
Putus asa.
Itulah gambaran yang pantas untuk mendefinisikan apa yang tengah Violin rasakan.
Cinta yang ia anggap abadi kini terasa mengolok-oloknya. Menyerang Violin dari semua sisi.
James telah melakukan sesuatu yang tak pernah disangka Violin. Dia bukan hanya mengkhianatinya, tetapi juga mencabik-cabik hatinya dengan sangat mengenaskan.
Violin tak tahu akhir apa yang akan menantinya. Dia terlanjur mempercayai lelaki itu secara penuh, tetapi kini kepercayannya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Kepercayaan itulah yang menjadi senjata bagi James untuk melukainya dan menyeretnya dalam kehancuran.
Violin ingin berteriak tak terima. Dia memilih menolak kalah oleh keadaan. Apa yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang berada di luar perkiraannya sama sekali. Semua mimpinya lenyap hanya dalam semalam.
Bagaimana mungkin ikatan perkawinan yang mereka miliki hancur begitu saja hanya karena kecemburuan dan egoisme yang James rasakan selama ini. Di balik setiap sikap sabar dan ramah lelaki itu, ternyata James menyimpan bom besar yang siap meledak sewaktu-waktu. Jiwanya sebagai seorang lelaki tergores. Egonya terluka karena Violin dinilai lebih unggul dan lebih kuasa dari pada James. Seolah pernikahan mereka selama ini hanya sekadar kepura-puraan dan omong kosong yang menyebalkan.
Violin terdiam lama. Dia tak lagi memberontak seperti sebelumnya dan lebih memilih pasrah dengan semua keadaan. Jatuh karena suaminya sendiri merupakan hal paling buruk dalam hidupnya. Semua itu seolah menyisakan tanya bagaimana bisa James menanggung beban sebesar itu dalam diam.
Mungkin James tak sepenuhnya salah. Apa yang dikatakan lelaki itu merupakan kebenaran sejati. Dalam pernikahan mereka, meskipun diam-diam Violin tahu James memiliki kekuatan lebih dari dirinya, Violin selalu menempatkan dirinya sendiri dalam setiap urusan dan keputusan penting.
Violin memiliki suara yang cukup vokal dalam mengatakan pendapat dan pikirannya. Selama ini Violin kira tak masalah. James terlihat menerima karakternya yang keras dan dominan. Ibarat permainan, James memang terkesan sebagai latar belakang saja.
Violin pikir semuanya baik-baik saja. Violin pikir semuanya akan berjalan normal. Siapa sangka di balik sikap James selama ini, kekecewaan demi kekecewaam dilalui oleh James dalam diam dan mendorong lelaki itu untuk melakukan semua ini. Melakukan pengkhianatan kepada istrinya sendiri. Sesuatu yang sama sekali tak pernah disangka oleh Violin.
Seharusnya Violin bisa merabanya. Setiap diam dan bisu yang suaminya miliki. Setiap sikap pasif yang James tunjukkan. Semua itu seharusnya mampu Violin tangkap lebih awal. Agar Violin mampu memperbaiki dirinya dan sikap yang ia miliki sebelumnya.
James benar. Keras kepala adalah salah satu watak dasar dirinya. Tetapi sekuat apa pun wataknya, selama James bisa membicarakannya secara langsung dari hati ke hati, Violin pasti bisa merubahnya perlahan-lahan. Wanita itu sangat mencintai James. Dia bisa melakukan apa pun selama hal itu berada dalam kemampuannya.
__ADS_1
Kenapa selama ini James diam? Kenapa selama ini James membisu? Kenapa dia memilih menyimpan rasa kecewanya dan memupuk perasaan itu semakin kuat sehingga muncullah pengkhianatan ini. Tidak adakah satu saja kebaikan Violin yang masih bisa dilihat James dengan matanya yang objektif? Kebaikan yang bisa membuat lelaki itu mengurungkan kembali tindakannya.
Hati Violin hancur tak berbentuk lagi. Dia seperti wanita lemah yang selama ini diolok-oloknya. Wanita tanpa harapan yang menanti kematian tanpa harapan sedikit pun.
Ditinggalkan lelaki yang selama ini menemani kita dalam setiap situasi merupakan hal terburuk yang pernah ada. Violin ingat pertama kali James bertemu dengannya. Saat itu mereka masih menjadi mahasiswa di sebuah fakultas ternama. Violin duduk seorang diri menunggu hujan. Air mengalir dari langit tanpa henti, membuat banyak mahasiswa lain mengurungkan niatnya untuk bepergian antar gedung tanpa pelindung hujan.
Violin terjebak menunggu dosen yang lama tak datang. Dia dijanjikan untuk melakukan revisi secara langsung tentang thesisnya yang mengangkat topik kemanusiaan dan perang.
Saat itulah seorang lelaki dengan kemeja pas badan dan celana kain sepanjang mata kaki menyapanya. Matanya menunjukkan sinar menyenangkan. Sangat berbeda dengan lelaki lain yang selama ini ditemui oleh Violin. Obrolan ringan pun terjalin begitu saja.
Itu adalah pertama kalinya Violin bisa menemukan lelaki yang mampu mengimbangi karakternya dan menerima sifatnya dengan baik. Dia dari dulu adalah wanita yang sangat keras kepala. Tak mudah menemukan lelaki yang cukup kuat untuk mengimbangi dirinya. James adalah satu-satunya.
Setelah pertemuan pertama mereka, James kemudian membuat janji temu lagi dan mereka mengulangi pertemuan demi pertemuan secara berulang kali. Kedekatan mereka terjalin begitu saja. Seolah-olah alam memang sudah mentakdirkan mereka untuk bersama. Karena itulah, ketika mereka menikah, Violin merasa bahwa ini memang sudah takdir Tuhan. Dia saat itu sangat bahagia bisa menemukan belahan jiwanya. Seorang lelaki yang mampu menerima Violin apa adanya dan mampu menutupi setiap kekurangan dan cacat cela yang ada pada dirinya.
Tak pernah ia sangka jika apa yang dulu ia kira sempurna menjadi sesuatu yang kini membantainya dengan kejam.
Tak terasa, air mata Violin meleleh turun. Air bening sebagai wujud kesedihan itu mengalir deras di pipinya yang mulai keriput di beberapa sudut.
Kesedihannya terasa membesar berkali-kali lipat setiap detiknya. Entah bagaimana, Violin telah kehilangan James. Kehilangan lelaki yang paling penting di hidupnya.
Ada rasa tergores yang cukup dalam di dadanya. Rasa sakit yang tak kasat mata tetapi cukup melukainya dengan sangat dalam. Ya Tuhan, beginikah nasibnya dikhianati oleh orang yang kita cintai? Sangat menyakitkan. Seperti sebagian dari hati kita tersayat dengan sangat menyedihkan. Lara nyata yang tak terlihat mata telanjang.
Violin menatap langit-langit ruangan dan terdiam dalam bisu. Dia tak tahu lagi kehidupan akan membantainya seperti apa. Dia mulai memasrahkan semuanya pada takdir Tuhan. Andai Violin memang harus berakhir di tangan James. Setidaknya hal itu lebih baik dari pada dibunuh oleh orang lain dengan kejam. Mungkin James masih menyimpan belas kasihan sehingga memberi Violin kematian yang mudah.
Yang saat ini Villolin pikirkan adalah Alice dan Klayver. Bagaimana nasib kedua orang itu nantinya? Alice kini sengaja dijadikan tawanan untuk memancing Klayver. Kenapa sekarang segalanya jadi terasa kacau? Dengan lemah, Violin mulai menyadari kekalahan dirinya. Kehidupan telah berhasil membuat wanita sekuat Violin menyerah dengan sangat menyedihkan.
__ADS_1
…
James duduk di sebuah ranjang kamar yang tak jauh dari Violin. Di depannya, terletak layar laptop yang tengah menampilkan pemandangan Violin secara langsung.
James telah memasang kamar Violin dengan kamera kecil di beberapa sudut secara sembunyi. Dengan begini, James bisa melihat keadaan wanita itu secara langsung. Saat ini, Violin terlihat pasrah dan menangis mengenaskan.
Wanita yang biasanya angkuh dan keras kepala, bisa terlihat kacau juga. James mengalihkan pandangannya sejenak ke arah lain dan mulai dihinggapi perasaan bersalah.
Sebenarnya, James masih mencintai wanita itu. Wanita itu seperti matahari yang memiliki cahaya paling kuat dan dominan. Hanya saja, hidup dengan Violin cukuplah sulit. Matahari akan selalu membakar apa pun yang ada di dekatnya dan mengaburkan benda di sekelilingnya. Sehingga satu-satunya sinar yang tampak adalah sinar milik Violin seorang. Tidak ia biarkan orang lain memiliki cahaya yang sama dengannya.
James sudah lelah hidup seperti itu. Dia hanya menjadi bayang-bayang tanpa fungsi. Tidak ada lelaki yang cukup kuat untuk mengimbangi Violin secara penuh.
Ketertarikan tidak bisa bertahan selamanya. Cinta tidak akan selamanya menjadi pertimbangan. Perasaan bukanlah segala-galanya. James menyadari semua itu. Hasrat hidupnya mulai berubah ketika ia semakin menua. Dia juga menginginkan posisi dan rasa hormat yang setara dengan Violin. Dan itu tidak akan pernah bisa James dapatkan selama Violin masih hidup. Membungkam Violin merupakan pilihan paling masuk akal.
Tak mudah untuk melenyapkan Violin. Wanita itu sudah menjadi bagian dari hidup James lama sekali. Dia juga sudah melahirkan anak-anaknya dan membesarkan mereka semua dengan baik. Dia juga sudah memberi banyak kenangan akan cinta dan kebahagiaan.
Tetapi mau tak mau James harus melakukan semua ini. Jiwanya telah lelah jika hanya menjadi latar belakang semu. Dia perlu pengakuan yang nyata. Dia perlu kedudukan jelas. Untuk mendapatkan itu, James harus melenyapkan Violin dan Klayver secara bersamaan.
Klayver adalah salah satu anaknya yang instingnya paling tinggi dan tajam. Jika dia tak dilenyapkan, bukan hal yang mustahil tindakan James akan terbongkar dan di masa depan, Klayver bisa memburunya untuk balas dendam.
Sementara untuk anak-anaknya yang lain, James tak perlu khawatir. Mereka semua mudah untuk dibohongi. Insting mereka memang lumayan tinggi. Tetapi kepercayaan mereka terhadap James lebih besar lagi sehingga mustahil mereka mencari tahu secara detail tindakan-tindakan James.
Andai Klayver bisa James tarik ke pihaknya,mungkin akan lebih baik. Tetapi sayangnya anak itu memiliki prinsip yang tak terbantahkan sepanjang menyangkut tentang keluarga dan kesetiaan satu sama lain. Klayver pasti akan melawan pemikiran James mati-matian dan menyudutkan dirinya. James tak bisa mengambil resiko itu. Dia harus bermain denga rapi kali ini.
Satu-satunya yang bisa ia berikan untuk keluarganya adalah kematian yang cepat dan tak menyakitkan. Setidaknya, James masih bisa memberikan hal itu.
__ADS_1
…