
Lelaki itu bagaikan malaikat maut yang bermain dengan kematian. Dia berlutut didepan Alice, menatap kecantikan wanita yang menjadi janda Kendrick. Sebelah mulutnya tertarik membentuk seriangai menakutkan.
"Siapa kau?" Alice bertanya dengan suara serak. Sebagian besar kekuatanya telah ia habiskan untuk berteriak-teriak tak jelas. Kini yang tersisa hanyalah suara lirih yang menunjukkan keputus asaan.
"Sepertinya kita perlu berkenalan terlebih dahulu. Bagaimanapun juga, kita akan memiliki banyak waktu untuk bersenang-senang nanti. Ngomong-ngomong, namaku Jerry" Lelaki gendut itu tersenyum, penuh niat buruk. Alice menelan ludah susah payah. Sepertinya dia menghadapi seorang psikopat sekarang.
"Bukankah kau janda Kendrick?" Itu bukan sebuah pertanyaan. Itu adalah pernyataan. Alice hanya terdiam, mengonfirmasi kebenaran.
"Apakah kau tahu mendiang suamimu itu telah membunuh putraku yang paling berharga?" Tatapan penuh kebencian tampak kian membesar di kedua mata hitam lelaki itu.
Alice memejamkan mata. Dia tak pernah mengira semua itu adalah dendam lama. Kenapa dia terjebak hal-hal seperti ini?
"Aku tak pernah tahu urusanmu dengan mendiang suamiku. Aku adalah pihak luar yang tidak seharusnya kau seret." Alice berkata lirih. Suaranya nyaris seperti bisikan.
Dalam dunia kelam, Alice tidak terlalu lugu. Hanya ada istilah bunuh atau membunuh. Siapapun yang ingin berada dipuncak, harus memiliki kekuatan dan kekejaman abadi untuk menyingkirkan setiap rivalnya. Kendrick pasti melakukan hal yang sama. Dia hanya mengikuti alur. Alice tidak terlalu menyukai gambaran tersebut namun dia juga bisa memahami kenapa Kendrick melakukan hal serupa.
Hanya saja masalahnya, dia seharusnya tak ikut dimasukkan secara kejam dalam permainan mereka. Alice tidak pernah membuat sebuah masalah, kenapa juga ia harus membayar.
"Kau pernah mendengar istilah darah dibayar dengan darah? Mata dibayar dengan mata? Itulah yang akan aku lakukan. Karena Kendrick telah tiada, bagaimana jika kau yang membayar hutang nyawa suamimu? Anggap saja, aku membantu mempercepat pertemuan kalian dialam baka. Bagaimana?" Jerry tersenyum dengan cara menakutkan. Alice semakin merinding.
"Apakah kau lelaki picik yang melukai wanita hanya karena kau tak cukup jantan menghadapi Kendrick semasa ia masih hidup? Setelah ia meninggal, kau baru memiliki keberanian mengusik istri musuhmu?"
Jerry mulai tertawa dengan cara yang ganjil. Alice merasa pendengaranya semakin sakit ternodai tawa lelaki busuk itu. Dia benar-benar psikopat.
__ADS_1
"Aku tak peduli. Yang aku tahu bahwa lelaki tak berguna itu telah membunuh putra kesayanganku. Maka aku juga akan membunuh kesayanganya. Ini adalah dendam yang harus dituntaskan agar putraku bahagia." Tawa menggelegar kembali terdengar. Alice mengerucutkan bibirnya, merasa semakin terjebak.
"Jika memang Kendrick membunuh putramu, aku yakin dialah yang memancing kemarahanya terlebih dahulu."
Alice sangat yakin tentang hal itu. Selama ia mengenal Kendrick, dia adalah lelaki yang tidak terlalu suka memancing masalah. Tindakan-tindakanya hanya bergantung kepada seberapa besar aksi yang dilakukan oleh lawan-lawanya. Jika seseorang cukup bodoh untuk menarik perkara, bisa dipastikan Kendrick akan menghabisi orang tersebut hingga keakar-akarnya. Ditilik dari hal tersebut, pasti putra Jerry adalah jenis lelaki berandal yang terlalu sembrono menghidupkan api permusuhan pada mendiang suaminya. Dia akhirnya mendapatkan kematian yang tragis. Hanya saja, ayahnya kini justru menuntut dendam dan menjadikan Alice sebagai objek. Kegilaan macam apa yang lelaki itu alami?
"Mulutmu terlalu lancang. Kau sama saja dengan istri lama Kendrick. Dia juga memiliki lidah tajam yang akhirnya membawa kematian."
Alice tersentak pilu. Istri lama Kendrick? Mungkinkah mereka saling terkait satu sama lain? Alice menaikkan alis. Sebuah pemikiran baru mulai terbentuk dikepalanya. Gabungan-gabungan kejadian itu mampu dirangkai secara sekejap melalui otak cerdasnya.
"Apakah kau yang membunuh istri lama Kendrick?" Sebuah rasa sakit tak mampu ia tutupi dari suaranya.
Alice masih ingat tragedi tersebut. Kendrick pernah mengatakan bahwa istrinya dulu dibunuh saat ia tengah mengandung. Mungkinkah dalang dibalik kejadian tersebut adalah lelaki tua didepanya ini? Tetapi bukankah Kendrick mengatakan dia telah membuat pelaku-pelakunya membayar? Kenapa Jerry masih saja hidup dengan sehat saat ini? Dia bahkan berniat balas dendam.
"Putraku yang membunuh wanita murahan itu. Wanita itu memang pantas mati. Dia mendapatkan apa yang pantas ia dapatkan."
Itukah sebabnya Kendrick kemudian menghabisi putra Jerry dan seluruh antek-anteknya? Alice beranggapan saat itu Kendrick pasti tak sengaja membiarkan ayah dari musuhnya hidup begitu saja. Seandainya saja ia tahu kejadian yang menimpa Alice saat ini, pasti dia akan kecewa tidak membunuh lelaki brengsek ini lebih awal. Siapa yang tahu ayah musuhnya memilih jalur picik untuk menuntaskan dendam lama?
"Putramu pastilah seorang iblis. Dia pantas mati di tangan Kendrick." Alice menikkan suara, menyiratkan kemarahan.
Lelaki yang memobilisasi sebuah pembunuhan pada wanita lemah yang tengah hamil hanyalah lelaki brengsek yang tidak memiliki nurani. Seharusnya makhluk seperti itu tak pernah dilahirkan didunia ini. Keberadaanya hanya lambang tragedi bagi kehidupan orang lain.
"Mulutmu tak pantas berkata kotor seperti ini. Dasar wanita murah."
__ADS_1
Sebuah tamparan keras menyapa wajahnya. Alice tersentak tak berdaya.
"Kau perlu banyak belajar, Alice. Aku akan memberimu pelajaran untuk menaklukkan keangkuhanmu sebelum aku menghabisimu." Jerry tersenyum penuh perhitungan. Dia mengambil sebuah alat, mencabut kuku-kuku Alice dan menusuk kaki Alice.
Alice memberontak membabi buta,namun tertahan oleh rantai yang menjerat. Saat ini dia mengutuk Jerry dengan semua sumpah serapah yang ada. Dia marah, takut, putus asa dan sedih dalam waktu yang bersamaan.
Satu-satunya harapan adalah Anson. Sebelum pelarianya, Alice sudah mengirim lokasi keberadaan dirinya melalui ponsel. Namun itu pasti berjam-jam yang lalu. Setelah ia tertangkap oleh penjahat ini, Alice yakin ponselnya pasti sudah dihancurkan terlebih dahulu sebelum mereka membawanya ke tempat ini.
Nafas Alice tak beraturan. Pandanganya mulai kabur secara perlahan-lahan. Saat dia merasa nyaris pingsan karena kehabisan darah, Jerry mengambil kain kasa dari celana jinsnya dan mulai membalut luka di kakinya.
Dia berdendang menyanyikan lagu jazz, bertindak seolah-olah tak terjadi apapun. Alice menahan perih. Dia menatap ngeri pada lelaki psikopat yang berlutut didepanya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Aku tak akan membiarkanmu mati dengan cepat. Aku akan membawa putramu kuga ke sini dan akan kubalaskan dendam putraku pada kalian semua."
Alice terbelalak lebar. Putra? Jadi Jerry berpikir bahwa Axel adalah anak Kendrick sehingga ia bermaksud menyiksanya juga? Apakah itu sebabnya Anson mengingatkanya sebelum ia dikejar antek-antek Jerry? Pasti Jerry sudah mengerahkan sebagian orang-orangnya untuk mengambil Axel di mansion. Mungkin saat itulah Anson juga berada di mansion untuk mengembalikan kembali kunjungan bulanan putranya. Lelaki itu tahu pergerakan tak wajar yang membahayakan putranya dan pasti melindunginya. Kemudian dia mengingatkan Alice untuk berhati-hati, hanya saja, peringatan itu sedikit terlambat.
Jerry keluar dari ruangan, merasa sangat puas berhasil mengalahkan Alice.
Alice memejamkan mata, meresapi rasa. Secara fisik keadaanya sedikit lebih baik. Tetapi rasa sakitnya semakin menjadi, merasuki seluruh tulang-tulangnya.
Alice berharap Anson cukup kuat menjaga Axel. Semoga saja anak tersebut tak pernah berhasil disentuh oleh Jerry. Cukup dia saja yang menanggung semua ini. Alice tak akan pernah sanggup jika harus melihat darah dagingnya sendiri dibunuh di hadapanya.
Jerry pasti bukan manusia. Dia binatang rendah yang entah bagaimana terjebak dalam tubuh manusia. Tak memiliki jiwa dan tak memiliki belas kasih.
__ADS_1
Tubuh Alice kembali menggigil hebat. Gigi-giginya semakin bergemeletuk. Kepala Alice mulai berat, membuatnya semakin perlahan-lahan jatuh dalam kegelapan.
...