
Alice kembali turun ke lantai bawah dan melanjutkan obrolannya dengan Daniel. Usahanya untuk mempertemukan antara Daniel dengan Jasmine mengalami kegagalan. Wanita itu sangat keras kepala dalam menentukan tindakan untuk dirinya sendiri. Alice tak menyangka Jasmine akan sangat sulit dibujuk.
"Dari mana saja kau?" Daniel yang merasa ditinggalkan terlalu lama hanya bisa menebak-nebak.
"Mengecek keadaan Jasmine." Alice menjawab ringan. Tidak mungkin dia akan mengatakan hal yang sebenarnya. Jasmine bisa membunuhnya jika Alice mengatakan fakta kehamilannya pada lelaki tersebut.
"Memangnya Jasmine kenapa?" tanya Daniel. Sudut alisnya tertarik sedikit, menunjukkan simpati yang coba ia rahasiakan dari orang lain.
"Tidak. Tidak apa-apa. Aku hanya penasaran apakah dia sudah tidur atau belum. Biasanya dia suka tidur larut jadi kupikir akan lebih baik jika Jasmine mau menemani kita mengobrol." Alice tersenyum kacil, duduk tak jauh dari Daniel.
"Oh," Hanya itu reaksi Daniel. Tetapi dalam hati ia merasa lega wanita itu baik-baik saja.
"Lupakanlah. Jasmine sudah lelah dan tak mau mengobrol bersama kita. Daniel, bagaimana kabar perusahaanmu? Mengalami perkembangan?" tanya Alice mengalihkan topik pembicaraan.
"Ya. Aku mengembangkan beberapa produk terbaru tentang program keamanan rumah dan perusahaan." Daniel menjelaskan. Dia menatap Alice lama dan berdehem kecil.
"Alice, aku mendengar peristiwa dan musibah yang kau alami. Tentang Black Hell yang menjadikan dirimu sebagai sasaran." Daniel mulai mengangkat topik utama tujuan dia berkunjung ke rumah Alice.
Daniel cukup terlambat mendengar kasus yang Alice alami. Kemarin dia sedang melakukan rapat internal di perusahaannya yang berada di luar kota. Daniel baru pulang siang tadi dan langsung mendapat kabar terbaru Alice dari Rachel.
Black Hell merupakan organisasi yang telah lama mengincar Alice. Daniel sempat menyuruh beberapa orang untuk menjaga Alice. Tetapi setelah Jasmine dan William meningkatkan penjagaan insentif kepada Alice, perlahan-lahan Daniel menarik kembali orang-orangnya. Dia percaya, William pasti sanggup menjaga Alice dengan lebih baik. Karena itu, dia memutuskan untuk menjadi pengamat saja.
Tak tahunya, Daniel kecolongan. Black Hell bertindak dua hari lalu saat ia berada beratus-ratus kilometer dari Alice dan tak bisa berbuat apa pun untuk berkontribusi melindungi Alice secara penuh. Jujur, Daniel menyesali semua ini. Tahu begini, ia tak akan mengambil keputusan dengan membekukan fungsi penjaga yang telah ia tempatkan di sisi Alice.
"Itu sudah berlalu, Daniel. Lagi pula aku juga tidak apa-apa. Hanya sedikit syok. Itu saja." Alice mencoba tak membuat Daniel khawatir. Dia sekarang sudah dijaga penuh oleh pengawal Violin dan James. Tidak ada gunanya terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang sudah diantisipasi dengan baik oleh kedua mertuanya.
"Kau yakin kau tak apa-apa? Black Hell bukanlah sembarangn organisasi gelap. Mereka sangat terstruktur rapi dan memiliki orang-orang yang cukup potensial. Ketua organisasi itu digosipkan memiliki karakter yang buruk. Dia mudah sekali marah dan melampiaskan pada anak buahnya jika mereka dinilai tak becus. Karena itu, mau tak mau kinerja anak buahnya menjadi sangat totalitas." Daniel menjelaskan panjang lebar, mencoba memberitahu informasi yang ia miliki seputar Black Hell.
"Maksudmu Luiz Martinez? Sekilas lelaki itu terlihat seperti lelaki latin pada umumnya yang memiliki aura dominan. Rupanya dia sekejam itu ya dalam mengatasi kegagalan setiap anak buahnya."
Alice menatap langit-langit ruangan, mencoba mengingat-ingat wajah lelaki itu. Dia masih ingat saat mereka saling berkomunikasi sesaat ketika Luiz Martinez dan beberapa anak buahnya mencoba menahan dan mendapatkan dirinya.
__ADS_1
Memang sekilas lelaki itu memiliki aura yang berbeda. Tetapi hanya itu saja. Alice tak menyangka identitas Luiz Martinez merupakan identitas yang selama ini banyak dijadikan legenda.
"Apakah dia seterkenal itu dalam dunia gelap?" tanya Alice lugu.
Daniel mendengkus sedikit kesal. Alice tak tahu betapa dunia gelap memiliki tingkatan demi tingkatan. Luiz adalah salah satu tingkatan teratas. Dia lebih kejam, licik, terstruktur, dan tak terkendali dari pada yang lainnya.
Pemerintah sudah lama mengincarnya. Tetapi Black Hell sangat kuat dalam menutupi setiap identitas anggotanya. Luiz bagaikan raja dalam sebuah bidak catur. Dia mendapatkan perlindungan yang paling tinggi dan menjadi pemain utama. Memang pihak berwenang telah mulai curiga dengan identitas Luiz. Tetapi tidak ada bukti kuat yang bisa menjebloskannya dalam jeruji besi. Entah kebetulan atau apa, William berhasil melemparkan bukti di depan polisi melalui beberapa orang kepercayaannya.
Namun, saat ini tuduhan dan dakwaan yang bisa diberikan kepada Luiz hanya seputar tentang penyerangan langsung kepada Alice, dan percobaan penbunuhan kepada pengawal Alice, Leon dan Leo.
Yang dikhawatirkan oleh Violin dan James adalah, bagaimana jika Luiz berhasil membayar jaminan dan dibebaskan dari hukuman. Dakwaan yang dibebankan untuk Luiz tak terlalu berat. Pemerintah berusaha menambah dakwaan tentang kasus mafianya, seperti penyelundupan, pembunuhan, prostitusi, dan narkotika. Tetapi sayangnya sistem yang Luiz miliki sangat tertutup. Bahkan Liza, bawahan terdekat Luiz menolak untuk berbicara sama sekali meskipun telah ditekan sedemikan rupa.
Harapan pemerintah dan harapan Alice mulai melemah setiap waktu. Tak ada bukti yang bisa dipaparkan untuk menjerat Luiz agar lebih lama lagi berada di penjara. Dengan dakwaan yang sekarang, Luiz hanya akan ditahan selama beberapa waktu saja. Selanjutnya dia bisa saja berkeliaran dan membahayakan Alice.
"Dia sangat terkenal. Aku harap kau akan lebih berhati-hati lagi. Semua hal bisa saja terjadi." Daniel mencoba mengingatkan. Dia tak ingin terjadi hal-hal buruk pada temannya.
"Jangan khawatir, Daniel. Bukankah kau bisa lihat sendiri aku dikelilingi pengawal Violin dua puluh empat jam non stop? Aku saja tidak bisa melepaskan diri dari mereka. Apalagi musuh-musuhku jika mereka berusaha menangkapku. Mereka pasti ditahan oleh pengawalku." Alice mengarahkan pandangan ke ruang samping, di mana para pengawal yang berjumlah setengah lusin lebih menunggunya dalam jarak yang bisa ia toleransi.
Setelah beberapa kali mencoba membujuk Violin untuk sedikit memberikan jarak aman, akhirnya permintaan itu diluluskan juga. Para pengawal Alice hanya diijinkan menjaga Alice dengan berjarak satu ruangan atau lima hingga sepuluh meter jika di tempat umum. Situasi ini memberikan ruang pribadi yang lebih nyaman untuk Alice.
"Jangan meremehkan Luiz, Alice. Kau tak tahu lelaki seperti dia bisa saja menyelusup dengan banyak cara dan menyerang pertahananmu. Luiz adalah orang yang berpengalaman dalam dunia gelap. Dia sangat ahli dalam memanipulasi. Yang harus kau ingat adalah, dia tak memiliki hati dan tak memiliki kelemahan. Tidak ada istri, anak, ibu, saudara, atau siapa pun yang bisa membuatnya kalah. Jadi, ya … dia adalah monster hidup."
Orang yang tak memiliki kelemahan adalah orang yang paling cocok disebut sebagai jelmaan iblis. Dia bisa bertindak sesuka hati, tanpa batasan mana moralitas yang benar dan yang salah. Tanpa ada ketakutan terhadap apa pun. Sehingga semua tindakannya tak berbatas. Membuat Luiz seperti malaikat maut yang tangannya bisa menebas siapa pun yang ia kehendaki.
"Ini kasus langka. Dalam psikologi manusia, tak ada orang yang tanpa kelemahan. Selalu ada celah. Entah itu berbentuk keselamatan diri, atau keselamatan orang terdekatnya. Entah itu berbentuk beban moral, atau beban material."
Daniel hanya bisa mendengarkan opini Alice dalam diam. Memang, Luiz merupakan tanda tanya besar untuk banyak orang selama ini. Tindakannya tak berbatas dalam melakukan apa pun. Seolah-olah lelaki itu dirancang dengan tujuan menghabisi banyak orang. Tak kenal hati. Tak kenal rasa kasihan.
"Mungkin, jika Luiz memang harus memiliki kelemahan, satu-satunya kelemahan yang ia miliki adalah kekuasaannya. Kekuasaan dan organisasi Luiz merupakan hal yang sangat ia lindungi mati-matian. Demi organisasi itu, banyak nyawa dan darah telah ia ambil dengan cara paling kejam. Jadi, ya … kekuasaan adalah anaknya yang paling berharga." Daniel menopangkan sebelah tangannya, memikirkan hal ini matang-matang. Dia mulai memahami Luiz secara seksama.
Luiz Martinez. Lelaki yang telah digembleng oleh orang tuanya untuk menjadi pewaris dari organisai Black Hell dengan ideologi bahwa Black Hell adalah segala-galanya. Kekuasaan merupakan kekuatan nomor satu. Sehingga untuk dua hal tersebut, Luiz terlatih secara otomatis untuk melakukan semuanya hanya untuk menjamin organisasi dan kekuasannya tak hilang.
__ADS_1
"Mungkin kau benar, Daniel. Kekuasaan adalah anak emas Luiz yang dipuja-puja. Dia menyembah organisasinya sendiri dengan cara yang paling ekstrem. Pantas organisasi itu semakin tumbuh dan berkembang dengan baik. Luiz sendiri yang telah memupuknya dengan sempurna."
Daniel manggut-manggut membenarkan. Alice benar. Luiz adalah orang yang seperti itu. Dia hanya refleksi dari keserakahan yang banyak orang lakukan di banyak tempat. Daniel yakin, orang-orang seperti Luiz pasti jumlahnya sangat banyak di luat sana. Jenis orang-orang yang akan menghalalkan segala cara demi untuk menjaga kekuasaan tetap menjadi miliknya. Orang seperti ini, biasanya hatinya telah tergadai untuk iblis.
"Karena itu, aku mohon padamu, Alice. Bertindaklah hati-hati. Kau tak tahu akan sejauh mana Luiz membantaimu. Kita hanya bisa selalu waspada setiap saat."
Daniel terlihat serius. Salama berhubungan dengan Luiz, Daniel tak bisa bersikap santai sedikit pun. Dia tahu bagaimana kekuatan Luiz yang digembar-gemborkan orang selama ini bukanlah sesumbar saja. Lebih dari itu, Luiz bisa bertindak jauh lebih kejam dari yang mereka sangkakan.
"Terimakasih, Daniel atas perhatianmu. Aku harap semuanya bisa berjalan baik-baik saja. Semoga pihak berwenang menemukan bukti kuat untuk bisa menahan Luiz lebih lama lagi. Lelaki itu terlalu berbahaya jika dilepas. Dia masih berada di tahanan saja tindakannya bisa diwakilkan oleh tangan-tangan lain. Apalagi jika dilepas." Alice menjawab dengan enggan.
"Kalin tak perlu khawatir tentang itu. Aku dan James sudah membentuk sebuah rencana. Dalam satu minggu ke depan, Luiz mungkin hanya akan menjadi riwayat saja." Violin tiba-tiba datang ikut mengobrol dengan mereka. Wajahnya kali ini terlihat bersinar menenangkan. Sepertinya dia sudah memiliki rencana tersendiri di dalam otaknya sehingga wajahnya terpancar penuh kebahagiaan.
"Tinggal riwayat? Maksudmu—" Daniel tidak meneruskan perkataannya dan hanya bisa memandang Violin dengan penuh maksud.
Sejenak suasana hening. Mereka bertiga saling tatap, membiarkan pikiran baru menyeruak ke dalam benak masing-masing dari mereka.
Daniel adalah lelaki yang sangat tanggap. Dia mengangguk penuh pemahaman pada Violin. Tetapi berbeda dengan Alice. Wanita itu perlu meyakinkan diri terlebih dahulu.
"Kau dan James berencana untuk … membungkamnya selamanya?" Alice bertanya dengan nada yang rendah.
Violin memilih tak menjawab dan hanya tersenyum kecil. Kedua matanya penuh arti. Cukup ia dan James saja yang tahu seluruh rencana mereka. Biar nanti akhirnya menjadi kejutan bagi Alice. Menantunya hanya perlu tahu garis besarnya saja, agar ia tak khawatir.
"Tunggu saja tanggal mainnya. Aku pasti akan melindungimu dengan baik, Alice." Violin membusungkan dada, merasa pantas untuk bersikap angkuh. Luiz memang hebat. Tetapi orang hebat selalu didesain memiliki celah. Entah dalam bidang apa. Meskipun celah yang dimiliki Luiz masih belum terlihat, tetapi Violin yakin pasti mudah baginya menemukan hal tersebut.
Violin menatap reaksi Daniel yang datar. Tak ada respon apa pun dari lelaki itu, selain anggukan singkat. "Kau sepertinya tak yakin dengan apa yang akan aku lakukan, Daniel," kata Violin terus terang.
Perlahan, Daniel menatap Violin dan menggeleng lemah.
"Entahlah, Violin. Luiz terlalu hebat. Aku tak yakin rencanamu bisa berjalan dengan baik. Dia bukan orang yang mudah kalah begitu saja. Jika mentalnya selemah itu, tentunya dia sudah tereliminasi sejak dulu oleh lawan-lawannya."
Alice menatap Daniel. Senyumnya pudar, berganti kekhawatiran baru. Mungkinkah Luiz sekuat itu?
__ADS_1
...