Sajak Sang Simpanan

Sajak Sang Simpanan
100 - SEASON 2


__ADS_3

"Kau yakin kau hanya anemia dan kelelahan? Tidak ada gejala-gejala lain selain itu?" tanya Daniel menatap wajah pucat Alice.


Lelaki itu baru saja tiba di rumah sakit dan langsung memberondong Alice dengan banyak pertanyaan. Wajahnya terlihat khawatir. Gurat-gurat di pelipisnya semakin dalam.


Saat ini, insting yang dimiliki Daniel terlalu sensitif. Dia baru saja mengetahui di luar sana ada pihak yang menginginkan keberadaan Alice. Semenjak itu, Daniel selalu mudah mengaitkan hal-hal kecil dengan ketakutan yang ia miliki.


"Demi tuhan, aku baik-baik saja, Daniel. Kau sudah bertanya padaku dengan pertanyaan serupa sebanyak sembilan kali dalam waktu sepuluh menit. Ada apa sebenarnya kau ini? Wajar bagi wanita hamil kelelahan dan mengalami flek ringan. Jangan terlalu merisaukan hal tersebut."


Alice menatap Daniel dengan pandangan heran. Dia melempar tatapannya pada Rachel, seolah ingin bertanya tanpa kata apakah Daniel baik-baik saja hari ini.


"Sebagai seorang lelaki, kau cukup mudah paranoid." Rachel menimpali jawaban Alice dengan komentar yang tepat sasaran. Dua orang wanita itu memandang Daniel dengan tatapan yang cukup aneh.


"Baiklah. Aku hanya sekadar memastikan saja." Daniel berdiri bingung, merasa bodoh oleh ketakutannya sendiri.


Alice hanya kelelahan. Seharusnya Daniel tak perlu terlalu mengaitkan hal ini dengan niatan Jenkinz beberapa hari yang lalu. Memang dia harus mulai waspada, tapi bukan berarti Daniel bisa bertindak bodoh seperti orang yang traumatis. Sedikit-sedikit selalu ia kaitkan pada sumber ketakutannya.


"Kau sudah memastikan hal itu sembilan kali." Rachel melipatkan tangan di depan dada, menggeleng kecil melihat tingkah Daniel.


"Baiklah. Aku akui aku memang terlalu mudah khawatir akhir-akhir ini. Aku minta maaf." Senyum kecil terukir di bibir Daniel, membuat wajahnya yang tampan semakin terlihat bersinar.


Lelaki itu sebenarnya memiliki aura seorang super star, hanya saja Daniel tak terlalu sering menyadarinya. Seharusnya Daniel mudah menggaet wanita, menciptakan romansa yang hebat, dan membangun pernikahan sempurna. Entah apa yang masih menjadi kendala laki-laki itu. Semenjak ia melepas Alice, tujuan hidup Daniel semakin tak jelas. Membuat Rachel dan Alice semakin khawatir melihat keadaannya.


"Kau harus mulai bertingkah normal dan segera mencari pasangan hidup, Daniel. Sebelum kau menjadi lelaki yang memiliki kepribadian aneh. Istri akan membuatmu lebih bisa bersikap normal. Percayalah padaku."


Saran yang coba Rachel berikan terdengar serius. Suasana sejenak hening, membuat mereka bertiga menikirkan kata-kata tersebut secara bersamaan.


Usia mampu berjalan cepat tanpa kita sadari. Waktu mampu mengambil banyak hal dari kita. Semuanya seperti putaran otomatis yang tak mungkin dikembalikan ke titik awal. Sebuah perjalanan hidup.


Daniel sadar, di titik tertentu dia membutuhkan tempat pelabuhan permanen bagi hati dan hidupnya. Daniel hanya harus melalui proses itu dan mencoba menbuka hati untuk wanita yang tepat. Wanita yang pantas menyandang hati dan kepercayaannya.


Hanya saja, Daniel selalu memiliki kendala tak mudah membuka hati untuk orang lain. Dia menjadi semakin introvert tanpa ia sadari. Kepribadiannya ini lama-lama membuatnya menutup pintu pada setiap kemungkinan hubungan sehat. Hasrat dan gairahnya jarang tertuju pada wanita lain. Ralat. Sebenarnya tidak separah itu, mengingat Daniel masih memiliki respon tertentu setiap kali melihat Jasmine. Hanya saja, Jasmine jauh dari target yang ia inginkan. Sikap, latar belakang, karakter, dan nilainya sebagai wanita benar-benar bertolak belakang dengan apa yang Daniel harapkan.


Daniel mengelengkan kepala dengan lemah.Dia mulai membenci dirinya sendiri setiap kali fokus pikirannya terarah pada Jasmine. Seolah-olah wanita di dunia ini hanya ada dia seorang.

__ADS_1


Daniel mencoba menghilangkan pikirannya dengan mengalihkan fokusnya pada hal lain. Sialnya, hal itu tak berhasil. Benar-benar merepotkan.


"Kau baik-baik saja, Daniel? Kau terlihat mudah tak fokus akhir-akhir ini. Mungkinkah beban pekerjaanmu terlalu berat?" Alice bertanya dengan bingung. Dia mengerjapkan matanya beberapa kali dan menutup mulutnya saat ia menguap kecil. Kantuk mulai menyerang. Berada di atas ranjang dari tadi membuat Alice cepat mengantuk.


"Ya. Pekerjaanku semakin banyak akhir-akhir ini. Aku mendapatkan tawaran proyek baru dan kerja sama di beberapa perusahaan besar."


Hanya itulah jawaban yang mampu Daniel berikan saat ini. Dia berdiri dan berjalan menatap wajah Alice yang masih terlihat lelah.


"Sepertinya kau perlu istirahat, Alice. Bagaimana jika aku dan Daniel pulang saat ini? Nanti sore aku akan mengunjungimu lagi." Rachel mengambil tas selempang kecil dan ikut berdiri seperti Daniel. Mereka saling mengucapkan semangat untuk kesembuhan Alice dan berpamitan keluar ruangan.


Setelah kepergian mereka, Alice memutuskan menyerah dengan kantuknya dan tertidur di atas ranjang rumah sakit. Dia tak mengetahui bahwa diam-diam, Daniel menghubungi seseorang untuk menjaga keselamatan Alice yang lelaki itu tempatkan tak jauh darinya.


Daniel adalah lelaki yang cukup berhati-hati dalam bertindak. Ia tak pernah membiarkan dirinya teledor sedikit pun. Keselamatan Alice saat ini merupakan hal yang sangat penting baginya. Jangan sampai karena kecerobohannya, ada pihak-pihak yang berhasil melukai Alice dan memanfaatkan keluguan wanita tersebut.



Daniel menyusuri jalanan kota Manhattan saat hari mulai siang. Dia berkendara dengan santai, menikmati sebuah lagu lawas sembilan puluhan dari pemutar musik di mobilnya. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama lagu. Sesekali dia bersiul kecil untuk mengekspresikan diri.


Seharusnya Daniel kembali ke kantor atau rumahnya untuk menggarap pekerjaan dan proyek baru yang menguras otak. Jadwal Daniel semakin padat akhir-akhir ini. Jam tidurnya bukannya semakin membaik, justru tak karuan karena aktifitasnya yang tak teratur.


Padahal jika mau diakui, apa lebihnya Jasmine? Cantik? banyak wanita di luar sana yang lebih cantik lagi. Cerdas? Yang ada wanita itu justru terkesan murahan dan dangkal. Anggun? Demi apa pun juga yang ada di dunia ini, Jasmine jauh dari kata anggun. Sikap dan tingkah lakunya sangat bertentangan dengan moral yang ada. Setiap ibu di seluruh dunia pasti menjadikan Jasmine sebagai baromoter wanita paling buruk di dunia.


Jadi, hingga detik ini, Daniel sendiri masih bertanya-tanya apa yang wanita itu miliki sehingga bisa mengambil fokusnya sedemikian rupa. Mungkinah dirinya mulai gila karena bisa jatuh pada pesona wanita seperti itu? Atau ada kelainan tersendiri dari psikisnya? Entahlah.


Hari mendekati waktu makan siang saat Daniel berhasil tiba di kediaman Alice. Dia langsung masuk ke halaman depan dan mencari keberadaan Jasmine. Daniel sudah mengenal seluk beluk rumah Alice sehingga ia dipercaya menyimpan sandi keamanan rumah Alice. Kapan pun ia mau, ia bisa masuk semaunya sendiri.


Daniel bingung. Dia tidak menemukan keberadaan wanita itu. Saat Daniel mulai bimbang, Helena dan Axel melihat kedatangannya.


"Daniel, kau mencari siapa? Bukankah Alice sedang di rumah sakit? Aku dan Axel akan menjenguknya sebentar." Helena terlihat bingung menyambut kedatangan Daniel saat ini.


"Oh, aku hanya mencari Jasmine. Dimana dia?" tanya Daniel terus terang.


Helena terlihat menyembunyikan senyuman kecil. Daniel telah berhasil menjadi sumber gosip di antara pelayan belakangan ini jika lelaki tersebut sempat memiliku kedekatan dengan Jasmine.

__ADS_1


Pelayan adalah orang yang selalu mengetahui setiap gosip yang beredar. Mereka laksana telinga tambahan yang sangat tajam yang selalu mengerahui seluk beluk rumah tangga majikannya. Banyak kasus rahasia yang banyak bocor karena tingkah para pelayan. Beruntung, kediaman Alice memiki orang-orang yang setia. Hanya ada segelintir saja yang berani menusuk dari belakang. Sila contohnya.


"Dia di kolam belakang."


"Kolam? Sedang apa dia?"


Helena tidak memberikan jawaban apa pun. Dia pergi meninggalkan Daniel begitu saja dengan menggendong Axel menuju halalaman depan. Pablo, sopir pribadi keluarga ini telah menunggu Helena untuk pergi ke rumah sakit.


Daniel tahu dengan jelas di mana posisi kolam belakang yang dimaksud Helena. Dia berjalan langsung ke arah tersebut dengan sedikit menggerutu.


Untuk apa Jasmine berada di kolam? Udara musim gugur bukanlah udara yang cocok untuk digunakan sebagai teman aktifitas berenang di kolam terbuka. Memang masih ada satu dua orang yang suka aktifitas luar ruangan, tetapi biasanya di musim seperti ini banyak orang yang akan memilih berendam air hangat di jazucci, alih-alih menenggelamkan diri bersama dinginnya musim gugur.


Langkah Daniel berhenti persis di sisi kolam. Semua keraguan dan tanda tanya yang ia miliki berhenti saat melihat Jasmine tengah berenang di air dingin setinggi dua meter dengan pakaian renang yang minim. Bahannya yang tipis dan basah membuat kain tersebut melekat semakin erat di tubuh indahnya. Rambut pirangnya yang sebahu tampak indah menari dalam kedalaman air yang transparan.


Gerakan Jasmine terlihat sangat stabil. Dia berenang mengambil gaya kupu-kupu sehingga wanita itu tak terlalu menyadari kehadiran Daniel yang berada persis di belakangnya.


Alih-alih menyapa dan memberitahu keberadaannya, Daniel justru duduk di kursi kolam yang terasa sedikit basah. Di sisinya ada handuk bekas pakai yang kemungkinan milik Jasmine.


Daniel memandang gerakan gemulai Jasmine yang berkecipak riang menembus air. Semilirnya angin tak membuat wanita itu menghentikan aktifitasnya. Gerakanya lentur, seperti dewi alam yang menyatu bersama belahan jiwa.


Indah. Anggun. Itulah dua kata pertama yang terbersit di kepala Daniel. Gerakan Jasmine merupakan tarian yang sesuai dengan melodi musim gugur. Gemulai dan penuh kekuatan. Benar-benar sempurna. Daniel belum pernah melihat tarian yang seindah ini sebelumnya, bahkan dari penari profesional sekali pun.


Saat Jasmine telah berhasil tiba di ujung kolam, dia mengangkat tubuhnya dan menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk menghilangkan air yang ada di kepala. Beberapa saat kemudian, Jasmine berbalik untuk berenang kembali ke arah yang berlawanan.


Jasmine butuh dua detik untuk menyadari keberadaan Daniel yang kini menghadapnya langsung dari seberang kolam. Sesaat, mata mereka saling terkunci satu sama lain. Semua fokus yang mereka miliki berhenti dalam detik itu juga dan hanya menyisakan bayangan satu sama lain dalam lensa mata mereka.


Mulut Jasmine terasa kelu. Dia tak pernah merasa setelanjang ini sepanjang hidupnya di hadapan lelaki. Padahal jika mau ia sadari, dia masih mengenakan pakaian renang sebagai pelindungnya. Tetapi kain yang kini ia pakai terasa tak bisa melindunginya sama sekali dari tajamnya pandangan Daniel.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Jasmine lirih, menyerupai bisikan.


Demi Tuhan. Jasmine pernah melakukan apa pun pada kaum laki-laki dan pernah mendapatkan perlakuan apa pun juga. Hanya saja, melihat tatapan Daniel yang seperti ini, membuat Jasmine seperti kehilangan pijakan.


"Melihatmu." Daniel menjawab pertanyaan yang Jasmine lontarkan dengan menatap gerak bibir wanita itu.

__ADS_1


Mereka saling terdiam lama. Tak ada yang memilih bergerak lagi untuk menghilangkan kecanggungan ini.



__ADS_2