Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
116 - SEASON 2


__ADS_3

Jasmine duduk di hadapan William, menjelaskan apa yang ia dengar dari usahanya membuntuti lelaki yang mengamati rumah Alice akhir-akhir ini.


William sedikit menampilkan ekspresi tak nyaman. Rumah Alice tengah dijadikan sasaran oleh organisasi Black Hell. Sebagai kepala pelayan yang telah bersumpah untuk melakukan semua hal demi keselamatan majikannya, dia bertanggung jawab untuk melakukan perlindungan yang sebaik-baiknya.


Sumpahnya hanya satu dari dulu. Mengabdi kepada keluarga Mallory, berikut putra putrinya. Kini Anson telah tiada. Yang tersisa darinya adalah istri dan putranya, Axel. Demi mereka, William rela mempersembahkan semua kesetiaannya. Termasuk nyawanya sekali pun.


"Jadi, lelaki itu adalah anak buah dari Black Hell?" tanya William memastikan.


Jasmine mengangguk. Dia telah mendengar fakta ini secara langsung dari mulut dua lelaki yang telah berbincang di rumah minimalis. Indera Jasmine masih sehat, sehingga dia memastikan apa yang ia dengar adalah hal yang sebenarnya.


"Kau yakin?" tanyanya.


Jasmine menutup matanya, merasa kesal sendiri. Dia memukul pelan ujung meja di ruang belakang dan menatap Wiliam dengan tatapan tak suka.


"Kau pikir aku tuli? William, aku masih bisa mendengar dengan jelas. Orang yang kuikuti mengatakan jika dia adalah bawahan Black Hell. Dia mengatakan jika ia masih tetap tak bisa mendapatkan celah rumah ini, bisa-bisa Segnor Martinez akan menghabisinya."


Jasmine kembali mengingat apa yang telah ia dengar petang kemarin. Dia menyampaikannya dengan detail pagi ini kepada William untuk William pelajari lebih lanjut.


"Segnor Martinez?" tanya William mengulangi apa yang Jasmine katakan.


"Ya. Mungkinkah kau pikir dia merupakan kepala dari organisasi Black Hell? Kudengar, organisasi itu berpusat di Santo Paulo, Brazil. Apakah menurutmu itu hanya kata-kata kosong atau fakta sebenarnya?" tanya Jasmine serius.


"Entahlah. Aku juga pernah mendengar organisasi itu bermarkas di Santo Paulo. Kabar itu merupakan kebenaran atau tidak, hanya Tuhan yang tahu tentang hal itu." William berkata dengan jujur.


Setiap informasi yang terkait dengan Black Hell, merupakan informasi yang masih banyak simpang siur. Organisasi itu cukup pintar dalam menyembunyikan diri sehingga jarang orang bisa mencuri informasi mengenainya. Hanya orang dalamlah yang diijinkan untuk mengakses keberadaan Black Hell. Kepala dari organisasi itu katanya termasuk lelaki kejam yang mudah sekali mengakhiri hidup bawahannya jika ditemukan mereka tak memiliki guna.


Jika begitu, maka lelaki yang mengamati rumah ini ada hubungannya dengan Sila. William sempat menyelidiki melalui orang-orang kepercayaannya tentang seluk beluk Sila. Salah satu anak buahnya pernah mengatakan jika Sila bekerja sama dengan Black Hell, meneruskan informasi seputar Alice.


Sebenarnya, semua hal ini menuju ke mana? William mulai mengambil spekulasi.


Sila. Lelaki berpakaian hitam. Black Hell. Semua itu membentuk kewaspadaan William menjadi semakin besar berkali-kali lipat.


"William, kau merenung lagi?" tanya Jasmine.


William mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah Jasmine dengan tiba-tiba. Hari masih pagi. Mungkin sekitar pukul 06.00 waktu setempat. Tetapi hari masih saja gelap. Fajar belum menyingsing. Jasmine dan William telah tenggelam dalam pembicaraan serius beberapa saat lalu. Seolah kenyataan hari masih petang tidak lantas membuat keduanya berhenti.


"Ya. Aku perlu banyak merenung. Pernahkah kau mendengar istilah semakin tua harus lebih sering merenung?" William tersenyum kecil, menghibur diri dari masalah pelik yang tengah ia hadapi.


"Kau memang sudah tua. Baguslah jika kau sadar itu!" Jasmine menarik kakinya yang mulai terasa dingin meski telah memakai kaus kaki, dan menyelipkan kedua telapak kakinya untuk ia duduki agar lebih hangat.

__ADS_1


"Aku memang sudah tua. Waktuku berlalu dengan cepat. Masalah demi masalah pernah kulalui. Hidupku penuh dengan warna, kuharap jika tiba saat Tuhan memanggilku, kau akan tetap menjaga Alice dan menjadi teman untuknya. Kau dan Rachel adalah orang-orang yang cukup perhatian pada Alice." William berkata dengan pandangan melayang jauh.


Usianya telah tujuh puluh tahun. Semua kekuatan yang ia miliki saat muda mulai tergerus oleh keadaan. Staminanya tak lagi sekuat dulu. William hanya mencoba tetap bertahan dengan kekuatan yang tersisa demi untuk melindungi Alice, melindungi apa yang telah Anson wariskan untuknya.


Hidup tidak akan pernah selamanya tenang. Hidup tidak pernah selamanya lurus. Selalu ada kerikil tajam yang menghadang, sebagai ujian terhadap semua hal yang telah Tuhan ciptakan di dunia ini.


Langit tak selamamya cerah. Awan tak selamanya biru. Matahari juga tak selamanya bersinar. Selalu ada malam dan selalu ada gelap. Selalu ada hujan dan selalu ada badai. Begitualh Tuhan telah menciptakam siklus alam. Saling berkesinambungan demi untuk menjaga keseimbangan yang ada.


Tuhan telah memberkahi alam dengan menitipkan kekuatan pada masing-masing elemen. Agar semuanya saling bersatu padu, membentuk elemen yang sempurna. Karena tidak selamanya seseorang memiliki kekuatan sendiri dalam menghadapi lawan, karena itulah Tuhan ciptakan pengelompokan-pengelompokan individu sebagai teman dalam setiap hal yang ada.


"Kau seolah-olah berkata akan pergi menyambut kematian saja, William. Aku tak terlalu suka." Jasmine mengerucutkan bibirnya, merasa terganggu dengan pembahasan William.


"Bukankah sebentar lagi aku memang akan menuju kematian? Apalagi yang aku harapkan? Hidup lama selamanya? Kau pikir hal itu bisa terwujud?" William bertanya dengan sedikit aneh.


"Bukan begitu, aku hanya tak terlalu suka jika mendengar kata-kata semacam perpisahan darimu. Semua itu membuat perasaanku sensitif."


"Siapa suruh wanita sepertimu bisa sensitif juga dalam mendengar keluh kesah orang lain." William tertawa kecil, merasa lucu melihat sisi lain yang ada pada Jasmine.


Mereka kemudian terdiam lama. Pikiran mereka kembali pada pembahasan awal tentang Black Hell dan tujuan organisasi itu mengincar Alice.


Bukankah seharusnya jika organisasi itu mengincar Alice, mereka tidak harus mencari celah rumah ini? Alice memang sering berada di rumah, tetapi ia juga masih sering untuk Keluar rumah. Jadi, seandainya Black Hell menginginkan Alice, sebenarnya mereka lebih mudah untuk menghadang Alice di luar rumah seperti jalan, ataupun tempat-tempat umum lainnya.


Kenapa Black hell masih tetap menginginkan untuk bisa membobol keamanan rumah Alice? Itu merupakan suatu pertanyaan tersendiri bagi Jasmine dan William. Satu-satunya tebakan yang mereka miliki adalah Black hell memiliki sesuatu yang diincar dan sesuatu tersebut berada di kediaman Alice.


"Entahlah, Jasmine. Aku juga berpikir hal yang sama. Tetapi untuk saat ini, aku masih tidak memiliki perkiraan kira-kira Black hell mengincar benda jenis apa yang berada dalam rumah ini. Mungkinkah Black Hell memiliki urusan dengan Klayver? Semacam dendam lama? Apakah mungkin Klayver menyimpan suatu benda rahasia di rumah ini? Sesuatu yang diincar Black Hell?"


"Satu-satunya yang bisa menjawab pertanyaan itu adalah Klayver sendiri. Kau memiliki kontak untuk menghubungi Klayver?" tanya William kepada Jasmine.


Jasmine menggeleng lemah. Hanya Klayver yang bisa menghubungi Jasmine. Jika ada keadaan terdesak, biasanya Klayver akan meninggalkan kontak darurat. Tetapi satu bulan ini tidak ada apa pun yang Klayver tinggalkan untuk Jasmine. Sehingga Jasmine tak bisa mengambil langkah lebih dulu andai ia ingin membuat komunikasi dengan lelaki itu.


"Apakah mungkin Alice—"


"Tidak. Aku saja yang temannya tidak dibiarkan membentuk komunikasi, apalagi Alice yang merupakan istrinya dan sangat mudah terekspos dalam bahaya jika Klayver menghubunginya. Pertanyaanmu sungguh lucu, William." Jasmine menatap William dengan pandangan kesal.


"Oh, baiklah. Aku hanya bertanya, oke? Jika sudah begini, kita hanya bisa menebak-nebak secara kasar. Kira-kira apa yang Black Hell inginkan dari rumah ini dan apa tujuannya mengincar Alice."


Jasmine mengangguk membenarkan. Hanya inilah satu-satunya hal yang bisa mereka lakukan untuk saat ini. Masing-masing orang harus waspada.


"Untuk sementara ini, jagalah Alice dengan baik, terutama saat keluar rumah. Jangan sampai kita kecolongan." William mengingatkan.

__ADS_1


Jasmine lagi-lagi mengangguk untuk menyetujui perkataan William. Mereka berdua sedang di atas perahu yang sama, sehingga baik William maupun Jasmine memiliki kesepakatan secara tersirat untuk bahu-membahu dengan kompak.


"William, apakah menurutmu lebih baik masalah ini disampaikan kepada Alice atau tidak?" Tanya Jasmine.


William terdiam lama. Dia terlihat berfikir tentang masalah ini. Alice adalah orang yang sangat sensitif dan tidak terbiasa dengan bahaya semacam ini. Berbeda dengan Jasmine dan William, mereka semua sudah terbiasa menghadapi bahaya jalanan dan bahaya-bahaya tentang kematian.


Setelah berpikir matang, William memutuskan akan lebih baik seandainya Alice tidak mengetahui masalah ini terlebih dahulu. Dia khawatir wanita itu akan merasa ketakutan dan merasa tertekan secara psikis. Apalagi kondisi Alice saat ini sedang hamil, sehingga ditakutkan tekanan dan stres yang ia alami bisa mempengaruhi janin yang tengah ia kandung.


"Jasmine, Alice adalah wanita biasa yang memiliki jiwa lembut dan berhati baik. Dia sangat rentan untuk terkena stress seandainya kau memberitahu padanya seputar masalah ini. Jadi, akan lebih baik jika kita menyimpan semua ini sendiri. Tugasmu hanyalah fokus untuk menjaga Alice dan jangan sampai membiarkan wanita itu dibantai orang-orang dari organisasi Black Hell."


"Baiklah, William. Apa yang kau katakan itu benar. Alice adalah orang yang terlalu sensitif mengenai hal-hal seperti ini. Aku khawatir janin yang ia kandung akan terpengaruh jika Alice terlalu banyak tertekan memikirkan banyak masalah masalah seperti ini. Jadi, aku berjanji tidak akan menyampaikan hal ini kepada Alice secara langsung." Jasmine tersenyum kecil.


Jasmine dan Alice adalah dua orang yang berbeda. Meskipun Jasmine sedang dalam keadaan hamil, tetapi ia sudah terbiasa mengalami banyak hal dan mendapatkan banyak tekanan dari lingkungan sekelilingnya. Sehingga apa yang tengah ia hadapi ini tidak akan membuatnya stres dan tertekan. Berbeda dengan Alice, wanita itu terlalu murni dan baik. Sehingga hal-hal seperti ini bisa saja mempengaruhi psikisnya secara serius. Jasmine tak ingin mengambil risiko seperti ini.


"William, apakah menurutmu kita perlu menambah jumlah pengawal di rumah ini? Atau Perlukah kita menambah keamanan canggih rumah ini dengan banyak teknologi lainnya seperti yang kau bilang tempo kemarin? "


William menatap lantai dengan sedikit terpekur. Dia sudah memikirkan hal ini tadi malam. Sepertinya, mau tidak mau William harus menambah jumlah pengawal dan mungkin juga meningkatkan keamanan alarm rumah ini.


Perlindungan rumah ini perlu ditingkatkan berkali-kali lipat. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan Alice, maka setidaknya jumlah pengawal itu bisa melindungi keselamatan Alice lebih besar lagi. Semakin banyak pengawal dan semakin tinggi keamanan rumah, maka hidup Alice dan Axel pun juga akan lebih terjamin keamanannya.


"Jasmine, aku akan mengurus hal ini. Kau benar. Kita harus meningkatkan keamanan rumah ini dengan menambah pengawal dan meningkatkan sistem keamanan canggih. Dengan begitu, aku berharap siapa pun yang mencoba menerobos rumah ini bisa tertahan dan gagal."


William telah memikirkan akan memakai pengawal yang memiliki kemampuan tinggi. Dia harus memanfaatkan sumber daya yang ada yang ia percayakan kepada dirinya agar Alice bisa tetap terjamin keamanannya. Tidak peduli berapa uang yang harus ia keluarkan, jika hal ini bisa menjamin keselamatan Alice dan Axel, maka akan William lakukan.


Di dunia ini, Tuhan membekali setiap orang dengan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang kaya, pintar, ahli dalam beberapa hal, dan ada yang dibekali dengan kemampuan tinggi dalam menghasilkan uang dan finansial. Karena itu, William bermaksud untuk memanfaatkan apa yang Alice miliki demi kebaikan a


Alice sendiri. Tidak masalah berapa uang yang harus dihabiskan, selama itu bisa menjamin hidup seseorang, maka itu pantas untuk dilakukan.


Hidup Alice penuh dengan warna. Dia hanya wanita biasa yang karena takdir, Tuhan mempertemukan wanita itu dengan lelaki yang memiliki masa lalu kelam. Dulu Anson, sekarang Klayver. Kedua orang itu merupakan orang yang memiliki kedudukan dalam dunia gelap dan bukan sembarangan lelaki biasa. Hanya keajaiban dan kuasa Tuhan-lah hingga detik ini, a


Alice masih bisa menjalani kehidupan normal bersama lelaki seperti itu.


Untuk mengimbangi kehidupan Alice, maka Tuhan memberkatinya dengan banyak orang yang peduli di sekeliling Alice. Seperti William, Rachel, Jasmine, dan Daniel. Semua itu adalah fasilitas dari Tuhan untuk Alice demi untuk kebaikan Alice dan putranya.


" Baiklah, William. Lakukan Apa pun selama menurutmu itu baik untuk kehidupan Alice dan Axel. Aku akan naik ke lantai atas. Jika ada sesuatu yang penting untuk kau bicarakan denganku, panggil saja aku di kamarku. "


William menatap kepergian Jasmine dengan sorot mata hangat. Ternyata, dibalik sikap murahan yang ditunjukkan oleh Jasmine selama ini, wanita itu memiliki nilai dan kesetiakawanan yang tinggi.


William berharap, suatu hari nanti, Jasmine akan menemukan jalan hidupnya yang lebih baik. Wanita itu berhak merasakan kebahagiaan dan berhak menemukan lelaki sempurna yang bisa mengimbangi hidupnya. Dia seharusnya bisa menjalani kehidupan normal, memiliki anak, dan melalui banyak hari-hari seperti wanita lain pada umumnya.

__ADS_1


Andai suatu hari nanti Tuhan memberikan keajaiban untuk Jasmine dan mempertemukannya dengan lelaki baik dan sempurna, maka William pasti akan ikut bahagia untuk dirinya. Semoga hal itu bisa terjadi, bukan hanya sekedar harapan kosong.


...


__ADS_2