercayaan baru.

__ADS_1


"Sayangnya, aku tak terlalu percaya. Jika ada lelaki yang menyatakan cinta, kuanggap kata-katanya hanya sebagai sampah yang harus kusingkirkan. Kau terlalu beruntung bisa menjalin kehidupan bersama Klayver. Tetapi percayalah padaku, Alice. Tidak setiap wanita didesain untuk menikah."



__ADS_2