Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
120 - SEASON 2


__ADS_3

Alice duduk di atas kursi di depan meja rias. Dia menatap cermin di hadapannya dengan pandangan samar. Saat ini pikirannya telah melayang-layang. Hatinya kalut, dan perasaannya tidak menentu.


Insting Alice mungkin tidak secanggih insting milik Jasmine dan William. Tetapi bukan berarti insting Alice sama sekali tidak ada.


Alice menyadari akhir-akhir ini, baik Jasmine maupun William, mereka semua meningkatkan keamanan bahkan meningkatkan jumlah pengawal yang ada dalam rumah ini. Alice bukan orang bodoh. Dia bisa membedakan jumlah pengawal sebelumnya dan bisa membedakan jumlah security dan pengawal yang berada di rumahnya sekarang telah bertambah berlipat-lipat.


Pasti sekarang telah terjadi sesuatu, tapi entah apa. Jasmine dan William mungkin berusaha menyembunyikan kenyataan ini dari Alice. Mungkin, mereka berfikir Alice akan terbebani jika mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


Mustahil tidak terjadi apa-apa, tetapi Jasmine dan William sibuk meningkatkan banyak sekali metode pengamanan yang ada di rumah ini dan metode pengamanan yang melengkapi Alice kemanapun Alice sekarang pergi. Ancaman apa yang telah mereka dapatkan seputar tentang dirinya? Sehingga berfikir bahwa keadaan Ali sekarang dalam lambang bahaya.


Ali sedang mengira-kira apa bahaya yang sedang mengancamnya, sehingga Jasmine dan William menyembunyikannya fakta ini dari dirinya. Mungkinkah bahaya itu sangatlah cukup besar? Sehingga mereka tidak mau mengambil risiko Alice cemas dan merasa khawatir berlebihan, karena dirinya sedang dalam keadaan hamil?


Sempat terfikir bagi Alice untuk berbicara dengan Jasmine atau William secara langsung. Dia tidak ingin diperlakukan seperti anak kecil, yang setiap ada bahaya selalu disembunyikan dari dirinya. Bagaimanapun juga, Alice sudah dewasa. Di telah mengalami banyak pasang surut kehidupan, mengalami pahit manis kehidupan, dan mengalami banyak hal yang tidak menyenangkan dalam hidup ini. Dengan mengetahui bahaya lebih awal, mungkin Alice bisa lebih waspada sedari dini.


Tetapi, Alice mengurungkan niatnya. Jika ia bertanya kepada William maupun Jasmine, mungkin mereka tidak akan berterus terang kepadanya. Mereka berdua sangatlah protektif terhadap Alice. Sehingga jika terjadi bahaya yang mengancam karena mereka akan lebih menyukai menutupi bahaya tersebut dari dirinya. Dan melindunginya dengan cara diam-diam.


Alice terdiam lama di depan cermin meja rias dan memikirkan banyak hal kira-kira apa yang mesti dia lakukan? Dia tidak bisa diam saja sementara Jasmine dan William sibuk melindungi dirinya.


Setelah berpikir tentang semua ini, akhirnya Alice mengambil keputusan. D!ia akan melindungi dirinya sendiri dengan lebih baik, menggunakan semua fasilitas yang ada di sisi-nya, dan membekali dirinya dengan senjata apapun yang pernah Jasmine berikan untuknya.


Dengan begitu, jika sewaktu-waktu terjadi bahaya yang ditakutkan oleh Jasmine maupun William, setidaknya Alice bisa ikut melindungi dirinya sendiri tanpa terlalu merepotkan mereka.


Alice kemudian teringat tentang sesuatu. Dia segera mengambil ponselnya yang berada tak jauh darinya dan menghubungi seseorang yang sangat ia inginkan.


Dengan cekatan, ia menggulir ponsel tersebut menuju kontak yang sangat ia kenal. Rachel.


"Halo, Rachel?" Tanya Alice mengawali perbincangan melalui ponselnya.


"Hai, Alice. Bagaimana kabarmu?" Balas Rachel di seberang sana.


Semenjak kepulangan Maxen dari penjara, Rachel dan Alice jarang bertemu secara langsung. Rachel sibuk menghabiskan waktu bersama suaminya, setelah sekian lama mereka berdua dipisahkan oleh keadaan.


Sebagai teman, Alice memahami hal ini. Dia tahu rasanya bagaimana berpisah lama dengan suaminya dan hanya memiliki akses sedikit dalam menemui suaminya. Pasti berat bagi Rachel selama ini. Jadi wajar, ketika Maxen pulang, Rachel berusaha menebus semua waktu yang ia miliki untuk bersamanya.


"Aku baik-baik saja, Alice. Sangat bahagia dan merasa puas. Bagaimana kabarmu dengan suamimu?" Apakah kalian berdua baik-baik saja?" tanya Alice kepada Rachel.


Di seberang sana, Rachel sedikit tersipu malu. Dia merasa akhir-akhir ini ia telah mengabaikan Alice setelah kepulangan Maxen dari penjara. Mereka adalah teman yang sangat akrab. Rachel merasa menjadi teman yang lalai.


"Entahlah, Rachel. Klayver masih belum kembali dan belum mrmberikanku kabar sama sekali. Aku hanya berharap dia tak mengalami kesulitan yang berarti." Alice menjawab apa adanya.

__ADS_1


Rachel adalah orang yang sangat mengerti keadaan Alice dan selalu menjadi tempat bagi Alice berkeluh kesah sejak jaman dahulu. Hubungan mereka tidak pernah berubah. Alice berharap ke depannya mereka akan tetap seperti ini terus. Dia menbutuhkan teman dengan pondasi yang kuat seperti Rachel dalam hidup ini.


"Oh, Ya Tuhan. Aku ikut menyesal mendengarnya." Rachel semakin merasa tak enak. Di saat Maxen pulang dan ia tengah menghabiskan waktu bersama sang suami, kini Alice sedang merana karena ditinggal sang suami.


Klayver merupakan lelaki yang sangat kompleks. Baik Maxen dan Rachel, mereka sepakat Klayver menyembunyikam identitas yang sebenarnya. Tetapi Rachel tak ingin mengorek terlalu jauh tentang Klayver. Baginya, selama Alice bahagia, maka siapa pun yang menemani hidup temannya akan Rachel terima dengan tangan terbuka.


"Tidak apa-apa, Racel. Kau tak perlu merasa bersalah. Aku hanya menbutuhkan tempat untuk berbagi saat ini." Alice mulai membawa Rachel pada pokok pembicaraan.


Rachel yang mengetahui Alice mulai mengangkat topik serius, dia mencari posisi yang nyaman di atas sofa dan membenarkan letak ponsel milikya untuk mendengarkan apa yang ingin Alice sampaikan sesungguhnya.


"Ada apa? Kau bisa ceritakan semuanya padaku. Ada masalah genting? Usahamu bangkrut? Uangmu raib? Pencurian? Atau apa?"


Kedua mata Alice memutar dengan pasrah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh temannya. Apakah imajinasi Rachel setinggi itu dalam memikirkan sesuatu? Bahkan seliar-liarnya Alice, dia tidak pernah memikirkan hal hingga sedetail itu.


Perusahaan bangkrut? Yang benar saja. Alice adalah investor dan bisnisman yang sangat berhati-hati dalam meletakkan modalnya dan selalu menilai pasaran terbaru tentang properti apa yang laku saat ini. Bangkrut hanya akan terjadi jika Alice melakukan kecerobohan, atau pun terjadi krisis, atau mungkin tiba-tiba orang kepercayaannya pergi dengan menggondol separuh saham miliknya. Hal yang sepertinya jika terjadi cukuplah bisa dibilang ekstrem.


"Sepertinya khayalanmu semakin hari semakin sempurna saja, Rachel. Kenapa kau tak menebak aku terbang ke bulan saja sekalian?" tanya Alice meradang.


Rachel masih sama saja dari dulu. Mulutnya mudah berkata seenaknya sendiri. Alice terpaksa mendengarkan semua celotehannya yang tak masuk akal. Dulu, bahkan Rachel pernah mengumbar semua mimpinya di depan kelas selama satu jam saat pelajaran tentang pendalaman karakter sehingga satu kelas terpaksa tak kebagian jatah karena waktunya telah diambil oleh celotehan Rachel yang tak penting.


"Uh, memangnya kau mau ke bulan? Di sana bahkan oksigen saja sulit. Gravitasi juga tak sama dengan di sini. Kau butuh penyesuaian yang lama berada di sana. Lagi pula, belum ada kawasan sama sekali di sana. Untuk apa pindah jika kau hanya akan hidup tunggal tanpa kehidupan sosial yang jelas?" tanya Rachel setengah menggerutu.


"Aku hanya membuat perandaian, jangan terlalu diambil hati, Alice. Ada apa sebenarnya? Kau memiliki kesulitan? Hambatan? Apa?" tanya Racel penuh rasa ingin tahu.


Alice terdiam lama. Dia memainkan jari-jemarinya dan kembali berpikir ulang apakah bijaksana membaginya dengan Rachel. Rachel memang temannya, tapi apakah pantas ia berkeluh kesah terus padanya? Bukankah selama ini Rachel sudah cukup sering membantunya dengan berbagai hal?


"Alice, kau masih di sana? Hei, aku bukan mesin otomatis yang bisa setia mendengarkan udara selamanya dan bisa kau abaikan sesuka hati." Rachel mengeluarkan protesnya.


"Emh … Rachel ...."


Alice jadi semakin ragu. Dia mengalami kebimbangan untuk tetap mengatakan yang sebenarnya atau tidak.


"Katakan saja, Alice. Aku adalah temanmu. Selamanya. Apa gunanya teman jika tak bisa membantu di saat sulit dan tak bisa menjadi tempat untuk berkeluh kesah?" Rachel membujuk Alice. Dia menangkap kebimbangan yang Alice rasakan.


Bagi Rachel, Alice sudah seperti saudarinya sendiri. Kesulitan apa pun yang wanita itu miliki juga berarti menjadi kesulitannya. Kesedihan yang wanita itu miliki juga akan menjadi kesedihannya.


Rachel berharap Alice bisa tetap bersikap terbuka padanya, seperti sebelumnya. Rachel tak ingin hubungan mereka diwarnai kecanggungan. Mereka sudah mengalami hal baik dan buruk bersama-sama selama bertahun-tahun.


"Sepertinya, aku sedang dalam keadaan bahaya." Alice akhirnya memilih untuk bersikap terbuka pada Rachel.

__ADS_1


Rachel yang mendengar hal ini hanya bisa terdiam lama. Dia butuh waktu untuk mencerana apa yang Alice sampaikan.


Bahaya?


Alice dalam bahaya? Rachel mengusap keningnya dengan bingung. Dia memastikan telinganya tak salah dengar.


"Kau dalam bahaya? Apa maksudmu?" tanya Rachel mengulangi apa yang Alice sampaikan.


"Maksudku, akhir-akhir ini Jasmine dan William bersikap terlalu over protektif kepadaku. Mereka meningkatkan jumlah pengawal dan security rumah, dan menjagaku dengan ekstra ketat. Tetapi mereka tidak berterus terang kepadaku Ada apa sebenarnya. Menurutmu, apakah aku baik-baik saja? "Tanya Alice dengan sedikit perenungan.


Rachel yang mendengarnya hanya bisa terdiam lama. Apa yang disampaikan ini merupakan sesuatu yang tak pernah Rachel duga sebelumnya. William dan Jasmine merupakan orang yang khusus untuk menjaga Alice. Jika sampai mereka berdua meningkatkan keamanan dan jumlah pengawal di sekitar Alice, maka itu artinya pasti ada sesuatu yang terjadi. Insting Rachel dan insting Alice bekerja secara bersamaan. Mereka sama-sama tahu pasti ada alasan tersendiri yang berusaha disembunyikan oleh Jasmine dan William. Hanya saja, dua orang tersebut entah bagaimana memiliki niat untuk menyembunyikan hal ini dari Alice.


"Kupikir, pasti terjadi sesuatu. Instingmu bekerja dengan baik, Alice. Jika tidak terjadi sesuatu, mustahil mereka berdua meningkatkan keamanan di sekitarmu. Tetapi kira-kira, Menurutmu apa yang bisa saja terjadi yang menjadi kekhawatiran mereka?" Rachel balik bertanya.


Alice dan Rachel sama-sama terdiam. Alice mencoba mengingat-ingat apa saja yang terjadi akhir-akhir ini. Dia Berharap, ada suatu petunjuk yang bisa ia ambil tentang bahaya apa yang tengah ia hadapi saat ini. Tetapi setelah Ia berpikir lama, Alice tak juga menemukan alasan yang kuat. Dia menjalani hari-hari dengan biasa, tidak ada suatu pergerakan yang bisa ia ambil sebagai petunjuk dan bisa mengarahkannya pada insting yang sekarang ia miliki.


"Sepertinya, aku menjalani hari-hari dengan normal, Rachel. Jadi, aku tidak memiliki petunjuk sama sekali kira-kira apa yang terjadi sekarang." Jelas Alice merasa sedikit bingung.


" Coba kau pikir pikir lagi, Alice. Mungkin kau belum menemukan petunjuknya. Tapi pasti kau bisa menggali lebih dalam apa yang terjadi akhir-akhir ini. Mustahil kan tidak ada petunjuk sama sekali? "Rachel pun juga ikut bingung menanggapinya.


Jika terjadi hal-hal yang buruk, pasti sebelumnya ada sebuah pertanda. Entah itu hal-hal kecil, atau hal-hal yang bisa terjadi begitu saja di sekitar kita. Tidak mungkin sesuatu terjadi dengan tiba-tiba. Jadi, saat ini yang terbaik bagi Alice adalah mengingat-ingat kembali apa yang ia alami akhir-akhir ini. Mungkin saja ia pernah diikuti seseorang, ataupun diperhatikan oleh orang asing, ataupun hal hal semacamnya.


"Tidak, Rachel. Aku tidak mendapatkan petunjuk sama sekali ... mungkin aku harus berpikir ulang tentang semua ini. Atau, apakah menurutmu lebih baik aku bertanya kepada Jasmine dan William?" tanya Alice mulai ragu-ragu.


Tadinya, Alice tidak berniat untuk bertanya kepada Jasmine maupun William. Mereka berdua pasti menyembunyikan fakta ini dengan baik agar Alice tidak perlu khawatir. Tetapi setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada jalan bagi Alice jika ia ingin mengetahui kecuali ia bertanya langsung kepada mereka berdua. Entah nanti mereka berdua akan jujur kepada Alice atau tidak, sepertinya hal itu patut untuk dicoba.


"Aku pikir, hanya mereka berdualah yang bisa menjelaskan semuanya kepadamu, Alice. Jadi, mau tak mau kau memang harus bertanya langsung kepada mereka. Itu adalah masukan dariku., Bagaimana jika hal ini aku komunikasikan kepada Maxen? Siapa tahu saja, suamiku bisa membantu dirimu?" tawar Rachel dengan tulus.


Alice merasa bimbang. Sebenarnya, dia tak terlalu suka dengan Maxen. Masa lalu mereka membuat Alice menjadi sedikit tidak cocok dengan Maxen. Bagaimanapun juga, dialah yang membunuh Anson dulu. Tetapi ditilik dari keadaan sekarang yang mulai genting, sepertinya dia harus menerima tawaran Rachel. Dia membutuhkan orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk membantu dirinya dan untuk melindungi Axel, anaknya.


Alice tidak bisa bersikap egois. Dia memiliki Axen yang bergantung kepadanya secara penuh. Jika terjadi apa-apa kepada Alice, maka keselamatan Axel pun juga akan ikut terancam. Jadi, satu-satunya jalan sekarang adalah memanfaatkan apa yang ada di sekelilingnya untuk mempertahankan diri Alice dan melindungi putra satu-satunya.


" Apakah hal itu tidak apa-apa? "Tanya Alie sedikit tak enak.


"Tidak apa-apa, Alice. Maxen sekarang lebih baik dari sebelumnya. Dia memiliki sisi kemanusiaan yang lebih besar daripada sebelum dia masuk ke penjara. Kupikir, Maxen pasti bisa memberikan solusi dan memberikan tambahan bantuan untuku. Bukankah saat ini hal itu yang terbaik untukmu dan Axel?" Rachel terdengar tulus.


Akhirnya, Alice menyerah dengan tawaran temannya.


"Baiklah, Rachel. Lakukan apa yang menurutmu baik."

__ADS_1



__ADS_2