
Daniel menyentuh sisi wajah Jasmine dengan gerakan perlahan. Dia menatap istrinya dengan pandangan lembut. Mereka berada di balik selimut yang sama.
"Jadi, Mr. Stranger ... katakan padaku kapan kau mulai mencintaiku?" tanya wanita itu serius. Kedua matanya menatap Daniel dengan pandangan penuh tanya.
Terkadang, ada rasa tak percaya yang Jasmine miliki menerima kenyataan bahwa entah bagaimana, Daniel mengaku mencintainya. Mungkinkah semua itu bukan hanya sekadar permainan?
Hati Jasmine pernah dipermainkan dengan sangat parah. Dia tidak mungkin mempercayai begitu saja apa yang telinganya dengar dengan mudah. Kehidupannya telah terbentuk sangat keras sebelumnya.
"Mungkin, sejak awal aku mengenalmu, tubuhku dan hatiku sudah merespon berbeda. Tetapi egoku terlalu besar untuk mengakuinya. Perlahan, semakin ke sini, aku tahu apa yang aku rasakan bukan hanya emosi biasa." Daniel mengakui hal ini.
Semenjak awal ia mengenal Jasmine, ada getaran-getaran asing yang sangat jarang ia rasakan. Getaran yang bahkan lebih besar ketika ia dulu bersama Alice. Mungkin itulah yang namanya jodoh. Seseorang akan tertarik kepada pasangannya, tak peduli latar belakang apa yang dimiliki oleh sang pasangan.
"Lucu juga saat kau mengatakan semua itu terjadi di awal pertemuan. Aku bukanlah wanita normal seperti yang lain, Daniel. Latar belakangku saja penuh cacat. Siapa juga yang mau dengan wanita bayaran?" Jasmine menatap jari-jemarinya dengan pandangan lemah. Perutnya yang membesar kian terasa tak nyaman untuk digunakan berbaring lama. Dia perlahan bergerak ke samping, mencari posisi nyaman.
"Kau tak tahu kuatnya perasaan, Jasmine. Perasaan itu bisa tiba-tiba terjadi tanpa kita peduli bagaimana latar belakang orang itu dan masa lalu apa yang dimilikinya. Lagi pula, lelaki yang hanya melihat kebobrokanmu tak akan pernah bisa melihat ketulusan lain yang ada pada dirimu!" Daniel menyentuh puncak kepala Jasmine dengan rasa sayang. Memang selalu tak mudah meyakinkan Jasmine tentang perasaan yang Daniel miliki. Wanita itu meskipun terkadang bisa menerima, tetapi sering kali menepis ungkapan sayang dari Daniel.
"Karena aku pernah memiliki masa lalu kelam, Daniel. Suamiku sendiri dulu rela membunuh putri kami sendiri hanya gara-gara putri itu lahir dari rahim wanita kotor sepertiku!" Jasmine dilanda kepedihan. Meskipun waktu telah lama berlalu, tetapi kesedihan ini masih saja dirasakan oleh Jasmine tanpa berkurang sedikit pun.
"Dia membunuh darah daging kalian sendiri?"
"Ya. Bayi itu tak berdaya dan masih terlalu kecil. Ya Tuhan. Dia masih suci, Daniel. Dia ...." Jasmine terisak pilu. Tangisannya terdengar menyayat hati. Dengan segera Daniel memeluk istrinya dan memberikan ketenangan baru.
Pantas saja Jasmine terlalu sulit diyakinkan. Pantas saja Jasmine terlalu sulit ditaklukkan. Pantas saja Jasmine terlalu sulit membuka diri. Ternyata ada seorang bajingΓ‘n di masa lalunya yang melakukan banyak tindakan tak bermoral dan mengecewakan Jasmine dengan cara yang paling tragis. Kini, Daniel tahu betapa hancurnya hati Jasmine selama ini.
"Apakah dia masih hidup?"
"Tidak. Salah satu temanku menghabisinya." Jasmine tidak memberitahu secara detail jika teman yang ia maksud adalah Klayver. Lelaki itu adalah teman paling tulus yang pernah ia temui.
"Apakah aku jahat, Daniel? Saat dia mati, aku merasa lega!"
"Tidak, Sayang! Tidak! Aku sendiri yang akan menghabisinya jika lelaki seperti itu masih hidup."
"Benarkah? Kau tak jijik padaku? Bagaimanapun juga, aku adalah wanita murahan!"
"Berhenti berkata bahwa kau murahan, Jasmine! Setiap wanita memiliki nilai istimewanya sendiri. Kau pun juga demikian. Hanya satu permintaanku. Jika kau sedikit saja merasa memiliki perasaan istimewa padaku, bisakah kau berhenti dari dunia prostitusi? Membayangkan milikku disentuh lelaki lain itu sangat menyakitkan buatku."
__ADS_1
Daniel berkata serius. Dia adalah lelaki yang sangat menjunjung kesetiaan. Dia bisa memfokuskan dirinya hanya pada seseorang, sepanjang hidupnya, tanpa pernah merasa bosan. Tetapi Daniel juga menuntut orang itu untuk menjadikan dirinya sebagai pusat hidupnya pula. Ikatan yang seimbang dan saling berkomitmen.
Jasmine terdiam lama. Dia menatap rahang Daniel yang mulai ditumbuhi bakal janggut baru. Matanya menyiratkan sinar asing yang baru Daniel lihat kali ini.
"Itu terlalu berat untukmu, ya? Aku tak akan memaksamu, Jasmine. Tetapi andai kau tetap berada dalam duniamu sebelumnya, aku tak yakin aku tetap bisa bertahan." Daniel tersenyum kecil, merasa kalah.
Andai Jasmine menjadi wanita yang mengagung-agungkan kenikmatan dan surga dunia dari banyak laki-laki, Daniel tidak bisa bertahan lama. Dia lelaki biasa yang ingin memiliki dan dimiliki satu wanita sepanjang hidupnya. Poliandri bukanlah bakatnya.
"Kau tahu, Daniel. Semenjak pertama kali kau menyentuhku malam itu, tidak ada satu orang pun lelaki yang kuijinkan untuk menyentuhku. Entah kenapa, aku merasa sangat kotor jika ada lelaki lain yang menyentuhku. Itu ... sangat berbeda dengan sentuhan yang kau lakukan padaku. Seolah-olah hanya sentuhanmu yang memiliki nyawa dan menjadi kebutuhan dasarku!" Jasmine berkata serius. Kedua matanya menatap suaminya dengan kejujuran penuh. Mata mereka saling mengunci dalam diam. Perlahan, tangan Daniel terangkat dan merangkum wajah Jasmibe yang terlihat sangat cantik. Senyumnya menawan dan penuh rasa syukur. Akhirnya, apa yang ia inginkan dari Jasmine bisa terealisasi.
"Aku mencintaimu, Jasmine! Mari kita membentuk keluarga yang sebenarnya!" pinta Daniel serius.
Wanita ini telah menjadi candunya. Demi Jasmine, Daniel rela kehilangan semua fokusnya.
"Oh, Daniel ...." Air mata kebahagiaan mengalir ke pipi Jasmine, menunjukkan syukur yang hatinya rasakan. Dalam hidupnya, dia tak pernah menyangka akan mendapat anugerah sebesar ini berupa lelaki istimewa yang mampu menerima Jasmine apa adanya.
William dan Alice benar. Dulu, mereka sering berkata kepada Jasmine suatu hari nanti pasti ada lelaki baik yang istmewa dan bersedia menerima Jasmine dengan sepenuh hati.
"Aku pikir, aku mencintaimu dengan sangat, sangat, sangat dalam." Jasmine berbisik kecil, mendekat ke arah suaminya dan memeluk lelaki itu dengan penuh arti.
...
Akhir-akhir ini, Klayver memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak pemerintah dalam mengembangkan produk-produk keamanan negara. Seperti senjata-senjata untuk polisi, militer, dan sejenisnya. Bisnis inilah yang digeluti Klayver saat ini setelah ia memutuskan untuk berhenti menjadi pembunuh bayaran. Alice merasa berunung akhirnya suaminya bisa lepas dari dunia gelap yang penuh dengan masalah.
"Anak kita sudah tidur?" tanya Klayver melihat kedatangan Alice ke kamar dengan wajah cerah. Wanita itu masih menjadi candu Klayver. Melihatnya secara langsung seperti ini mampu mengobati kerinduannya.
"Sudah. Kau masih sibuk dengan pekerjaanmu?" tanya Alice berjalan mendekat.
Dengan segera, Klayver menyingkirkan laptop dan meletakkanya di meja samping begitu saja. Selama ada Alice, semua hal jadi terasa tak lagi penting.
"Tidak, Sayangku! Waktuku khusus kuberikan padamu!" Kedua tangan Klayver terbuka lebar, menunjukkan betapa ia sangat menginginkan Alice.
"Dasar lelaki maniak!" Alice terkekeh kecil. Suaminya ini masih saja menjadi lelaki yang sangat pintar untuk menggoda. Seolah-olah mereka masih remaja saja.
Dengan tawa kecil, Alice duduk di pangkuan Klayver. Kedua tangannya ia kalungkan di leher suaminya.
__ADS_1
"Baru saja Mom meneleponku." Klayver menyampaikan sebuah informasi.
"Oh ya? Bagaimana kabarnya?" tanya Alice penasaran.
"Baik. Dia menawarkan kita pulau pribadi miliknya. Katanya, mungkin kita butuh bulan madu lagi. Mom yang akan mengurus anak-anak kita selama kita pergi!"
"Oh Ya Tuhan. Pulau pribadi? Violin punya pulau pribadi?"Alice terkejut.
Keluarga Liecester memang kaya. Tetapi Alice tak pernah menyangka mereka memiliki aset sebesar pulau.
"Ya. Kami memang keluarga yang hebat. Kau mau?"
"Tentu saja mau. Tentu saja!" Alice mengangguk berulang kali seperti anak kecil. Klayver yang melihatnya hanya terkekeh.
"Apakah Violin baik-baik saja? Maksudku, setelah James meninggal?" Dengan sedikit khawatir, Alice menanyakan kondisi mertuanya. Kematian James bukanlah hal yang cukup menyenangkan untuk diingat.
"Dia semakin membaik. Dia sering melakukan tour dan mengunjungi ke beberapa tempat wisata tertentu untuk menghibur dirinya sendiri. Ibuku adalah wanita yang sangat kuat. Kau jangan khawatir. Dia sudah jadi wanita galak lagi sekarang!"
"Oh baguslah. Aku tak suka membayangkan Violin dipenuhi kesedihan."
"Tidak sayang, dia mendapatkan kebahagiannya kembali."
Alice meneluk Klayver dan tersenyum penuh rasa syukur. Hidupnya sudah sangat sempurna untuk saat ini. Dia bahagia dengan Klayver. Kedua temannya, Rachel dan Jasmine, juga menemukan kebahagiannya masing-masing. Sekarang, mertuanya mulai bangkit dan menghadapi hari baru dengan penuh harapan.
Tidak setiap kisah mampu diakhiri dengan bahagia. Tetapi bahagia tak pernah menunggu hingga akhir kisah. Inilah kehidupan. Tidak selamanya mulus, tetapi selalu ada celah untuk menciptakan senyum di setiap detiknya.
"Aku mencintaimu, Alice. Kau adalah sosok paling istimewa untukku!" Klayver mengecup puncak kepala Alice dengan penuh rasa sayang. Inilah wanita yang akan menemaninya hingga mereka menua. Menunggu waktu Tuhan menjemput mereka ke dalam dimensi lain.
"Aku tahu, Klayver. Begitu juga denganku. Cinta ini akan tumbuh semakin dalam dan besar setiap saatnya. Hingga nanti kita menunjukkannya pada anak cucu kita nanti!"
...
Ini khusus Extra Part buat kalian. Biat kalian ouas juga bacanya. Maaf dan banyak-banyak terimkasih ya.
Eh satu lagi. Jangan lupa temuin saya di platform ungu dan minta dukungannya selalu. nama pena "Siti Zulfya Fauziyah". Ada 3 cerita lho di sana.
__ADS_1
Kali ini benar-benar END ya guys. I love you so much. β€β€β€πππππ₯°π₯°π₯°π₯°πππ