
Axel kembali pulang ke rumah dalam suasana hati yang baik. Kunjungan ke panti telah membuat ia belajar banyak hal, terutama tentang kepedulian dan rasa simpati kepada sesama. Dia jadi lebih penurut dari pada biasanya. Alice yakin jika Axel sering kali diperkenalkan pada hal-hal sosial dan kemanusiaan, hati anak itu pasti akan tergerak ke arah yang lebih baik.
Alice membawa Axel ke ruang dalam dengan sedikit bercanda. Mereka saling bersenandung bahagia. Di ruang tengah, Alice berpapasan dengan William yang tengah sibuk mengatur perapian sesuai dengan suhu yang ia inginkan. Perapian rumah ini merupakan perapian otomatis sehingga tak perlu kayu bakar sebagai bahan utamanya. William yang telah mengatur semuanya. Ruangan jadi hangat tanpa perlu menimbulkan asap dan jelaga.
"Hari menjelang sore, sepertinya kalian bersenang-senang sepanjang hari ini." William berkomentar dengan tatapan ramah. Dia melihat Axel yang lebih aktif dan enerjik dari pada biasanya.
"Tentu saja, William! Kau tahu? Aku dan Mom baru saja mengunjungi panti bersama rombongan sekolah kami. Di sana aku melihat banyak anak yamg berkumpul bersama dan saling bermain dengan menyenangkan. Mom bilang kapan-kapan aku boleh mengunjungi mereka lagi dan membawakan mainan-mainanku untuk kubagi. Katanya, hal seperti itu bisa membuat mereka bahagia." Axel berceloteh panjang lebar. Mata bulatnya semakin tampak bulat dan menggemaskan. William yang mendengarnya hanya bisa mengangguk, merasa ikut bahagia.
Axel adalah anak yang tumbuh dengan cepat dan mampu memahami banyak hal. William bersyukur anak itu memiliki lingkungan baik yang mendukung sehingga semua yang ia butuhkan mampu tercukupi dengan baik. Bagaimana pun juga, melihat Axel seperti melihat Anson versi kecil. Mau tak mau William memiliki rasa protektif yang besar untuk melindunginya.
"Bagus. Mereka akan semakin bahagia ketika kau nanti mengunjungi mereka dan memberikan sebagian mainanmu. Aku harap aku bisa ikut dengammu, Axel." William berkata ringan.
"Uh. Kau tentu saja tak boleh. Kau dibutuhkan untuk mengurus rumah ini dua puluh empat jam non stop. Jika kau pergi, banyak orang yang akan merasa kehilanganmu." Axel berkata tegas seperti orang dewasa. Alice yang melihatnya hanya bisa terkekeh kecil. Sepertinya Axel akan mewarisi sikap dominan dari Anson. Terbukti dari kecil saja ia sudah mudah memerintah seseorang sesuai dengan kemauannya.
"Baiklah, Bos. Aku akan tetap di sini saja, mengurus rumah, dan menunggumu pulang!" William mengangkat tangannya membentuk rasa hormat dan bersikap formal.
"Nah, itu baru William yang sejati. Mom, aku akan mandi air hangat. Aku ingin ditemani oleh Helena." Axel menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah untuk mencari Helena dan mendengus kesal saat ia tak juga menemukannya.
"Helena sedang di belakang untuk membantu Caterine. Sebentar, biar kupanggilkan." William bergegas keluar ruangan untuk mencari keberadaan Helena. Tak berapa lama kemudian, wanita itu berjalan tergopoh-gopoh menuju ruang tengah.
"Oh, maafkan aku, Nyonya. Aku baru saja membamtu Caterine merapikan bahan-bahan persediaan makanan. Pelayan di rumah akhir-akhir ini takut setiap kali ke dapur, jadi aku terpaksa ikut turun tangan membantu Caterine." Helena merasa bersalah dan segera mengambil alih Axel untuk berjalan ke kamar anak itu dan menyiapkan keperluan mandi air hangat.
"Ya Tuhan, rupanya mereka masih saja takut dengan mitos hantu setelah kematian Sila beberapa waktu lalu." Alice menggeleng dengan lemah. Dia berjalan ke tangga, menuju kamarnya untuk mandi sesegera mungkin. Sebentar lagi hari telah petang, dia harus segera bergegas sebelum suhu udara semakin turun dan membuatnya tak nyaman untuk melakukan banyak aktifitas.
Saat ia tiba di lorong kamar, Alice melihat Jasmine yang tengah berjalan ke arahnya dengan setelan hangat yang cocok untuk musim dingin. Senyum wanita inu terlihat ceria, seperti bunga sakura di musim semi.
"Dari mana saja kau, Alice? Sehari penuh aku ditinggal di rumah seorang diri," gerutu Jasmine dengan mulut sedikit ditekuk.
"Menemani Axel berkunjung ke panti asuhan. Kau baik-baik saja hari ini, bukan? Kehamilanmu tak bermasalah?" tanya Alice sedikit khawmatir.
"Ya Tuhan, jangan terlalu bersikap seperti nenek tua yang menyebalkan. Aku baik-baik saja, kau tak perlu secerewet itu. Aku hanya hamil, bukan menjadi orang pesakitan." Jasmine menggerutu kembali. Alice yang mendengarnya hanya bisa tertawa kecil, menyadari dia mulai sedikit cerewet dan protektif.
"Maafkan aku, oke? Aku hanya sedikit khawatir dengan dirimu!" Alice tersenyum kecil, merasa berasalah.
"Tidak apa-apa, aku memahami itu." Jasmine menepuk bahu Alice dengan penuh pengertian. Alice adalah orang yang sangat peduli pada temannya. Jasmine bersyukur dia dipertemukan dengan wanita seperti itu.
"Aku akan mandi dulu sebentar. Temui aku di ruang makan nanti saat makan malam," pinta Alice meneruskan langkahnya menuju kamar. Jasmine mengangguk dan berlalu pergi ke bawah untuk mencari William.
Jasmine berhasil menemukan William di ruang tengah, sibuk mengotak-atik alat pemanas otomatis. Lelaki itu meskipun usianya tak lagi muda, tetapi aktifitasnya cukup padat. Dia tidak membiarkan dirinya sendiri untuk beristirahat atau pun bersantai-santai. Padahal Alice juga sudah menyarankan William untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatannya.
__ADS_1
Seandainya saja Jasmine mendapatkan pelayan seperti itu pasti dia tidak akan menyia-nyiakan orang seperti William. Akan dia perhatikan orang-orang seperti ini yang ada di sekelilingnya. William bukan hanya setia, Tetapi dia juga seorang sosok yang penuh kasih terhadap orang-orang yang dia abdi selama ini. Contohnya, dengan Axel pun dia juga sangat perhatian dan memiliki kasih sayang tulus seperti seorang kakek kepada cucunya sendiri.
"William, Kau sedang apa?" Tanya Jasmine.
"Halo Jasmine, Aku sedang sedikit membenarkan tentang mesin pemanas ini. Mesin ini seringkali bermasalah. Sepertinya aku selalu mengontrolnya." William menoleh ke arah Jasmine dan menjelaskan apa yang tengah ia lakukan.
"Tapi itu masih bisa dipakai, bukan?" Tanya Jasmine.
"Masih bisa, tetapi terkadang suhunya tiba-tiba turun tanpa ada tanda-tanda sama sekali. Jadi, aku harus selalu mengeceknya setiap beberapa jam sekali secara berkala. "William mendesah panjang.
Jasmine menatap William dengan pandangan perhatian. William merupakan pelayan yang sangat mementingkan banyak hal dan memberikan perhatian secara mendetail. Jasmine sangat kagum dengan lelaki tua itu.
"William, jika memang harus membeli yang baru, beli saja yang baru. Alice merupakan orang yang tidak terlalu memperhatikan tentang masalah keuangan. Dia bukan orang yang pelit. Bukankah kau juga diberi kepercayaan untuk memegang keuangan rumah tangga ini? "
William merenung. Apa yang dikatakan Jasmine merupakan sebuah kebenaran. Alice termasuk majikan yang tidak terlalu cerewet sepanjang mengenai keuangan. Dia juga orang yang sangat baik, sehingga apa pun kebutuhan rumah tangga akan selalu diberikan ataupun diberikan fasilitas yang baik. Baik itu untuk pelayan, maupun untuk keluarganya sendiri.
Namun, William adalah orang yang sangat memperhatikan masalah keuangan. Jika dia pikir barang-barang di rumah ini masih bisa diperbaiki, maka ia akan lebih memilih untuk memperbaiki nya. Alih-alih, membeli yang baru dan menghabiskan banyak uang hanya untuk hal-hal seperti itu.
" Jasmine, sayang jika kita menghambur-hamburkan uang hanya untuk hal-hal yang sebenarnya masih bisa diperbaiki oleh kita sendiri."
"Baiklah, aku hanya menyarankan saja. Jika kau berfikir untuk memperbaiki nya, silahkan saja, William." Jasmine mengangkat bahu, tanda menyerah untuk memberikan solusi terhadap William.
William hanya diam menanggapi celotehan Jasmine dan melanjutkan kembali pekerjaannya yang tertunda. Setelah beberapa saat, William selesai dengan kesibukannya dan duduk di kursi tak jauh dari Jasmine. Mereka berdua terdiam lama, menatap sudut-sudut ruangan dalam diam.
"William, aku merasakan akhir-akhir ini ada yang mengawasi rumah Alice. Apakah kau juga merasakan hal yang sama?" tanya Jasmine.
Awalnya Jasmine merasa apa yang ia rasakan hanya kekhawatirannya saja. Tetapi setelah ia meneliti lebih jauh, memang ada beberapa orang dengan pakaian hitam-hitam yang datang untuk melewati rumah ini dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Bahkan dari mereka, ada yang menatap lama seluruh bangunan rumah dan menggunkan kamera tersembunyi untuk mengabadikan rumah ini.
Dengan mata jeli Jasmine, dia bisa menangkap setiap tindakan mencurigakan. Matanya sudah terlatih dengan baik. Dia sangat pintar menilai keadaan. Orang biasa tak mungkin mendatangi rumah yang sama selama berkali-kali di waktu yang berbeda hanya untuk melihatnya dan mengamatinya. Mereka pasti orang-orang suruhan yang memiliki tujuan tersendiri.
"Kau juga merasakannya? Baguslah. Berarti bukan hanya aku saja."
William mengangguk kecil. Otaknya mulai berputar memikirkan banyak hal. Sekitar dua bulan lalu, William telah membeli seperangkat alat keamanan dari Daniel untuk ia pasang di rumah ini. Dia merasakan apa yang Jasmine rasakan. Ada orang yang berlalu lalang dengan mencurigakan untuk mengamati kondisi rumah. Daniel bisa mengawasinya dari kamera CCTV yang dipasang di luar rumah.
"Menurutmu, apa tujuan orang-orang itu?" tanya Jasmine dengan khawatir. Dia mulai merasa otaknya menghidupkan tanda bahaya. Lampu merah berkerlap-kerlip mengingatkan untuk lebih waspada.
"Entahlah, Jasmine. Orang-orang itu sangat asing bagiku. Aku sedang berusaha mencari informasi tentang mereka. Sepertinya mereka tidak memiliki maksud yang baik."
Jika sampai Jasmine menangkap kecurigaan yang sama dengan William, itu artinya mereka semua perlu lebih waspada. Klayver sedang pergi untuk menyelesaikan urusan. William takut ada beberapa pihak yang memburu Klayver mulai mengetahui identitas Klayver dan berencana menggunakan keluarga ini sebagai objek untuk memancing keberadaan Klayver. Dia takut Alice dan Axel berada dalam bahaya.
__ADS_1
"Sejauh ini, apa yang sudah kau lakukan?" tanya Jasmine mulai mengukur keadaan.
"Aku hanya me1ngamati keadaan. Aku belum melakukan apa pun." William menjawab apa adanya.
Jasmine mengetuk-ngetukkan ujung alas kaki yang ia pakai di lantai. Keadaan ini mulai genting. Dia tidak bisa tinggal diam, menunggu pihak lawan, siapa pun itu, bertindak lebih dahulu. Jasmine harus memanfaatkan keadaan dengan baik. Dia perlu menyerang orang-orang yang membahayakan Alice sebelum mereka semua menyerang mereka.
"Kita harus mengambil tindakan, William." Jasmine berkata tegas. Dia menatap William yang mulai berpikir hal yang sama.
"Kau benar, kita harus mengambil kendali. Apa yang kau rencankan?" tanya William serius.
Meskipun usia Jasmine dam William terpaut jauh, tetapi William sangat menghargai pengetahuan dan kecakapan wanita itu. Sebagai seorang wanita bayaran, Jasmine merupakan orang hebat yang bisa berkamuflase menjadi sosok kuat dan tangguh.
"Bagaimana jika kau pelajari tindakan orang-orang ini? Kapan saja mereka datang ke rumah ini dan berapa lama mereka melakukan pengamatan?" usul Jasmine. Untuk mengetahui gerakan lawan, seseorang harus memahami pergerakan musuh dan bagaimana model yang mereka gunakan dalam menyerang.
"Aku sudah mengamati hal itu. Orang-orang itu datang ke rumah ini setiap dua hari sekali. Biasanya pada waktu menjelang petang. Tetapi sekitar dua minggu ini, mereka datang ke sini setiap tiga hari sekali. Sepertinya faktor cuaca sehingga mereka terpaksa mengurangi frekuensinya." jelas William panjang lebar.
Jasmine mengangguk memahami. Dia mulai mrnciptakan rencana baru. Sepertinya, Jasmine akan mengikuti mereka diam-diam. Dia ingin tahu orang-orang itu merupakan organisasi mana dan tujuannya apa. Jika terlalu berbahaya untuk mengikuti, ada baiknya Jasmine melumpuhkan orang-orang itu dan menahannnya agar ia bersedia buka mulut tentang siapa bos di baliknya.
Hanya saja, kemungkinan kedua sangatlah sulit. Orang-orang dalam organisasi gelap biasanya terkenal dengan adanya aksi tutup mulut. Mereka tahu jika merela sampai tertangkap dan bersedia membocorkan misi, maka keluarganya yang akan menjadi taruhannya.
Organisasi gelap biasanya bisa sangat kejam. Terkenal dengan loyalitasnya yang tinggi. Tak heran jika salah satu anggota mereka ada yang tertangkap, dipaksa sedemikian rupa pun mereka belum tentu mau buka mulut. Bagi mereka, pantang untuk membongkar rahasia.
"Aku akan mengikutinya." Jasmine berkata tegas. Dia menatap William, memaksa lelaki itu untuk menyetujui tindakannya.
"Kau yakin hal itu tidak berbahaya untukmu?" tanya William sedikit tak yakin.
Mengikuti orang-orang yang menjadi anggota organisasi gelap adalah tindakan yang penuh resiko. Jika tak berhasil, Jasmine bisa diarahkan menuju markas dan tertangkap oleh mereka dengan cara mengenaskan.
Percayalah. Berada di tangan organisasi gelap sebagai musuh dan sebagai tawanan bukanlah hal yang baik. Mereka bisa menyiksamu dengan banyak metode dan membiarkanmu dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan.
Banyak orang yang kemudian dilaporkan mengalami gangguan psikis setelah diculik dan ditahan oleh sekelompok organisasi gelap yang berorientasi pada kejahatan. Mereka biasanya disiksa dengan cara sedemikian rupa sehingga jiwanya terganggu dan merasa kacau luar dalam. Bahkan ada di antara para tawanan ini dijadikan sebagai percobaan terhadap penggunaan narkotika jenis baru dan apa efek yang diberikan.
Akibatnya, ketika tawanan ini tak lagi berdaya dan over dosis, mereka hanya dibuang secara mengenaskan seperti sampah. William tak bisa membayangkan hal ini terjadi pada Jasmine.
"Kau masih muda, Jasmine. Biar aku saja yang membuntuti mereka. Tentukan saja waktunya. Aku masih bisa bergerak sigap." William tersenyum kecil, merasa ini adalah langkah yang lebih baik.
"Tidak. Biar aku saja. Biar kau di sini menjaga Alice. Semuanya akan baik-baik saja, William. Kau hanya harus percaya padaku. Jangan terlalu khawatir." Jasmine menatap kedua mata William dengan penuh tekad. Dia sudah sangat yakin dengan keputusan yang ia ambil. William tidak akan menggoyahkan keputusannya kali ini.
"Jasmine, kupikir itu bukan ide yang baik, jadi—"
__ADS_1
"Tidak. Aku tetap yang akan melakukannya!'
…