
Alice kembali ke rumah saat hari sudah mulai gelap. Dia dan Violin beserta semua pengawalnya hanya beristirahat sebentar sebelum akhirnya berkumpul kembali untuk makan malam yang telah disiapkan oleh Caterine.
Jasmine tidak muncul sama sekali pada saat makan malam berlangsung. Alice sudah mulai curiga tentang apa yang terjadi. Dia menduga pasti Daniel telah melakukan suatu percakapan yang cukup serius dengan Jasmine sehingga Jasmine saat ini merasa tertekan. Bagaimanapun juga, Alice bisa menebak pikiran Daniel sebenarnya. Dalam hati, Alice berjanji setelah makan malam berakhir dia akan segera mengecek keadaan Jasmine di kamarnya dan menanyakan apa sesungguhnya yang telah terjadi.
"Temanmu yang tak tahu malu itu ke mana? Kenapa wajahnya tak muncul di makan malam kali ini?"
Tak seperti biasanya, Violin kali ini menanyakan tentang keberadaan Jasmine saat makan malam berlangsung. James yang ada di sisinya ikut menoleh dengan tatapan mata menyiratkan sedikit keterkejutan. Sudut bibirnya melengkung kecil ke atas, membentuk seringaian kecil.
"Ada apa, Violin? Tak biasanya kau menanyakan Jasmine."
Biasanya mereka berdua selalu berdebat tanpa ujung. Semua topik yang ada dan setiap waktu yang tersedia selalu mereka habiskan untuk menentang pendapat satu sama lain. Karena itulah dalam beberapa moment, terkadang Jasmine memilih untuk mengalah dan tak ikut serta bersama mereka. Semata-mata hanya untuk menghindari perdebatan yang tak ada habisnya. Di tempat umum, perdebatan seperti itu benar-benar tak pantas. Entah kenapa, Violin justru tak terganggu dengan keadaan itu. Jasmine-lah yang mersa tak nyaman sendiri. Berdebat di tempat publik hanya akan mengurangi nilai Jasmine.
"Tidak. Hanya saja terkadang mulut pedasku perlu disalurkan sesekali. Dia bisa mebantuku berolah raga bibir." Violin menjawab dengan sembarangan. Dia melirik suaminya dan terkekeh kecil melihat keterkejutan yang tercetak samar dari raut mukanya.
"Dengan kata lain, Jasmine adalah lawanmu yang seimbang." Alice mengangguk kecil, memahami sebenarnya apa maksud Violin. Dia cukup tahu maksud mertuanya. Terkadang, seseorang bisa saling dekat satu sama lain hanya karena perdebatan kecil.
Keakraban bisa terjalin karena hal-hal di luar dugaan. Hal-hal yang tadinya terasa seperti permusuhan kecil bisa menjadi hal yang akan dirindui oleh satu sama lain. Hanya saja, untuk wanita dengan harga diri seperti Violin, terlarang hukumnya mengakui kedekatan kepada wanita lain seperti Jasmine.
"Sudahlah. Biarkan saja jika wanita itu tak bersama kita saat ini. Suasana jadi lebih tenang tanpanya." Violin menaikkan bahunya dan mencoba berkata ringan untuk membantah tentang kerinduannya pada Jasmine. Alice dan James yang mendengarnya hanya bisa mengangguk kecil, membiarkan saja Violin begitu saja dan memilih tak menyudutkannya.
"Ngomong-ngomong, tiga hari lagi adalah anniversary pernikahan kita, Sayang! Bagaimana jika kita rayakan di luar dengan makan malam istimewa?" tanya James menatap istrinya tercinta. Sinar matanya menyiratkan cahaya familier. Sebuah cinta yang ia punya untuk wanita pendamping hidupnya untuk sisa waktu yang ia miliki.
"Oh?" Violin menoleh. Wajahnya sedikit terkejut, keningnya berkerut mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, bibir Violin kembali membulat. Menunjukkan dia baru sadar jika tiga hari lagi adalah anniversary pernikahan mereka.
"Ya Tuhan, aku tak ingat! Maaf, Sayang." Rasa bersalah menghinggapi wajah Violin. Tangannya mengusap lengan James dengan gerakan lenbut, berharap suaminya memaklumi.
Akhir-akhir ini, pikiran Violin selalu tertuju pada Luiz dan bahaya yang bisa saja mengancam Alice sewaktu-waktu. Dia tak terlalu memperhatikan urusan lain karena Alice merupakan fokus utama yang ia perhatikan secara penuh.
"Aku tahu. Kau sibuk dengan urusan lain yang lebih penting dan konsentrasimu sepenuhnya terfokus pada permasalahan Alice. Aku memahami itu, Sayang. Tetapi ada baiknya juga kau memperhatijan kebahagiaanmu. Kebahagiaan kita."
Wajah James menghangat dan melembut setiap kali menatap istrinya. Dia sudah sangat hafal bagaimana karakter Violin. Wanita yang selalu mencurahkan semua rasa dan harapan terpendamnya untuk dibagi bersama.
Waktu telah lama berlalu semenjak mereka mengikrarkan janji pernikahan dan kesetiaan. Anak-anak mereka telah besar dan kehidupan telah banyak menempa mereka. Tapi semua itu tak membuat perasaan mereka terkikis dan berkurang satu sama lain. Waktu hanya membuat ikatan mereka kian menguat, menyatukan mereka dalam kebersamaan sejati.
Tak ada yang lebih Violin syukuri selain penerimaan dan cinta yang luar biasa dalam dari sang suami. Sebagai wanita, Violin tak sempurna. Ia memiliki karakter kasar dan mudah sekali bersikap egois. Tetapi James telah mengajarinya banyak hal. Bersama lelaki itu, Violin mampu mengeluarkan sisi dirinya yang selama ini tersembunyi. Kasih sayang dan cinta yang pernah ia kira tiada, berhasil hadir dipancing kehadiran James.
"Baiklah. Kita akan makan malam di luar." Violin mengangguk penuh kebahagiaan. Dia menatap Axel yang duduk terdiam dari tadi dan hanya menjadi pendengar ketika orang-orang dewasa di sekitarnya saling membicarakan banyak topik.
"Bagaimana, Axel? Kita semua akan keluar untuk makan malam tiga hari lagi. Kau punya permintaan lain? Kau ingin mainan baru atau semacamnya?" tanya Violin menatap cucunya dengan pandangan kasih sayang. Pandangan yang hanya ia berikan pada orang-orang tertentu yang ia kasihi.
__ADS_1
Anak kecil itu hanya menatap Violin sekilas dan kembali menatap piring sajiannya. Dia tak terlalu berminat untuk keluar. Bagi Axel, bermain dengan Helena lebih menyenangkan dari pada keluar malam-malam di cuaca dingin yang tak bersahabat yang penuh dengan salju.
"Grandma, aku malas untuk keluar saat musim dingin. Bagaimana jika kalian saja yang pergi dan biarkan aku bermain bersama Helena di rumah? Atau aku menginap saja dengan Aunty Rachel. Kau bisa membawakanku oleh-oleh sepulangnya nanti dari makan malam." Axel menatap neneknya dengan serius. Kedua mata gelapnya menyiratkan kedewasaan. Berbeda jauh dengan sikap kanak-kanaknya setiap kali ia merengek meminta sesuatu.
Caterine yang ikut mendengar mereka hanya bisa menggeleng kecil. Menyadari dengan geli jika majikan kecilnya bisa bersikap seperti orang dewasa dalam beberapa situasi.
"Baiklah. Kau bisa menginap di Aunty Rachel jika begitu, Sayang." Alice mengangguk, menyetujui kemauan anak itu. Ia tak ingin terlalu memaksa Axel. Biar saja anak itu menginap ke tempat lain jika tak bersedia ikut keluar. Mungkin makan malam yang dimaksud Violin bukan sekadar makan malam biasa. Siapa yang tahu?. Makan malam yang menjadi satu dengan pesta kecil dan sampanye yang tak pantas untuk anak kecil.
"Terimakasih, Mom." Pipi chubby anak itu terlihat lebih gembil dan imut ketika apa yang ia mau berhasil ia dapatkan. Sinar matanya sedikit melembut dan menghasilkan lesung pipi kecil.
"Sama-sama, Sayang. Habiskan makanananmu dan kau bisa langsung tidur diantarkan oleh Helena."
Mereka semua kembali pada makan malam masing-masing. Suara sendok dan piring keramik saling beradu, menghasilkam keributan yang khas. Obrolan-obrolan ringan hanya terjadi sesekali. Setelah makan malam selesai, Alice membawakan beberapa makanan untuk ia berikan pada Jasmine di lantai atas.
Alice sedikit mengalami kesusahan di tangga utama. Kehamilannya yang semakin membesar membuat ruang geraknya terbatas. Sangat berbeda dengan kehamilan Axel dulu. Saat itu, Alice masih ingat bagaimana ia berjalan ke sana ke mari tanpa hambatan.
Selain ruang geraknya yang terbatas, Alice juga merasa tubuhnya kian melebar setiap waktu. Setiap bulan Alice merasa bertambah beberapa pound.
Lemak terasa lebih tebal di beberapa titik. Alice harus mengingatkan diri sendiri untuk melakukan senam lagi setiap pagi. Dia perlu mempertahankan berat tubuhnya. Meskipun setiap orang yang berada di sekelilingnya tidak merasakan perbedaan ini, yang jelas Alice sangat paham jika tubuhnya mulai membengkak. Bisa-bisa dia akan sebesar gajah di akhir kehamilannya. Klayver pasti akan terkejut jika dia kembali. Ngomong-ngomong tentang Klayver, Alice jadi teringat tentang lelaki itu. Kapan ya dia kembali? Waktu seperti berjalan lambat tanpa kehadiran suaminya. Ibarat drama, Alice hanya bermain monolog sepanjang adegan berlangsung. Dia sendirian dan kesepian.
Alice berusaha mengembalikan pikirannya dan menenangkan suasana hati. Dia tak ingin terlalu larut oleh keadaan. Bayinya tidak membutuhkan semua itu. Psikis Alice harus selalu dalam kondisi bagus jika ingin bayinya tumbuh dengan baik di dalam rahim.
Tak seperti biasanya, celah kecil di bawah pintu kamar Jasmine terlihat gelap. Menandakan kamar tersebut telah dimatikan lampunya. Mungkinkah Jasmine sudah tidur? Tetapi sedikit tak masuk akal jika wanita seperti Jasmine tidur seawal ini.
"Jasmine? Kau sudah tidur?" Kepala Alice ditelengkan ke arah pintu, mencari tahu suara dan aktifitas apa yang sekiranya terjadi di ruang kamar temannya.
"Jas—"
"Sebentar. Aku belum tidur." Jasmine segera membalas panggilam Alice. Suara klek kecil terdengar, menunjukkan Jasmine menghidupkan lampu kamar. Celah di bawah pintu terlihat terang dan tak lama kemudian, pintu kamar terbuka lebar.
Jasmine menatap Alice dengan pandangan serius. Wajah Jasmine terlihat kacau. Rambutnya yang biasanya rapi juga tampak berantakan tak karuan. Alice langsung bisa menduga keadaan Jasmine. Wanita itu pasti mengalami pembicaraan yang cukup buruk dengan Daniel sebelummya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alice hati-hati. Wajah Jasmine terlihat semakin tak menyenangkan. Dia mendengkus kecil, menggerakkan ujung jarinya sebagai isyarat agar Alice segera masuk ke kamar.
Ada sebuah meja nakas yang cukup lebar. Perlahan, Alice meletakkan makanan ini di sana dan berbalik perlahan menatap temannya. Pintu kamar telah tertutup, memberikan mereka prifasi lebih besar untuk membicarakan hal-hal sensitif.
"Kau memberitahu Daniel tentang kehamilanku?!"
Pertanyaan itulah yang langsung terlontar dari bibir Jasmine. Ada kemarahan tersendiri dari Jasmine kepada Alice. Sebuah kemarahan yang coba ia pendam karena masih memikirkan konsekuensinya. Jika sampai Jasmine bertindak di luar kontrol, habislah Jasmine dibantai oleh Violin dan Klayver. Melawan mereka bukanlah pilihan yang bijaksana.
__ADS_1
"Ya. Apakah Daniel menyulitkanmu?" Alice jadi merasa bersalah.
Dia hanya berniat memberitahu Daniel dengan tujuan agar lelaki itu bisa mengendalikan sikap dan lebih menjaga diri. Alice sama sekali tak bermaksud menjebak Jasmine dalam kesulitan-kesulitan lain. Dia bukan wanita manipulatif yang suka melihat temannya terjebak masalah dan menontonnya begitu saja.
"Di mana logikamu sehingga kau membocorkan fakta ini, Alice? Sekarang dia mengancamku untuk mengambil anak ini dariku. Dia pasti akan memuntutku untuk melakukan tes DNA dan membuktikan identitas anak yang aku kandung sebenarnya! Kau benar-benar gila atau bagaimana? Bukankah sudah kukatakan jangan sampai kenyataan ini diketahui oleh Danie?l!" Nada Jasmine semakin meninggi, menunjukkan kekesalan dan kekecewaan.
"Ya Tuhan … aku … aku benar-benar tidak tahu jika ia akan bertindak sejauh itu. Aku berpikir Daniel adalah lelaki yang sebenarnya baik dan mudah menghargai orang lain. Setiap kali aku melihat pertengkaran kalian atau pun suasana buruk setiap kali kalian bersama, aku merasa terganggu. Bukan begitu seharusnya Daniel memperlakukanmu. Dia terlalu menganggapmu rendah dan tak berarti. Karena itulah aku memberitahunya tentang kehamilanmu dengan tujuan Daniel lebih bisa bersikap lembut dan masuk akal. Setidaknya, minimal dia bisa menganggapmu sebagai teman. Aku benar-benar tak bermaksud memberimu masalah, Jasmine."
Sorot mata Alice menunjukkan penyesalan. Sinar matanya meredup. Sikap tubuhnya terlihat canggung dan tak terarah. Dia duduk lemas di kursi terdekat dan menatap lantai tanpa hasrat.
Siapa sangka keputusannya memberi tahu Daniel akan berbuah seperti ini? Tidak ada yang mengira Daniel akan memberikan ancaman seperti itu terhadap Jasmine. Tadinya Alice pikir tindakannya hanya akan memberikan efek jera dan menghasilkan sikap yang lebih baik dari Daniel. Ternyata justru akhirnya seperti ini.
"Aku benar-benar tak mengira akan sejauh ini, Jasmine. Seharusnya lelaki yang jantan akan bersikap gentle dan memberimu tawaran pernikahan. Minimal, dia akan bersikap baik padamu." Alice membenarkan duduknya dan menggeser sedikit letak kursi agar ia tepat berhadapan dengan Jasmine yang saat ini terlihat masih kacau.
"Dia memang menawarkan pernikahan," sahut Jasmine lirih.
"Dia menawarkan pernikahan? Bukannya tadi kau bilang dia mengancam akan mengambil hak asuh anakmu?" Kini, raut Alice berganti kebingungan. Dia berdiri secepat kilat dan mengguncangkan kedua bahu Jasmine, menunggu kepastian.
"Dia menawarkan pernikahan padaku tetapi kutolak. Sebagai akibatnya, dia mengancam akan mengambil hak asuh anak ini nantinya setelah lahir." Kata-kata Jasmine hampir berupa bisikan. Dia malas untuk menjelaskan kembali hal ini. Mengangkat topik ini sama saja menggores luka di hatinya lebih dalam lagi. Jujur, Jasmine masih kacau. Sangat kacau malah.
"Kau menolak?"
"Ya."
"Kenapa? Bukankah lebih baik kau menerimanya?" Alice tak mengerti dengan keputusan yang Jasmine ambil.
"Tolong berpikir sehat, Alice. Untuk apa Daniel menawari pernikahan kepada wanita murahan dan rendahan sepertiku? Wanita yang pekerjaannya sebagai pelacúr dan memiliki reputasi sebagai jaláng? Lelaki normal tidak akan pernah melakukan hal ini!"
"Daniel adalah orang yang objektif. Dia pasti memikirkan psikis anak kalian. Demi kebaikan anak ini, Daniel pasti akan bersedia bersikap baik dan menerima masa lalumu apa adanya."
Jasmine menatap wajah Alice dengan ekspresi aneh. Dia seperti melihat makhluk asing yang tak biasanya. Entah Alice ini terlalu bodoh atau terlalu polos. Kombinasi kedua hal itu benar-benar sangat merepotkan.
"Mana ada lelaki yang bisa menerima wanita jaláng dengan baik, Alice? Tidak bisakah kau menyadari, pernikahan yang ditawarkan Daniel hanya akan menjadi ikatan yang memenjarakanku. Dalam pernikahan itu, akulah yang akan ditekan, disudutkan, dan dilecehkan. Pada akhirnya nanti, Daniel hanya akan menuntut perceraian padaku setelah puas memanfaatkanku dan mengambil hak asuh anakku secara penuh. Itulah yang akan terjadi!"
Alice terdiam lama. Dia menatap wajah Jasmine yang memerah karena dipenuhi amarah. Ruang kamar menjadi tegang. Hanya jarum jam yang berdentang mengisi keheningan. Setelah sekian lama berlalu, Alice berkacak pinggang dan menekan dada Jasmine dengan ujung telunjuknya.
"Sepicik itukah kau menilai Daniel? Pantas saja dia mengancammu dengan cara kejam. Karena kau cukup subjektif dalam menilai dirinya!"
…
__ADS_1