
"M-malam ini?" Alice tergagap.
"Kenapa? Kau tak bisa?" tanya Klayver tak mengerti.
"Aku β¦ sedang ada tamu bulanan."
Alice memandang Klayver dengan raut muka bersalah. Lelaki itu mengedipkan mata beberapa kali, kemudian ber-oh ringan.
"Maksudmu siklus bulanan?" tanyanya memastikan.
Alice merasa semua wajahnya memanas. Bahkan kulit di bawah rambutnya pun ikut menahan rasa malu.
"Ya," jawabnya lirih. Alice bergerak tak nyaman di tempat tidur, memandang ke arah mana pun selain suaminya sendiri.
"Berapa hari lagi kau bersih?" tanya Klayver ringan, mencoba menyelidik dengan cara yang samar.
"Aku baru mulai kemarin. Mungkin hingga lima hari ke depan," jawab Alice lirih. Dia mempermainkan ujung ranjang dengan jari-jemari lentiknya.
"Apakah kau perlu ke dokter untuk melepas kb dulu atau semacamnya?" Klayver masih saja memberondong Alice dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
"Tidak. Aku tidak memasang kb atau apa pun semenjak kematian Anson. Jadi hormonku baik-baik saja. Dengan kata lain, aku cukup subur."
Klayver memandang Alice dengan intens. Dia menyentuh dagu Alice dan menyentakkannya agar mereka saling bertatapan.
"Apakah maksudmu kau hidup selibat setelah kematian Anson?" tanyanya serius.
Dilihat dari segi mana pun, Alice adalah orang yang sangat cantik. Mudah baginya menenggelamkan diri dalam banyak acara sosial dan mendapatkan lelaki lain untuk sekadar penjajakan.
Ini adalah Manhattan. Sebuah kota yang menawarkan surga dunia dan kebebasan bagi siapa saja. Bukan hal yang tabu bagi seorang janda menikmati hidup dan bersenang-senang sedikit.
"Aku tidak melemparkan diri ke ranjang lelaki lain, jika itu maksudmu." Alice menyadari keterkejutan yang terbaca di mata Klayver dan menjawabnya jujur. Yah, terserah jika nanti lelaki itu akan menjulukinya wanita kolot atau semacamnya. Yang jelas, dia cukup nyaman dengan prinsip yang ia pegang.
Akhir-akhir ini, beberapa kali ekspresi Klayver bisa Alice baca. Mungkinkah lelaki itu menurunkan kewaspadaanya? Ataukah Alice mulai belajar sedikit demi sedikit menguak ekspresi orang lain? Entahlah. Yang jelas, suaminya kini terasa lebih dekat secara emosional dengannya. Alice mensyukuri kenyataan ini. Meskipun, hanya beberapa ekspresi standar saja yang mampu ia tangkap dari Klayver. Selebihnya, lelaki itu masih menjadi lelaki dingin yang tertutup.
"Bagus. Aku suka itu." Klayver tersenyum kecil dan mengusap lembut sisi wajah Alice.
Selama ini, Klayver sering menyentuh wanita murahan yang mengobral diri. Mereka memang cantik dan menawan. Tetapi lama-lama, dia jijik juga. Itulah kenapa ia tak segan-segan mengakhiri hidup mereka.
Namun, Alice berbeda. Dia menjaga diri sedemikian rupa. Akan sangat menarik jika ia bisa menaklukkannya secara penuh. Semua itu terasa indah dan tak tertandingi.
"Klayver." Suara Alice lirih, menyerupai cicitan tikus. Dia memandang Klayver tak yakin dan melontarkan sebuah pertanyaan.
"Bukankah kau sering menghabisi wanita di atas ranjang? Aku β¦ aku tak ingin menjadi salah satunya." Kedua mata Alice terlihat memerah, membayangkan semua skenario buruk.
Bahkan hingga detik ini, dekat dengan Klayver masih saja membawa ketakutan yang sangat besar. Takut jika ia tak sengaja membuat kesalahan dan nyawanya berakhir sewaktu-waktu. Menilik dari kepribadian Klayver, bukan hal yang mustahil jika lelaki tersebut melakukan semua itu.
Suaminya bagaikan sosok yang membawa aura dominan dan gelap. Tawanya bagaikan tawa iblis. Nafasnya membawa banyak rasa kematian. Tangannya juga telah sering dicuci dengan darah ratusan kali.
Berurusan dengannya tidaklah mudah. Ada kehidupan yang akan Klayver ambil jika Alice salah langkah. Berada di sisi Klayver, seperti berada di tebing paling ujung. Bisa terjatuh dan tewas tanpa persiapan.
__ADS_1
Lelaki itu sangat unik. Gabungan dari semua kelangkaan yang ada di dunia. Kejam, mematikan, tapi juga penuh pesona. Terkadang, Alice bahkan sulit menempatkan diri. Dia rentan untuk terluka dan disingkirkan.
"Kau tahu wanita seperti apa yang aku habisi?" tanya Klayver berbisik kejam.
Mendengar suara Klayver yang bagaikan bisikan iblis, Alice mengerut di ujung ranjang. Detak jantungnya menggedor rongga dada dengan luar biasa keras. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.
Lelaki seperti inilah yang akan mengambil malamnya dan calon ayah dari anaknya kelak? Kehidupan benar-benar sedang membuat hukuman pada Alice.
"Siapa pun mereka, mereka adalah nyawa yang patut dihargai." Alice menanggapi lirih. Dia meneriakkan sisa moral yang masih ia miliki. Demi nyawa yang terlanjur melayang sia-sia, dia akan sedikit membela mereka. Setidaknya, itu adalah suara hati yang masih sanggup ia teriakkan.
"Sebagian dari mereka adalah wanita rendah yang bisa menjual identitasku pada pihak lain setelah melihat seluruh tato istimewa milikku. Sebagian lainnya, adalah wanita sewaan, bisa agen, mata-mata, atau utusan dari organisasi gelap yang diperintahkan mencari identitasku dengan segala macam cara. Cara yang kumaksud adalah cara khusus di atas ranjang. Coba posisikan dirimu untukku, Alice. Apakah kau akan membahayakan hidupmu demi mereka yang bisa menusukkan belati di punggungmu?
"Jika kau bersedia, maka tidak denganku. Aku lebih memilih menjadi iblis yang menusuk mereka dari pada menjadi malaikat yang ditusuk oleh mereka. Ini adalah tentang nyawa. Aku harus memprioritaskan nyawa siapa yang kupentingkan. Nyawaku, atau nyawa mereka. Jika aku harus menghabisi seluruh dunia untuk menjamin hidupku, aku akan melakukannya. Tidak peduli bahkan jika harus menumpahkan sungai darah dan ribuan jasad di bawah kakiku. Itulah prinsipku."
Klayver menyentuh lembut sisi wajah Alice dan menyusuri ujung jarinya ke seluruh titik-titik sensitif wanita itu. Sentuhan ini sangat lembut, bertolak belakang dengan tatapan mata Klayver yang kejam bagaikan iblis. Alice merinding merasakan sentuhan tersebut. Dia memejamkan mata, merasa tak berdaya.
"Aku tidak tahu kau akan berdiri di mana, Alice. Jika kau cukup realistis menyimpan rahasia dan berdiri setia di belakangku, maka aku tidak akan melukaimu sama sekali. Aku akan memperlakukanmu dengan manis, melindungimu, dan memanjakanmu selama waktu yang ditentukan. Sepanjang tahun-tahun kita bersama, aku sanggup menciptakan surga kecil untukmu. Apa pun yang kau inginkan, bahkan hal-hal di luar nalar, aku akan berusaha memberikannya.
"Percayalah Alice, akan lebih mudah berdiri bersamaku. Namun, jika kau cukup gila mengambil sikap bermusuhan denganku dan membongkar identitasku, aku tak keberatan menciptakan neraka untuk menyiksa hidupmu. Aku adalah dua sisi dari mata uang. Tergantung kau akan bersikap seperti apa. Jadi, di mana posisimu sebenarnya? Menjadi wanitaku atau menjadi musuh abadiku?"
Klayver telah mencurahkan isi hatinya. Itulah yang ia tawarkan pada Alice. Dia adalah orang yang tidak pernah melakukan sesuatu dengan setengah-setengah. Hanya ada hitam dan putih. Terang dan gelap. Kasar dan lembut.
Jika ia telah memutuskan sesuatu, maka itu adalah keputusan sepenuh hati. Sekarang, ia memberikan pilihan ini pada Alice. Biarkan wanita ini mengambil jalan. Akan tetap berada bersamanya, atau mengkhianatinya.
Klayver tak mau lagi diperlakukan sebagaimana Holy memperlakukannya dulu. Hatinya tidak akan rentan. Jiwanya tidak akan rapuh. Jika Alice merasa tak sanggup mengambil langkah, ia tak keberatan sama sekali kehilangan Alice. Sebelum semuanya berakhir buruk, akan lebih baik semuanya dipangkas rapi.
Karakter Klayver sangat keras. Alice harus mulai membuka mata dan menyadari kenyataan ini. Dia orang yang tak mungkin melakukan kompromi. Wanita itu harus melihat keseluruhan sisi yang ia miliki dan menbiarkannya mengambil keputusan.
Klayver berkata apa adanya. Meskipun kesepakatan mereka hanya terbentuk selama beberapa tahun, tetapi beberapa tahun itu bisa menjadi waktu yang cukup panjang dan berat. Klayver tak akan terkejut jika Alice memutuskan untuk mundur dan menolak semua bentuk kesepakatan. Tentu saja ada beberapa konsekuensi yang akan ia tanggung, misalnya kematian Daniel dan terbengkalainya dendam lama kematian Anson. Yah, Alice harus benar-benar berpikir jika harus memutuskan semua ini.
"Berapa lama semuanya ini akan berjalan, Klayver? Berapa tahun kita akan hidup bersama sebelum nanti kau membawa putra kita pergi dan saling hidup terpisah?" Alice merasakan sengatan rasa sakit yang sangat tajam.
Belum-belum, membayangkan Klayver membawa anak mereka membuat hidupnya pilu. Ada kesedihan yang tak tertahankan. Semoga saja jika Klayver membawa anak mereka pergi, dia masih menepati janjinya untuk melakukan pengaturan kunjungan dan hak asuh bersama.
"Aku memperkirakan paling lama empat tahun. Tetapi jika kau bisa langsung melahirkan anak lelaki di tahun pertama, mungkin dua tahun cukup."
Klayver sudah memperhitungkan semuanya. Tadinya, ia berniat menikah dengan Alice dan menggunakan organissi William sementara waktu. Tetapi setelah ia kembali bertemu dengan keluarga besarnya, ia bisa melupakan organisasi William dan membentuk organisasi baru yang lebih kuat melalui koneksi Violin. Jadi, dua tahun adalah perkiraan waktu yang cukup realistis.
Dua tahun.
Alice mengerutkan bibirnya. Dua tahun adalah waktu yang ia punyai untuk bersama dengan Klayver. Sangat singkat.
Jika nanti semua berakhir, mungkinkah hatinya akan berdarah dan terkoyak tak berbentuk?
Menyerahkan semuanya. Hati dan fisik. Hanya demi kesepakatan dua tahun. Wanita mana yang cukup sehat melakukan semua ini?
Jika ada yang berkata Alice gila, Ya. Dia akan membenarkan orang yang mengatakan hal tersebut. Dia gila. Terjebak dalam pesona iblis yang merenggut semua kewarasan dirinya.
Mungkin, bagi Klayver, dua tahun tak akan memiliki bekas sama sekali. Itu hanya investasi waktu yang sangat kecil demi ambisinya. Tetapi, bagi Alice, dua tahun bisa menjadi waktu yang teramat sangat meremukkan.
__ADS_1
Alice bodoh.
Akal sehatnya mulai menertawakan. Dia wanita paling dungu sedunia. Wanita baik-baik yang mencecap sari madu dari iblis, dimabuk asmara, tenggelam dalam pesonanya, dan akan ditinggalkan setelah semua jiwa miliknya disesap habis.
Jika ada yang menyalahkan, salahkan saja perasannya yang jatuh di luar kendali. Salahkan saja emosinya yang rumit dan kacau. Salahkan saja hatinya yang terlanjur menjadikan Klayver sebagai kiblat.
"Bagimana, Alice? Apa yang kau putuskan?" tanya klayver menarik kesadaran Alice kembali ke alam nyata.
Alice menatap Klayver dengan netra emasnya yang mengagumkan. Matanya menyorotkan kerapuhan. Membuat Klayver ingin merengkuh dan menawarkan perlindungan.
"Kau benar-benar akan menawarkan surga untukku selama kita bersama?" tanya Alice menuntut kembali pernyataan Klayver sebelumnya.
Klayver mengangguk membenarkan. Dia tak pernah bermain dengan kata-kata. Apa yang ia janjikan adalah apa yang akan ia lakukan. Begitulah rumus hidup yang ia pegang.
"Aku akan memberikanmu semua hal yang kau inginkan. Bahkan jika aku harus mengotori diriku dengan ribuan nyawa orang dalam prosesnya. Tetapi, kau juga harus menjanjikan kesetiaan mutlak padaku sebagai balasannya. Semuanya harus sepadan. Jika ingin menjadi wanitaku, kau harus menjadi wanitaku secara utuh. Tidak ada celah bagimu untuk berubah pikiran lagi. Denganku, kau harus jelas apakah akan maju atau mundur.
"Aku pun juga demikian. Jika aku maju untuk meraihmu dan mengklaim dirimu, tidak ada lagi keinginanku untuk berubah pikiran hingga waktu yang telah kita tentukan. Aku bisa menjadi segalanya bagimu, Alice. Dan kau juga akan menjadi segalanya untukku. Tidak ada tempat bagi orang lain."
Alice menelan ludah dengan susah payah. Mendengar Klayver mengatakan semua itu, membuat hatinya terbang dan jatuh secara bersamaan.
Terbang karena ia yakin Klayver sanggup melakukan semua itu, jatuh karena tahu ia hanya mendapatkan semua tersebut selama rentan waktu yang sangat terbatas. Haruskah ia berteriak bahagia? Atau menangia histeris? Alam benar-benar sedang membuat lelucon.
Alice memikirkan semua kata-kata Klayver dengan sangat mendalam. Hatinya telah porak-poranda.Jika ini satu-satunya ia mendapatkan Klayver secara penuh, mungkin, dia harus menembus semua batas yang ada dan menerima tawaran ini.
Mendapatkan surga dari Klayver selama dua tahun. Alice akan mengambil kesempatan itu, meskipun setelah Klayver pergi, dia bisa jatuh ke dalam neraka tak berujung untuk seumur hidup.
"Selama dua tahun, apakah kau akan menyentuh wanita lain?" Alice melontarkan pertanyaan yang masih mengganjal. Dia menatap Klayver serius, menerka-nerka semua jawaban.
"Sudah kubilang tidak ada celah bagi orang lain di antara kita." Klayver menatap Alice, meyakinkan wanita ini.
"Bagaimana kau bisa menjamin hal ini, Klayver? Lelaki adalah makhluk yang mudah bosan." Alice berkata keras kepala.
Bukan hal yang rahasia lagi jika lelaki tampan akan selalu diburu wanita. Biasanya, kaum adam juga akan menganngap hal tersebut menyenangkan dan tak keberatan bermain dengan mereka. Siapa yang menolak keindahan?
"Kau akan kuajari menggunakan pistol."
"Untuk apa?"
"Agar kau bisa membunuh wanita mana pun yang kusentuh selama aku menikah denganmu," jawab Klayver santai. Alice yang mendengarnya hanya bisa menatap Klayver tak percaya. Yang benar saja. Demi apa pun juga, Alice tak ingin menjadi pembunuh.
"Oh, sangat lucu. Aku tidak perlu melakukan itu. Kau sendiri yang akan membunuh wanitamu," sahut Alice dengan nada skeptis.
"Aku serius, Alice. Kau bisa menghabisinya jika ada yang berani mendekatiku. Karena itu jugalah yang akan aku lakukan kepadamu. Jika ada lelaki lain yang menyentuhmu dan berbuat asusila, kau akan menemukan jasadnya keesokan hari. Jadi berhati-hatilah! Jangan munculkan sisi gelapku. Wanitaku hanya milikku seorang! Hanya aku yang akan menyentuh dan memujamu!"
β¦
Double up buat kalian nih.
Ngomong-ngomong, aku bucin loh di part iniπππ faktor hamidun deh kayaknya πππ
__ADS_1
Jumat berkah semuanya β€β€β€
Selamat beraktifitas #dirumahsaja