
Klayver meninggalkan tubuh Alexandra yang berlumuran darah begitu saja setelah ia mengambil dompet wanita itu dengan kaos tangan. Dia akan membiarkan polisi mengambil motif bahwa kematian Alexandra merupakan perampokan random. Dengan begitu, kasus itu hanya akan menjadi kasus umum seperti kejahatan massal di kota besar.
Pistol yang ia gunakan merupakan pisol berperedam suara. Dia tak perlu khawatir ada orang yang bisa melihat jejaknya. Lorong perpustakaan ini cukup aman. Tak ada kamera CCTV dan hanya ada satu penjaga malam yang akan datang lima belas menit dari sekarang. Klayver harus cepat-cepat pergi. Dia berjalan santai dan menuju mobil SUV hitam yang ia parkir tak lebih dari tiga puluh meter dari tempat kejadian perkara.
Semuanya berjalan sesuai dengan perkiraannya. Klayver telah mempelajari jam operasional perpustakaan itu dan mencocokkannya dengan jadwal Alexandra. Sebenarnya ada dua orang lainnya yang juga bertugas menjaga perpustakaan. Tetapi setiap hari Jumat mereka mendapat tugas menyebarkan buku ke sekolah-sekolah negeri sehingga jam kerja Alexandra cukup mudah disusupi tanpa adanya saksi.
Alexandra mungkin orang yang baik, tetapi ia bekerja sama dengan orang yang salah. Ada seorang mantan pejabat korup di London yang telah lama mengincar keberadaan Klayver. Dia memiliki sumber informasi yang akurat tentang semua tebakan pergerakan Klayver. Orang itu adalah Alexandra.
Pustakawan hanyalah pekerjaan yang Alexandra lakukan secara kasar dan kasat mata. Pada dasarnya, dia juga sumber informasi untuk mantan Hakim yang hingga kini masih memburunya.
Alexandra adalah orang yang sangat cerdas. Terutama dalam bidang teknologi. Dia mampu melacak keberadaan seseorang dengan bantuan teknologi dengan sangat cepat. Jika Alexandra tidak segera dibungkam, Klayver yang akan kesulitan sendiri nantinya.
Klayver sudah menimbang-nimbang semuanya. Dia bergerak cepat sebelum Alexandra menyadari keberadaannya dan membungkam Alexandra dengan cepat.
Memang, tindakannya sedikit beresiko. Dengan membunuh Alexandra, mantan pejabat yang memakai Alexandra bisa saja menjadikan hal itu sebagai indikasi bahwa Klayver telah datang ke sini. Tetapi mantan pejabat itu hanya akan bisa menarik spekulasi kasar, tak akan pernah bisa tahu kepastiannya akan seperti apa.
Selama polisi tak curiga dengan pembunuhan terselubung Alexandra, pergerakan Klayver selanjutnya masih aman. Dia bisa berlindung di bawah identitasnya sekarang dan bertindak lebih cepat untuk mengatasi masalah-masalah lain yang menunggunya.
Mr. Arnold Murdock, sang mantan hakim, memiliki masalah karena ia pernah berselisih paham dengan Klayver gara-gara Klayver membunuh putra tunggalnya.
Klayver adalah pembunuh bayaran. Dia sering kali mendapat job membunuh seseorang yang sangat berpengaruh. Ada yang menyewa untuk membungkam lawan politiknya, ada yang menyewa untuk lawan bisnisnya.
Hanya saja, terkadang hal-hal tersebut menciptakan konsekuensi lain. Beberapa pihak ada yang memburu pihak penyewa Klayver untuk melakukan balas dendam. Beberapa pihak, tidak hanya menginginkan membalas penyewa Klayver, tetapi juga menginginkan nyawa Klayver juga.
Menurut pendapat mereka, Klayver adalah pihak yang memiliki kesalahan cukup besar. Tangan pembunuh merupakan tangan yang akan dicari oleh keluarga korban. Tak peduli apakah pembunuhan yang dilakukan Klayver merupakan perintah pihak ke tiga dan tak memiliki arti lain.
__ADS_1
Itulah kenapa ia memiliki banyak musuh. Bahkan, banyak di antara para keluarga korban yang mengetahui jika Klayver pembunuh orang terdekat mereka tanpa tahu siapa penyewa Klayver. Mereka memburu Klayver demi untuk mencari tahu siapa dalang di balik pembunuhan keluarga mereka. Dalam membunuh target, biasanya untuk membuktikan keberhasilannya kepada penyewa, beberapa kali Klayver meninggalkan satu kuntum melati putih di samping jasad.
Baik orang yang memburu Klayver untuk melakukan balas dendam atau mencari tahu informasi penyewa dirinya, mereka semua tetaplah orang-orang yang Klayver hindari. Perburuan mereka semakin kuat setiap waktu sehingga identitas Klayver terancam bisa terbongkar kapan saja.
Sekuat-kuatnya seseorang, selama para pemburu memiliki sumber daya yang hebat, dia tetap akan memiliki kemungkinan kalah. Itu adalah teori yang ada di lapangan.
Meskipun ada banyak buku dan film yang mengusung tentang banyaknya tokoh tunggal yang bisa melawan sekelompok orang, toh nyatanya semua itu hanya cerita fiktif. Bukannya hal itu tak mungkin. Memang bisa saja terjadi. Ada keajaiban yang Tuhan berikan kepada sebagian orang sehingga mampu mengalahkan banyak orang dalam waktu singkat.
Tetapi, kembali lagi pada realita. Hukum alam telah mengatakan bahwa kekuatan tunggal hanya memiliki peluang sedikit dalam melawan kekuatan massal. Kecuali kekuatan tunggal tersebut memiliki kelebihan dalam hal-hal yang tak dimiliki musuh.
Jadi, tak mengherankan ada berita kematian dari para agen, atau pun oknum polisi dalam melawan mafia atau pun organisasi kejahatan yang besar. Memang ada yang berhasil, tetapi skala gagalnya mungkin lebih besar lagi. Para mafia, pejabat korup, dan penyelundup bukanlah organisasi abal-abal yang bisa dikalahkan begitu saja. Mereka sekelompok orang yang memiliki anak buah, sumber daya, teknologi, senjata, dan akses yang sangat kuat. Mengalahkan mereka adalah hal yang cukup berat.
Klayver telah memahami kenyataan ini dengan sangat baik. Dia mempersiapkan diri dalam menghadapi para pemburunya. Karena orang yang dihadapi bukan orang biasa, dia sengaja bertindak seorang diri, membuat setiap musuh tidak menyadari langkahnya kemudian merasuk di antara mereka dan menghabisi mereka dengan cepat.
Klayver mengemudi mobil dengan santai dan berhenti di persimpangan jalan dua blok setelahnya. Dia memasuki sebuah distro di pinggir jalan dan keluar dengan penampilan berbeda. Dia masih mengenakan baju yang lugu dan sederhana, tetapi berbeda jauh dari apa yang ia pakai sebelumnya.
Jika kematian Alexandra diselidiki, dirinya memang tidak akan dituduh langsung karena pembunuhan tersebut berada di ruang tertutup dan tanpa adanya saksi. Tapi tidak mustahil seseorang akan menghubungkannya dengan dirinya karena CCTV yang berada di jalan utama depan perpustakaan masih menyala dan merekam kebersamaan terakhir Alexandra bersamanya.
Akan lebih aman bagi Klayver untuk meninggalkan mobil tersebut di sini. Jika ada orang cerdas yang melacaknya, mereka akan kehilangan jejak dirinya di depan distro. Dia tak perlu mengganti nama karena namanya masih cukup aman. Hanya saja sepertinya penampilannya harus berganti. Mungkin masih sederhana, tapi tidak akan terlalu culun sehingga mudah diidentifikasi.
Dengan santai, Klayver berjalan menyusuri blok dan memakai kacamata lain yang terlihat lebih normal. Dia berjalan beriringan dengan banyak orang, berusaha membaur dengan mudah. Target selanjutnya adalah mantan hakim yang hingga detik ini masih saja memburunya.
…
Arnold Murdock berdiri di ruang kerja rumahnya dengan keadaan marah. Dia baru saja menerima kabar buruk sepuluh menit yang lalu. Katanya, Alexandra, informan terpercayanya mati terbunuh dengan luka tembak di kepala. Penyerangnya menggunakan pistol colt kaliber 22, terlalu pasaran sehingga siapa pun bisa terlibat dan menjadi tersangka.
__ADS_1
Dompet Alexandra beserta isinya dikatakan raib tak berbekas. Dengan fakta ini, polisi yang menyelidiki, mengambil kesimpulan kematian Alexandra karena perampokan acak. Wanita itu hanya kebetulan ada di tempat yang salah dengan orang yang salah.
Tetapi insting Arnold mengatakan lain. Alexandra adalah orang yang sangat hati-hati. Dia memang tak memiliki kemampuan bela diri seperti seorang ahli, tetapi dalam keadaan terdesak ia adalah orang yang bisa melarikan diri dalam malasah. Dia juga bukan tipe wanita yang senang mengenakan perhiasan atau benda bermerk yang bisa menarik perhatian pencuri.
Jika tiba-tiba wanita itu diincar secara acak oleh orang lain, itu sedikit tak masuk akal. Meskipun kejahatan bisa saja terjadi untuk sebagian besar orang, tetapi Alexandra masuk ke dalam kawasan yang terlindungi.
Alexandra adalah orang yang sangat penting. Dia merupakan otak dalam setiap informasi yang Arnold dapatkan. Mereka telah bekerja selama delapan tahun lamanya. Keahlian Alexandra dalam meretas teknologi dan mendeteksi keberadaan orang sudah tak perlu dipertanyakan lagi. Arnold telah menggunakan jasa wanita itu lama sekali. Otaknya berkebalikan dengan penampilannya. Pikiran dan kecerdasan Alexandra luas dan sangat liar. Berbeda dengan penampilannya yang kaku dan terkesan kuno, jauh dari modern.
Kehilangan dia merupakan sebuah kerugian yang besar. Bisa jadi yang membunuhnya adalah orang yang ia incar dan mengetahui dengan jelas jika Alexandra adalah informan Arnold yang terpercaya. Tetapi sia kira-kira tersangkanya? Semua orang bisa menjadi tersangka dalam hal ini.
Musuh Arnold sangatlah banyak. Orang yang memburu dan ia buru jumlahnya tak lagi terhitung. Mencari tersangka bagi penbunuhan Alexandra cukuplah sulit. Arnold tidak mungkin mengambil praduga demi praduga hanya untuk mengurusi hal ini. Hal yang lebih baik saat ini adalah waspada agar pembunuh yang menbunuh Alexandra tidak memburunya dengan cepat.
Ada satu kekhawatiran yang dirasakan oleh Arnold. Dia takut yang membunuh Alexandra adalah Eyes Evil. Meskipun dia tidak bisa memastikan, tetapi dugaannya cukup kuat. Dia sudah lama memburu eyes evil karena lelaki itu membunuh putra satu-satunya yang ia miliki.
Akhir-akhir ini, muncul banyak spekulasi dari beberapa organisasi gelap yang mengatakan bahwa Eyes Evil mulai memburu orang-orang yang selama ini memburunya. Hal itu dikuatkan dengan adanya kematian mendadak orang-orang yang dinilai vokal dalam mengejar Eyes Evil.
Tetapi spekulasi hanya bisa menjadi spekulasi. Identitas Eyes Evil hanya bayang-bayang samar yang bisa diperkirakan secara kasar. Tindakannya hanya berupa tebakan. Tidak ada yang mengetahui identitas sebenarnya. Orang-orang hanya bisa menebaknya setelah terjadi pembunuhan yang sangat rapi dan tanpa jejak.
Memang, siapa pun bisa menjadi pelaku pembunuhan yang rapi. Tapi eyes evil selalu identik dengan tak pernah meninggalkan tanda yang bisa menuntun penyidikan sama sekali, termasuk jejak langkah di sekitarnya. Sungguh rapi. Jika pun meninggalkan tanda, dia meninggalkan satu kuntum melati. Sesuatu hal yang sangat bertolak belakang dengan identitasnya sebagai iblis.
Beberapa orang mengaitkan keberadaan eyes evil dengan tato dua ying yang dan naga di punggungnya. Banyak orang yang memburu lelaki dengan tato tersebut. Tetapi hingga kini tato seperti itu belum berhasil ditemukan. Jika pun ada yang menemukannya, mereka tak akan hidup lama.
Arnold merasa pusing. Masalah ini membuatnya memikirkan banyak hal. Dia telah memburu eyes evil lama sebelumnya. Dendam darah putranya belum terbalaskan. Alexandra adalah satu-satunya orang yang cepat bisa menebak perkiraan tentang eyes evil dan informasi sensitif mengenai lelaki itu. Meskipun Alexandra belum bisa memastikan siapa eyes evil sebelumnya, tetapi informasi yang ia berikan cukup mendekati kebenaran. Hanya masalah waktu saja sebelum Alexandra membongkar semua rahasia itu. Sekarang, Alexandra telah tiada. Bungkam bersama timbunan tanah yang tak berdaya.
Arnold menelpon seseorang, memintanya untuk menyiapkan pengawal tambahan. Dia butuh jaminan dirinya merasa aman akhir-akhir ini. Penambahan pengawal mungkin bisa menjadi salah satu hal yang mengurangi keresahannya.
__ADS_1
Sialan. Musuhnya semakin banyak dan masa depannya jadi tak menentu. Dia perlu memperkuat koneksinya dengan orang-orang yang bisa membantunya melewati semua ini.
…