
Daniel terdiam lama.
Bagaimana lagi dia bisa mendefinisikan tentang kecantikan yang kini tengah ia lihat? Ratusan wanita yang pernah ia temukan tak pernah ada yang berhasil menggerakkan minatnya sedemikian rupa. Ratusan keindahan di luar sana tak pernah ada yang sanggup menggedor responnya dengan cara yang di luar nalar. Seolah-olah inderanya hanya tercipta untuk Jasmine seorang.
Ini mungkin kegilaan yang tak pernah Daniel duga. Tetapi setiap sendi tubuhnya memang hanya bergetar lebih kuat semenjak ia menemukan Jasmine. Getaran itu bahkan lebih besar dari pada ketika ia dulu bersama dengan Alice. Sesuatu yang tak pernah Daniel sangka sebelumnya.
Dunia memang kadang lucu. Mata kita meskipun berfungsi, terkadang bisa membuta. Nurani kita meskipun hidup, terkadang memilih lenyap. Apa yang secara moral dinilai rendah, justru mampu membangunkan hasrat dan gairah kita yang tak berlogika.
Rumus apa lagi yang Daniel andalkan saat ini? Saat fokusnya hilang arah dan saat perhatiannya kacau, dia hanya ingin bersandar pada sesuatu yang lebih kuat. Tampaknya hal itu tak berhasil menyadarkan hatinya yang terlanjur berbelok kepada objek yang tak tepat. Sungguh lucu.
"Beberapa hari yang lalu kau meninggalkan uang yang seharusnya kau bawa. Uang yang menjadi bayaranmu." Daniel berkata dengan suara sedikit dikeraskan. Dia masih menatap Jasmine yang berada di dalam air dan tak bergerak sedikit pun.
"Oh."
Hanya itulah reaksi yang Jasmine berikan. Dia mulai bergerak ke sisi kolam dan mengangkat tubuhnya perlahan. Air menetes dari rambutnya, menciptakan genangan baru di lantai keramik yang berpola kayu. Setiap langkah yang Jasmine ambil memberi jejak tanda air. Membuat ia seperti dewi air yang keluar menyambut pergantian musim.
Perlahan, Jasmine berjalan menuju Daniel untuk mengambil sebuah handuk tosca yang ia sampirkan di kursi tak jauh dari lelaki itu. Angin berhembus cukup kencang, membuat tubuh Jasmine sedikit menggigil.
"Kukira wanita sepertimu tak terlalu suka kegiatan di luar ruangan di musim gugur seperti ini." Daniel berkomentar sembari mengamati Jasmine tengah menggunakan handuk tersebut untuk membuat aliran air terserap di kain lembut itu.
"Memangnya aku wanita seperti apa?" Jasmine balik bertanya.
Wanita itu duduk dia atas kursi di sisi kolam dan meluruskan kakinya di atas kursi yang didesain khusus. Jasmine mencoba sesantai mungkin dalam menghadapi Daniel. Bagimana pun juga, lelaki itu tak berhak mendaparkan reson lebih dari yang seharusnya.
"Wanita pemalas." Daniel tersenyum kecil, tidak merasa bersalah sedikit pun.
Kurang ajar lelaki itu. Jasmine jauh dari kata pemalas. Dia selalu bangun lebih pagi dari pada yang lain, berlatih fisik setiap hari, mengurus bisnis secara menggila hanya demi meningkatkan keuntungan, dan melakukan banyak hal lain yang sebagian besar wanita tidak bisa melakukannya.
Daniel terlalu menilainya dengan sebelah mata. Memang bagi Daniel Jasmine selalu bukan apa-apa, kecuali wanita rendah yang siap sedia dipakai hanya dengan pesanan laki-laki.
Memang Daniel tak bisa disalahkan juga. Bagaimana pun, Jasmine-lah yang telah mendororong Daniel untuk memiliki pendapat seperti itu.
__ADS_1
"Aku tak peduli di matamu aku adalah wanita pemalas, membosankan, atau pun bodoh. Kau bisa pergi ke tempat lain untuk mencari wanitamu yang sempurna. Jangan bilang kau tak memiliki modal untuk itu. Lelaki sepertimu seharusnya mudah menyeret wanita ke pernikahan. Kau tak akan menemui banyak halangan di sana kecuali kau memiliki kelainan tertentu."
Jasmine menekankan kata 'kelainan' dengan serius. Siapa tahu lelaki itu memang memiliki kelainan yang disembunyikan secara hati-hati. Semua hal bisa terjadi, bukan?
Raut Daniel menjadi gelap saat ia mendengar komentar Jasmine. Wanita itu sengaja memojokkannya, membuatnya seolah-olah minatnya pada wanita perlu dipertanyakan.
"Kupikir aku tak perlu membuktikan diriku setelah kita sama-sama tahu aku memiliki kecenderungan sehat secara fisik pada wanita. Bukankah kau sendiri sudah menjadi saksinya?" Daniel bertanya dengan penuh maksud.
Tatapan mereka saling bersirobok, menuntut Jasmine untuk kembali memutar memori tentang kebersamaan mereka beberapa hari yang lalu.
Baiklah. Jika maksud Daniel ingin mengingatkan kembali tentang orientasi Daniel yang normal, lelaki itu berhasil. Dengan sangat luar biasa.
"Aku terkadang lupa tentang malam itu, mengingat aku sering melakukan hal serupa pada lelaki lain sehingga kejadian tersebut seperti tertumpuk oleh peristiwa lainnya." Jasmine berbohong.
Jasmine mencoba sekuat tenaga menunjukkan bahwa Daniel tidak memiliki arti lebih baginya. Meskipun hal tersebut sanngat bertolak belakang. Malam itu sangatlah membekas. Membayangi Jasmine dalam setiap kesendirian yang ia miliki. Terutama pada malam hari ketika menjelang tidur.
"Tidak mengherankan. Dari awal pun aku tahu kau memang wanita seperti itu. Aku hanya salah satu sumber uangmu yang lewat sejenak. Hanya saja, saat kau pergi, kau lupa membawa uang itu bersamamu." Daniel merogoh saku belakangnya, mengeluarkan uang tunai dan menyerahkannya pada Jasmine.
Uang. Benda itulah yang ia cari sepanjang hidupnya. Sesuatu yang telah ia sembah sejak ia masih berusia empat belas tahun. Tanpa benda itu, hidup Jasmine sudah lama berada dalam kehancuran.
Dunia bisa menjadi kejam. Saat ia masih remaja, jika Jasmine tak pintar menggunakan aset yang ia miliki, dia pasti sudah lama tersudutkan di pinggir jalan dan berakhir di panti asuhan atau orang tua asuh.
Jasmine telah lama mengambil pelajaran dari setiap sesuatu. Wanita harus menjadi kuat dan berani melangkah melewati banyak aturan jika ia masih ingin bertahan. Termasuk menjadi wanita jaláng. Setiap waktu dan apa yang ia punya menjadi milik publik, alias dibisniskan.
Mengenaskan? Memang. Miris? Sangat. Tetapi ada yang lebih mengenaskan dan lebih miris. Mati perlahan-lahan karena kelaparan. Jasmine bersumpah tidak akan bunuh diri dengan cara konyol seperti itu meski ia harus menjual prinsip. Biar saja namanya rusak. Biar saja moralnya kacau. Selama ia bisa makan dan memiliki atap untuk berteduh, tak masalah menggadaikan semua itu. Semua plot memang telah diatur sedemikian rupa. Jasmine hanya menjalaninya. Terserah orang lain akan menilainya seperti apa.
"Baiklah. Aku menerima. Sebagai pelanggan, kau termasuk jujur dalam bertransaksi." Jasmine mengambil uang yang disodorkan oleh Daniel, menghitungnya perlahan untuk memastikan jumlahnya sesuai dengan yang mereka sepakati dan tersenyum puas.
"Kau menambahkan dua ratus dollar. Apakah itu sebagai bentuk rasa bersalahmu karena tidak membayarku langsung?"
"Kau sendiri yang salah telah meninggalkan uang itu begitu saja. Anggap saja uang itu bentuk kemurahan dariku."
__ADS_1
Jasmine berdiri anggun dan melemparkan dua ratus dollar tambahan yang ia terima di kolam begitu saja.
"Aku tidak membutuhkan kemurahan hati dari laki-laki, Mr. Stranger. Kau harus ingat itu!" katanya tajam dengan tawa sini sembari berlalu pergi meninggalkan Daniel seorang diri.
Biar saja lelaki itu tahu, meskipun Jasmine wanita bayaran, tidak berarti ia sembarangan menerima tarif. Dia hanya menerima jumlah yang ia sepakati. Tidak kurang, tidak juga lebih.
…
Hari-hari berlalu dengan cepat. Alice sudah diijinkan kembali pulang, meskipun dia harus ekstra istirahat tanpa diperbolehkan melakukan aktifitas yang melelahkan. Sepanjang hari wanita itu menggerutu karena tak diijinkan melakukan apa pun. Bahkan sarapan saja selalu dibawakan oleh pelayan, Caterine, wanita muda berusia dua puluh tahun pengganti Sila.
Sila sudah kembali ke rumah ini, tetapi keadaannya masih belum mampu melakukan aktifitas berat. Sesak nafasnya semakin parah. Dia bahkan mengalami kejang beberapa kali dan dipanggilkan dokter pribadi oleh Alice.
Sekembalinya Sila dari rumah sakit, dia bukannya semakin sembuh, tetapi justru mengalami banyak gejala sakit yang tak Alice mengerti. Alice sempat bertanya pada Jasmine, tetapi rupanya wanita itu hanya menjawab kegelisahan Alice sambil lalu begitu saja.
Dokter pribadi yang Alice panggil tak memberikan keterangan lebih selain menyuruh Sila untuk beristirahat secara teratur. Alice hanya mengangguk kecil, berusaha mempercayai penjelasan dokter itu meskipun hati kecilnya masih bertanya-tanya. Mana ada pasien yang pulang dari rumah sakit tetapi keadaannya justru semakin parah. Yang ada, jika pasien kondisinya masih tak stabil, dokter pasti tak akan mengijinkan Sila pulang.
Jasmine yang mengetahui kecurigaan Alice hanya bisa diam. Dia telah mengetahui kondisi Sila yang sebenarnya. Racun yang Black Hell berikan merupakan racun lambat jangka panjang yang efeknya tetap terjadi. Medis telah angkat tangan dengan hal ini. Dokter hanya bisa menahan penyebaran racun, tetapi kematian tetap menjadi hal yang pasti. Jadi, dari pada memperpanjang rasa sakit yang Sila rasakan, William dan Jasmine telah sepakat membiarkan Sila melalui proses tersebut secara alami.
Dokter pribadi telah mengetahui gejala-gejala keracunan Sila. Tetapi demi kebaikan Alice, William membuat dokter tersebut menutup mulutnya rapat-rapat.
Hal yang mengejutkan adalah kejadian yang terjadi setelah empat hari semenjak kepulangan Sila. Saat itu Alice masih duduk santai di balkon kamar menikmati sarapan yang dibuat oleh Caterine. Axel berada tak jauh darinya bersama Helena. Semenjak Alice diberi anjuran untuk menambah dosis istirahatnya, Helena menjaga Axel lebih ketat dari pada sebelumnya. Dia memastikan bahwa keaktifan bocah kecil itu tidak mengganggu waktu istirahat Alice.
"Nyonya," panggil Caterine tiba-tiba. Dia memasuki pintu kamar Alice dengan wajah pucat pasi.
"Ada apa?" tanya Alice khawatir.
Caterine terlihat bingung. Wanita berkulit cokelat dengan rambut ikal sebahu itu tampak memikirkan sesuatu.
Apa yang ingin dia sampaikan mungkin bukan berita yang baik. Alice sedang dalam keadaan tak sehat, berita buruk bisa membuat pikirannya terbebani. Tetapi jika tak disampaikan, berita ini terlalu penting. Cepat atau lambat toh Alice pasti akan mengetahui hal ini juga. Dengan pertimbangan ini, akhirnya Caterine memilih untuk memberitahu yang sebenarnya pada majikannya.
"Sila telah meninggal. Ia ditemukan bunuh diri dengan menggantungkan diri di langit-langit kamarnya setengah jam yang lalu."
__ADS_1
…